The Riot

The Riot
Spy



Kedua bola mata gadis itu membulat dengan sempurna.


Setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh pria itu. Bagaimana


bisa ia menentukan timnya masing-masing? Seharusnya bertanya dulu kepada setiap


orang, mereka mau bertanggung jawab di daerah mana. Dan seharusnya setiap orang


berhak untuk memilih rekannya dalam bekerja malam ini.


Sudah jelas jika Agatha sama sekali tidak setuju


dengan keputusan sepihak seperti itu. ia tahu kalau Arjuna adalah pemimpin di


sini. Pria itu memang berhak untuk memberikan perintah atau bahkan mengatur apa


pun. Tapi, tetap saja Agatha masih tidak bisa setuju dengan keputusannya yang


satu ini.


“Kenapa aku harus bersamamu?” tanya Agatha dengan


nada bicara ketus.


“Ini adalah komposisi terbaik untuk semua tim,”


jawabnya secara gamblang.


“Aku sudah mempertimbangkan segala halnya,” tukas


pria itu kemudian.


Kalimat barusan sebenarnya masih belum cukup


memuaskan bagi Agatha. Namun, alih-alih bertanya kembali, ia malah jauh lebih


memilih untuk bungkam saja. Tidak perlu banyak bicara terhadap orang seperti


dirinya.


Kali ini Agatha memilih untuk mengalah. Lagipula


tidak ada gunanya juga jika ia berdebat dengan pria itu. Hanya buang-buang


waktu saja. Terserah kepada Arjuna saja. Dia seharusnya tahu betul mana yang


terbaik.


“Baiklah, apakah semuanya sudah jelas?” tanya Arjuna


sekali lagi.


Ia perlu memastikan perihal tersebut. Jangan sampai


terjadi sesuatu yang diluar dugaan.


“Kalau tidak ada, silahkan langsung ambil


perlengkapan kalian,” simpulnya karena tidak ada yang buka suara sama sekali


setelah pria itu bertanya.


“Setelah selesai langsung berkumpul di halaman


depan. Kita akan pergi ke sana menggunakan sepeda motor untuk mempersingkat


perjalanan,” jelas Arjuna di akhir sebelum benar-benar pergi meninggalkan


ruangan tersebut.


Ia bahkan langsung pergi begitu saja meninggalkan


anggotanya yang lain. Yang jelas tanpa berpamitan sama sekali. Agatha lantas


menghela napasnya. Jika saja bukan karena tuntutan pekerjaan, mungkin ia tidak


akan mau kembali lagi ke kantor. Terkadang ini adalah salah satu resiko yang


harus ia terima.


“Ternyata mencari uang tidak semudah yang


kelihatannya,” gumam gadis itu sembari berlalu meninggalkan ruangan.


“Aku ingin kembali menjadi anak kecil saja kalau


begini caranya,” timpal rekan kerjanya yang lain.


Tampaknya mereka semua sepakat jika menjalani


kehidupan sebagai orang dewasa tidak seindah yang dibayangkan. Bukan pekara yang


mudah untuk bertahan hidup pada usia segini. Meski masih terbilang sebagai usia


yang cukup muda, tapi tetap ada saja masalah yang membuat orang dewasa nyaris


menyerah.


***


“Tetap jaga komunikasi antara satu dengan yang


lainnya!” pesan Arjuna sebelum mereka berangkat.


Karena ia dan Agatha berada dalam satu tim yang


sama, maka keduanya juga berada pada kendaraan yang sama pula. Akan jauh lebih


baik jika mereka terus bersama-sama seperti ini. Setidaknya begitu mereka


sampai di tempat. Tidak ada anggota tim yang boleh terpisah dari anggota tim


lainnya. Sejak dahulu aturannya memang sudah begitu.


“Sudah?” tanya pria itu kepada Agatha.


Tanpa ingin melontarkan sepatah kata pun, ia lantas


mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan Arjuna.


Tepat setelah ia mendapatkan jawaban dari gadis itu,


Arjuna bergegas untuk menyalakan mesin sepeda motornya. Kali ini mereka akan


pergi menggunakan kendaraaan yang difasilitasi dari kantor. Walaupun sebenarnya


bisa saja menggunakan kendaraan pribadi mereka.


