The Riot

The Riot
Night Mission



Jangan salah paham dulu


soal isi buku harian Arjuna waktu itu. Semuanya hanya rekayasa belaka. Palsu,


ilusi yang menipu. Zura dan Arjuna sudah merencanakan semuanya sejak awal


dengan sedemikian rupa. Ini baru permulaannya. Mereka bahkan baru memulai


langkah pertamanya. Tidak ada yang benar-benar tahu apa rencana mereka ke


depannya.


Arjuna tidak pernah


benar-benar mencintai seorang gadis yang bernama Agatha itu. Dulu ia mengira


kalau semua itu memang tidak akan pernah terjadi. Tapi sekarang rasanya tidak


ada yang tidak mungkin. Mengingat hubungan mereka yang semakin dekat dan akrab,


tidak menutup kemungkinan kalau Arjuna akan jatuh hati kepada gadis itu.


Entahlah, ia tidak tahu


apa yang akan terjadi ke depannya. Kalau pun semua itu akan terjadi, maka ia


tidak akan menolak. Semua hal yang sudah direncanakan untuk terjadi maka akan


tetap terjadi apa pun ceritanya. Tidak ada manusia yang bisa memastikan masa


depannya sendiri. Mereka bahkan tidak bisa menolak atau bahkan mengubah takdir


meski mereka mau.


Manusia hanya akan


menjadi mahluk yang egois dan sombong jika bisa melakukan segala hal yang ia


mau. Itu sebabnya kenapa mereka diciptakan tanpa kata sempurna. Bahkan jauh


dari kata sempurna. Ada beberapa hal yang tidak bisa mereka lakukan. Hal


tersebutlah yang membuat manusia tetap berada di dalam garis batasnya sendiri.


“Apa dia sudah


benar-benar terlelap?” tanya Arjuna.


“Sepertinya sudah,”


jawab Jeff sambil memandangi gadis itu sekali lagi untuk memastikan.


“Kalau begitu ayok kita


makan di luar!” ajak Arjuna yang kemudian ikut diangguki pria itu.


Mereka berdua pergi


meninggalkan ruangan dengan langkah yang super hati-hati. Mulai saat beranjak


dari tempat duduk, hingga sampai di ambang pintu. Semuanya dilakukan dengan


begitu hati-hati. Bahkan ketika sol sepatunya menghantam permukaan lantai saja


nyaris tidak terdengar suara apa pun. Baik Arjuna maupun Jeff sama-sama berusaha


untuk tidak menimbulkan suara apa pun. Apalagi kalau sampai harus menciptakan


keributan. Mereka tidak ingin mengganggu waktu istirahat gadis itu. Seperti


yang sudah dikatakan oleh dokter sebelumnya, jika Agatha perlu istirahat yang


banyak untuk membantu proses pemulihan tubuhnya.


Mereka memilih tempat


makan yang tidak terlalu jauh. Masih berada di dalam komplek rumah sakit ini


juga. Lebih tepatnya di kantin rumah sakit. Mereka bisa mendapatkan berbagai


jenis makanan di sini. Dan yang terpenting, tidak terlalu jauh. Jadi mereka


bisa kembali kapan saja ke ruangan Agatha. Lagi pula tujuan utama mereka datang


ke sini memang untuk menjaga gadis itu bukan. Anggap saja jika yang sedang


mereka lakukan sekarang ini adalah bentuk balas budi yang paling setimpal.


Semua orang akan saling melindungi mulai hari ini.


“Menurutmu siapa yang


menaruh racun di makanan Agatha tadi?” tanya Arjuna secara tiba-tiba.


Jeff sontak berhentik


dari pekerjaannya. Pria itu meletakkan sendoknya begitu saja. Pada faktanya


topik pembicaraan mereka malam ini terasa jauh lebih menarik daripada makan


malamnya.


“Entahlah, aku juga


tidak tahu,” balas Jeff sambil menggidikkan bahunya.


“Apa dia memiliki


seseorang yang tidak suka dengannya?” tanya Jeff balik.


“Ayolah! Kau ini


seperti manusia yang baru hidup satu atau dua tahun saja,” ujar Arjuna.


“Bahkan manusia yang


baik seperti malaikat pun, tetap ada yang tidak menyukainya,” jelasnya


kemudian.


“Atau jangan-jangan ia


pernah terlibat masalah dengan seseorang?” tebak Jeff.


