The Riot

The Riot
Face Reveal



Keriuhan suasana


terjadi dimana-mana. Atmosfir tempat ini bahkan jadi berubah drastis. Padahal sebelumnya


begitu senyap. Meski tidak perlu mengendap-endap lagi, tetap saja mereka harus


bergerak dengan hati-hati. Museum bukan tempat sembarangan. Ada banyak benda


berharga yang di simpan di sini. Jangan sampai ada yang rusak. Terutama lukisan


mahal itu.


Telinga Agatha sudah


penuh rasanya. Ada dua jenis perintah yang saling bertolak belakang. Meski


merasa terganggu dan sedikit tidak nyaman, tetap saja gadis itu harus


menggunakan kedua alat tersebut pada saat yang bersamaan. Hanya dengan cara


seperti ini ia bisa mengontrol pergerakan kedua tim dan melumpuhkan salah


satunya.


“Turunkan senjata


kalian!” perintah Arjuna.


“Sekarang kalian sudah


terkepung. Jadi menyerahlah!” lanjutnya.


Alih-alih mengikuti


ucapan pria itu, mereka malah berushaa untuk memberontak. Tapi untungnya dengan


cepat Agatha bisa menjatuhkan senjata mereka satu-persatu. Mau tidak mau mereka


terpaksa bertarung menggunakan tangan kosong.


‘BUGH! BUGH!’


‘PAW!’


‘BRAK!!!’


Bukan sesuatu yang sulit


lagi bagi Agatha untuk menghadapi orang-orang seperti mereka. Hampir setiap


hari gadis itu selalau bertarung bersama dengan para anggota. Sepertinya


kebiasaan yang satu itu sudah menjadi rutinitas mereka setiap harinya.


Sangking sudah terlalu


seringnya bertarung, Agatha sampai hapal bagaimana pola serangan setiap orang. Ia


sama sekali tidak menganggap yang satu ini sebagai pertarungan sungguhan.


Kurang lebih sama saja seperti latihan yang kerap mereka lakukan selama ini.


Setiap orang memiliki


lawan mainnya masing-masing. Kali ini Agatha harus berhadapan dengan Immanuel. Mereka


paling sering bertarung sebelumnya. Dalam misi kali ini ia sama sekali tidak


bermaksud untuk menyerang.


“Kenapa dia tidak


menyerangku balik?” batin Immanuel di dalam hati.


“Itu sebab aku hanya


ingin membuatmu merasa kelelahan saja karena terus melakukan aksi tanpa ada


reaksi sama sekali,” ucap gadis itu juga di dalam hatinya.


Ketika melihat ada


celah, ini adalah kesempatan yang bagus baginya. Tanpa pikir panjang sama


sekali, gadis itu langsung melancarkan serangan pertamanya. Cukup untuk


melumpuhkan pria itu. Agatha membatasi pergerakan pria itu dengan cara mengunci


bagian tangan serta kakinya.


Sekarang ini posisi


Agatha tengah berada di atas. Sementara Immanuel terbaring di lantai dengan


tangan dan kaki yang terkunci. Ia jadi tidak bisa berkutik sama sekali. Sebenarnya


kalau diadu soal kekuatan, maka Agatha jelas masih kalah jauh. Namun,


beruntungnya gadis ini memiliki kecerdasan, kecepatan dan juga ketepatan. Semua


hal itu bisa bekerja dalam satu kali. Mungkin kalian bisa menyebutnya sebagai


mahluk yang multitasking.


Agatha mendekatkan wajahnya


ke telinga pria itu. Kemudian membisikkan sesuatu di sana. Hanya sebuah


peringatan sebenarnya.


“Sebaiknya kau tetap


tenang, atau aku aka menghabisi nyawamu sekarang juga!” ancam Agatha.


“Rienna?” gumamnya.


“Apa itu kau?” tanya pria


itu kemudian.


Pintar sekali pria ini.


Dia bisa langsung mengenali suara Agatha yang selama ini mereka anggap sebagai


Rienna. Gadis itu datang kemari untuk membuktikan kalau dugaan mereka selama


ini benar. Ya, Immanuel tidak berbohong. Apa yang ia katakan itu benar, kalau


sebenarnya Agatha itu adalah mata-mata.


