
Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna.
Setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu. Bagaimana
bisa ia menentukan timnya masing-masing? Seharusnya bertanya dulu kepada setiap
orang, mereka mau bertanggung jawab di daerah mana. Dan seharusnya setiap orang
berhak untuk memilih rekannya dalam bekerja malam ini.
Sudah jelas jika Agatha sama sekali tidak setuju
dengan keputusan sepihak seperti itu. ia tahu kalau Arjuna adalah pemimpin di
sini. Pria itu memang berhak untuk memberikan perintah atau bahkan mengatur apa
pun. Tapi, tetap saja Agatha masih tidak bisa setuju dengan keputusannya yang
satu ini.
“Kenapa aku harus bersamamu?” tanya Agatha dengan
nada bicara ketus.
“Ini adalah komposisi terbaik untuk semua tim,”
jawabnya secara gamblang.
“Aku sudah mempertimbangkan segala halnya,” tukas
pria itu kemudian.
Kalimat barusan sebenarnya masih belum cukup
memuaskan bagi Agatha. Namun, alih-alih bertanya kembali, ia malah jauh lebih
memilih untuk bungkam saja. Tidak perlu banyak bicara terhadap orang seperti
dirinya.
Kali ini Agatha memilih untuk mengalah. Lagipula
tidak ada gunanya juga jika ia berdebat dengan pria itu. Hanya buang-buang
waktu saja. Terserah kepada Arjuna saja. Dia seharusnya tahu betul mana yang
terbaik.
“Baiklah, apakah semuanya sudah jelas?” tanya Arjuna
sekali lagi.
Ia perlu memastikan perihal tersebut. Jangan sampai
terjadi sesuatu yang diluar dugaan.
“Kalau tidak ada, silahkan langsung ambil
perlengkapan kalian,” simpulnya karena tidak ada yang buka suara sama sekali
setelah pria itu bertanya.
“Setelah selesai langsung berkumpul di halaman
depan. Kita akan pergi ke sana menggunakan sepeda motor untuk mempersingkat
perjalanan,” jelas Arjuna di akhir sebelum benar-benar pergi meninggalkan
ruangan tersebut.
Ia bahkan langsung pergi begitu saja meninggalkan
anggotanya yang lain. Yang jelas tanpa berpamitan sama sekali. Agatha lantas
menghela napasnya. Jika saja bukan karena tuntutan pekerjaan, mungkin ia tidak
akan mau kembali lagi ke kantor. Terkadang ini adalah salah satu resiko yang
harus ia terima.
“Ternyata mencari uang tidak semudah yang
kelihatannya,” gumam gadis itu sembari berlalu meninggalkan ruangan.
“Aku ingin kembali menjadi anak kecil saja kalau
begini caranya,” timpal rekan kerjanya yang lain.
Tampaknya mereka semua sepakat jika menjalani
kehidupan sebagai orang dewasa tidak seindah yang dibayangkan. Bukan pekara yang
mudah untuk bertahan hidup pada usia segini. Meski masih terbilang sebagai usia
yang cukup muda, tapi tetap ada saja masalah yang membuat orang dewasa nyaris
menyerah.
***
“Tetap jaga komunikasi antara satu dengan yang
lainnya!” pesan Arjuna sebelum mereka berangkat.
Karena ia dan Agatha berada dalam satu tim yang
sama, maka keduanya juga berada pada kendaraan yang sama pula. Akan jauh lebih
baik jika mereka terus bersama-sama seperti ini. Setidaknya begitu mereka
sampai di tempat. Tidak ada anggota tim yang boleh terpisah dari anggota tim
lainnya. Sejak dahulu aturannya memang sudah begitu.
“Sudah?” tanya pria itu kepada Agatha.
Tanpa ingin melontarkan sepatah kata pun, ia lantas
mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan Arjuna.
Tepat setelah ia mendapatkan jawaban dari gadis itu,
Arjuna bergegas untuk menyalakan mesin sepeda motornya. Kali ini mereka akan
pergi menggunakan kendaraaan yang difasilitasi dari kantor. Walaupun sebenarnya
bisa saja menggunakan kendaraan pribadi mereka.
