
Setelahnya tidak ada satu pun yang berani untuk buka
suara. Meski mereka tahu jawabannya, tidak ada yang mau mengungkap
kebenarannya. Sepertinya dengan tetap bungkam adalah satu-satunya cara untuk
melindungi privasi mereka. Keheningan suasana kembali mencekik. Menyelimuti seluruh
atmosfir tempat ini. Sangking sepinya, sampai suara mesin pendingin ruangan
saja terdengar jelas.
“Sudahlah, lagipula itu tidak penting sama sekali,”
ujar Agatha secara tiba-tiba.
Pada akhirnya gadis itu yang memilih untuk
memecahkan keheningan suasana lebih dulu. Kemudian segera mengalihkan
perhatiannya ke arah lain. Entah kenapa jika membicarakan masalah keluarga
merekaa, mendadak suasananya jadi berubah. Tidak ada yang benar-benar baik
setelahnya. Sebab mereka berdua tahu jika keluarganya tidak ada satu pun yang
baik-baik saja.
Mereka hanyalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Terjebak
dalam keributan dan kekacauan yang disebabkan oleh orang tuanya sendiri.
Terlantar. Tidak memiliki arah yang jelas. Mereka hanya bisa meraba. Berharap bisa
sampai ke tempat yang paling baik.
Jika dipikir-pikir, keduanya telah melalui begitu
banyak hal. Bahkan termasuk hal yang tidak seharusnya dilalui oleh anak seusia
mereka. Bukankah semesta sudah mendidiknya terlalu keras? Tapi itu tidak apa.
Paling tidak, sekarang mereka sudah bisa bertahan hidup di dunia yang serba
kejam ini. Mengingat tidak ada orang yang bisa mereka andalkan di hidupnya. Jadi,
mereka sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri.
Pada dasarnya manusia memang diciptakan untuk
sendiri. Mereka datang ke dunia ini sendirian dan bahkan saat akan
meninggalkannya pun sendirian. Tidak ada yang ditakdirkan untuk tetap bersama. Itu
hanya dongeng pelipur lara. Tidak ada yang benar-benar berada di sisimu selalu.
Terkadang manusia mudah sekali termakan dengan bualan seperti itu. Tanpa mau
memeriksa faktanya kembali.
“Kau tidak kembali?” tanya Agatha.
“Tidak, untuk sementara aku akan tetap di sini,”
jawab pria itu secara gamblang.
Sebenarnya Agatha sama sekali tidak merasa keberatan
jika pria itu memang masih tetap ingin berada di sini. Sungguh tidak apa-apa.
Hanya saja gadis itu merasa kebingungan. Kenapa sejak tadi Aaron begitu betah
berlama-lama di tempat seperti ini. Padahal jika dibandingkan dengan tempat
tinggalnya sendiri, miliki Aaron juga tidak kalah nyaman. Malah apartment
Agatha sering kali terkesan berantakan, meski tidak kotor sama sekali.
“Keluarga kita tidak pernah baik-baik saja kan?”
tanya Aaron secara tiba-tiba.
Sontak gadis itu langsung mematung di tempat. Antara
tidak tahu dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria itu, atau malah justru
sangat paham.
“Itu sebabnya kau pergi dari rumah,” timpal pria itu
kemudian.
“Apa maksudmu?” tanya Agatha.
“Sepertinya aku tidak perlu mengulang seluruh
perkataanku. Kau sudah cukup pintar untuk memahami semuanya bukan?” tanya pria
itu balik.
Sementara, di sisi lain Agatha sama sekali tidak
tahu harus bereaksi bagaimana.
“Jangan pernah menyinggung soal keluargaku sama
sekali!” ucap gadis itu dengan penuh penekanan.
“Itu bukan urusanmu!” tegasnya sekali lagi.
Sepertinya ia tidak terlalu suka jika seseorang
mencoba untuk melanggar batas privasinya. Memangnya siapa yang suka jika
mendapati orang lain yang terlalu ikut campu soal urusan pribadinya. Kurasa
tidak ada.
“Siapa bilang jika itu bukan urusanku?” tanya Aaron
dengan nada setengah menantang.
Gadis itu lantas mengerutkan dahinya. Dalam hatinya
bertanya-tanya tenang maksud serta tujuan Aaron. Jangan kira jika Agatha sudah
“Keluargamu adalah urusanku juga. Sebab asal kau
tahu saja jika sebenarnya kita masih memilliki hubungan darah,” ungkap pria itu
secara mengejutkan.
