The Riot

The Riot
Meet Aaron



Manusia memang tidak


bisa memastikan apa pun di dalam hidupnya. Terutama yang akan terjadi di masa


depan. Bahkan terkadang prediksi mereka kerap tidak sesuai dengan kenyataan


yang terjadi. Mereka punya angan keinginan serta rencana, tapi semesta punya


kehendak yang haru terjadi. Selama ini mereka menyebutnya sebagai takdir.


“Beberapa hari ini aku


mencoba untuk menghubungimu, tapi tidak bisa,” ungkap pria itu.


“Apa kau memang sengaja


melakukannya untuk menghindariku?” tanyanya.


Agatha tidak langsung


menjawab pertanyaan tersebut. Gadis itu menghela napasnya dengan kasar. Mendadak


ia jadi merutuki nasibnya  sendiri. Padahal


hari ini semua tampak baik-baik saja, tidak ada masalah baru yang datang ke


dalam hidupnya.


Jauh sebelum pria itu


muncul tepat di hadapannya, semua tampak baik-baik saja. Meskipun hari ini ia


terpaksa harus berjumpa denga Arjuna, tapi Agatha sama sekali tidak


mempermasalahkan hal tersebut. Karena yang menjadi satu-satunya masalah di sini


adalah Aaron.


“Kupikir ini adalah


hari terbaik yang pernah terjadi di sepanjang perjalanan hidupku. Ternyata tidak


sama sekali. Aku salah,” batinnya di dalam hati.


“Kita sudah tidak ada


urusan sama sekali,” kata gadis itu secara gamblang.


“Itu sebabnya kenapa


aku memutuskan untuk tidak berkomunikasi lagi denganmu,” timpalnya.


“Tapi, sepertinya


alasanmu barusann tidak cukup meyakinkan bagiku,” ujar Aaron.


“Terserahmu saja!” balas


gadis itu dengan ketus.


Aaron mellipat kedua


tangannya di depan dada, sambil menatap lurus ke depan. Tubuhnya ia sandarkan


pada sandaran tempat duduk yang telah disediakan. Sehingga punggungnya tidak


akan terlalu lelah untuk menahan berat tubuhnya sendiri selama perjalanan.


“Kau tahu? Belakangan


ini aku sering memasak porsi lebih. Tapi, tidak tahu harus dibagi dengan siapa,”


uncap pria itu secara terang-terangan.


“Ck! Habiskan saja


sendiri!” sarkasnya.


“Sudah tahu hanya hidup


sendiri di apartment, kenapa malah memasak porsi lebih. Dasar gila!” umpatnya


di dalam hati.


Kalau Aaron mendengar


kalimat tersebut meluncur keluar dari dalam mulutnya, mungkin dia akan marah. Terlebih


kalau suasana hatinya sedang tidak bagus. Itu sebabnya kenapa Agatha jauh lebih


memilih untuk membungkam mulutnya saja. Terkadang mengutuk orang lain di dalam


hati memang jauh lebih baik dan aman dari pada apa pun.


“Biasanya aku selalu


membaginya denganmu,” ujar Aaron.


“Lalu?” tanya Agatha.


Dia benar-benar sudah


muak dengan pria itu. Agatha berharap agar kemacetan ini segera usai dan


kendaraan yang mereka tumpangi bisa kembali berjalan dengan kecepatan normal. Tapi,


setelah melihat kondisi sekitar yang begitu padat sepertinya tidak mungkin. Antrian


sudah mengular. Ia bahkan tidak tahu dimana ujung dari kekacauan ini dan kapan


akan selesainya.


Pada intinya selama


berada di salam bis ini, ia akan terus berhadapan dengan Aaron. Orang yang


paling ia hindari. Dan selama itu pula ia harus menahan lonjakan emosinya.


Agatha harus banyak-banyak bersabar.


“Kenapa aku harus


bertemu denganmu pada saat sepert ini?” gumam Agatha pelan.


“Sungguh menyebalkan,”


lanjutnya.


Namun, ternyata


suaranya belum cukup pelan. Sehingga lawan bicaranya yang sejak tadi sudah


duduk di sampingnya mampu mendengar semua kalimat Agatha barusan.


“Aku memang menyebalkan


sejak awal. Aku yakin betul kalau kau pasti sudah tahu akan hal itu dari dulu!”


celetuknya secara tiba-tiba.


