
Beberapa orang mungkin
mengira kalau Agatha masih akan mengambil cuti selama beberapa hari setelah
keluar dari rumah sakit. Ternyata tidak sama sekali. Ia malah kembali ke kantor
dua hari setelah ppulang dari rumah sakit. Bahkan sebelum itu pun ia sudah beberapa
kali mampir ke kantor untuk mengurus beberapa urusan pekerjaan. Ditambah dengan
kasus penembakan terbaru yang terjadi di basement apartmentnya. Kasus tersebut
berhasil menyita waktu semua orang.
Namun karena kondisi
kesehatannya masih belum benar-benar pulih sepenuhnya, gadis itu memutuskan
untuk naik bis saja ke kantor. Dengan kondisi yang seperti sekarang ini ia
belum bisa mengemudi sendiri. Takut jika terjadi sesuatu di jalan. Kendaraan
umum adalah pilihan paling tepat. Menurutnya taksi terlalu menguras dompet
hanya untuk perjalanan singkat.
Agatha sama sekali
tidak menyangka jika ia akan kehabisan tempat duduk pada jam segini. Padahal
sekarang jarum jam bahkan belum menyentuh angkat tujuh. Gadis itu rela pergi
lebih awal demi mendapatkan tempat duduk dan tidak berdesak-desakan. Tapi
ternyata ia kalah cepat dengan yang lainnya. Mau tak mau Agatha terpaksa
berdiri.
“Aku benci
berdesak-desakan seperti ini. Paru-paruku rasanya nyaris tidak mendapatkan
udara sedikit pun,” gerutu gadis itu di dalam hati.
Dia memang sengaja
tidak mendumal di tempat umum seperti ini dengan alasan tak mau mengganggu
kenyamanan penumpang yang lainnya. Kembali lagi ke prinsip awalnya.
Sesekali Agatha juga
bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Sebenarnya dari jam berapa mereka semua datang
ke halte. Sampai-sampai bisnya bisa penuh sebelum jam tujuh pagi. Agatha
sendiri bahkan sengaja tidak sarapan di rumah karena tidak sempat. Untuk
menghindari hal-hal semacam ini, ia rela melewatkan segalanya. Terkecuali
mandi. Ia bahkan tidak sempat merias wajahnya. Tapi ternyata semua pengorbanan
itu tidak ada artinya. Nihil.
Tidak masalah. Ini hari
pertamanya. Agatha perlu beradaptasi lagi. Mungkin jika sudah sampai hari
ketiga atau keempat tidak akan jadi seperti ini. Benar, Agatha perlu
beradaptasi. Selama ini gadis itu nyaris tidak pernah pergi ke kantor dengan
kendaraan umum. Tapi, sekarang situasi mengharuskannya untuk melakukan hal
tersebut.
***
“Kau masuk ke kantor
hari ini?” tanya Thomas.
“Memangnya menurutmu
apa yang kulakukan pagi-pagi sudah sampai di sini?” tanya Agatha balik tanpa
mengalihkan pandangannya.
Mereka berdua tidak
sengaja bertemu di pintu masuk tadi. Thomas dan Agatha, keduanya sama-sama baru
sampai di kantor. Jadi tidak ada salahnya untuk berbincang ringan sambil
berjalan masuk ke dalam. Agatha juga tidak mempermasalahkan hal tersebut
tampaknya. Mereka berdua berjalan beriringan sampai ujung lorong.
“Kenapa kau bekerja
hari ini?” interupsi Arjuna yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana.
“Apa aku sudah dipecat
sampai tidak boleh datang kemari untuk bekerja lagi?” tanya Agatha sambil
berdecak sebal.
Pertanyaan seperti itu
tidak seharusnya dipertanyakan. Agahta tahu jika itu hanya sekedar basa-basi.
“Bukan begitu!” tepis
Arjuna dengan cepat.
“Maksudku kau masih
sakit. Seharusnya sekarang istirahat di rumah kenapa malah datang kemari? Kau
harus menjaga kesehatanmu sampai benar-benar pulih,” jelas pria itu dengan
panjang lebar.
Arjuna berusaha untuk
menjelaskan maksud dari perkataannya barusan dengan sedetail mungkin. Dia tidak
mau kalau sampai terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua.
“Bahkan sejak kemarin
kau sudah memintaku untuk ikut dalam pemeriksaan tempak kejadian!” celetuk
gadis itu.
“Jadi, kuanggap jika
itu sama saja dengan bekerja. Lagi pula aku sudah merasa jauh lebih baik
sekarang. Tidak ada yang perlu dicemaskan,” jelasnya.
