
Sudah satu minggu berlalu sejak kejadian pada hari
itu. Agatha sudah pulih dan kembali bekerja seperti semula. Namun, tetap saja
ia tidak bia melakukan aktivitas fisik yang terlalu berat. Bekas jahitan dan
lukanya belum benar-benar kering. Gadis itu bahkan masih harus rutin melakukan
kunjungan ke rumah sakit. Memangnya untuk apa lagi jika bukan untuk kontrol
kesehatan pasca perawatan.
Saat ini Agatha sedang menjalani rawat jalan. Meski
sudah dinyatakan sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit, tapi kondisinya belum
benar-benar membaik seperti semula. Ia masih harus minum obat secara teratur.
Tidak boleh bergerak terlalu berlebihan dan masih banyak larangan lainnya yang
harus ia patuhi.
Gadis itu mendorong kursi yang sedang ia duduki agar
lebih jauh dari meja. Hari ini tidalk terlalu buruk, namun entah kenapa di sisi
lain ia justru malah tidak bisa menikmatinya. Agatha melipat kedua tangannya di
depan dada. Pandangannya mengarah lurus kepada seseorang yang sedang berada
tepat di depannya. Hanya ada mereka berdua di sini. Ia bahkan tidak tahu siapa
orang itu, tapi mereka terpaksa berada di dalam ruangan yang sama. Memangnya
tempat apalagi jika bukan ruang interogasi.
Menurutnya mewawancarai orang lain dengan pertanyaan
yang itu-itu saja terkesan membosankan. Selain itu, Agatha juga harus
memperhatikan setiap hal kecil yang ada di sana. Termasuk raut wajah. Itu adalah
yang terpenting.
“Baiklah, mari kita mulai!” ucap Agatha dengan muak.
“Kuharap kau bisa bersikap kooperatif di sini,”
sambungnya kemudian.
“Jangan menambahi beban pekerjaanku sekarang!”
tegasnya sekali lagi.
Sementara itu, lawan bicaranya sama sekali tidak
berkutik. Kelihatannya ia memang enggan untuk membalas perkataan Agatha
barusan. Baginya tidak penting. Ia pasti sudah tidak sabar untuk menjawab
setiap pertanyaan yang akan keluar dari mulut gadis itu nantinya.
Saat ini Agatha sedang menghadapi tersangka
penculikan seorang gadis. Kejadiannya sudah beberapa hari yang lalu memang.
Tapi, keberadaan mereka baru ditemukan kemarin. Beruntunglah sang gadis tidak
apa-apa. Ia tidak terluka sama sekali. Kondisi kesehatan mentalnya juga masih
tergolong baik-baik saja. Hanya terguncang sedikit. Katanya tidak masalah.
Agatha sudah menyiapkan daftar pertanyaan yang akan
dia tanyakan nantinya. Tentu saja bertujuan untuk mencari tahu sesuatu. Atau
lebih tepatnya untuk membongkar fakta. Ini sudah tugasnya. Tidak peduli apakah
sang narasumber merasa keberatan atau tidak. Demi mengungkap kebenaran, apa pun
akan ia lakukan.
“Jadi, apa hubunganmu dengan gadis itu?” interupsi
Agatha.
Ini adalah pertanyaan pertama yang keluar dari
mulutnya. Masih tergolong mudah. Dan yang bnar saja, tidak perlu waktu lama
bagi gadis itu untuk mendapatkan jawabannya. Ia tahu jika sesi interogasi kali
ini akan mudah.
“Dia adalah kekasihku,” jawabnya dengan apa adanya,
“Sejak kapan kalian saling mengenal?”
“Akhir tahun 2017.”
“Itu artinya kalian sudah saling mengenal sejak
lama.”
“Sesuai dugaanmu!”
“Kalau begitu, kapan terakhir kali kalian bertemu?”
“Aku tidak ingat pasti. Yang jelas, kami sudah lebih
dari tujuh hari lalu. Kami berdua sama-sama sibuk.”
“Baiklah.”
Sejauh ini belum ada sesuatu yang tampak
mencurigakan. Sehingga Agatha masih bersikap biasa saja. Statusnya saat ini
masih sebagai tersangka. Dia belum bisa disalahkan sepenuhnya. Mengingat belum
ada bukti yang cukup untuk mengubah statusnya dari tersangka menjadi terdakwa.
“Sebenarnya ini bukan hakku untuk mencampuri urusan
kalian berdua. Dan lagipula aku bukan tipikal orang yang seperti itu,” jelas
gadis itu di awal.
