
Jika benar kali ini Aaron akan datang untuk mengacau lagi,
sepertinya Agatha tidak bisa tinggal diam. Dia perlu mencari jalan keluar. Atau
paling tidak melakukan perlawanan yang setimpal. Yang jelas ia tidak boleh
kalah dari pria itu.
Sekarang sudah lewat dari tengah malam. Agatha tidak bisa
tidur. Bagaimana bisa ia beristirahat dengan tenang, sementara di luar sana ada
seorang pimpinan rahasia sekelompok mafia. Hal buruk bisa saja terjadi
sewaktu-waktu jika Agahta tidak menyadarinya. Pada saat seperti ini ia perlu
untuk selalu waspada. Sebab waspada akan membuatmu aman.
Benda bundar yang tergantung di salah satu sisi dinding itu
tidak berhenti bergerak sejak tadi. Sudah dapat dipastikan jika ia menunjukkan
waktu yang tepat. Jarum pendeknya sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Seharusnya Aaron sudah terlelap sekarang. Memangnya siapa yang bisa berjaga
semalaman penuh.
“Apa dia sudah tidur sekarang?” tanya Agatha kepada dirinya
sendiri.
“Tapi, mana mungkin ia membiarkan tawanannya begitu saja
tanpa penjagaan sama sekali,” gumamnya.
Agatha mulai merasa ragu dengan asumsi yang diciptakan oleh
kepalanya sendiri. Hanya ada dua kemungkinan di sini. Yang pertama, Aaron bisa
saja memang masih bangun dan tidak merasa kantuk sama sekali. Sedikit asupan
kafein seharusnya sudah cukup untuk membuat dirinya merasa lebih baik. Kemungkinan
kedua adalah, ia tidur tapi masih tetap bisa mengamati sekelilingnya.
Gadis itu sama sekali tidak bisa memutuskan mana kemungkinan
terbesarnya. Sepertinya kedua hal tadi itu memiliki presentase yang sama besar
untuk terjadi. Sehingga akan terasa membingungkan kalau dipaksa untuk
memutuskan. Bukan hanya Agatha. Orang lain pasti juga akan merasakan hal
serupa.
Dengan hati-hati Agatha bangkit dari tempat tidur dan
menyingkirkan selimutnya. Ia tidak boleh membuat suara apa pun. Sebab, semua
orang tahu kalau suara sekecil apa pun di malam hari akan terasa jauh lebih
nyaring. Hal tersebut pasti akan menarik perhatian Aaron nantinya.
Meski berada di dalam ruangan yang tertutup dan kecil
kemungkinan jika suara di dalamnya akan sampai ke luar, Agatha harus tetap
berhati-hati. Tidak ada yang bisa memastikan kalau Aaron tidak akan mendengar
suara apa pun dari dalam kamar ini.
Perlahan namun pasti, gadis itu bergerak menuju pintu
kamarnya. Sebelum pergi ke luar, ia perlu memastikan satu hal terlebih dahulu.
Agatha beralih mengintip ke luar ruangan dari lubang kecil yang terdapat di gerendel
pintu. Agatha memang tidak bisa berharap banyak dari celah kecil tersebut.
Tapi, paling tidak ia sudah tahu seperti apa situasi di luar sana.
“Sepertinya aman,” gumam gadis itu pelan.
Terlihat dengan jelas jika ada seorang pria dengan hoodie
hitam duduk di sofa dengan wajah tertunduk. Kedua tangannya dilipat dengan
sengaja di depan dada. Sepertinya memang benar kalau Aaron sudah terlelap.
Dengan sangat hati-hati, Agatha membuka gerendel pintu.
Semua ia lakukan dengan perlahan. Entah kenapa mendadak ia jadi seperti seorang
pencuri yang mengendap-endap di rumahnya sendiri. Baiklah, rencana selanjutnya
adalah obat tidur. Kebetulan sekali di dapur ada bubuk obat tidur. Mungkin kali
ini Agatha terpaksa harus melibatkan Aaron dalam aksinya.
Tidak akan ada yang tahu kalau susu hangat itu sudah
dicampur dengan obat tidur. Aaron juga pasti tidak menyangka. Pertama-tama yang
harus ia lakukan adalah berpura-pura meminum susu tersebut. Kemudian
menawarkannya kepada Aaron. Itu adalah rencana pertama.
