
Ada beberapa hal yang tidak sepentasnya untuk diketahui
orang lain. Terkadang diri kita sendiri pun tak berhak tahu. Manusia-manusia
pengacau. Nama yang paling tepat dan sesuai untuk mereka. Ini kita. Hak kita. Buka
untuk dijajah oleh orang lain.
Perampaan hal tampaknya sudah menjadi hal yang biasa untuk
ditemui. Sudah seperti hal yang wajar, lumrah. Tapi padahal jelas-jelas jika
hati nurani kita memberontak tak senang. Memangnya siapa yang mau diatur-atur
dengan sedemikian rupa. Kita ini manusia. Berhak untuk memilih. Mana yang benar
dan mana yang salah.
Peraturan memang boleh ada. Tapi, jangan sampai membatasi
hak perorangan. Bukankah selama ini hak berdampingan dengan kewajiban. Kalau hanya
penuntutan kewajiban tanpa ada pembebasan hak, itu omong kosong namanya. Manusia-manusia
kini jadi tidak sadar dengan apa yang sudah terjadi. Terlalu genting untuk
dibicarakan. Terlalu parah untuk diselamatkan.
Ini bukan yang pertama kalinya Agatha mendapatkan laporan
tentang pengurungan hak. Semua serba dibatasi. Padahal sudah jelas jika semua
aturan itu tertulis di dalam undang-undang. Mana yang perlu dan tidak perlu
mereka lakukan. Tapi, kenapa masih saja sama.
Oknum-oknum tidak bertanggung jawab, selalu mencari
kesempatan dalam kesempitan. Mengadu domba. Merusak tali persaudaraan. Mengatakan
hal yang bahkan tidak ada benar-benarnya sama sekali. Ya, mereka terlalu
pengecut untuk menampakkan batang hidungnya di hadapan umum.
Sebagai salah satu petugas yang bekerja di bidang pelayanan
dan perlindungan masyarakat serta negara, ia kerap mendengar keluhan dari kedua
belah pihak. Baik itu dari masyarakat biasa, maupun dari rekan-rekan satu
timnya.
Hari ini ia akan melaksanakan misi khusu bersama timnya. Tentu
bisa diandalkan. Dia memliki jiwa kepemimpinan yang tidak bisa dipungkiri lagi.
Bukan hanya Agatha, tapi semu aorang bahkan sudah mengakui hal tersebut.
“Jadi, seorang pemimpin itu terlahir atau tercipta?”
Beberapa orang sering mempertanyakan soal hal ini. Bukan sekali
atau dua kali. Tapi, berkali-kali. Apakah pemimpin memang benar-benar terlahir
dan memiliki bakat memimpin sejak dulu atau tidak sama sekali. Atau malah
mereka hanya terlahir sebagai manusia biasa. Tidak jauh beda dengan yang
lainnya. Manusia yang terlahir tanpa bakat, tapi kemudian dunia segera
menggemblengnya menjadi manusia tangguh.
Jadi pada intinya apakah seorang pemimpin itu terlahir
dengan bakat alami untuk memimpin, atau lama-lama akan muncul dengan
sendirinya. Jangankan orang lain, tekadang Agatha saja masih suka untuk
mempertanyakan hal tersebut. Tapi, bedanya jika orang lain memiliki tempat
untuk bertanya, maka gadis itu hanya bisa menujukan pertanyaan kepada dirinya
sendiri. Sejauh ini ia merasa kalau tempat terbaik untuk berdiskusi adalah
dirinya sendiri. Tempat terbaik untuk mengeluh, ya dirinya sendiri.
Terlahir dari keluarga yang harmonis, tidak akan menjamin
apa pun. Termasuk keharmonisan itu tadi. Yang pada nyatanya tidak akan bertahan
lama. Yang pada faktanya semua itu hanya seperti ilusi yang menipu. Membuat manusia-manusia
lugu ikut hanyut di dalamnya. Agatha adalah salah satu dari mereka yang disebut
sebagai manusia lugu itu. Dulu ia sungguh tidak tahu sekejam apa dunia. Yang ia
tahu, menjadi orang dewasa itu menyenangkan. Bisa memilih apa pun itu yang ia
mau. Termasuk jalan hidup. Tapi ternyata, memilih bukan pekara mudah. meski
terdengar sederhana, pada kenyataannya memang tidak sesederhana itu.
***