Dia memang sengaja melakukannya. Lebih baik seperti
ini daripada harus terjadi kesalahpahaman di antara mereka berdua. Mengingat topik
yang akan mereka bicarakan di sini terbilang cukup sensitif. Tidak semua orang
mau membicarakan hal-hal pribadinya dengan orang asing.
Gadis itu berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.
“Apa kau yakin jika kalian saling tidak bertemu
sebelumnya karena sama-sama sibuk?” tanya gadis itu dengan hati-hati.
“Ya, tentu saja!” jawabnya dengan singkat, padat,
namun cukup jelas.
Agatha kembali menghela napasnya dengan kasar untuk
yang kesekian kalinya.
“Bukan karena kalian bertengkar?”
Kali ini gadis itu kembali menanyakan hal serupa. Namun,
maksud dari pertanyaannya kembali dipertegas dengan cara lain.
“Sudah kukatakan jika hubungan kami baik-baik saja!”
seru pria itu sambil menggebrak meja.
Tidak bisa dipungkiri jika Agatha sempat terkesiap
karena kaget. Namun, ia berusaha untuk tetap tenang. Terlihat senormal mungkin.
Satu detik kemudian ia langsung mengubah ekspresinya. Sorot matanya berubah
jadi tajam. Bahkan rahangnya ikut mengeras. Ia tersenyum miring sambil
merapatkan giginya.
Pria yang
sedang berada di depannya ini sungguh menguji emosinya. Asal ia tahu saja jika
saat ini sedang berhadapan dengan siapa. Mungkin ia tak akan berani
macam-macam. Karena pada dasarnya, Agatha bisa saja menghabisi sekarang juga
jika mau.
“Baiklah, kalau begitu langsung saja ke intinya,”
ujar gadis itu.
“Kulihat kau bukan tipikal orang yang suka
bertele-tele,” jelasnya kemudian.
“Ternyata sikap kita tidak jauh berbeda!” finalnya.
Untuk pertama kalinya Agatha menemukan versi lain
dari dirinya pada jiwa orang lain. Pantas saja selama ini orang-orang selalu
mengatakan jika ia menyebalkan.
“Apa alasanmu sampai-sampai memutuskan untuk
menyekap kekasihmu sendiri?” tanya Agatha tanpa basa-basi.
“Aku tidak pernah melakukan itu kepadanya!” bantah
pria itu.
“Jadi, apa kau menyembunyikannya di suatu tempat?”
tanya Agatha lagi.
“Omong kosong macam apa itu?!” tepisnya dengan
cepat.
Ini adalah hal umum yang akan dilakukanoleh
orang-orang bersalah pada umumnya. Mereka akan melakukan pembelaan dalam bentuk
apa pun. Berusaha untuk membuat dirinya tidak terlihat bersalah. Padahal sudah
jelas.
“Tidak bisakah kau berhenti untuk menyalahkanku
seperti ini?!” sarkas pria itu sembari mengacak-acak rambutnya.
“Aku tidak sedang menyalahkanmu,” balas Agatha
dengan tenang.
“Hanya sedang menanyaimu beberapa pertanyaan saja,”
lanjutnya.
“Dan kau harus menjawab semua itu!” tegas gadis itu
sekali lagi.
Sungguh memuakkan. Tidak bisakan mereka langsung
mengaku saja. Daripada berbeli-belit seperti ini. Tinggal katakan saja yang
sebenarnya dan terima hukumannya. Cukup sederhana. Tapi, nyaris tidak ada satu
pun dari mereka yang bersikap demikian.
Untuk apa menutupi hal buruk dengan cara berbohong,
jika pada akhirnya akan terbongkar juga. Sungguh buang-buang waktu saja.
“Jadi, kau ingin mencari tahu semua hal tentangku
yang berkaitan dengan kejadian pada hari itu ya?” tebak tersangka.
“Baguslah kalau kau sudah tahu apa maksud dan
tujuanku,” balas Agatha.
“Aku tidak akan mau berhadapan dengan orang
sepertimu jika bukan untuk dibayar,” ungkapnya secara gamblang.
“Aku juga tidak ingin buang-buang waktu untuk bicara
dengan seseorang sepertimu!” balas pria itu yang tak ingin kalah.
“Orang-orang mengira jika kau adalah pasukan penegak
keadilan. Padahal kau sendiri berusaha untuk menyelamatkan pimpinan kelompok
mafia,” bisik pria itu sambil menyeringai tajam.