
Saat hendak keluar dari
kamar mandi, ia tidak sengaja menabrak seorang wanita yang hendak masuk kemari
tampaknya. Sehingga tas wanita itu terjatuh ke lantai. Barang-barangnya
berserakan.
“Ah! Maafkan aku!” ucap
Agatha secara spontan.
Gadis itu buru-buru membantu
untuk membereskan barang-barang tersebut, sebagai bentuk dari rasa tanggung
jawabnya. Namun, dengan cepat pula wanita asing tersebut menepikan tangannya
untuk menjauh. Sepertinya ia tidak suka kalau Agatha menyentuh barang-barang
pribadinya.
“Pergilah! Aku bisa
melakukan semuanya sendiri,” perintah gadis itu dengan ketus.
Agatha tidak tahu harus
berbuat apa. Ia lantas mematung di tempat untuk beberapa saat. Sampai tiba-tiba
perhatiannya tertuju kepada sebuah lanyard yang biasa digunakan untuk kartu
identitas. Karena transparan, isi dari kartu tersebut jadi terekspos dengan
jelas.
Tunggu dulu. Agatha
sepertinya pernah melihat kartu yang satu itu. Tapi, ia lupa dimana. Yang jelas
bukan kartu tanda pengenal bagi karyawan suatu perusahaan. Ah, sial! Ingatannya
benar-benar payah. Kenapa gadis itu mendadak jadi melupakan segalanya setiap
kali ada hal penting seperti ini.
“Tunggu apa lagi?!”
hentak wanita itu.
“Ah? Oh, maaf,” balas
Agatha yang baru saja tersadar dari lamunannya.
“Kalau begitu aku pergi
dulu. Sekali lagi maaf,” katanya.
Agatha memutuskan untuk
langsung keluar begitu saja setelah meminta maaf. Daripada ia tetap berada di
sana dan malah memancing keributan. Gadis itu berencana untuk langsung kembali
ke tempat duduknya.
“Sepertinya aku tidak
salah kali ini. Aku pernah melihat kartu itu. Tapi, dimana?” gumam Agatha
sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
berusaha untuk mengingat-ingat lagi. Sebab
Agatha tahu kalau ada sesuatu yang salah dengan kepalanya. Terkadang ia jadi
kesal sendiri. Kenapa di saat seperti ini bukannya bekerja lebih baik, otaknya
malah tidak bisa diajak untuk bekerja sama. Ia tak berhentik merutuki dirinya
sendiri.
Bahkan, sampai ke
tempat duduk pun ia masih memikirkan hal yang sama. Beruntung Agatha tidak
salah meja. Karena dari tadi ia sama sekali tidak memperhatikan jalannya.
“Mau langsung kembali?”
tanya Arjuna.
Pria itu sudah selesai
dengan makanannya sejak beberapa saat yang lalu.
“Terserah kau saja,”
balas gadis itu acuh tak acuh.
Karena Agatha
memberikan jawaban demikian, maka itu artinya terserah kepada Arjuna mau
memutuskan apa. Yang jelas, ia pasti akan mengikuti segala keputusan Arjuna.
Dia adalah gadis yang penurut sejauh ini jika bersama pria itu.
Sekarang giliran pria
itu yang beranjak dari tempat duduknya. Tidak. Kali ini dia tidak pergi ke
kamar mandi. Melainkan ke kasir. Memangnya untuk apalagi jika bukan untuk
membayar semua tagihannya. Setiap kali pergi bersama Arjuna, pasti pria itu
yang akan membayar semuanya. Selama masih dalam batas wajar dan tidak terlalu
mahal, pria itu tidak akan masalah. Baginya soal materi tidak perlu terlalu
dicemaskan.
Setelah semua urusan
Arjuna di kasir selesai, mereka akan langsung kembali. Sepertinya kali ini
mereka akan langsung kembali ke rumahnya masing-masing. Pasalnya, kedua orang
itu sama-sama membawa kendaraan pribadinya.
Sambil
menunggu pria itu kembali, Agatha mengalihkan pikirannya untuk sesaat. Lalu mulai
membereskan barang-barangnya. Memastikan sekali lagi jika tidak ada yang
tertinggal. Pasalnya ini tempat umum. Ia jadi harus ekstra berhati-hati saat
berada di luar.