Selama perjalanan pun, ketiga sepeda motor ini tidak
satu sama lain. Kembali lagi kepada prinsip awalnya, jika anggota tim tidak
bisa terpisah dari anggota lainnya.
Bersatu
kita teguh, bercerai kita runtuh.
Pepatah kuno itu ternyata ada benarnya juga setelah
dipikir-pikir.
Sekarang sudah hampir pukul sebelas malam. Agatha
melayangkan pandangannya pada alat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan
tangannya. Sudah hampir tiga puluh menit sejak mereka pertama kali menginjakkan
kakinya di sini. Tapi, tak ada tanda-tanda jika sekelompok penjahat akan
menyerang tempat ini sama sekali.
Seharusnya jika kabar tentang penyerangan itu benar
adanya, maka sudah terjadi sejak beberapa menit yang lalu. Ini sudah lewat dari
waktu yang diperkirakan.
“Apa mereka sudah tahu kalau ada polisi yang berjaga
di sini?” tanya gadis itu sambil menghela napas.
“Entahlah, aku juga tidak tahu pasti,” kata Arjuna
secara gamblang.
Bagaimana bisa ia mengatakan hal semacam itu,
setelah sebelumnya bersikap keras kepala dan begitu yakin jika informasi yang
ia terima benar. Tapi, sepertinya sekarang Arjuna mulai meragukan hal tersebut.
“Jika itu laporan palsu, maka kita sudah
membuang-buang waktu di sini!” celetuk gadis itu.
Tidak bisa dipungkiri jika dirinya mulai merasa
bosan yang berlebih karena terlalu lama menunggu. Ia bahkan sudah tidak
memiliki semangat yang cukup.
Sejak tadi sungguh tidak ada hal yang tampak
mencurigakan. Seperti kedatangan para tamu hingga kendaraan yang mereka
gunakan. Bahkan gelagat serta penampilan setiap orang yang datang kemari juga
diam-diam mereka perhatikan. Sejauh ini semua tampak baik-baik saja.
Dari tiga tim yang tersebar di setiap pintu masuk
telah melakukan pemantauan. Dan semua memberikan hasil yang sama. Kondisi kelab
malam ini sungguh kondusif. Berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang perlu
dicemaskan.
“Mau sampai kapan kita menunggu di sini?” tanya
Agatha tak sabaran.
“Satu jam lagi,” jawab pria itu.
Kedua bola mata gadis itu kembali membulat dengan
sempurna. Rasa kantuk yang hampir membiusnya langsung hilang begitu saja.
“Apa kau gila?!” sarkasnya.
“Kita akan menunggu sampai jam dua belas malam,
begitu maksudmu? Ha?!” lanjutnya, kali ini dengan volume suara yang jauh lebih
besar dari pada sebelumnya.
Tak ingin tempat persembunyiannya diketahui oleh
sembarang orang, Arjuna refleks segera membungkan mulut gadis itu.
“Jangan banyak membantah!” ucapnya dengan penuh
penekanan.
“Lakukan saja pekerjaanmu dengan benar dan
bersikaplah professional saat bekerja!” tegasnya sekali lagi.
Sorot mata pria itu berubah menjadi tajam. Ada sebuah
makna tersirat yang tidak bisa Agatha tangkap artinya secara utuh. Kilau manik
matanya seolah ingin menyampaikan sesuatu. Tapi, ia tidak ingin ambil pusing
soal yang satu itu.
Setelah merasa cukup, Arjuna lantas segera
menyingkirkan tangannya dari wajah gadis itu. Semua orang juga tahu jika Agatha
bukanlah tipikal orang yang sulit untuk dinasehati. Meskipun terkadang ia masih
suka keras kepala.
“Aku hanya bertanya, kenapa kau marah?” gerutu gadis
itu dengan pelan.
Ia bahkan sengaja merendahkan volume suaranya agar
tidak didengar oleh pria itu. Namun, ternyata belum cukup pelan. Pendengaran Arjuna
masih cukup tajam. Dia belum tuli. Apalagi jika suasananya hening seperti ini.
“Persis seperti yang kau lakukan tadi siang,” ujar
Arjuna dengan datar.