
Manusia memang tidak
bisa memastikan apa pun di dalam hidupnya. Terutama yang akan terjadi di masa
depan. Bahkan terkadang prediksi mereka kerap tidak sesuai dengan kenyataan
yang terjadi. Mereka punya angan keinginan serta rencana, tapi semesta punya
kehendak yang haru terjadi. Selama ini mereka menyebutnya sebagai takdir.
“Beberapa hari ini aku
mencoba untuk menghubungimu, tapi tidak bisa,” ungkap pria itu.
“Apa kau memang sengaja
melakukannya untuk menghindariku?” tanyanya.
Agatha tidak langsung
menjawab pertanyaan tersebut. Gadis itu menghela napasnya dengan kasar. Mendadak
ia jadi merutuki nasibnya sendiri. Padahal
hari ini semua tampak baik-baik saja, tidak ada masalah baru yang datang ke
dalam hidupnya.
Jauh sebelum pria itu
muncul tepat di hadapannya, semua tampak baik-baik saja. Meskipun hari ini ia
terpaksa harus berjumpa denga Arjuna, tapi Agatha sama sekali tidak
mempermasalahkan hal tersebut. Karena yang menjadi satu-satunya masalah di sini
adalah Aaron.
“Kupikir ini adalah
hari terbaik yang pernah terjadi di sepanjang perjalanan hidupku. Ternyata tidak
sama sekali. Aku salah,” batinnya di dalam hati.
“Kita sudah tidak ada
urusan sama sekali,” kata gadis itu secara gamblang.
“Itu sebabnya kenapa
aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi denganmu,” timpalnya.
“Tapi, sepertinya
alasanmu barusann tidak cukup meyakinkan bagiku,” ujar Aaron.
“Terserahmu saja!” balas
gadis itu dengan ketus.
Aaron mellipat kedua
tangannya di depan dada, sambil menatap lurus ke depan. Tubuhnya ia sandarkan
pada sandaran tempat duduk yang telah disediakan. Sehingga punggungnya tidak
akan terlalu lelah untuk menahan berat tubuhnya sendiri selama perjalanan.
“Kau tahu? Belakangan
ini aku sering memasak porsi lebih. Tapi, tidak tahu harus dibagi dengan siapa,”
uncap pria itu secara terang-terangan.
“Ck! Habiskan saja
sendiri!” sarkasnya.
“Sudah tahu hanya hidup
sendiri di apartment, kenapa malah memasak porsi lebih. Dasar gila!” umpatnya
di dalam hati.
Kalau Aaron mendengar
kalimat tersebut meluncur keluar dari dalam mulutnya, mungkin dia akan marah. Terlebih
kalau suasana hatinya sedang tidak bagus. Itu sebabnya kenapa Agatha jauh lebih
memilih untuk membungkam mulutnya saja. Terkadang mengutuk orang lain di dalam
hati memang jauh lebih baik dan aman dari pada apa pun.
“Biasanya aku selalu
membaginya denganmu,” ujar Aaron.
“Lalu?” tanya Agatha.
Dia benar-benar sudah
muak dengan pria itu. Agatha berharap agar kemacetan ini segera usai dan
kendaraan yang mereka tumpangi bisa kembali berjalan dengan kecepatan normal. Tapi,
setelah melihat kondisi sekitar yang begitu padat sepertinya tidak mungkin. Antrian
sudah mengular. Ia bahkan tidak tahu dimana ujung dari kekacauan ini dan kapan
akan selesainya.
Pada intinya selama
berada di salam bis ini, ia akan terus berhadapan dengan Aaron. Orang yang
paling ia hindari. Dan selama itu pula ia harus menahan lonjakan emosinya.
Agatha harus banyak-banyak bersabar.
“Kenapa aku harus
bertemu denganmu pada saat sepert ini?” gumam Agatha pelan.
“Sungguh menyebalkan,”
lanjutnya.
Namun, ternyata
suaranya belum cukup pelan. Sehingga lawan bicaranya yang sejak tadi sudah
duduk di sampingnya mampu mendengar semua kalimat Agatha barusan.
“Aku memang menyebalkan
sejak awal. Aku yakin betul kalau kau pasti sudah tahu akan hal itu dari dulu!”
celetuknya secara tiba-tiba.
