
Ternyata rekaman kamera pengawas dari beberapa toko tidak
menjadi satu-satunya bukti di sini. Masih ada bukti lainnya yang terkesan lebih
menguatkan. Barang curian berupa tas bermerk itu telah lenyap begitu saja.
Namun, sidik jari di pelaku berhasil di dapatkan. Sepertinya ia kurang
hari-hati pada saat menjalankan aksinya. Sehingga ia lupa kalau sidik jarinya
tertinggal di etalase yang sempat ia kunjungi sebelum membawa lari barang
curian tersebut.
“Sudah kukatakan jika itu bukan aku!” seru Agatha sambil
berdecak sebal.
“Kenapa kalian masih saja bersi keras untuk menuduhku
sebagai seorang penjahat?!” keluhnya.
Ia sama sekali tidak terima jika diperlakukan seperti ini.
Agatha bukan seorang pencuri, dan yang paling penting ia tidak pernah melakukan
hal konyol begitu. Walaupun tidak terlalu kaya, Agatha tidak pernah merasa
kekurangan sedikit pun. Semua terasa cukup. Itu sebabnya kenapa Agatha tidak
sudi dan tidak akan pernah melakukan hal memalukan seperti itu.
Sudah cukup. Orang-orang ini sudah keterlaluan. Padahal
Agatha sudah menepis semua omong kosong itu dengan bukti yang cukup kuat. Dan
yang jelas ia sama sekali tidak mengada-ada. Apa yang ia katakan adalah
kebenaran. Lagi pula untuk apa ia berbohong.
“Ini adalah hal terakhir yang harus kami buktikan,” ungkap
si pria berkumis.
Agatha menghela napasnya dengan kasar. Sekarang ia sudah
tidak bisa bersikap tenang lagi. Mendadak semuanya terasa begitu memuakkan.
Seolah ada hal tal terlihat yang berusaha untuk menghimpitnya dari berbagai
arah. Membuat dadanya terasa sesak. Gadis itu mengepal kedua tangannya
kuat-kuat. Berusaha untuk mengontrol dirinya sendiri.
“Sudah, ikuti saja prosedurnya,” kata Thomas.
Seorang gadis yang bernama Agatha itu hanya bisa pasrah. Dia
tidak bisa melakukan apa pun. Apa yang baru saja dikatakan oleh Thomas ada
benarnya. Satu-satunya hal yang bisa ia lakukan adalah mengikuti prosedurnya.
Lagi pula Agatha sudah berjanji kepada dirinya sendiri sejak awal untuk tetap
bersikap kooperatif apa pun itu yang akan terjadi nantinya.
“Tapi, ada satu syarat yang harus kalian penuhi!” celetuk
gadis itu secara tiba-tiba.
Tanpa perlu ditanya balik, Agatha dengan sukarela
menjelaskan apa yang menjadi persyaratannya.
“Jika sampai terbukti kalau ini bukan sidik jariku, maka
kalian akan tahu akibatnya,” ancam Agatha.
Apa pun itu akibatnya, lihat saja nanti. Agatha tidak akan
menjelaskan seperti apa detailnya sekarang. Cukup tunggu dan nikmati saja.
Begitu caranya untuk menjalani hidup.
“Baiklah kalau begitu,” balas si pria berkumis.
Dia kelihatannya sama sekali tidak keberatan dengan
persyaratan barusan. Mungkin ia menganggap jika Agatha berkata demikian hanya
karena ketakutan dan sedang panik. Padahal, mereka tidak pernah benar-benar
mengenal Agatha. Ancaman dalam bentuk apa pun yang pernah ia utarakan, pasti
akan menjadi kenyataany suatu saat nanti. Perlu diketahui sekali lagi jika
Agatha bukan tipikal orang yang main-main dengan perkataannya sendiri.
Setelah kesepatakan tersebut disetujui oleh kedua belah
pihak, tanpa buang-buang waktu lagi mereka segera melakukan pemeriksaan. Sidik
jari Agatha diambil secara keseluruhan untuk dijadikan sebagai perbandingan
dengan sidik jari yang mereka dapatkan di tempat kejadian. Jika hasilnya
menunjukkan tingkat keakuratan hingga diatas 80% maka statusAgatha sebagai
tersangka akan dinaikkan menjadi pelaku.
Meski tahu jika dirinya tidak bersalah, tetap saja Agatha
merasa takut jika ada hal buruk yang sedang semesta rencanakan secara diam-diam
di baliknya.
