
Sementara itu di sisi
lain, seorang wanita yang bernama Liora itu masih dalam keadaan yang tidak
baik. Kondisinya baru saja membaik. Tapi belum sembuh sepenuhnya. Ia barusaja
melewati masa-masa kritisnya. Sungguh sebuah keajaiban Liora bisa selamat dari
mala petaka tersebut. Pasti karena Agatha cepat menekan bell darurat. Sehingga dokter
segera memberinya pertolongan. Kalau tidak, pasti sudah berbeda lagi ceritanya.
Padahal Agatha sangat berharap agar orang seperti Liora tidak memiliki tempat
lagi di dunia ini. Dia tidak pantas untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Sama
seperti ayahnya. Mereka berdua sama saja sebenarnya.
Karena ini adalah hari
pertama wanita itu kembali membuka kedua kelopak matanya setelah sekian lama. Setidaknya
sekarang ia sudah bisa bicara satu atau dua patah kata. Dari pada sebelumnya,
ia tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan sadar saja tidak. Harusnya wanita
itu beryukur karena masi diberikan kesempatan kedua. Setelah ini Liora harus
bersikap jauh lebih baik lagi kepada Agatha. Memperlakukan gadis itu dengan
semestinya. Jika bukan karena tindakan spontan Agatha waktu itu, mungkin saat
ini ia hanya sekedar nama saja.
Narendra sudah tidak
sabar untuk bertemu dengan kekasihnya yang satu itu. Calon istri lebih
tepatnya. Mungkin pria itu akan jauh lebih suka jika orang-orang memanggil
Liora dengan sebutan tersebut. Begitu pula dengan sang pemilik nama.
“Bagaimana keadaanmu
sekarang?”
“Apa sudah merasa jauh
lebih baik dari pada sebelumnya?”
Pria itu langsung
mengajukan dua pertanyaan secara sekaligus tanpa jeda sama sekali. Sepertinya
Narendra memang sungguh sudah tidak sabar lagi untuk menunggu reaksi dari
wanita itu.
Menyadari tidak ada
jawaban sama sekali dari Liora, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk
membuatnya berpikir terlalu keras. Ayolah, ia bahkan belum memiliki tenaga yang
cukup. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Ini bahkan belum ada lima menit
sejak wanita itu membuka matanya. Narendra perlu menunggu sedikit lagi sampai kondisinya
benar-benar mencapai fase sempurna. Sehingga otaknya juga bisa bekerja dengan
optimal. Jadi wajar saja jika ia belum bisa menjawab pertanyaan Narendra
barusan.
Pria itu paham. Dia
akan membiarkan Liora sampai mau bicara dengan sendirinya. Tidak perlu terlalu
memaksa. Tadinya ia berniat ingin sekalian mengunjungi Agatha juga kalau
kondisi Liora masih sama seperti sebelumnya. Namun, karena wanita itu sudah
sadar sekarang, ia jadi tidak bisa kemana-mana. Mau tak mau ia terpaksa
menemani Liora.
Agatha pasti bisa
menunggu. Lagi pula dia tidak pernah terlalu berharap dengan kedatangan
Narendra untuk menjenguknya. Sejak pertama kali mendapatkan kabar kalau Liora
di rawat di sini, Narendra mulai sering melakukan kunjungan secara rutin. Hanya
untuk memastikan kalau kondisi putri semata wayangnya itu baik-baik saja.
Mereka tidak sengaja
saling berpapasan saat berada di lobi. Pada saat yang bersamaan pula Narendra
mengetahui kalau putrinya dirawat di rumah sakit yang sama dengan Liora. Tapi,
pria itu tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelumnya. Pihak kepolisian
meminta rumah sakit untuk tidak memberikan salinan rekaman kamera pengawasnya
kepada siapa pun kecuali pihak berwenang. Oleh sebab itu, yang diketahui
Narendra hanya sekilas peristiwanya saja. Mereka mengatakan kalau Liora tidak
sengaja terkena suntikan obat berdosis tinggi yang tadinya ditujukan untuk
pasien. Namun, karena pasien tersebut mengamuk, Liora jadi terkena imbasnya.
