
Semua orang tampak
begitu serius. Agatha jadi ikut terbawa suasana karenanya. Tapi tidak apa. Itu
malah bagus. Karena hal itu pula Agatha bisa jadih lebih berkonsentrasi. Semua orang
menyimak setiap kalimat Hiraeth. Tidak ada yang bermain-main di sini.
Kemudian pria itu
beralih ke arah sebuah papan tulis yang tampaknya sudah lama berada di sana.
Terlihat dari penampilannya yang terbilang tidak baru lagi. Hiraeth
mengeluarkan sebuah katon berukuran satu kali satu meter. Tidak terlalu besar,
sesuai dengan ukuran papan tulis yang tersedia.
Tanpa bantuan siapa
pun, pria itu tampaknya tidak merasa kesulitan sama sekali saat akan membuka
gulungan karton tersebut dan mengekspos isinya. Agatha tak sabar untuk
mendengar penjelasan Hiraeth tentang isi karton tersebut. Tampaknya bukan hanya
ia saja satu-satunya orang yang merasa demikian. Tapi, seisi ruangan ikut
dibuat penasaran dengan karton tersebut. Seluruh mata hanya tertuju kepada
benda yang satu itu. Padahal ia tidak melakukan apa-apa, tapi bisa mencuri
atensi semua orang dengan begitu mudahnya.
Setelah karton tersebut
dibentangakan dengan sempurna, barulah bisa terlihat apa isinya. Kurang lebuih
itu terlihat seperti denah lokasi. Atau dengan suatu lantai yang terdiri dari
beberapa ruangan lebih tepatnya. Tapi, tetap saja masih belum jelas. Baik
Agatha mau pun yang lainnya sama-sama belum bisa memastikan apa isi yang
tertuang di karton tersebut.
Terlihat seprti sebuah
denah dengan beberapa keterangan. Tapi, tidak ada yang tahu pasti denah apa
itu. Dan dimana lokasi yang sedang dimaksud. Mereka hanya bisa menebak-nebak
sampai Hiraeth memberi tahu lebih lanjut.
“Baiklah, kalian bisa
melihatnya di sini!” celetuk Hiraeth.
Pria itu mulai buka
suara kembali. Salah satu tangannya berada di saku celana, sementara sisanya
digunakan untuk menjelaskan isi dari denah tersebut.
“Seharusnya kalian tahu
tempat apa ini,” ujar pria itu secara gamblang.
“Ha?! Tahu bagaimana?
Dia bahkan belum menjelaskan apa pun,” protes Agatha tak terima.
Sejauh ini ia hanya
masih berani mengatakannya di dalam hati saja. Kalau sampai Agatha bersuara,
bisa habis nyawanya. Kejadian tadi pagi saja berhasil membuatnya bergidik
ngeri. Kalau diingat-ingat kembali, Agatha sungguh beruntung bisa lolos dari
tangan pria itu dengan selamat. Untuk pertama kalinya ia merasa jadi orang yang
paling beruntung sedunia.
“Ini adalah peta lokasi
terbaru markas rival kita,” beber Hiraeth.
Sejauh ini Agatha sudah
mulai paham. Yang dimaksud oleh pria itu tadi pasti Hato. Memangnya siapa lagi
rival mereka selain yang satu itu. Mungkin ada beberapa, tidak hanya satu.
Tapi, yang baru Agatha ketahui sejauh ini baru Hato saja. Dan belakangan ini
pula mereka selalu terfokus kepada Hato saja. Nyaris setiap hari membahas hal
yang serupa. Termasuk malam ini.
“Permisi, tuan!”
interupsi salah satu anggota yang tidak ia kenali.
“Apa anda yakin jika
ini benar adalah markas mereka?” tanyanya untuk memastikan. Pasalnya, satu
kekeliruan kecil saja bisa mengacaukan semuanya.
“Tentu saja! Aku
sudah menyelidikinya sendiri,” jawab
Hiraeth dengan yakin.
Raut wajahnya sama
sekali tidak menunjukkan rasa keraguan sedikit pun. Secara tidak langsung,
tidak ada alasan lain lagi untuk tidak mempercayai pria itu. Selama ia merasa
benar, maka yang lain akan percaya. Sebab, mau bagaimanapun juga Hiraeth tetap
pemimpinnya.
tahu kalau markas mereka mengalami sedikit perubahan,” ungkap pria itu sambil
melipat kedua tangannya di depan dada.