Karena tidak semua rencana akan berlangsung lancar, maka
perlu rencana cadangan. Konsepnya kurang lebih sama. Tapi, pada rencana
cadangan ini Agatha akan langsung menyerang pria itu. Atau malah membungkam
mulutnya dengan sapu tangan yang sudah diberikan obat bius. Gas dari zat
tersebut akan masuk ke dalam organ pernapasannya. Kemudian dalam waktu beberapa
detik kemudian, ia akan langsung roboh.
‘TING! TING! TING!’
Agatha dengan sengaja menciptakan suara berisik pada saat
mengaduk minuman tersebut. Ini adalah bagian dari rencana. Sekarang sudah
waktunya Aaron untuk bangun. Memancing korban untuk masuk ke dalam
perangkapnya. Sepertinya ini adalah bagian yang paling menegangkan sekaligus
krusial.
“Ck! Suapa apa itu!” gerutu Aaron sambil berdecak sebal.
Akhirnya rencana Agatha sejauh ini berhasil. Semuanya masih
tampak baik-baik saja. Sesuai dengan yang sudah direncanakan sebelumnya. Pria
itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya Aaron tadi memang
benar-benar tertidur. Bahkan seorang pria seperti dirinya pun tidak kuasa untuk
menahan rasa kantuk.
Merasa terganggu denga suara berisik yang dibuat oleh Agatha
itu, Aaron pun memutuskan untuk bangkit dari tempat duduknya. Ia perlu
memeriksa dari mana asal sumber suaranya. Dengan mata yang masih segaris dan
nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, Aaron berjalan menuju sumber suara.
Insting alaminya mengatakan kalau suara tersebut berasal dari dapur. Untuk saat
seperti ini tidak ada yang bisa ia andalkan selain intuisinya sendiri.
Pengelihatannya memang masih samar-samar. Terasa buram,
padahal Aaron bukan pengguna kacamata minus. Meski pengelihatannya masih belum
optimal, Aaron yakin betul kalau sosok wanita yang berada di hadapannya saat
ini adalah Agatha. Memangnya siapa lagi wanita di sini. Hanya ada mereka di
dalam apartment. Kecuali memang ada penyusup yang memiliki maksud lain. Seperti
pencuri misalnya.
“Apa yang sedang kau lakukan malam-malam seperti ini?” tanya
Aaron dengan suara parau khas orang bangun tidur.
“Aku tidak bisa tidur tadi. Jadi memutuskan untuk membuat
apa adanya.
Aaron tidak memberikan tanggapan sama sekali. Percaya atau
tidak itu urusannya. Masih dengan kondisi yang sama, pria itu mulai melangkah
maju menuju ke arah gadis itu. Sesekali ia mengusap-usap pelan matanya agar
pandangannya terlihat jernih. Setelah beberapa saat, akhirnya kesadarannya
mulai terkumpul juga.
“Kau kesulitan untuk tidur?” tanya pria itu untuk memastikan
sekali lagi.
Agatha lantas mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan
lawan bicaranya.
“Apa kau mau mencicipi ini?” tawar Agatha.
“Ah, tidak perlu! Terima kasih,” tolak pria itu dengan
mentah-mentah.
Mendapatkan penolakan dari Aaron adalah sesuatu yang
menyebalkan. Tapi, untungnya Agatha berhasil memiliki rencana lain.
“Baiklah kalau tidak mau,” balas Agatha acuh tak acuh.
“Kemarikan!” celetuk Aaron lalu merebut gelas tersebut
secara paksa.
Hanya tinggal tersisa sedikit susu lagi di dalam gelas.
Kurang dari setengahnya. Tenang saja, Agatha tidak benar-benar meminumnya. Yang
benar saja, dia tidak sebodoh itu. Agatha memang sengaja menuangkan sedikit
susu ke dalamnya. Membuat ilusi seolah-olah Agatha sudah meminum lebih dari
setengahnya.
“Jangan membuang-buang makanan seperti ini!” tegas Aaron
begitu selesai minum. Pria itu menenggak habis isi gelasnya.
“Kerja bagus,” batin Agatha di dalam hati.
“Tapi, itu bukan makanan,” gumam gadis itu sambil memutar
bola matanya malas.