“Satu-satunya alasan yang membuatku tetap membiarkanmu
hidup setelah kejadian hari itu adalah karena hal yang sudah kusebutkan di awal
tadi,” jelasnya kemudian.
Agatha masih terpelongo tidak percaya. Entah kenapa
yang kali ini terasa begitu sulit untuk diterima oleh akal sehatnya.
“Hahaha! Kau pikir aku percaya?” balas gadis itu
beberapa saat setelahnya.
“Terserah saja mau percaya atau tidak,” katanya.
“Aku bisa saja menghabisimu kapan pun aku mau. Tapi,
setelah mengetahui fakta yang satu itu,
kupikir akan lebih baik jika aku mengurungkan niatku. Paling tidak aku harus berhasil
dalam melindungi salah satu anggota keluargaku kali ini,” bebernya dengan
panjang lebar.
Kondisi Agatha sampai saat ini masih begitu sulit
untuk dijelaskan. Setengah dari dirinya berkata jika itu tidak mungkin, namun
separuhnya lagi malah berkata sebaliknya. Selalu saja ada dua tim yang saling
berselisih di dalam dirinya.
“Ayahmu adalah Narendra bukan?” tanya Aaron untuk
memastikan.
Tapi sayangnya gadis itu tampak tidak ingin menanggapinya
sama sekali. Tak ingin ambil pusing, Aaron lantas segera melanjutkan
kalimatnya. Aaron tak mau jika hari ini hanya dirinya saja yang tak terima soal
fakta menjijikkan tersebut. Namun, Agatha juga. Karena bagaimanapun juga gadis
itu masih ada sangkut pautnya dengan keluarga mereka.
“Dia juga ayahku,” ungkap pria itu.
“Ayah kandungku lebih tepatnya,” koreksinya
kemudian.
“Mustahil,” gumam Agatha.
“Dia berselingkuh dengan ibumu pada saat usiaku
masih sekitar dua tahun. Tidak ada satu pun yang curiga dengannya. Sampai ada
tahun kelulusanku dari sekolah menengah pertama, perselingkuhannya dengan ibumu
terbongkar. Pada akhirnya, seperti yang sudah kuduga jika ayah dan ibuku akan
memutuskan untuk bercerai demi kebaikan bersama. Padahal tidak ada yang
baik-baik saja kala itu,” jelas Aaron dengan sedetail mungkin.
Dia berusaha untuk mengingat semuanya. Ia terpaksa
harus menggali kembali luka yang sudah terkubur bertahun-tahun lamanya di dalam
hatinya. Ternyata masih cukup menyakitkan jika diingat-ingat kembali.
“Aku mulai kehilangan anggota keluargaku yang lain
setelahnya. Mereka pergi dengan cara yang menggenaskan secara satu-persatu. Miris,”
papar Aaron yang berusaha menyembunyikan perasaannya.
“Ku kira keluarga kalian akan hidup dengan bahagia
setelah pergi ke luar negeri. Ternyata tidak sama sekali. Pada akhirnya kau
juga memiliki nasib yang tidak jauh berbeda denganku. Pada dasarnya kita memang
tidak seberuntung itu.” finalnya.
“Maafkan aku,” ucap Agatha dengan kepala tertunduk.
“Aku sebenarnya juga tahu soal perselingkuhan itu.
Ayah tidak pernah benar-benar berada di rumah sebelum bercerai dengan ibumu,”
ungkapnya kemudian.
“Jika kau hanya membenci ayahmu, maka kau tidak
pernah tahu bagaimana bisa aku membenci kedua orang tuaku. Mereka telah
mempermalukanku secara tidak langsung di hadapan semesta,” jelas gadis itu
dengan panjang lebar.
Mereka tidak bisa
menyalahkan siapa pun di sini. Karena pada kenyataannya mereka berdua hanyalah
korban yang tidak tahu apa-apa. Terlebih soal betapa rumitnya kisah cinta kedua
orang tua mereka dulunya. Insan yang tidak ditakdirkan untuk bersama, tapi
tetap memaksa untuk saling memiliki. Bukankah itu pantas untuk disebut dengan
egois. Sepertinya memang itu kata yang paling tepat untuk mewakili semua yang
telah mereka rasakan selama ini.