
Jangan salah paham dulu
soal isi buku harian Arjuna waktu itu. Semuanya hanya rekayasa belaka. Palsu,
ilusi yang menipu. Zura dan Arjuna sudah merencanakan semuanya sejak awal
dengan sedemikian rupa. Ini baru permulaannya. Mereka bahkan baru memulai
langkah pertamanya. Tidak ada yang benar-benar tahu apa rencana mereka ke
depannya.
Arjuna tidak pernah
benar-benar mencintai seorang gadis yang bernama Agatha itu. Dulu ia mengira
kalau semua itu memang tidak akan pernah terjadi. Tapi sekarang rasanya tidak
ada yang tidak mungkin. Mengingat hubungan mereka yang semakin dekat dan akrab,
tidak menutup kemungkinan kalau Arjuna akan jatuh hati kepada gadis itu.
Entahlah, ia tidak tahu
apa yang akan terjadi ke depannya. Kalau pun semua itu akan terjadi, maka ia
tidak akan menolak. Semua hal yang sudah direncanakan untuk terjadi maka akan
tetap terjadi apa pun ceritanya. Tidak ada manusia yang bisa memastikan masa
depannya sendiri. Mereka bahkan tidak bisa menolak atau bahkan mengubah takdir
meski mereka mau.
Manusia hanya akan
menjadi mahluk yang egois dan sombong jika bisa melakukan segala hal yang ia
mau. Itu sebabnya kenapa mereka diciptakan tanpa kata sempurna. Bahkan jauh
dari kata sempurna. Ada beberapa hal yang tidak bisa mereka lakukan. Hal
tersebutlah yang membuat manusia tetap berada di dalam garis batasnya sendiri.
“Apa dia sudah
benar-benar terlelap?” tanya Arjuna.
“Sepertinya sudah,”
jawab Jeff sambil memandangi gadis itu sekali lagi untuk memastikan.
“Kalau begitu ayok kita
makan di luar!” ajak Arjuna yang kemudian ikut diangguki pria itu.
Mereka berdua pergi
meninggalkan ruangan dengan langkah yang super hati-hati. Mulai saat beranjak
dari tempat duduk, hingga sampai di ambang pintu. Semuanya dilakukan dengan
begitu hati-hati. Bahkan ketika sol sepatunya menghantam permukaan lantai saja
nyaris tidak terdengar suara apa pun. Baik Arjuna maupun Jeff sama-sama berusaha
untuk tidak menimbulkan suara apa pun. Apalagi kalau sampai harus menciptakan
keributan. Mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahat gadis itu. Seperti
yang sudah dikatakan oleh dokter sebelumnya, jika Agatha perlu istirahat yang
banyak untuk membantu proses pemulihan tubuhnya.
Mereka memilih tempat
makan yang tidak terlalu jauh. Masih berada di dalam komplek rumah sakit ini
juga. Lebih tepatnya di kantin rumah sakit. Mereka bisa mendapatkan berbagai
jenis makanan di sini. Dan yang terpenting, tidak terlalu jauh. Jadi mereka
bisa kembali kapan saja ke ruangan Agatha. Lagi pula tujuan utama mereka datang
ke sini memang untuk menjaga gadis itu bukan. Anggap saja jika yang sedang
mereka lakukan sekarang ini adalah bentuk balas budi yang paling setimpal.
Semua orang akan saling melindungi mulai hari ini.
“Menurutmu siapa yang
menaruh racun di makanan Agatha tadi?” tanya Arjuna secara tiba-tiba.
Jeff sontak berhentik
dari pekerjaannya. Pria itu meletakkan sendoknya begitu saja. Pada faktanya
topik pembicaraan mereka malam ini terasa jauh lebih menarik daripada makan
malamnya.
“Entahlah, aku juga
tidak tahu,” balas Jeff sambil menggidikkan bahunya.
“Apa dia memiliki
seseorang yang tidak suka dengannya?” tanya Jeff balik.
“Ayolah! Kau ini
seperti manusia yang baru hidup satu atau dua tahun saja,” ujar Arjuna.
“Bahkan manusia yang
baik seperti malaikat pun, tetap ada yang tidak menyukainya,” jelasnya
kemudian.
“Atau jangan-jangan ia
pernah terlibat masalah dengan seseorang?” tebak Jeff.
