The Riot

The Riot
Playing Victim



Sementara itu di sisi


lain, seorang wanita yang bernama Liora itu masih dalam keadaan yang tidak


baik. Kondisinya baru saja membaik. Tapi belum sembuh sepenuhnya. Ia barusaja


melewati masa-masa kritisnya. Sungguh sebuah keajaiban Liora bisa selamat dari


mala petaka tersebut. Pasti karena Agatha cepat menekan bell darurat. Sehingga dokter


segera memberinya pertolongan. Kalau tidak, pasti sudah berbeda lagi ceritanya.


Padahal Agatha sangat berharap agar orang seperti Liora tidak memiliki tempat


lagi di dunia ini. Dia tidak pantas untuk mendapatkan kehidupan yang layak. Sama


seperti ayahnya. Mereka berdua sama saja sebenarnya.


Karena ini adalah hari


pertama wanita itu kembali membuka kedua kelopak matanya setelah sekian lama. Setidaknya


sekarang ia sudah bisa bicara satu atau dua patah kata. Dari pada sebelumnya,


ia tidak bisa bergerak sama sekali. Bahkan sadar saja tidak. Harusnya wanita


itu beryukur karena masi diberikan kesempatan kedua. Setelah ini Liora harus


bersikap jauh lebih baik lagi kepada Agatha. Memperlakukan gadis itu dengan


semestinya. Jika bukan karena tindakan spontan Agatha waktu itu, mungkin saat


ini ia hanya sekedar nama saja.


Narendra sudah tidak


sabar untuk bertemu dengan kekasihnya yang satu itu. Calon istri lebih


tepatnya. Mungkin pria itu akan jauh lebih suka jika orang-orang memanggil


Liora dengan sebutan tersebut. Begitu pula dengan sang pemilik nama.


“Bagaimana keadaanmu


sekarang?”


“Apa sudah merasa jauh


lebih baik dari pada sebelumnya?”


Pria itu langsung


mengajukan dua pertanyaan secara sekaligus tanpa jeda sama sekali. Sepertinya


Narendra memang sungguh sudah tidak sabar lagi untuk menunggu reaksi dari


wanita itu.


Menyadari tidak ada


jawaban sama sekali dari Liora, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk


membuatnya berpikir terlalu keras. Ayolah, ia bahkan belum memiliki tenaga yang


cukup. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. Ini bahkan belum ada lima menit


sejak wanita itu membuka matanya. Narendra perlu menunggu sedikit lagi sampai kondisinya


benar-benar mencapai fase sempurna. Sehingga otaknya juga bisa bekerja dengan


optimal. Jadi wajar saja jika ia belum bisa menjawab pertanyaan Narendra


barusan.


Pria itu paham. Dia


akan membiarkan Liora sampai mau bicara dengan sendirinya. Tidak perlu terlalu


memaksa. Tadinya ia berniat ingin sekalian mengunjungi Agatha juga kalau


kondisi Liora masih sama seperti sebelumnya. Namun, karena wanita itu sudah


sadar sekarang, ia jadi tidak bisa kemana-mana. Mau tak mau ia terpaksa


menemani Liora.


Agatha pasti bisa


menunggu. Lagi pula dia tidak pernah terlalu berharap dengan kedatangan


Narendra untuk menjenguknya. Sejak pertama kali mendapatkan kabar kalau Liora


di rawat di sini, Narendra mulai sering melakukan kunjungan secara rutin. Hanya


untuk memastikan kalau kondisi putri semata wayangnya itu baik-baik saja.


Mereka tidak sengaja


saling berpapasan saat berada di lobi. Pada saat yang bersamaan pula Narendra


mengetahui kalau putrinya dirawat di rumah sakit yang sama dengan Liora. Tapi,


pria itu tidak pernah tahu apa yang terjadi sebelumnya. Pihak kepolisian


meminta rumah sakit untuk tidak memberikan salinan rekaman kamera pengawasnya


kepada siapa pun kecuali pihak berwenang. Oleh sebab itu, yang diketahui


Narendra hanya sekilas peristiwanya saja. Mereka mengatakan kalau Liora tidak


sengaja terkena suntikan obat berdosis tinggi yang tadinya ditujukan untuk


pasien. Namun, karena pasien tersebut mengamuk, Liora jadi terkena imbasnya.


