
Keriuhan suasana
terjadi dimana-mana. Atmosfir tempat ini bahkan jadi berubah drastis. Padahal sebelumnya
begitu senyap. Meski tidak perlu mengendap-endap lagi, tetap saja mereka harus
bergerak dengan hati-hati. Museum bukan tempat sembarangan. Ada banyak benda
berharga yang di simpan di sini. Jangan sampai ada yang rusak. Terutama lukisan
mahal itu.
Telinga Agatha sudah
penuh rasanya. Ada dua jenis perintah yang saling bertolak belakang. Meski
merasa terganggu dan sedikit tidak nyaman, tetap saja gadis itu harus
menggunakan kedua alat tersebut pada saat yang bersamaan. Hanya dengan cara
seperti ini ia bisa mengontrol pergerakan kedua tim dan melumpuhkan salah
satunya.
“Turunkan senjata
kalian!” perintah Arjuna.
“Sekarang kalian sudah
terkepung. Jadi menyerahlah!” lanjutnya.
Alih-alih mengikuti
ucapan pria itu, mereka malah berushaa untuk memberontak. Tapi untungnya dengan
cepat Agatha bisa menjatuhkan senjata mereka satu-persatu. Mau tidak mau mereka
terpaksa bertarung menggunakan tangan kosong.
‘BUGH! BUGH!’
‘PAW!’
‘BRAK!!!’
Bukan sesuatu yang sulit
lagi bagi Agatha untuk menghadapi orang-orang seperti mereka. Hampir setiap
hari gadis itu selalau bertarung bersama dengan para anggota. Sepertinya
kebiasaan yang satu itu sudah menjadi rutinitas mereka setiap harinya.
Sangking sudah terlalu
seringnya bertarung, Agatha sampai hapal bagaimana pola serangan setiap orang. Ia
sama sekali tidak menganggap yang satu ini sebagai pertarungan sungguhan.
Kurang lebih sama saja seperti latihan yang kerap mereka lakukan selama ini.
Setiap orang memiliki
lawan mainnya masing-masing. Kali ini Agatha harus berhadapan dengan Immanuel. Mereka
paling sering bertarung sebelumnya. Dalam misi kali ini ia sama sekali tidak
bermaksud untuk menyerang.
“Kenapa dia tidak
menyerangku balik?” batin Immanuel di dalam hati.
“Itu sebab aku hanya
ingin membuatmu merasa kelelahan saja karena terus melakukan aksi tanpa ada
reaksi sama sekali,” ucap gadis itu juga di dalam hatinya.
Ketika melihat ada
celah, ini adalah kesempatan yang bagus baginya. Tanpa pikir panjang sama
sekali, gadis itu langsung melancarkan serangan pertamanya. Cukup untuk
melumpuhkan pria itu. Agatha membatasi pergerakan pria itu dengan cara mengunci
bagian tangan serta kakinya.
Sekarang ini posisi
Agatha tengah berada di atas. Sementara Immanuel terbaring di lantai dengan
tangan dan kaki yang terkunci. Ia jadi tidak bisa berkutik sama sekali. Sebenarnya
kalau diadu soal kekuatan, maka Agatha jelas masih kalah jauh. Namun,
beruntungnya gadis ini memiliki kecerdasan, kecepatan dan juga ketepatan. Semua
hal itu bisa bekerja dalam satu kali. Mungkin kalian bisa menyebutnya sebagai
mahluk yang multitasking.
Agatha mendekatkan wajahnya
ke telinga pria itu. Kemudian membisikkan sesuatu di sana. Hanya sebuah
peringatan sebenarnya.
“Sebaiknya kau tetap
tenang, atau aku aka menghabisi nyawamu sekarang juga!” ancam Agatha.
“Rienna?” gumamnya.
“Apa itu kau?” tanya pria
itu kemudian.
Pintar sekali pria ini.
Dia bisa langsung mengenali suara Agatha yang selama ini mereka anggap sebagai
Rienna. Gadis itu datang kemari untuk membuktikan kalau dugaan mereka selama
ini benar. Ya, Immanuel tidak berbohong. Apa yang ia katakan itu benar, kalau
sebenarnya Agatha itu adalah mata-mata.
