
Sementara itu, di
ruangan lain juga ada proses interogasi yang sama-sama sedang berlangsung.
Kedua ruangan tersebut hanya dibatas oleh satu sekat tembok beton. Setidaknya
cukup untuk meredam suara orang-orang yang berada di dalamnya agar tidak sampai
keluar.
Jika tadi Arjuna
berhadapan dengan Hiraeth karena mereka sama-sama pemimpin, kalau begitu Agatha
akan berhadapan dengan Immanuel. Kalau dipikir-pikir posisi mereka di dalam tim
tidak terlalu penting. Entahlah, ia hanya melaksanakan perintah dari atasannya
saja untuk menginterogasi pria itu. Memangnya siapa lagi yang bernai
menyuruh-nyuruh Agatha kalau bukan Arjuna. Hanya pria itu yang memiliki
kewenangan tersebut di kantor ini.
“Senang bisa bertemu
denganmu kembali,” ucap Agatha begitu Immanuel memasuki ruangan.
“Silahkan duduk!”
persilahkan gadis itu.
Dari raut wajahnya, ia
tampak kesal. Sama sekali tidak ingin mendengarkan perkataan gadis itu. Tapi,
mau tak mau ia tetap harus mengikutinya. Dengan berat hati ia menarik sebuah
kursi dan mengambil posisi tepat di depan Agatha.
“Omong-omong, bagaimana
perasaanmu saat ini ketika mengetahui kalau dugaanmu benar?” tanya Agatha.
Gadis itu memang
sengaja ingin berbasa-basi lebih dulu sebelum memasuki pembicaraan yang lebih
serius. Meskipun pada dasarnya ia bukan tipikal orang yang suke menghabiskan
waktu dengan berbasa-basi seperti itu.
“Jadi kau tidak ingin
menjawab pertanyaanku ya?” tanya Agatha lagi.
“Baiklah kalau begitu,”
ucapnya kemudian.
Ia sama sekali tidak
masalah kalau Immanuel tidak menjawab pertanyaan basa-basi darinya tadi. Tapi,
jangan coba-coba untuk tidak menjawab pertanyaan pada saat diinterogasi nanti.
Lihat saja apa yang akan terjadi kalau Immanuel berani melakukannya.
“Bisakah langsung kita
mulai saja?” tanya Immanuel.
“Kau ingin
menginterogasiku, kan?” tanyanya lagi.
Agatha mengerjap
beberapa kali. Mencoba untuk menetralisir atmosfir yang berada di dalam dirinya
sendiri. Sulit untuk dipercaya. Ini adalah pertama kalinya pria itu buka suara.
Sejak sampai di sini, Immanuel tidak bicara apa pun.
“Wah! Kau
sungguh-sungguh?” tanya Agatha yang masih terjebak dalam kondisi setengah tak
percaya.
“Ah, aku tahu kenapa kau
jadi mendadak tidak sabaran seperti ini. Pasti karena ini adalah sesi
interogasi pertamamu,” celoteh gadis itu sambil tersenyum tipis.
Sebelumnya ia sama
sekali tidak menyangka jika Immanuel akan semudah ini diajak untuk bekerja
sama. Semoga saja apa yang ia katakan barusan sesuai dengan perlakuannya nanti.
Yang sejauh Agatha tahu, pria itu bukan tipikal orang yang akan mengingkari
perkataanya sendiri. Dia tidak mau dianggap sebagai orang yang menjilat
ludahnya sendiri. Jadi, kurang lebih ia melakukan semua itu untuk menjaga harga
dirinya.
“Karena kau sudah tidak
sabar, kalau begitu mari langsung kita mulai saja!” celetuk gadis itu lalu
membuka lembar pertama.
“Ada beberapa
pertanyaan yang harus kau jawab dengan jujur. Jadi, tolong bersikap kooperatif
setidaknya untuk kali ini saja,” jelasnya kemudian.
“Kalau kau sampai
berbohong, maka terima sendiri akibatnya nanti,” peringati gadis itu sekali
lagi.
Sepertinya semua
peringatan itu sudah cukup untuk menegaskan kembali peraturan tak tertulis yang
berlaku selama proses interogasi ini berlansung. Selagi mereka berdua masih
bisa bekerja sama, maka seharusnya proses interogasi akan berjalan lancar.
“Kau bersedia?” tanya
Agatha sekali lagi untuk memastikan.
“Ya,” balas Immanuel
acuh tak acuh.
“Baiklah kalau begitu.
Jadi, pertanyaan pertama….”
