The Riot

The Riot
Said



Setelahnya tidak ada satu pun yang berani untuk buka


suara. Meski mereka tahu jawabannya, tidak ada yang mau mengungkap


kebenarannya. Sepertinya dengan tetap bungkam adalah satu-satunya cara untuk


melindungi privasi mereka. Keheningan suasana kembali mencekik. Menyelimuti seluruh


atmosfir tempat ini. Sangking sepinya, sampai suara mesin pendingin ruangan


saja terdengar jelas.


“Sudahlah, lagipula itu tidak penting sama sekali,”


ujar Agatha secara tiba-tiba.


Pada akhirnya gadis itu yang memilih untuk


memecahkan keheningan suasana lebih dulu. Kemudian segera mengalihkan


perhatiannya ke arah lain. Entah kenapa jika membicarakan masalah keluarga


merekaa, mendadak suasananya jadi berubah. Tidak ada yang benar-benar baik


setelahnya. Sebab mereka berdua tahu jika keluarganya tidak ada satu pun yang


baik-baik saja.


Mereka hanyalah anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Terjebak


dalam keributan dan kekacauan yang disebabkan oleh orang tuanya sendiri.


Terlantar. Tidak memiliki arah yang jelas. Mereka hanya bisa meraba. Berharap bisa


sampai ke tempat yang paling baik.


Jika dipikir-pikir, keduanya telah melalui begitu


banyak hal. Bahkan termasuk hal yang tidak seharusnya dilalui oleh anak seusia


mereka. Bukankah semesta sudah mendidiknya terlalu keras? Tapi itu tidak apa.


Paling tidak, sekarang mereka sudah bisa bertahan hidup di dunia yang serba


kejam ini. Mengingat tidak ada orang yang bisa mereka andalkan di hidupnya. Jadi,


mereka sudah terbiasa melakukan segalanya sendiri.


Pada dasarnya manusia memang diciptakan untuk


sendiri. Mereka datang ke dunia ini sendirian dan bahkan saat akan


meninggalkannya pun sendirian. Tidak ada yang ditakdirkan untuk tetap bersama. Itu


hanya dongeng pelipur lara. Tidak ada yang benar-benar berada di sisimu selalu.


Terkadang manusia mudah sekali termakan dengan bualan seperti itu. Tanpa mau


memeriksa faktanya kembali.


“Kau tidak kembali?” tanya Agatha.


“Tidak, untuk sementara aku akan tetap di sini,”


jawab pria itu secara gamblang.


Sebenarnya Agatha sama sekali tidak merasa keberatan


jika pria itu memang masih tetap ingin berada di sini. Sungguh tidak apa-apa.


Hanya saja gadis itu merasa kebingungan. Kenapa sejak tadi Aaron begitu betah


berlama-lama di tempat seperti ini. Padahal jika dibandingkan dengan tempat


tinggalnya sendiri, miliki Aaron juga tidak kalah nyaman. Malah apartment


Agatha sering kali terkesan berantakan, meski tidak kotor sama sekali.


“Keluarga kita tidak pernah baik-baik saja kan?”


tanya Aaron secara tiba-tiba.


Sontak gadis itu langsung mematung di tempat. Antara


tidak tahu dengan apa yang sedang dibicarakan oleh pria itu, atau malah justru


sangat paham.


“Itu sebabnya kau pergi dari rumah,” timpal pria itu


kemudian.


“Apa maksudmu?” tanya Agatha.


“Sepertinya aku tidak perlu mengulang seluruh


perkataanku. Kau sudah cukup pintar untuk memahami semuanya bukan?” tanya pria


itu balik.


Sementara, di sisi lain Agatha sama sekali tidak


tahu harus bereaksi bagaimana.


“Jangan pernah menyinggung soal keluargaku sama


sekali!” ucap gadis itu dengan penuh penekanan.


“Itu bukan urusanmu!” tegasnya sekali lagi.


Sepertinya ia tidak terlalu suka jika seseorang


mencoba untuk melanggar batas privasinya. Memangnya siapa yang suka jika


mendapati orang lain yang terlalu ikut campu soal urusan pribadinya. Kurasa


tidak ada.


“Siapa bilang jika itu bukan urusanku?” tanya Aaron


dengan nada setengah menantang.


