The Riot

The Riot
Pemberontak



Lima menit lagi Zura


akan pergi ke ruangan pria itu untuk memastikan apakah obatnya sudah bekerja


atau belum. Tentunya ia harus menyelesaikan sisa pekerjaannya lebih dulu. Zura


harus melakukan kunjungan ke beberapa pasien VIP yang terletak di lantai paling


atas. Jumlahnya tidak terlalu banyak seperti pasien umum. Jadi, tidak akan


memakan banyak waktu. Zura bisa menyelesaikan segalanya dengan cepat.


Ruangan VIP dengan


ruangan biasa jelas berbeda. Dari namanya sudah tampak perbedaannya. Harganya


pun jauh lebih mahal di ruang VIP karena fasilitas yang serta pelayanan yang


disediakan tidak tanggung-tanggung. Tapi, tidak semua orang bisa mengakses


tempat itu. Hanya orang-orang tertentu saja.


Hari ini Zura tidak


ditemani oleh perawat. Dia melakukan kunjungan seorang diri. Tidak masalah. Lagipula


gadis itu hanya akan mengecek perkembangan kondisi pasien.


‘TING!’


Suara tersebut berhasil


mengalihkan pandangannya dari jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan


kanannya. Sekarang hampir pukul sembilan malam. Masih belum terlalu larut.


Tepat setelah pintu


terbuka, Zura langsung melangkah keluar. Sekarang ia sudah berada di lantai


paling atas. Tempat semua pasien VIP berada. Tidak semua pasien di sini Zura


yang menanganinya. Ada beberapa dokter yang juga ambil peran di sini. Tanpa


buang-buang waktu lagi, gadis itu bergegas menuju salah satu ruangan pasien


pertamanya.


“Selamat malam tuan!”


sapa Zura.


Sama sekali tidak ada


sapaan balik. Pria itu hanya menoleh sekilas ke arahnya.


“Aku akan memeriksa


keadaanmu dulu. Apakah sudah membaik atau belum,” ujarnya.


“Baiklah, kalau begitu,”


balas pria itu.


Ini adalah pasien VIP pertama


yang ia kunjungi. Pria paruh baya pemilik perusahaan yang bergerak di bidang


kontraktor. Dia menderita penyakit jantung. Beberapa hari lalu baru saja


kambuh, sehingga mau tak mau terpaksa dilarikan ke rumah sakit. Anaknya meminta


agar ayahnya ditempatkan pada ruangan terbaik di rumah sakit ini. Soal biaya


pasti bukan sebuah masalah bagi kalangan menengah ke atas seperti mereka.


Jika kalian berpikir


kalau anak dari pria itu benar-benar bermaksud baik kepada ayahnya, maka kalian


salah besar. Karena justru ia malah berbuat sebaliknya. Ada banyak rahasia


besar yang tersembunyi di setiap pintu ruangan VIP. Tidak seindah dan semewah


yang kalian lihat.


“Buat


dia berada lebih lama di rumah sakit ini. Kalau perlu sampai mati!”


“Bagaimana


bisa aku melakukannya? Setiap dokter berhak untuk membantu pasiennya sembuh!”


“Memang


benar kalalu itu adalah tugasmu. Tapi, apakah kau lupa sedang berhadapan dengan


siapa sekarang? Kalau sampai aku tidak melakukan apa yang kuminta, siap-siap


saja untuk merasakan akibatnya.”


Perbincangan mereka


beberapa hari yang lalu kembali terngiang di dalam kepala Zura. Sungguh, posisinya


saat ini tak mudah. Ia bahkan tidak diberi kesempatan untuk memilih sama sekali.


Sebenarnya, Zura tidak ingin melakukan hal keji dan tidak berperi kemanusiaan


seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Nyawanya sedang dipertaruhkan sekarang.


Bukan dia yang memilih untuk terlibat dalam masalah.


“Akan kuberikan obat


tambahan yang bisa menunjang staminamu selama di sini. Semoga cepat sembuh!”


ucap gadis itu sambil tersenyum tipis.


Kemudian Zura


menyuntikkan sebuah cairan ke dalam kantong infus pria itu. Tidak, kali ini dia


sedang tidak bermaksud untuk berbuat jahat. Untuk pertama kalinya Zura melawan.


Gadis itu sungguh berharap agar pria ini cepat sembuh. Rencana busuk anaknya


yang satu itu tidak boleh sampai berjalan dengan mulus. Ia harus lekas sembuh


untuk mengacaukan semuanya.