***
Hasil pemeriksaannya akan keluar dalam waktu satu kali dua
puluh empat jam. Jadi, mereka harus menunggu selama itu jika ingin mengetahui
“Senang bekerja sama dengan kalian,” ucap si pria berkumis
sekaligus berpamitan.
Setelah mendapatkan sidik jari dari Agatha, mereka berdua
akan langsung kembali ke kantor untuk menyelidiki kembali semua bukti yang
sudah berhasil di kumpulkan sejauh ini. Termasuk beberapa kejanggalan yang
ditemukan tadi. Semua orang masih bertanya-tanya, bagaimana bisa Agatha berada
di dua tempat berbeda pada waktu yang bersamaan. Padahal sebelumnya ia mengaku
kalau dirinya tidak punya kembaran. Kemungkinan besar orang yang berada di mall
itu hanya mirip dengan dirinya. Apalagi kalau dilihat secara sekilas, mereka
benar-benar mirip.
Saat ini seisi kantor sudah mengetahui berita terbaru
tentang dirinya. Agatha, si tersangka pelaku pencurian di mall. Kabar itu
benar-benar menurunkan harga dirinya secara instan. Meski belum terbukti benar,
tetap saja hal itu sungguh memalukan. Semangat kerjanya mendadak menghilang. Lebih
tepatnya, ia sedang tidak ingin melakukan apa-apa. Beruntung pekerjaannya hari
ini tidak terlalu banyak. Kemarin ia sudah menyicil untuk menyelesaikan
sebagian besar dari mereka. Sehingga hari ini Agatha hanya tinggal
menyelesaikan sisanya saja.
Seolah Sudah memiliki firasat buruk tentang hari ini
sebelumnya, Agatha mendadak menjadi rajin kemarin. Tapi, setidaknya hal itu
cukup membantu. Hari ini beban pikirannya jadi tidak terlalu banyak karena hal
pekerjaan.
“Tenang saja, kami percaya kepadamu,” ucap Jeff sambil
menepuk-nepuk pundak rekan kerjanya pelan.
“Kau mengucapkan kata kami seolah mewakili semua orang,”
balas Agatha dengan ketus.
“Padahal merka semua belum tentu sependapat denganmu!”
pungkasnya.
“Benar juga,” gumam Jeff.
Satu detik, dua detik, tiga detik, mereka saling membisu
satu sama lain. Sampai akhirnya tiba-tiba Arjuna buka suara.
“Kita lihat saja bagaimana hasilnya besok!” celetuk pria itu
secara tiba-tiba.
Kini semua mata tertuju kepadanya. Tidak bisa dipungkiri
jika ia berhasil mencuri perhatian semua orang. Tidak terkecuali dengan gadis
yang bernama Agatha itu.
“Tenang saja, setidaknya beberapa dari kami akan berada di
pihakmu untuk sekarang,” ujar Robi.
“Tapi, aku masih bingung,” kata Thomas sambil menggaruk
kepalanya yang tidak gatal.
“Bingung kenapa?” tanya Robi.
“Padahal dari rekaman kamera pengawas itu sudah jelas
menunjukkan jika Agatha berada di ruangannya setelah makan siang. Ia bahkan
tidak pergi kemana-mana setelahnya sampai jam pulang kantor,” jelas pria itu
dengan panjang lebar.
Semua orang yang berada di sana mengangguk setuju. Termasuk
Agatha. Mereka semua sedang satu pemikiran sekarang.
“Sudahlah! Mengingat hal itu hanya membuatku pusing saja!”
gerutu gadis itu sebal.
Ia beranjak pergi dari tempatnya semula. Kembali ke
ruangannya untuk menenangkan diri. Pada saat seperti ini, Agatha hanya perlu
sedikit waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Ia bisa menyelesaikan
masalah internal tanpa ikut campur tangan orang lain.
Sementara itu, rekan-rekan
kerjanya yang lain hanya memandangi punggungnya yang kian menjauh. Tidak ada
satu pun dari mereka yang berniat untuk menghentikan gadis itu. Mereka bisa
memaklumi apa yang sedang terjadi. Lagi pula, Agatha pasti akan kembali jika
kondisinya sudah terasa jauh lebih membaik. Tidak perluu terlalu memaksa. Semua
hal juga perlu proses. Bahkan hal terkecil sekali pun.