Cukup sulit untuk
menginterogasi mereka secara satu-persatu. Apalagi dengan jumlah sebanyak itu.
Dua orang penanya tidak akan bisa menyelesaikan semuanya dalam satu hari. Meskipun
mereka akan saling berbagi. Ternyata tidak semudah itu.
Malam ini mereka
memilih untuk mengiterogasi beberapa orang yang dianggap potensial saja. Mereka
bisa mendapatkan info yang akurat dan jauh lebih banyak dari orang-orang
tersebut. Selain Hiraeth dan Immanuel, ada juga Zean. Selama ini pria itu juga
sering dijadikan Agatha sebagai sumber informasi selama menjadi mata-mata. Entah
dia menyadari hal itu atau tidak sama sekali.
Sejauh ini Agatha dan
Arjuna sudah mengumpulkan begitu banyak data. Meskipun semua itu belum tentu
cukup untuk menyelesaikan kasus ini.
“Kelihatannya mereka
tidak berbohong sama sekali kepada kita,” ujar Arjuna secara tiba-tiba.
“Bagaimana bisa kau tahu?
Apa kau sudah memastikannya?” tanya Agatha setengah tak percaya.
“Jika diperhatikan dari
jawaban mereka, semuanya terlihat saling berkaitan satu sama lain,” jelas pria
itu.
Arjuna terbiasa untuk
bersikap realistis. Dia bisa membedakan dengan jelas mana yang ada dan mana
yang tidak ada. Setiap hal yang ada selalu dianggap pasti. Padahal belum tentu.
Kembali lagi ke prinsip awalnya, jika manusia tidak bisa benar-benar memastikan
apa pun di muka bumi ini.
“Kau yakin?” tanya
gadis itu sekali lagi untuk memastikan.
“Tentu saja!” balas
Arjuna dengan antusias.
Sepertinya pria itu
memang benar-benar yakin dengan perkataannya barusan. Agatha sama sekali tidak
melihat tanda-tanda keraguan sedikit pun di wajahnya.
“Baiklah kalau begitu,”
balas Agatha sambil mengangguk-anggukkan wajahnya.
Mengangguk bukan
berarti setuju. Tidak, ia sama sekali tidak sependapat dengan pria itu. Agatha
hanya mengangguk karena merasa paham dengan maksud pria itu barusan. Kalau soal
pendapat, mereka jelas berselisih. Seperti biasanya.
Agatha menganggap jika
pernyataan Arjuna tadi tidak sepenuhnya benar. Mereka tidak bisa asal
menyimpulkan begitu saja. Hanya karena jawaban mereka semua saling
bersinggungan satu sama lain, bukan berarti mereka mengatakan yang sejujurnya.
Memangnya siapa yang tahu jika sebelumnya mereka telah bersekongkol.
Hiraeth dan timnya
memiliki seribu satu cara untuk menghindar dari masalah. Itulah faktanya. Mereka
bisa dengan mudah memutar otak dan mencari jalan keluar. Bahkan jauh lebih
cepat dari apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.
Yang jelas, mereka
tidak akan pernah tahu apa yang bakal terjadi ke depannya. Jadi tidak ada
salahnya untuk berjaga-jaga bukan?
“Kalau begitu aku pergi
dulu!” pamit Agatha lalu beranjak dari tempat duduknya.
“Mau kemana?” cegah
pria itu.
“Ke belakang. Aku perlu
sedikit asupan kafein agar tetap terjaga malam ini,” jelas seorang gadis yang
sudah berdiri di ambang pintu itu.
“Kau mau kubuatkan
juga?” tawarnya kemudian.
“Tidak usah, terima
kasih. Aku baru saja minum kopi beberapa menit yang lalu,” balas Arjuna.
“Baiklah kalau begitu,”
final Agatha lalu pergi dan menghilang dari balik pintu.
Sepertinya beberapa
hari ke depan akan menjadi hari yang panjang dan melelahkan baginya. Tapi tidak
apa-apa. Agatha akan mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk menyambut
hari-hari itu. Bukankah selama ini ia sudah terbiasa untuk bekerja di bawah
tekanan. Menghabiskan waktu selama seharian penuh di kantor.
Melelahkan
memang. Tapi, ini adalah hidup. Kau tidak akan bisa bertahan kalau kau tidak
berjuang. Jadi satu-satunya jalan adalah dengan tetap berjalan di garis itu.
Menyerah sama saja dengan mengakhiri segalanya tanpa arti. Kau hanya akan
menyesal nantinya.