The Riot

The Riot
Met Her



Saat hendak keluar dari


kamar mandi, ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang hendak masuk kemari


tampaknya. Sehingga tas wanita itu terjatuh ke lantai. Barang-barangnya


berserakan.


“Ah! Maafkan aku!” ucap


Agatha secara spontan.


Gadis itu buru-buru membantu


untuk membereskan barang-barang tersebut, sebagai bentuk dari rasa tanggung


jawabnya. Namun, dengan cepat pula wanita asing tersebut menepikan tangannya


untuk menjauh. Sepertinya ia tidak suka kalau Agatha menyentuh barang-barang


pribadinya.


“Pergilah! Aku bisa


melakukan semuanya sendiri,” perintah gadis itu dengan ketus.


Agatha tidak tahu harus


berbuat apa. Ia lantas mematung di tempat untuk beberapa saat. Sampai tiba-tiba


perhatiannya tertuju kepada sebuah  lanyard yang biasa digunakan untuk kartu


identitas. Karena transparan, isi dari kartu tersebut jadi terekspos dengan


jelas.


Tunggu dulu. Agatha


sepertinya pernah melihat kartu yang satu itu. Tapi, ia lupa dimana. Yang jelas


bukan kartu tanda pengenal bagi karyawan suatu perusahaan. Ah, sial! Ingatannya


benar-benar payah. Kenapa gadis itu mendadak jadi melupakan segalanya setiap


kali ada hal penting seperti ini.


“Tunggu apa lagi?!”


hentak wanita itu.


“Ah? Oh, maaf,” balas


Agatha yang baru saja tersadar dari lamunannya.


“Kalau begitu aku pergi


dulu. Sekali lagi maaf,” katanya.


Agatha memutuskan untuk


langsung keluar begitu saja setelah meminta maaf. Daripada ia tetap berada di


sana dan malah memancing keributan. Gadis itu berencana untuk langsung kembali


ke tempat duduknya.


“Sepertinya aku tidak


salah kali ini. Aku pernah melihat kartu itu. Tapi, dimana?” gumam Agatha


sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


berusaha untuk mengingat-ingat lagi.  Sebab


Agatha tahu kalau ada sesuatu yang salah dengan kepalanya. Terkadang ia jadi


kesal sendiri. Kenapa di saat seperti ini bukannya bekerja lebih baik, otaknya


malah tidak bisa diajak untuk bekerja sama. Ia tak berhentik merutuki dirinya


sendiri.


Bahkan, sampai ke


tempat duduk pun ia masih memikirkan hal yang sama. Beruntung Agatha tidak


salah meja. Karena dari tadi ia sama sekali tidak memperhatikan jalannya.


“Mau langsung kembali?”


tanya Arjuna.


Pria itu sudah selesai


dengan makanannya sejak beberapa saat yang lalu.


“Terserah kau saja,”


balas gadis itu acuh tak acuh.


Karena Agatha


memberikan jawaban demikian, maka itu artinya terserah kepada Arjuna mau


memutuskan apa. Yang jelas, ia pasti akan mengikuti segala keputusan Arjuna.


Dia adalah gadis yang penurut sejauh ini jika bersama pria itu.


Sekarang giliran pria


itu yang beranjak dari tempat duduknya. Tidak. Kali ini dia tidak pergi ke


kamar mandi. Melainkan ke kasir. Memangnya untuk apalagi jika bukan untuk


membayar semua tagihannya. Setiap kali pergi bersama Arjuna, pasti pria itu


yang akan membayar semuanya. Selama masih dalam batas wajar dan tidak terlalu


mahal, pria itu tidak akan masalah. Baginya soal materi tidak perlu terlalu


dicemaskan.


Setelah semua urusan


Arjuna di kasir selesai, mereka akan langsung kembali. Sepertinya kali ini


mereka akan langsung kembali ke rumahnya masing-masing. Pasalnya, kedua orang


itu sama-sama membawa kendaraan pribadinya.


Sambil


menunggu pria itu kembali, Agatha mengalihkan pikirannya untuk sesaat. Lalu mulai


membereskan barang-barangnya. Memastikan sekali lagi jika tidak ada yang


tertinggal. Pasalnya ini tempat umum. Ia jadi harus ekstra berhati-hati saat


berada di luar.