“Ada penambahan serta
pengurangan beberapa ruangan yang membuat komposisi pada denah ruangannya jadi
sedikit berubah. Mereka melakukan renovasi internal untuk memperbaharui
beberapa hal,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Jadi, yang kalian
lihat di depan kalian saat ini adalah peta terbarunya,” finalnya.
Beberapa orang tampak
mengangguk paham dan mengiyakan perkataan pria yang sedang berdiri di depan
mereka saat ini. Sementara sisanya tidak memberikan reaksi apa pun. Tapi, dapat
dipastikan jika mereka sama-sama mengerti. Ini masih cukup mudah. Bahkan
sepertinya anak TK pun akan mengerti jika dijelaskan pada bagian yang awal.
“Baiklah, sekarang aku
akan membagi tugas kalian,” ujar Hiraeth.
“Tim A akan berada di
ruangan ini. Kalian masuk melalui pintu utara. Habisi semua penjaga yang berada
di sepanjang jalan masuk dan kalau bisa jangan membuat keributan,” jelas pria
itu untuk orang-orang yang berada di tim A.
Satu tim terdiri dari
enam orang. Sementara, total seluruhnya yang berada di ruangan ini ada sekitar
dua puluh orang. Tidak kurang dan juga tidak lebih. Jumlahnya pas dua puluh.
Agatha sudah memastikan hal tersebut lebih dari satu kali.
Untuk nama-nama dari
setiap tim sendiri sudah tercantum pada lembar lain yang juga berada di papan
tulis. Entah kenapa mereka tidak langsung menulis di atas papannya saja. Kenapa
harus menggunakan kertas yang ditempel.
Nama Agatha tidak ada
di tim pertama. Atau nama lainnya adalah tim A. Kini giliran tim B. Gadis itu
akan memperhatikan namanya dengan baik-baik. Ia harus ingat kalau namanya
adalah Rienna untuk saat ini. Bukan Agatha, tapi Rienna.
“Baiklah, untuk tim B
kalian akan masuk melalui pintu belakang. Tidak ada penjaga yang berjaga di
sekitar sana. Hanya kamera pengawas serta bel sensor gerak saja sebagai
gantinya. Jadi berhati-hatilah saat masuk. Jangan buat pergerakan yang terlalu
berlebihan,” jelas Hiraeth secara lebih mendetail.
“Begitu sampai di
dalam, ada terminal listrik di dinding bagian luar gedung. Tekan tombol yang
berwarna hijau. Maka semua kamera pengawas serta alat keamanan lainnya akan
dinon-aktifkan secara otomatis,” sambungnya dengan penjelasan tambahan.
“Sekarang tim C yang
merupakan tim terakhir sekaligus tim paling penting!” ujar Hiraeth dengan pebuh
semangat.
Tapi, sama saja. Hasilnya
nihil. Nama Rienna juga tidak ada dalam daftar anggota di tim C. Entah apa
tugas yang akan dilakukan oleh gadis itu nanti jika namanya tidak tercantum
dalam ketiga tim tersebut. Tapi, bukan hanya Agatha saja yang namanya tidak ada
di dalam daftar. Immanuel juga. Atau jangan-jangan mereka akan bekerja sama di
dalam satu tim yang sama pula.
Setelah menjelaskan
tugas apa-apa saja yang harus dilakukan oleh setiap tim, barulah Hiraeth
kembali ke tempat duduknya. Perhatiannya tertuju kepada Immanuel dan Agatha.
Dia memandangi keduanya secara bergantian. Entah apa makna dari kilau matanya,
Agatha tidak dapat memastikan artinya.
“Dan kalian berdua,
bergabunglah bersama Alexa,” ujar pria itu secara tiba-tiba.
“Alexa
sudah berada di gedung seberang. Kalian bertiga akan memantau aksi dari sana.
Segera lancarkan tembakan jarak jauh jika ada yang tidak beres. Ada beberapa
orang yang memang harus kalian tempat juga. Salah satunya adalah Hato,”
jelasnya dengan panjang lebar.