
Beruntunglah kali ini nasib baik berpihak kepada
dirinya. Sepertinya Dewi Fortuna sedang memberkatinya. Sehingga gadis itu bisa
sampai di kantornya dengan tepat waktu. Dan yang terpenting adalah selamat.
Begitu sampai di parkiran, ia langsung melepas helmnya.
Kemudian buru-buru masuk ke dalam. Terakhir kali Robi mengatakan jika ia berada
di ruang rapat. Mereka akan melakukan diskusi singkat mengenai rencana ini. Tidak
boleh bergerak dengan sembarangan.
“Selamat malam!” sapa salah satu juniornya.
“Malam!” balas Agatha sambil tersenyu tipis.
Ia bergegas menuju ruangan rapat. Dan yang benar
saja, ketika sampai di sana semua orang sudah berkumpul di dalamnya. Ada
sekitar enam orang yang akan terlibat dalam misi patrol sekaligus penyergapan
ini. Jumlah tersebut sudah termasuk dengan dirinya.
“Maaf, aku terlambat!” ujar Agatha lalu merendahkan
pandangannya.
“Masuklah! Kau belum terlambat sama sekali,” balas
Arjuna.
Masih ada sisa waktu sekitar tiga puluh detik lagi
tepat ketika Agatha menginjakkan kakinya di ruangan tersebut. Itu artinya dia
belum terlambat. Namun, nyaris saja terlambat.
Tanpa pikir panjang, ia segera mengikuti perkataan
pria itu. Soal yang tadi sore lupakan saja. Sekarang baik Agatha maupun Arjuna
sama-sama harus bersikap professional. Mereka tidak bisa melibatkan urusan
pribadi di dalam urusan pekerjaan. Semua memiliki porsi dan tempatnya masing-masing.
Tidak bisa disama-ratakan seperti itu. Akan kacau dan tak menentu nantinya.
“Berhubung semua personil sudah lengkap, mari
langsung kita mulai saja briefingnya,”
ujar pria itu.
Semua orang tahu jika Arjuna adalah pemimpinnya. Ia selalu
terlibat dalam berbagai hal baik secara langsung maupun tidak langsung. Semua
orang mengandalkan dirinya. Memangnya siapa yang tidak tahu soal keahliannya
dipungkiri.
“Mereka akan tiba di sana sekitar tiga puluh menit
lagi. Itu artinya kita harus sampai sebelum mereka tiba,” paparnya di awal.
“Aku telah mengirimkan beberapa orang untuk memantau
secara langsung di tempat kejadian. Mereka akan selalu memberikan kita
informasi terbaru soal kondisi di lapangan,” lanjutnya.
“Kita akan terbagi menjadi tiga tim. Yang setiap
timnya terdiri atas dua orang. Kita akan berjaga di setiap pintu masuk, yang
kebetulan memiliki tiga pintu masuk. Satu pintu masuk utama, satu di bagian
belakang dan sisanya berada di arah barat,” jelas pria itu dengan panjang
lebar.
“Apa kau sudah meninjau lokasinya?” tanya Agatha
secara tiba-tiba.
“Tidak, tim kita yang sudah berangkat lebih dulu
yang memberi tahu,” jawabnya dengan apa adanya.
Agatha lantas mengangguk paham. Omong-omong, hanya
dirinya lah satu-satunya wanita di dalam tim ini. Dari total keseluruhan enam
orang, hanya satu wanita dan sisanya para pria. Ia masih tidak habis pikir
kenapa dirinya harus dilibatkan dalam patrol kali ini. Seperti tidak ada orang
lain saja.
Padahal jika dipikir-pikir, kemampuan bela dirinya
tidak cukup bagus kalau dibandingkan dengan yang lainnya. Ia juga bukan orang
yang hebat dan bisa diandalkan. Apalagi untuk menyelesaikan masalah.
“Aku dan Agatha akan berjaga di pintu masuk utama,”
tuturnya.
“Robi dan Hendra di pintu masuk sebelah barat dan
sisanya berjaga di pintu belakang,” imbuhnya kemudian.
“Jangan pernah memutuskan jaringan informasi antara
yang satu dengan lainnya,” final pria itu.
Arjuna memerintah semua orang sesuai dengan kehendaknya.