
Agatha benar-benar tidak ada melakukan apa pun sejak
awal kedatangannya kemari. Sampai-sampai ia berpikir, sebenarnya untuk apa
mereka mengajak gadis itu kemari jika hanya untuk melihat-lihat saja. Tapi, di
sisi lain ini merupakan satu hal yang
cukup menguntungkan bagi gadis itu. Dengan begitu ia tidak perlu memecah
konsentrasinya. Agatha cukup fokus saja terhadap situasi di sana. Mengamati
setiap hal baru yang ia lihat dan menyerap informasi sebanyak-banyaknya. Meskipun
apa yang didengar oleh gadis itu sekarang akan diteruskan secara langsung
kepada Arjuna melalui alat khusus, tapi tetap saja Agatha harus menguasai
setidaknya satu atau dua informasi penting.
Malam ini Agatha diminta untuk bertemu dengan pria
itu. Alasannya tidak jelas. Lebih tepatnya Arjuna masih belum ingin memberi
tahu. Pria itu bilang jika mereka hanya akan berdiskusi santai saja dan memperbincangkan
soal misi rahasia ini.
Mereka akan bertemu di sebuah café dekat dengan
rumah sakit tempat Zura bekerja. Entahlah, gadis itu juga tidak tahu pasti
kenapa harus café yang itu. Mungkin hanya kebetulan saja. Arjuna pasti juga
tidak tahu siapa itu Zura.
Demi menjaga keamanan, Arjuna sengaja memilih
ruangan VIP yang sedikit jauh dari keramaian. Tidak aka nada orang yang
menguping pembicaraan mereka jika begitu caranya. Kecuali kalau seseorang
dengan sengaja menyembunyikan alat penyadap suara. Itu akan berbeda lagi
ceritanya. Tapi semoga saja tidak ada.
“Kau, peganglah kunci ini!” perintah Immanuel sambil
melemparkan benda tersebut ke arah Agatha.
Beruntung gadis itu memiliki gerakan refleks yang
bagus. Jadi, kunci tersebut bisa mendarat dengan aman di tangannya. Meski tadi
nyaris saja hampir terjatuh. Tapi itu bukan sebuah masalah besar. Kunci yang
terjatuh ke lantai tidak akan berdampak besar pada hidupmu. Kecuali jika
kuncinya hilang.
“Jangan pernah melamun lagi pada saat bekerja!”
peringati Immanuel.
“Maafkan aku,” ucap Agatha dengan sungguh-sungguh.
Kalau saja mereka membiarkan gadis ini ikut bekerja,
maka ia mungkin tidak akan memiliki waktu untuk melamun. Dari tadi mereka telah
melakukan semua pekerjaan. Sampai-sampai gadis itu tidak tahu harus melakukan
apa. Immanuel bahkan juga memerintahkannya untuk tidak ikut campur.
“Tapi omong-omong, kunci apa ini?” tanya Agatha
penasaran.
“Ini adalah kunci gudang senjata. Mulai hari ini kau
yang akan memegangnya,” kata Immanuel secara gamblang.
“Memangnya ada dimana gudang senjatanya?” tanya
gadis itu lagi.
Kali ini ia sungguh penasaran. Setahunya, tidak ada
pintu lain di sini selain pintu masuk yang mereka lewati tadi dan langsung
dihadapkan kepada beberapa orang. Sekali lagi perlu dipertegas jika lantai dua
puluh satu hanya terdiri dari satu ruangan saja. Tempat ini dipisahkan jadi
beberapa bilik dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Bukan susunan batu yang
menjadi pembatasnya, melainkan beberapa rak yang telah tersusun dengan
sedemikian rupa.
Hal tersebut membuat Agatha bertanya-tanya. Memangnya
ada dimana lagi gudang penyimpanan senjata tersebut. Wajar saja kalau Agatha
tidak tahu apa-apa. Karena memang ini adalah yang pertama kalinya bagi gadis
itu untuk berkunjung kemari. Tapi, tenang saja. Cepat atau lambat, sebentar
lagi ia juga akan segera tahu.
“Pegang saja dulu, nanti akan kutunjukkan dimana
setelah kita memindahkan tumpukan kotak ini ke bawah,” jelas Immanuel yang
kemudian ikut diangguki oleh gadis itu.