Untuk sekarang tidak
berguna untuk membahas soal pelaku. Narendra ingin mengesampingkan hal tersebut
lebih dulu. Bagaimanapun juga kesehatan Liora adalah yang utama. Kenyataan
bahwa Liora telah berhasil melewati masa kritisnya adalah sebuah kabar baik
bagi pria itu. Setidaknya sekarang ia sudah bisa bernapas dengan lega.
“Kemana gadis itu?”
tanya Liora dengan suara parau.
“Siapa maksudmu?” tanya
Narendra balik sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.
Liora tampak seperti
tersimpan di dalam hatinya. Dia tidak akan pernah tenang. Tidak sampai semua
tujuannya tercapai.
“Agatha, kemana gadis
itu?” tanya Liora sekali lagi.
“Kenapa tiba-tiba kau
mencarinya? Kau bahkan baru saja sadarkan diri,” kata pria itu.
“Apa kau tahu kalau dialah
yang menyerangku sampai jadi seperti ini!” tuduh Liora.
Sudah jelas jika ia seeding
mengada-ada. Apa yang dikatakan olehnya barusan sama sekali tidak benar. Bahkan
orang lain yang sedang tidak berada di tempat kejadian waktu itu pun telah
mengakui hal tersebut. Mereka memihak kepada yang benar. Agatha tidak akan
menyerang orang lain kalau orang tersebut tidak menyerangnya lebih dulu.
“Apa maksudmu?” tanya
Narendra untuk memastikan.
“Kau pasti sedang
mengigau bukan?” tanya pria itu lagi.
“Kau baru saja sadar!”
tegasnya.
“Tidak! Aku
sungguh-sungguh,” kata Liora.
“Apa kau tidak percaya
denganku?” protesnya.
“Bukan begitu!” tepis
pria itu dengan cepat.
Narendra menggaruk
kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.
Pria itu tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara mereka berdua yang berujung
mengancam hubungannya dengan Liora. Lebih tepatnya ia tidak ingin salah bicara.
Karena bagaimanapun juga Agatha tetap anaknya. Sementara itu Liora adalah calon
istrinya. Narendra tidak bisa memihak kepada salah satu dari mereka selama
kebenarannya belum terungkap. Ia harus berusaha untuk bersikap netral. Menengahi
keduanya.
“Dengarkan aku! Kita
tidak bisa asal menuduh selama buktinya masih belum ada,” jelas Narendra yang
sedang mencoba untuk memberikan pengertian kepada wanita itu.
“Tapi, aku masih bisa
mengingat semua kejadiannya dengan jelas!” celetuk Liora.
“Dia menyerangku dengan
membabi buta pada hari itu. Padahal aku sengaja datang ke kamarnya untuk
menjenguk. Seperti yang kau tahu kalau gadis itu telah diracuni oleh seseorang
bukan?” jelas wanita itu.
Ia masih berusaha untuk
membela dirinya mati-matian. Bersikap seolah-olah dia adalah korbannya di sini.
Padahal kebenaran sama sekali tidak memihak kepadanya. kemenangan sedang tidak
berada di sisinya saat ini. Sayang sekali, Dewi Fortuna juga sedang tak
berpihak kepadanya.
Masih bisa-bisanya Liora
berbohong dengan menciptakan semua skenario palsu itu. Sepertinya ia sudah
cocok untuk menjadi seorang pengarang. Kemampuan imajinasinya sungguh luar
biasa. Kenapa tidak dicoba pada hal positif saja, dari pada harus seperti ini.
“Tunggu dulu!” ucap
pria itu sambil mengerutkan dahinya.
“Bagaimana bisa kau
mengetahui kalau Agatha sakit dan sedang dirawat di sini pada saat itu?”
tanyanya dengan penuh curiga.
Benar juga. Bagaimana bisa
wanita itu tahu lebih dulu ketimbang ayahnya sendiri. Padahal Agatha sama
sekali tidak mengenal Liora sebelumnya. Mereka tidak pernah bertemu dan lebih
tepatnya Narendra memang belum pernah saling mengenalkan mereka berdua.
“Sial! Bagaimana bisa
aku lupa soal yang satu itu?” umpatnya di dalam hati.
Liora
pikir jika semua kebohongan itu akan membuatnya aman. Tapi, ternyata malah
sebaliknya. Sepertinya lain kali ia harus lebih teliti lagi agar hal yang sama
tidak terulang kembali.