Agatha sama sekali


tidak merasa terkejut ketika pria itu mengucapkan namanya. Sudah ia duga


sebelumnya jika akan jadi seperti ini pada akhirnya. Lagi pula tidak ada


gunanya lagi ditutup-tutupi seperti ini. Semua orang juga akan tahu pada


Semua orang sudah


terkendali. Termasuk Hiraeth. Tidak ada yang pernah menyangka sama sekali jika


orang seperti Hiraeth akan takluk di tangan Arjuna. Padahal selama ini ia


terkenal sebagai orang yang tidak pernah bisa disentuh sama sekali. Tapi kali


ini pria itu berhasil mematahkan segala asumsinya soal itu.


Setelah situasi


berhasil dikendalikan, semua tahanan dimasukkan ke dalam mobil tahanan. Bersama


dengan Agatha dan Immanuel di dalamnya. Ada beberapa personil lagi sebenarnya. Karena


mereka bukan penjahat biasa, jadi penjagaannya pun harus ekstra.


“Apa semuanya sudah


berada di sini?” tanya Arjuna yang kemudian langsung diangguki oleh Agatha.


Hanya gadis itu


satu-satunya orang yang tahu berapa jumlah pasti dari tim Hiraeth. Sebab


sebelumnya mereka sudah berkumpul bersama lebih dulu. Setelah semuanya beres,


barulah Agatha dan yang lainnya naik ke atas mobil yang sama.


Setiap tahanan diborgol


dan diikat agar tidak melarikan diri. Kalau mereka masih tetap keras kepala dan


nekat untuk pergi, maka tahu sendiri konsekuensinya seperti apa. Timah panas


itu akan mendarat di betisnya. Sebenarnya Agatha tidak ingin melakukan hal


seperti itu dan jangan sampai terjadi. Tapi kalau mereka yang memaksa, mau


bagaimana lagi.


“Rienna!” sahut


Immanuel.


“Itu kau bukan?”


tanyanya kemudian.


Semua orang pada


akhirnya langsung menyadari satu hal. Benar juga. Kenapa tidak ada sosok yang


bernama Rienna itu di sini. Bukan hanya itu saja. Ada hal lain yang membuat


rasa curiga Immanuel semakin besar. Hanya ada satu dari sekian banyak personil


polisi yang masih belum membuka helm pengamannya. Benda tersebut benar-benar


menutupi seluruh wajah mereka. Sehingga tidak ada yang bisa mengenalinya. Namun,


Immanuel bisa mengenali gadis itu dengan mudah hanya dari suaranya saja.


“Jadi kau sungguh penasaran


denganku ya?” tanya gadis itu kemudian membuka helmnya.


Betapa terkejutnya


semua orang saat mendapati salahs atu anggotanya ternyata telah bekerja sama


dengan polisi. Sebenarnya salah jika mereka beranggapan seperti itu. Karena


sejak awal pun Agatha bukan anggota geng mafia. Dia hanya datang kemari untuk


mencuri beberapa informasi yang memang diperlukan.


“Senang bertemu dengan


kalian lagi,” ucap Agatha sambil memberikan hormat.


Gadis itu menyugar


rambutnya ke belakang. Tidak bisa dipungkiri kalau sekarang ia tengah merasa


gerah. Ya, gerah di tengah malam karena ia harus menggunakan baju setebal ini


dan melakukan aktivitas berat seperti bertarung, berlari dan sebagainya. Yang tadi


itu benar-benar menguras tenaganya.


“Sepertinya misi kita malam


ini gagal. Jadi, bagaimana kalau kita coba di lain waktu?” tanya Agatha dengan


nada meledek.


“Berani-beraninya kau!”


bentak Hiraeth.


“Oh, maaf tuan,” balas gadis


itu.


“Sejak awal aku memang


tidak pernah memihak kalian. Inilah kenyataannya,” ungkapnya secara gamblang.


“Lihat saja


pembalasanku nanti!” ancam Immanuel.


“Ya, mari kita lihat


saja. Karena pada akhirnya salah satu dari kita pasti akan kalah,” jelas Agatha


dengan begitu tenang.


Semua


orang mendadak jadi memiliki dendam yang begitu besar terhadap gadis itu. Mereka


menyesal telah mempercayai orang seperti Agatha sebelumnya. Meski ia seorang


pengkhianat, tapi selama ini ia bekerja dengan penuh loyalitas. Hal tersebut


membuat mereka tidak sadar kalau ternyata Agatha adalah musuh dalam selimut. Dugaan


Immanuel sudah terbukti. Sekarang tidak ada yang perlu diragukan lagi. Bukankah


semua ini sudah cukup jelas.