Kotak-kotak senjata tersebut dipindahkan secara
belakang. Begitu mereka keluar dari pintu belakang, akan langsung dihadapkan
dengan parkiran. Di sana sudah ada sebuah mobil truk yang tidak terlalu besar
sedang menunggu untuk dimuat. Sebagian dari mereka akan pergi mengantarkan
senjata ini ke tempat teman baiknya. Agatha bahkan tidak tahu siapa yang mereka
maksud.
Alih-alih mencari tahu siapa sosok yang selama ini
mereka sebut sebagai teman baik itu, Agatha malah jauh lebih tertarik untuk mengetahui
dimana letak gudang penyimpanan senjata. Zean dan Mike yang akan pergi
mengantar senjata. Sementara sisanya tetap berada di sini. Salah satunya adalah
Fadli dan Immanuel. Fadli sendiri katanya akan pergi ke ruang utama untuk
berkumpul bersama teman-temannya yang lain. Sementara itu, Immanuel tadi sudah
menawarkan diri kepada gadis itu untuk mengajaknya berkeliling markas besar.
“Ternyata mereka cukup mudah untuk dibodohi,” gumam
Agatha sambil tersenyum miring.
Mereka bisa dengan mudahnya percaya terhadap gadis
itu. Hal tersebut terbukti dengan diberikannya ha katas kunci gudang senjata
kepada Agatha. Selain itu, mereka juga mengajaknya ke markas utama. Yang semua
orang tahu jika tidak sembarang orang memiliki akses masuk ke sana.
Sementara Zean dan Mike pergi, Agatha dan kedua
teman prianya yang lain masih berada di ruangan tersebut. Mereka tidak pergi
atau bahkan berpindah kemana-mana. Kalau saja di tempat ini sedang tidak ada
siapa-siapa, Agatha pasti sudah berkeliling lebih dulu. Mencari tahu segala
seluk beluk tempat ini. Jika gadis itu sudah hapal dengan rute markas utama,
maka akan memudahkan proses penyerbuan mereka nantinya.
“Besok akan ada barang masuk lagi dari pelabuhan
pada pukup sebelas malam. Bagaimana jika kau yang mengambilnya ke sana?” tanya
Immanuel kepada Fadli.
“Baiklah, tidak masalah,” kata Fadli.
“Kau bisa mempercayakananya kepadaku,” sambungnya.
Besok dia tidak bisa pergi kemana-mana. Padahal
biasanya selalu Immanuel yang mengurusi hal semacam itu. Namun, kebetulan
karena besok Hiraeth kembali, jadi ia harus berada di samping pria itu selama
dua puluh empat jam pertama.
“Berapa banyak barang yang akan masuk besok?” tanya
Fadli untuk memastikan.
“Tidak terlalu banyak jika dibandingkan dengan
pengiriman yang terakhir,” jawab pria itu.
“Kau bisa membawa mobil biasa saja,” lanjutnya.
“Baiklah kalau begitu,” balas Fadli.
Pria itu membuka jaketnya kemudian menyampirkan
benda tersebut ke atas pundaknya. Sepertinya suhu badannya jadi sedikit
meningkat karena melakukan aktivitas fisik. Wajar saja.
“Kalau begitu aku akan ke depan bersama Daniel,”
pamit pria itu sembari berlalu begitu saja.
Jarak beberapa detik kemudian, Immanuel langsung
buka suara.
“Bagaimana kalau sekarang saja aku mengajakmu untuk
berkeliling markas utama?” tawar pria itu.
“Ide yang bagus!” balas Agatha dengan antusias.
Kenapa tidak dari tadi saja. Ia sudah tidak sabar
untuk menjelajahi tempat ini. Sepertinya aka nada begitu banyak informasi yang
bisa ia dapatkan dari pria itu sembari berkeliling. Agatha sudah berencana
untuk menanyakan beberapa hal yang dirasa penting untuk ditanyakan.
“Kalau begitu, ayo!” ajak Immanuel.
Tanpa pikir panjang
lagi, gadis itu segera bergegas untuk menyusul langkah Immanuel yang sudah
lebih dulu. Meski jarak mereka hanya terpaut beberapa langkah saja, tetap saja
kali ini Agatha berpikir untuk berada dalam satu garis yang sejajar dengannya.