“Bisa jadi. Tapi,


siapa?” gumam Arjuna.


Satu detik, dua detik,


tiga detik, suasana berubah menjadi hening seketika. Tidak ada yang buka suara


hal yang cukup menyita perhatian mereka di sini.


“Kenapa kita tidak


pergi ke restoran itu lagi saja? Lakukan pemeriksaan,” usul Jeff yang mendadak


memecah keheningan suasana.


“Kita bahkan bisa


menuntut pihak restoran itu kalau mau!” imbuhnya.


“Aku yakin kalau pasti


ada seseorang yang berusaha untuk menyuap salah satu pegawainya agar


mencampurkan racun ke dalam makanannya. Atau bisa jadi jika ia yang


melakukannya sendiri tanpa sepengetahuan orang lain,” jelas Arjuna dengan


panjang lebar.


Apa yang dikatakan pria


itu barusan tidak ada salahnya. Namun, juga tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Mereka


harus melakukan pemeriksaan lagi untuk memastikan semuanya. Tidak bisa asal


tuduh saja. Semua harus benar-benar sesuai dengan fakta. Tidak ada yang dilebih-lebihkan


dan tidak ada pula yang dikurang-kurangi. Semuanya harus pas dan sesuai. Apa


adanya.


“Jadi, haruskah kita


melakukan penyelidikan di sana?” tanya Arjuna sekali lagi.


“Tentu saja!” balas


lawan bicaranya dengan yakin.


Mereka tidak bisa diam


saja seperti ini. Bukan karena posisi Agatha saat ini sebagai temannya saja.


Meski itu termasuk ke dalam salah satu alasannya, tapi alasan utamanya bukan


itu. Keadilan bukan hanya sekedar formalitas. Tapi memang benar-benar harus


ditegakkan. Mereka yang mendapatkan perlakuan tidak adil berhak untuk menuntut


keadilan. Tidak peduli siapa dia dan apa posisinya.


Yang harus mereka


lakukan saat ini adalah menegakkan keadilan bagi Agatha. Gadis itu nyaris


sekarat tadi. Jika tubuhnya tidak melakukan keajaiban, maka mungkin sekarang ia


sudah berakhir di ruang mayat.


Memberi racun ke


makanan orang lain bukan lagi tindakan yang tidak disengaja. Semua orang juga


tahu kalau segala sesuatunya sudah direncanakan dengan sedemikian rupa. Jadi,


tidak ada alasan untuk menolak lagi.


“Kalau begitu kapan


kita akan melakukan penyelidikan?” tanya Arjuna.


Kali ini pertanyaannya


bukan untuk memastikan. Tapi, meminta saran yang tepat.


“Secepatnya,” jawab


Jeff singkat.


Semakin cepat mereka


bertindak, maka akan semakin cepat pula pelakunya tertangkap. Sampai saat ini


baik Jeff maupun Arjuna sama sekali belum memiliki gambaran tentang siapa


pelakunya dan apa motifnya. Tapi, mereka bisa memastikan kalau sebentar lagi


semua out akan segera terungkap.


“Hubungi pihak kantor


sekarang dan minta mereka untuk mengeluarkan surat perintah. Bilan jika aku


yang memintanya. Kalau mereka tidak percaya, katakan kepadaku,” jelas Arjuna


dengan panjang lebar.


“Sisanya biar aku yang


mengurus,” sambung pria itu.


Tidak ada respon lain


dari Jeff selain mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan seorang pria yang


memiliki posisi sebagai teman sekaligus atasannya di kantor. Memang tidak salah


lagi. Arjuna pantas untuk menjadi seorang pemimpin. Tidak perlu waktu lama baginya


untuk menyusun rencana. Seolah-olah otaknya sudah otomatis bekerja ketika ia


dihadapkan pada sebuah masalah. Jeff bahkan mengakui hal yang satu itu.


Setelah  selesai makan dan semua hal yang diperlukan


selesai, mereka bisa langsung pergi ke restoran tadi untuk melakukan


pemeriksaan. Arjuna akan memastikan kalau tidak ada yang bisa menghambat proses


tersebut. Sekarang masih pukul tujuh kurang lime belas menit. Mereka masih


memiliki waktu yang cukup untuk melakukan semuanya. Bahkan sudah lebih dari


cukup mungkin.