“Bisa jadi. Tapi,
siapa?” gumam Arjuna.
Satu detik, dua detik,
tiga detik, suasana berubah menjadi hening seketika. Tidak ada yang buka suara
hal yang cukup menyita perhatian mereka di sini.
“Kenapa kita tidak
pergi ke restoran itu lagi saja? Lakukan pemeriksaan,” usul Jeff yang mendadak
memecah keheningan suasana.
“Kita bahkan bisa
menuntut pihak restoran itu kalau mau!” imbuhnya.
“Aku yakin kalau pasti
ada seseorang yang berusaha untuk menyuap salah satu pegawainya agar
mencampurkan racun ke dalam makanannya. Atau bisa jadi jika ia yang
melakukannya sendiri tanpa sepengetahuan orang lain,” jelas Arjuna dengan
panjang lebar.
Apa yang dikatakan pria
itu barusan tidak ada salahnya. Namun, juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Mereka
harus melakukan pemeriksaan lagi untuk memastikan semuanya. Tidak bisa asal
tuduh saja. Semua harus benar-benar sesuai dengan fakta. Tidak ada yang dilebih-lebihkan
dan tidak ada pula yang dikurang-kurangi. Semuanya harus pas dan sesuai. Apa
adanya.
“Jadi, haruskah kita
melakukan penyelidikan di sana?” tanya Arjuna sekali lagi.
“Tentu saja!” balas
lawan bicaranya dengan yakin.
Mereka tidak bisa diam
saja seperti ini. Bukan karena posisi Agatha saat ini sebagai temannya saja.
Meski itu termasuk ke dalam salah satu alasannya, tapi alasan utamanya bukan
itu. Keadilan bukan hanya sekedar formalitas. Tapi memang benar-benar harus
ditegakkan. Mereka yang mendapatkan perlakuan tidak adil berhak untuk menuntut
keadilan. Tidak peduli siapa dia dan apa posisinya.
Yang harus mereka
lakukan saat ini adalah menegakkan keadilan bagi Agatha. Gadis itu nyaris
sekarat tadi. Jika tubuhnya tidak melakukan keajaiban, maka mungkin sekarang ia
sudah berakhir di ruang mayat.
Memberi racun ke
makanan orang lain bukan lagi tindakan yang tidak disengaja. Semua orang juga
tahu kalau segala sesuatunya sudah direncanakan dengan sedemikian rupa. Jadi,
tidak ada alasan untuk menolak lagi.
“Kalau begitu kapan
kita akan melakukan penyelidikan?” tanya Arjuna.
Kali ini pertanyaannya
bukan untuk memastikan. Tapi, meminta saran yang tepat.
“Secepatnya,” jawab
Jeff singkat.
Semakin cepat mereka
bertindak, maka akan semakin cepat pula pelakunya tertangkap. Sampai saat ini
baik Jeff maupun Arjuna sama sekali belum memiliki gambaran tentang siapa
pelakunya dan apa motifnya. Tapi, mereka bisa memastikan kalau sebentar lagi
semua out akan segera terungkap.
“Hubungi pihak kantor
sekarang dan minta mereka untuk mengeluarkan surat perintah. Bilan jika aku
yang memintanya. Kalau mereka tidak percaya, katakan kepadaku,” jelas Arjuna
dengan panjang lebar.
“Sisanya biar aku yang
mengurus,” sambung pria itu.
Tidak ada respon lain
dari Jeff selain mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan seorang pria yang
memiliki posisi sebagai teman sekaligus atasannya di kantor. Memang tidak salah
lagi. Arjuna pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Tidak perlu waktu lama baginya
untuk menyusun rencana. Seolah-olah otaknya sudah otomatis bekerja ketika ia
dihadapkan pada sebuah masalah. Jeff bahkan mengakui hal yang satu itu.
Setelah selesai makan dan semua hal yang diperlukan
selesai, mereka bisa langsung pergi ke restoran tadi untuk melakukan
pemeriksaan. Arjuna akan memastikan kalau tidak ada yang bisa menghambat proses
tersebut. Sekarang masih pukul tujuh kurang lime belas menit. Mereka masih
memiliki waktu yang cukup untuk melakukan semuanya. Bahkan sudah lebih dari
cukup mungkin.