Untuk sekarang tidak


berguna untuk membahas soal pelaku. Narendra ingin mengesampingkan hal tersebut


lebih dulu. Bagaimanapun juga kesehatan Liora adalah yang utama. Kenyataan


bahwa Liora telah berhasil melewati masa kritisnya adalah sebuah kabar baik


bagi pria itu. Setidaknya sekarang ia sudah bisa bernapas dengan lega.


“Kemana gadis itu?”


tanya Liora dengan suara parau.


“Siapa maksudmu?” tanya


Narendra balik sambil menggenggam kedua tangan gadis itu.


Liora tampak seperti


tersimpan di dalam hatinya. Dia tidak akan pernah tenang. Tidak sampai semua


tujuannya tercapai.


“Agatha, kemana gadis


itu?” tanya Liora sekali lagi.


“Kenapa tiba-tiba kau


mencarinya? Kau bahkan baru saja sadarkan diri,” kata pria itu.


“Apa kau tahu kalau dialah


yang menyerangku sampai jadi seperti ini!” tuduh Liora.


Sudah jelas jika ia seeding


mengada-ada. Apa yang dikatakan olehnya barusan sama sekali tidak benar. Bahkan


orang lain yang sedang tidak berada di tempat kejadian waktu itu pun telah


mengakui hal tersebut. Mereka memihak kepada yang benar. Agatha tidak akan


menyerang orang lain kalau orang tersebut tidak menyerangnya lebih dulu.


“Apa maksudmu?” tanya


Narendra untuk memastikan.


“Kau pasti sedang


mengigau bukan?” tanya pria itu lagi.


“Kau baru saja sadar!”


tegasnya.


“Tidak! Aku


sungguh-sungguh,” kata Liora.


“Apa kau tidak percaya


denganku?” protesnya.


“Bukan begitu!” tepis


pria itu dengan cepat.


Narendra menggaruk


kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung. Tidak tahu harus bereaksi bagaimana.


Pria itu tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara mereka berdua yang berujung


mengancam hubungannya dengan Liora. Lebih tepatnya ia tidak ingin salah bicara.


Karena bagaimanapun juga Agatha tetap anaknya. Sementara itu Liora adalah calon


istrinya. Narendra tidak bisa memihak kepada salah satu dari mereka selama


kebenarannya belum terungkap. Ia harus berusaha untuk bersikap netral. Menengahi


keduanya.


“Dengarkan aku! Kita


tidak bisa asal menuduh selama buktinya masih belum ada,” jelas Narendra yang


sedang mencoba untuk memberikan pengertian kepada wanita itu.


“Tapi, aku masih bisa


mengingat semua kejadiannya dengan jelas!” celetuk Liora.


“Dia menyerangku dengan


membabi buta pada hari itu. Padahal aku sengaja datang ke kamarnya untuk


menjenguk. Seperti yang kau tahu kalau gadis itu telah diracuni oleh seseorang


bukan?” jelas wanita itu.


Ia masih berusaha untuk


membela dirinya mati-matian. Bersikap seolah-olah dia adalah korbannya di sini.


Padahal kebenaran sama sekali tidak memihak kepadanya. kemenangan sedang tidak


berada di sisinya saat ini. Sayang sekali, Dewi Fortuna juga sedang tak


berpihak kepadanya.


Masih bisa-bisanya Liora


berbohong dengan menciptakan semua skenario palsu itu. Sepertinya ia sudah


cocok untuk menjadi seorang pengarang. Kemampuan imajinasinya sungguh luar


biasa. Kenapa tidak dicoba pada hal positif saja, dari pada harus seperti ini.


“Tunggu dulu!” ucap


pria itu sambil mengerutkan dahinya.


“Bagaimana bisa kau


mengetahui kalau Agatha sakit dan sedang dirawat di sini pada saat itu?”


tanyanya dengan penuh curiga.


Benar juga. Bagaimana bisa


wanita itu tahu lebih dulu ketimbang ayahnya sendiri. Padahal Agatha sama


sekali tidak mengenal Liora sebelumnya. Mereka tidak pernah bertemu dan lebih


tepatnya Narendra memang belum pernah saling mengenalkan mereka berdua.


“Sial! Bagaimana bisa


aku lupa soal yang satu itu?” umpatnya di dalam hati.


Liora


pikir jika semua kebohongan itu akan membuatnya aman. Tapi, ternyata malah


sebaliknya. Sepertinya lain kali ia harus lebih teliti lagi agar hal yang sama


tidak terulang kembali.