Selama perjalanan pun, ketiga sepeda motor ini tidak


satu sama lain. Kembali lagi kepada prinsip awalnya, jika anggota tim tidak


bisa terpisah dari anggota lainnya.


Bersatu


kita teguh, bercerai kita runtuh.


Pepatah kuno itu ternyata ada benarnya juga setelah


dipikir-pikir.


Sekarang sudah hampir pukul sebelas malam. Agatha


melayangkan pandangannya pada alat penunjuk waktu yang melingkar di pergelangan


tangannya. Sudah hampir tiga puluh menit sejak mereka pertama kali menginjakkan


kakinya di sini. Tapi, tak ada tanda-tanda jika sekelompok penjahat akan


menyerang tempat ini sama sekali.


Seharusnya jika kabar tentang penyerangan itu benar


adanya, maka sudah terjadi sejak beberapa menit yang lalu. Ini sudah lewat dari


waktu yang diperkirakan.


“Apa mereka sudah tahu kalau ada polisi yang berjaga


di sini?” tanya gadis itu sambil menghela napas.


“Entahlah, aku juga tidak tahu pasti,” kata Arjuna


secara gamblang.


Bagaimana bisa ia mengatakan hal semacam itu,


setelah sebelumnya bersikap keras kepala dan begitu yakin jika informasi yang


ia terima benar. Tapi, sepertinya sekarang Arjuna mulai meragukan hal tersebut.


“Jika itu laporan palsu, maka kita sudah


membuang-buang waktu di sini!” celetuk gadis itu.


Tidak bisa dipungkiri jika dirinya mulai merasa


bosan yang berlebih karena terlalu lama menunggu. Ia bahkan sudah tidak


memiliki semangat yang cukup.


Sejak tadi sungguh tidak ada hal yang tampak


mencurigakan. Seperti kedatangan para tamu hingga kendaraan yang mereka


gunakan. Bahkan gelagat serta penampilan setiap orang yang datang kemari juga


diam-diam mereka perhatikan. Sejauh ini semua tampak baik-baik saja.


Dari tiga tim yang tersebar di setiap pintu masuk


telah melakukan pemantauan. Dan semua memberikan hasil yang sama. Kondisi kelab


malam ini sungguh kondusif. Berjalan seperti biasanya. Tidak ada yang perlu


dicemaskan.


“Mau sampai kapan kita menunggu di sini?” tanya


Agatha tak sabaran.


“Satu jam lagi,” jawab pria itu.


Kedua bola mata gadis itu kembali membulat dengan


sempurna. Rasa kantuk yang hampir membiusnya langsung hilang begitu saja.


“Apa kau gila?!” sarkasnya.


“Kita akan menunggu sampai jam dua belas malam,


begitu maksudmu? Ha?!” lanjutnya, kali ini dengan volume suara yang jauh lebih


besar dari pada sebelumnya.


Tak ingin tempat persembunyiannya diketahui oleh


sembarang orang, Arjuna refleks segera membungkan mulut gadis itu.


“Jangan banyak membantah!” ucapnya dengan penuh


penekanan.


“Lakukan saja pekerjaanmu dengan benar dan


bersikaplah professional saat bekerja!” tegasnya sekali lagi.


Sorot mata pria itu berubah menjadi tajam. Ada sebuah


makna tersirat yang tidak bisa Agatha tangkap artinya secara utuh. Kilau manik


matanya seolah ingin menyampaikan sesuatu. Tapi, ia tidak ingin ambil pusing


soal yang satu itu.


Setelah merasa cukup, Arjuna lantas segera


menyingkirkan tangannya dari wajah gadis itu. Semua orang juga tahu jika Agatha


bukanlah tipikal orang yang sulit untuk dinasehati. Meskipun terkadang ia masih


suka keras kepala.


“Aku hanya bertanya, kenapa kau marah?” gerutu gadis


itu dengan pelan.


Ia bahkan sengaja merendahkan volume suaranya agar


tidak didengar oleh pria itu. Namun, ternyata belum cukup pelan. Pendengaran Arjuna


masih cukup tajam. Dia belum tuli. Apalagi jika suasananya hening seperti ini.


“Persis seperti yang kau lakukan tadi siang,” ujar


Arjuna dengan datar.