Seharusnya tidak perlu waktu lama untuk menuunggu obat
tidurnya bekerja. Sebab, Agatha telah memasukkan dosis yang sesuai. Kalau pun
ia memasukkan dosis yang sedikit lebih banyak dari pada sebelumnya, tentu saja
tidak masalah sama sekali. Efek samping paling buruk adalah durasi tidur yang
semakin panjang.
“Sekarang kembali lah ke kamarmu!” perintah pria itu.
“Tidak mau!” tolaknya secara mentah-mentah.
Kalau Aaron berpikir hanya dirinya saja yang bisa membuat
penolakan, maka ia salah. Jangan lupa kalau Agatha bukan gadis biasa. Nyalinya terlalu
tinggi. Dia tidak akan takut melakukan apa saja, selama sudah bertekad. Apa
lagi hanya untuk menolak permintan Aaron. Terlepas dari pria itu adalah seorang
pimpinan rahasia sekelompok mafia terkenal atau tidak.
Satu, dua, tiga! Boom! Ini puncaknya. Obat tidur tersebut
mulai bereaksi. Aaron mengusap-usap matanya karena rasa kantuk mulai
menghampirinya kembali. Padahal sepertinya beberapa menit yang lalu ia tidak
apa-apa. Entah kenapa mendadak kedua kelopak matanya terasa berat untuk tetap
terbuka. tidak peduli seberapa besar keinginan pria itu untuk tetap terjaga, ia
akan tetap tertidur pada akhirnya.
“Sepertinya kau yang harus pergi tidur sekarang,” ucap
Agatha dengan lembut.
“Apa kau barusan
menjebakku?” tanya Aaron dengan suara paraunya.
“Pandai!” puji gadis itu sambil menyeringai.
Misi pertamanya untuk membuat pria itu tidak sadarkan diri
telah berhasil. Sekarang tinggal melakukan sisanya. Pertama-tama Agatha harus
memastikan kalau pria itu tidak akan kemana-mana dengan mengunci pergerakannya.
Beruntung ia memiliki beberapa borgol di saku jaketnya. Sebagai seorang polisi
rasanya hal tersebut sudah wajib untuk berada di sekitarnya. Bahkan termasuk
senjata tajam sekali pun.
‘KLIK!’
Setelah borgolnya benar-benar terkunci, Agatha langsung
membawa pria itu ke meja makan. Mengikatnya tubuh serta kedua kakinya pada salah
satu kursi yang ada di sana. Mekipun kedua tangannya sudah diborgol, tetap saja
Agatha harus berhati-hati. Ia perlu perlindungan ekstra untuk mengantisipasi
hal buruk terjadi.
Begitu selesai dengan pekerjaannya barusan, gadis itu mundur
beberapa langkah. Memperhatikan Aaron dari ujung rambut sampai ujung kaki. Satu
masalah selesai. Padahal awalnya Agatha tidak ingin menangkap si pimpinan
rahasia ini. Tapi, Aaron malah berinisiatif untuk menyerahkan dirinya sendiri. Jadi,
kenapa tidak sekalian saja. Kesempatan ini tidak boleh terlewatkan.
“Kenapa setelah dilihat-lihat lagi seperti ini, Aaron
terlihat lebih tampan?” batin Agatha di dalam hatinya.
Namun, satu detik kemudian mulutnya langsung berargumen yang
sebaliknya. Mendadak ia jadi tidak lagi setuju dengan isi hatinya sebelumnya.
“Jangan bersikap bodoh!” seru Agatha kepada dirinya sendiri.
“Dia itu musuhmu,” sambungnya.
Benar juga, bagaimanapun itu, Agatha harus tetap mengingat
kalau Aaron adalah musuhnya secara tidak langsung. Mereka kerap kali saling
menyerang antara satu sama lain. Itu lah yang seharusnya dilakukan oleh musuh.
Tapi, di sisi lain memang tidak bisa dipungkiri kalau pria
itu memiliki paras yang rupawan. Tulang rahangnya tercetak dengan tegas di sisi
wajahnya. Bahkan ia juga memiliki proporsi badan yang sesuai. Nyaris sempurna
jika dipikir-pikir. Namun, tidak dengan perilakunya. Andai saja penampilan
dengan sikapnya berjalan searah. Mungkin banyak gadis yang sudah jatuh cinta
dengannya. Termasuk Agatha salah satunya.
“Sekarang harus ku apakah kau?”
tanya gadis itu kepada dirinya sendiri dengan kedua tangan yang terlipat di
depan dada.