The Riot

The Riot
Hak



Ada beberapa hal yang tidak sepentasnya untuk diketahui


orang lain. Terkadang diri kita sendiri pun tak berhak tahu. Manusia-manusia


pengacau. Nama yang paling tepat dan sesuai untuk mereka. Ini kita. Hak kita. Buka


untuk dijajah oleh orang lain.


Perampaan hal tampaknya sudah menjadi hal yang biasa untuk


ditemui. Sudah seperti hal yang wajar, lumrah. Tapi padahal jelas-jelas jika


hati nurani kita memberontak tak senang. Memangnya siapa yang mau diatur-atur


dengan sedemikian rupa. Kita ini manusia. Berhak untuk memilih. Mana yang benar


dan mana yang salah.


Peraturan memang boleh ada. Tapi, jangan sampai membatasi


hak perorangan. Bukankah selama ini hak berdampingan dengan kewajiban. Kalau hanya


penuntutan kewajiban tanpa ada pembebasan hak, itu omong kosong namanya. Manusia-manusia


kini jadi tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi. Terlalu genting untuk


dibicarakan. Terlalu parah untuk diselamatkan.


Ini bukan yang pertama kalinya Agatha mendapatkan laporan


tentang pengurungan hak. Semua serba dibatasi. Padahal sudah jelas jika semua


aturan itu tertulis di dalam undang-undang. Mana yang perlu dan tidak perlu


mereka lakukan. Tapi, kenapa masih saja sama.


Oknum-oknum tidak bertanggung jawab, selalu mencari


kesempatan dalam kesempitan. Mengadu domba. Merusak tali persaudaraan. Mengatakan


hal yang bahkan tidak ada benar-benarnya sama sekali. Ya, mereka terlalu


pengecut untuk menampakkan batang hidungnya di hadapan umum.


Sebagai salah satu petugas yang bekerja di bidang pelayanan


dan perlindungan masyarakat serta negara, ia kerap mendengar keluhan dari kedua


belah pihak. Baik itu dari masyarakat biasa, maupun dari rekan-rekan satu


timnya.


Hari ini ia akan melaksanakan misi khusu bersama timnya. Tentu


bisa diandalkan. Dia memliki jiwa kepemimpinan yang tidak bisa dipungkiri lagi.


Bukan hanya Agatha, tapi semu aorang bahkan sudah mengakui hal tersebut.


“Jadi, seorang pemimpin itu terlahir atau tercipta?”


Beberapa orang sering mempertanyakan soal hal ini. Bukan sekali


atau dua kali. Tapi, berkali-kali. Apakah pemimpin memang benar-benar terlahir


dan memiliki bakat memimpin sejak dulu atau tidak sama sekali. Atau malah


mereka hanya terlahir sebagai manusia biasa. Tidak jauh beda dengan yang


lainnya. Manusia yang terlahir tanpa bakat, tapi kemudian dunia segera


menggemblengnya menjadi manusia tangguh.


Jadi pada intinya apakah seorang pemimpin itu terlahir


dengan bakat alami untuk memimpin, atau lama-lama akan muncul dengan


sendirinya. Jangankan orang lain, tekadang Agatha saja masih suka untuk


mempertanyakan hal tersebut. Tapi, bedanya jika orang lain memiliki tempat


untuk bertanya, maka gadis itu hanya bisa menujukan pertanyaan kepada dirinya


sendiri. Sejauh ini ia merasa kalau tempat terbaik untuk berdiskusi adalah


dirinya sendiri. Tempat terbaik untuk mengeluh, ya dirinya sendiri.


Terlahir dari keluarga yang harmonis, tidak akan menjamin


apa pun. Termasuk keharmonisan itu tadi. Yang pada nyatanya tidak akan bertahan


lama. Yang pada faktanya semua itu hanya seperti ilusi yang menipu. Membuat manusia-manusia


lugu ikut hanyut di dalamnya. Agatha adalah salah satu dari mereka yang disebut


sebagai manusia lugu itu. Dulu ia sungguh tidak tahu sekejam apa dunia. Yang ia


tahu, menjadi orang dewasa itu menyenangkan. Bisa memilih apa pun itu yang ia


mau. Termasuk jalan hidup. Tapi ternyata, memilih bukan pekara mudah. meski


terdengar sederhana, pada kenyataannya memang tidak sesederhana itu.


***