Hal tersebut mempu
membuat Agatha merasa sedikit terkejut. Bagaimana tidak terkejut coba. Padahal
sekitarnya terbilang ramai akan suara mengobrol dan juga beberapa suara dari
luar. Seperti suara klakson dan suara mesin mobil yang masih menyala. Seharusnya
dibandingkan dengan suaranya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Pria itu masih
mampu mendengarnya. Entah memang karena suara gadis ini yang terlalu kuat saat
berbicara, atau malah karena indera pendengaran Aaron saja yang terlalu peka
dengan suara di sekitarnya. Pasti karena kemungkinan yang nomer dua. Kalau yang
pertama rasanya tidak mungkin. Agatha sudah menggunakan volume paling rendah
yang ia bisa pada saat bicara tadi. Dengan alasan agar pria itu tidak dapatn
mendengar suaranya.
“Omong-omong, dimana sekarang
kau tinggal?” tanya pria itu.
“Kau tidak perlu tahu,”
jawab Agatha dengan cepat.
“Tenang saja, aku tidak
akan ikut pindah ke sana,” ujar Aaron.
“Lagi pula sisa
kontrakku di apartment yang sedang kutempati sekarang masih lima bulan lagi,”
ungkapnya secara gamblang.
“Baguslah kalau begitu!”
ketus Agatha.
“Kau sungguh tidak
ingin memberi tahu dimana tempat tinggal barumu kepadaku?” tanya pria itu
sekali lagi untuk memastikan.
Namun, jawaban Agatha
masih tetap sama. Ia berpegang teguh pada pendiriannya. Sekali gadis itu
mengatakan tidak, maka tetap tidak sampai selamanya. Jangan berharap jika ia
memiliki kesempatan untuk membujuk gadis itu. Karena sayangnya, Agatha bukan
tipikal orang yang akan dengan mudahnya terpengaruhi.
“Kalau begitu jangan
salahkan aku jika nanti kita bertemu lagi,” ucap Aaron.
“Apa maksudmu?” tanya
Agatha sambil mengerutkan dahinya.
“Ya, kemungkinan aku
akan mencari tahu soal itu sendirian. Kalau memang kau tidak ingin memberi tahu
apa pun kepadaku,” jelasnya dengan panjang lebar.
“Seperti yang kau tahu
jika aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau,” finalnya.
“Tidak, kau tidak
melulu seberuntung itu,” balas Agatha dengan acuh tak acuh.
Sungguh ia sudah tidak
peduli lagi dengan semua ancaman itu. Percuma saja. Mau mengancam seperti apa
pun, dia tidak akan bisa mempengaruhi Agatha untuk saat ini. Silahkan coba saja
kalau memang berani.
“Baiklah, kupastikan
dalam minggu ini kita akan bertemu di sekitar tempat tinggalmu,” bisik pria itu
dengan pelan di telinganya.
“Kau pikir aku peduli?!”
batin gadis itu di dalam hati.
Memang sudah
sepatuthnya sejak awal ia menjaga jarak dengan orang seperti Aaron. Mereka tidak
perlu terlalu dekat. Apalagi mengingat kalau pada faktanya, Aaron adalah
seseorang yang tergabung dalam pergerakan rahasia para mafia itu. Bisa
dikatakan jika Aaron dan Hiraeth adalah dua bos besar yang memimpin jalannya
pergerakan tersebut.
“Hanya kau satu-satunya
yang belum tertangkap.”
Lagi-lagi Agatha bicara
di dalam hatinya sendiri untuk mengaja keamanan rahasia tersebut.
“Haruskah aku
menangkapmu juga?”
“Tentu saja harus.”
“Akan kupikirkan
bagaimana caranya untuk mengelabuimu. Karena pada akhirnya kau juga akan
berakhir di sel penjara bersama dengan teman-temanmu yang lain.
“Itu pasti.”
“Tunggu saja, sebentar
lagi kau juga akan bertemu dengan mereka. Aku yakin kalau kau sudah merindukan
mereka selama ini.”
Entah
kenapa mendadak ia terpikir untuk memasukkan pria ini ke penjara juga bersama rekan-rekannya
yang lain. Namun, Agatha tidak bisa langsung menangkapnya begitu saja sekarang.
Pertama-tama ia harus punya bukti yang cukup lebih dulu. Sejauh ini Agatha memang
belum memiliki bukti apa pun yang terkait dengan partisipasi Aaron dalam
kelompok mafia tersebut.