Hal tersebut mempu


membuat Agatha merasa sedikit terkejut. Bagaimana tidak terkejut coba. Padahal


sekitarnya terbilang ramai akan suara mengobrol dan juga beberapa suara dari


luar. Seperti suara klakson dan suara mesin mobil yang masih menyala. Seharusnya


dibandingkan dengan suaranya. Tapi ternyata tidak sama sekali. Pria itu masih


mampu mendengarnya. Entah memang karena suara gadis ini yang terlalu kuat saat


berbicara, atau malah karena indera pendengaran Aaron saja yang terlalu peka


dengan suara di sekitarnya. Pasti karena kemungkinan yang nomer dua. Kalau yang


pertama rasanya tidak mungkin. Agatha sudah menggunakan volume paling rendah


yang ia bisa pada saat bicara tadi. Dengan alasan agar pria itu tidak dapatn


mendengar suaranya.


“Omong-omong, dimana sekarang


kau tinggal?” tanya pria itu.


“Kau tidak perlu tahu,”


jawab Agatha dengan cepat.


“Tenang saja, aku tidak


akan ikut pindah ke sana,” ujar Aaron.


“Lagi pula sisa


kontrakku di apartment yang sedang kutempati sekarang masih lima bulan lagi,”


ungkapnya secara gamblang.


“Baguslah kalau begitu!”


ketus Agatha.


“Kau sungguh tidak


ingin memberi tahu dimana tempat tinggal barumu kepadaku?” tanya pria itu


sekali lagi untuk memastikan.


Namun, jawaban Agatha


masih tetap sama. Ia berpegang teguh pada pendiriannya. Sekali gadis itu


mengatakan tidak, maka tetap tidak sampai selamanya. Jangan berharap jika ia


memiliki kesempatan untuk membujuk gadis itu. Karena sayangnya, Agatha bukan


tipikal orang yang akan dengan mudahnya terpengaruhi.


“Kalau begitu jangan


salahkan aku jika nanti kita bertemu lagi,” ucap Aaron.


“Apa maksudmu?” tanya


Agatha sambil mengerutkan dahinya.


“Ya, kemungkinan aku


akan mencari tahu soal itu sendirian. Kalau memang kau tidak ingin memberi tahu


apa pun kepadaku,” jelasnya dengan panjang lebar.


“Seperti yang kau tahu


jika aku bisa mendapatkan apa pun yang aku mau,” finalnya.


“Tidak, kau tidak


melulu seberuntung itu,” balas Agatha dengan acuh tak acuh.


Sungguh ia sudah tidak


peduli lagi dengan semua ancaman itu. Percuma saja. Mau mengancam seperti apa


pun, dia tidak akan bisa mempengaruhi Agatha untuk saat ini. Silahkan coba saja


kalau memang berani.


“Baiklah, kupastikan


dalam minggu ini kita akan bertemu di sekitar tempat tinggalmu,” bisik pria itu


dengan pelan di telinganya.


“Kau pikir aku peduli?!”


batin gadis itu di dalam hati.


Memang sudah


sepatuthnya sejak awal ia menjaga jarak dengan orang seperti Aaron. Mereka tidak


perlu terlalu dekat. Apalagi mengingat kalau pada faktanya, Aaron adalah


seseorang yang tergabung dalam pergerakan rahasia para mafia itu. Bisa


dikatakan jika Aaron dan Hiraeth adalah dua bos besar yang memimpin jalannya


pergerakan tersebut.


“Hanya kau satu-satunya


yang belum tertangkap.”


Lagi-lagi Agatha bicara


di dalam hatinya sendiri untuk mengaja keamanan rahasia tersebut.


“Haruskah aku


menangkapmu juga?”


“Tentu saja harus.”


“Akan kupikirkan


bagaimana caranya untuk mengelabuimu. Karena pada akhirnya kau juga akan


berakhir di sel penjara bersama dengan teman-temanmu yang lain.


“Itu pasti.”


“Tunggu saja, sebentar


lagi kau juga akan bertemu dengan mereka. Aku yakin kalau kau sudah merindukan


mereka selama ini.”


Entah


kenapa mendadak ia terpikir untuk memasukkan pria ini ke penjara juga bersama rekan-rekannya


yang lain. Namun, Agatha tidak bisa langsung menangkapnya begitu saja sekarang.


Pertama-tama ia harus punya bukti yang cukup lebih dulu. Sejauh ini Agatha memang


belum memiliki bukti apa pun yang terkait dengan partisipasi Aaron dalam


kelompok mafia tersebut.