Gadis itu lantas mengerutkan dahinya. Dalam hatinya


bertanya-tanya tenang maksud serta tujuan Aaron. Jangan kira jika Agatha sudah


“Keluargamu adalah urusanku juga. Sebab asal kau


tahu saja jika sebenarnya kita masih memilliki hubungan darah,” ungkap pria itu


secara mengejutkan.


“Satu-satunya alasan yang membuatku tetap membiarkanmu


hidup setelah kejadian hari itu adalah karena hal yang sudah kusebutkan di awal


tadi,” jelasnya kemudian.


Agatha masih terpelongo tidak percaya. Entah kenapa


yang kali ini terasa begitu sulit untuk diterima oleh akal sehatnya.


“Hahaha! Kau pikir aku percaya?” balas gadis itu


beberapa saat setelahnya.


“Terserah saja mau percaya atau tidak,” katanya.


“Aku bisa saja menghabisimu kapan pun aku mau. Tapi,


setelah mengetahui  fakta yang satu itu,


kupikir akan lebih baik jika aku mengurungkan niatku. Paling tidak aku harus berhasil


dalam melindungi salah satu anggota keluargaku kali ini,” bebernya dengan


panjang lebar.


Kondisi Agatha sampai saat ini masih begitu sulit


untuk dijelaskan. Setengah dari dirinya berkata jika itu tidak mungkin, namun


separuhnya lagi malah berkata sebaliknya. Selalu saja ada dua tim yang saling


berselisih di dalam dirinya.


“Ayahmu adalah Narendra bukan?” tanya Aaron untuk


memastikan.


Tapi sayangnya gadis itu tampak tidak ingin menanggapinya


sama sekali. Tak ingin ambil pusing, Aaron lantas segera melanjutkan


kalimatnya. Aaron tak mau jika hari ini hanya dirinya saja yang tak terima soal


fakta menjijikkan tersebut. Namun, Agatha juga. Karena bagaimanapun juga gadis


itu masih ada sangkut pautnya dengan keluarga mereka.


“Dia juga ayahku,” ungkap pria itu.


“Ayah kandungku lebih tepatnya,” koreksinya


kemudian.


“Mustahil,” gumam Agatha.


“Dia berselingkuh dengan ibumu pada saat usiaku


masih sekitar dua tahun. Tidak ada satu pun yang curiga dengannya. Sampai ada


tahun kelulusanku dari sekolah menengah pertama, perselingkuhannya dengan ibumu


terbongkar. Pada akhirnya, seperti yang sudah kuduga jika ayah dan ibuku akan


memutuskan untuk bercerai demi kebaikan bersama. Padahal tidak ada yang


baik-baik saja kala itu,” jelas Aaron dengan sedetail mungkin.


Dia berusaha untuk mengingat semuanya. Ia terpaksa


harus menggali kembali luka yang sudah terkubur bertahun-tahun lamanya di dalam


hatinya. Ternyata masih cukup menyakitkan jika diingat-ingat kembali.


“Aku mulai kehilangan anggota keluargaku yang lain


setelahnya. Mereka pergi dengan cara yang menggenaskan secara satu-persatu. Miris,”


papar Aaron yang berusaha menyembunyikan perasaannya.


“Ku kira keluarga kalian akan hidup dengan bahagia


setelah pergi ke luar negeri. Ternyata tidak sama sekali. Pada akhirnya kau


juga memiliki nasib yang tidak jauh berbeda denganku. Pada dasarnya kita memang


tidak seberuntung itu.” finalnya.


“Maafkan aku,” ucap Agatha dengan kepala tertunduk.


“Aku sebenarnya juga tahu soal perselingkuhan itu.


Ayah tidak pernah benar-benar berada di rumah sebelum bercerai dengan ibumu,”


ungkapnya kemudian.


“Jika kau hanya membenci ayahmu, maka kau tidak


pernah tahu bagaimana bisa aku membenci kedua orang tuaku. Mereka telah


mempermalukanku secara tidak langsung di hadapan semesta,” jelas gadis itu


dengan panjang lebar.


Mereka tidak bisa


menyalahkan siapa pun di sini. Karena pada kenyataannya mereka berdua hanyalah


korban yang tidak tahu apa-apa. Terlebih soal betapa rumitnya kisah cinta kedua


orang tua mereka dulunya. Insan yang tidak ditakdirkan untuk bersama, tapi


tetap memaksa untuk saling memiliki. Bukankah itu pantas untuk disebut dengan


egois. Sepertinya memang itu kata yang paling tepat untuk mewakili semua yang


telah mereka rasakan selama ini.