Sudah beberapa kali


gadis itu merencanakan hal tersebut, namun baru hari ini berhasil di lakukan. Itu


pun secara diam-diam.


“Beristirahat lah, aku


akan pergi ke tempat pasien lain,” pamit Zura lalu membenarkan selimut pria itu


Zura harus tetap


berhati-hati selama melaksanakan tugasnya. Kalau sampai ia ketahuan


memberontak, mungkin bukan hanya karirnya saja yang terancam. Bahkan seluruh


hidupnya. Kabarnya, anak dari pemilik perusahaan itu akan merebut perusahaan


ayahnya. Ia tidak segan-segan untuk menyingkirkan siapa saja yang berusaha untuk


menghalangi langkahnya dalam mencapai kemenangan.


***


Setelah selesai


melakukan kunjugan ke beberapa pasien VIP, Zura langsung turun kembali ke


lantai bawah. Tidak ada alasan untuk berada di ruangan VIP lebih lama lagi.


Tugasnya sudah selesai.


“Seharusnya sekarang


gadis itu sudah tertidur pulas,” gumam Zura sambil memeriksa jam tangannya.


09.10


Dengan tergesa-gesa


gadis itu berjalan menuju ruangan dimana Arjuna dirawat. Tanpa mengetuk pintu


sama sekali, ia langsung menerobos masuk begitu saja. Lagipula untuk apa


melakukan semua itu kalau tidak ada yang akan menjawabnya nanti. Hanya buang-buang


waktu saja.


Di saat yang bersamaan


pula Agatha menoleh ke belakang. Padahal tadi dia sedang tertidur. Tidak, dia


bukan sedang tertidur karena pengaruh obat yang diberikan. Gadis itu memang


murni sedang mengantuk.


Sontak Zura merasa


terkejut bukan main, karena mendapati Agatha yang ternyata belum tertidur


sepenuhnya. Padahal seharusnya obat itu cukup ampuh untuk membuat orang lain


tertidur pulas. Tapi, bagaimana bisa hal ini terjadi.


“Kau belum tidur?”


tanya Zura sambil berjalan mendekat ke arah kasur.


“Tadinya sudah. Cuma


aku tidak sengaja terbangun karena suara berisik tadi. Kukira siapa, ternyata


kau,” jelas Agatha sambil mengusap-usap kedua kelopak matanya.


Sepertinya ia perlu


mengonsumsi sedikit kafein untuk tetap terjaga malam ini. Siapa tahu Arjuna


akan terbangun di tengah malam dan perlu sesuatu. Sehingga, kalau Agatha tetap


bangun pasti akan lebih mudah.


“Kau sendiri kenapa


kemari?” tanya Agatha balik.


“Ah, ini! Aku ingin


mengecek kondisi Arjuna,” alasan Zura.


“Tapi Arjuna sama


sekali belum sadarkan diri sejak tadi siang,” ungkap Agatha.


Gadis itu lalu


membenarkan posisi duduknya. Sehingga bisa melihat lawan bicaranya dengan


jelas. Meski sekarang ini ia sedang berbicara dengan sahabatnya sendiri, tetap


saja harus berlaku sopan.


“Tentu saja dia belum


bangun! Aku yang memberinya obat tidur,” batinnya dalam hati dengan perasaan


kesal.


“Tidak perlu cemas.


Sebentar lagi dia juga akan bangun,” kata Zura dengan begitu tenang.


Ketenangan adalah


satu-satunya kunci agar tidak dicurigai. Orang-orang jelas tidak akan menaruh


rasa curiga kepada mereka yang bisa mengendalikan emosinya.


“Bagaimana kalau dia


tidak bangun juga?” tanya Agatha cemas.


“Dia akan bangun,”


jawab Zura dengan yakin.


“Kau tidak percaya


denganku?” tanyanya kemudian.


“Bukannya begitu, aku


hanya khawatir kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepadanya,” jelas


Agatha.


Salah


satu tangan gadis ini beralih ke pundak Agatha. Mengusap-usapnya dengan lembut.


Zura tengah berusaha untuk mengurangi rasa cemas pada gadis itu. Bagaimanapun


juga, mereka masih tetap bersahabat sampai saat ini. Sebelumnya mereka juga


selalu ada satu sama lain ketika sedang membutuhkan. Tidak mungkin jika


sekarang Zura meninggalkannya begitu saja, meski ia sudah merasa muak.