“Cukup cemaskan saja
dari hadapannya.
Sontak Arjuna
membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna. Singkat cerita, pria itu merasa
terkejut. Sampai-sampai ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi.
“Tidak mungkin,”
gumamnya.
“Dari mana Agatha tahu
kalau aku sudah ada yang punya? Mustahil jika ia mencari tahu semuanya sendiri,”
lanjut pria itu.
Tidak, tidak. Ini tidak
bisa dipercaya begitu saja. Tapi, jika diingat-ingat kembali sepertinya hal tersebut
mungkin saja terjadi. Karena pada faktanya Agatha dan Zura sudah saling
mengenal satu sama lain sejak dulu. Bahkan jauh lebih lama sebelum Arjuna
mengenal kekasihnya sekarang ini. Hubungan Agatha dengan Zura tidak hanya
sebatas saling kenal saja. Lebih dari itu. Mereka adalah sahabat. Tapi,
sepertinya tidak untuk kali ini.
“Pasti Zura yang
memberi tahu Agatha!” simpul pria itu.
“Sebenarnya apa kemauan
gadis itu. Bukankah Zura sudah sepakat dengan rencana kami sejak awal?”
protesnya.
Arjuna masih tidak
habis pikir. Apabila semua dugaan dan asumsinya itu tadi benar, maka sepertinya
Zura telah berkhianat. Bukan seperti ini rencana yang sudah mereka tetapkan di
awal. Ternyata seorang gadis yang selama ini ia anggap sebagai sosok paling
sempurna, tidak selamanya seperti itu. Dia hanya berusaha untuk tampak
sempurna, namun tidak pernah benar-benar menjadi sesuatu yang sempurna di
semesta.
Tidak ada pilihan lain,
Arjuna lantas pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia kembali ke dalam ruangan
pribadinya dengan perasaan yang campur aduk. Sesekali ia mengepal tangannya
kuat-kuat karena merasa kesal.
***
‘DRRTTT!!!’
Ia melirik ke arah
layar ponselnya sekilas. Kemudian membaca nama yang tertera di sana. Aaron.
“Ck! Pria itu lagi,”
keluh Agatha.
Gadis itu sama sekali
tidak menghiraukan panggilan masuk tersebut. Bahkan ia memang tidak memiliki
niat sedikit pun untuk mengangkat panggilan dari pria itu. Aaron. Meski
akhir-akhir ini hubungan mereka sudah semakin membaik, keduanya semakin dekat
layaknya sahabat. Atau mungkin Aaron sudah menganggap gadis itu sebagai adiknya
sendiri. Tidak bisa dipungkiri jika pria itu sangat perhatian. Tapi, tetap saja
Aaron adalah seorang berandalan. Dia bukan orang baik pada saat pertama kali mereka
bertemu. Orang-orang bilang kalau kesan pertama itu penting. Dan memang begitu
pada kenyataannya.
Sikap serta perlakuan
Aaron tidak mampu ia terima begitu saja. Kebiasaannya sudah buruk sejak dulu. Pasti
keluarganya tidak baik-baik saja. Sama seperti Agatha. Mereka memiliki latar
belakang keluarga yang sama. Yang berbeda hanya satu. Cara mereka dalam
menjalani hidup.
“Ck! Kenapa dia tidak
bisa diam!” seru Agatha sebal.
Sepertinya pria itu
tidak akan berhenti begitu saja. Ia akan tetap menghubungi Agatha sampai
panggilannya dijawab. Tidak ada pilihan lain. Karena merasakan hal tersebut,
Agatha memutuskan untuk mengangkat teleponnya. Setidaknya dengan begitu Aaron
tidak akan merasa penasaran dan menghubunginya lagi. Agatha bisa memastikan
kalau ini adalah panggilan terakhir mereka. Setelahnya tidak akan pernah ada
lagi komunikasi antara Agatha dan Aaron. Tidak akan pernah terjadi.
“Halo! Ada perlu apa?”
tanya Agatha.
“Kau dimana? Kenapa
saat aku datang ke unit apartmentmu, malah orang lain yang keluar?” interupsi
Aaron balik.
“Aku
sudah pindah. Jadi tolong jangan hubungi atau cari aku lagi mulai sekarang. Aku
tahu jika kau adalah orang baik. Kalau begitu, mari jalani kehidupan kita
masing-masing sejak hari ini,” jelas gadis itu dengan panjang lebar.