Agatha sama sekali
tidak merasa terkejut ketika pria itu mengucapkan namanya. Sudah ia duga
sebelumnya jika akan jadi seperti ini pada akhirnya. Lagi pula tidak ada
gunanya lagi ditutup-tutupi seperti ini. Semua orang juga akan tahu pada
Semua orang sudah
terkendali. Termasuk Hiraeth. Tidak ada yang pernah menyangka sama sekali jika
orang seperti Hiraeth akan takluk di tangan Arjuna. Padahal selama ini ia
terkenal sebagai orang yang tidak pernah bisa disentuh sama sekali. Tapi kali
ini pria itu berhasil mematahkan segala asumsinya soal itu.
Setelah situasi
berhasil dikendalikan, semua tahanan dimasukkan ke dalam mobil tahanan. Bersama
dengan Agatha dan Immanuel di dalamnya. Ada beberapa personil lagi sebenarnya. Karena
mereka bukan penjahat biasa, jadi penjagaannya pun harus ekstra.
“Apa semuanya sudah
berada di sini?” tanya Arjuna yang kemudian langsung diangguki oleh Agatha.
Hanya gadis itu
satu-satunya orang yang tahu berapa jumlah pasti dari tim Hiraeth. Sebab
sebelumnya mereka sudah berkumpul bersama lebih dulu. Setelah semuanya beres,
barulah Agatha dan yang lainnya naik ke atas mobil yang sama.
Setiap tahanan diborgol
dan diikat agar tidak melarikan diri. Kalau mereka masih tetap keras kepala dan
nekat untuk pergi, maka tahu sendiri konsekuensinya seperti apa. Timah panas
itu akan mendarat di betisnya. Sebenarnya Agatha tidak ingin melakukan hal
seperti itu dan jangan sampai terjadi. Tapi kalau mereka yang memaksa, mau
bagaimana lagi.
“Rienna!” sahut
Immanuel.
“Itu kau bukan?”
tanyanya kemudian.
Semua orang pada
akhirnya langsung menyadari satu hal. Benar juga. Kenapa tidak ada sosok yang
bernama Rienna itu di sini. Bukan hanya itu saja. Ada hal lain yang membuat
rasa curiga Immanuel semakin besar. Hanya ada satu dari sekian banyak personil
polisi yang masih belum membuka helm pengamannya. Benda tersebut benar-benar
menutupi seluruh wajah mereka. Sehingga tidak ada yang bisa mengenalinya. Namun,
Immanuel bisa mengenali gadis itu dengan mudah hanya dari suaranya saja.
“Jadi kau sungguh penasaran
denganku ya?” tanya gadis itu kemudian membuka helmnya.
Betapa terkejutnya
semua orang saat mendapati salahs atu anggotanya ternyata telah bekerja sama
dengan polisi. Sebenarnya salah jika mereka beranggapan seperti itu. Karena
sejak awal pun Agatha bukan anggota geng mafia. Dia hanya datang kemari untuk
mencuri beberapa informasi yang memang diperlukan.
“Senang bertemu dengan
kalian lagi,” ucap Agatha sambil memberikan hormat.
Gadis itu menyugar
rambutnya ke belakang. Tidak bisa dipungkiri kalau sekarang ia tengah merasa
gerah. Ya, gerah di tengah malam karena ia harus menggunakan baju setebal ini
dan melakukan aktivitas berat seperti bertarung, berlari dan sebagainya. Yang tadi
itu benar-benar menguras tenaganya.
“Sepertinya misi kita malam
ini gagal. Jadi, bagaimana kalau kita coba di lain waktu?” tanya Agatha dengan
nada meledek.
“Berani-beraninya kau!”
bentak Hiraeth.
“Oh, maaf tuan,” balas gadis
itu.
“Sejak awal aku memang
tidak pernah memihak kalian. Inilah kenyataannya,” ungkapnya secara gamblang.
“Lihat saja
pembalasanku nanti!” ancam Immanuel.
“Ya, mari kita lihat
saja. Karena pada akhirnya salah satu dari kita pasti akan kalah,” jelas Agatha
dengan begitu tenang.
Semua
orang mendadak jadi memiliki dendam yang begitu besar terhadap gadis itu. Mereka
menyesal telah mempercayai orang seperti Agatha sebelumnya. Meski ia seorang
pengkhianat, tapi selama ini ia bekerja dengan penuh loyalitas. Hal tersebut
membuat mereka tidak sadar kalau ternyata Agatha adalah musuh dalam selimut. Dugaan
Immanuel sudah terbukti. Sekarang tidak ada yang perlu diragukan lagi. Bukankah
semua ini sudah cukup jelas.