The Riot

The Riot
Bad Mood



Selama ini Agatha terkenal mematuhi peraturan yang


ada. Terlebih ia merupakan salah satu anggota kepolisian yang seharusnya bisa


menjadi contoh bagi masyarakat banyak. Jelas jika ia harus menaati peraturan


yang ada. Tapi, untuk hari ini dan beberapa minggu ke depan sepertinya ia


terpaksa melakukan segala sesuatunya dengan bertentangan. Mengingat jika selama


beberapa minggu ke depan ia akan menjalani kehidupannya sebagai Rienna. Bukan


lagi Agatha. Bukan sesuatu yang mudah untuk membiasakan diri.


Mereka bilang, Agatha baru bisa bertemu dengan


Hiraeth sekitar lima hari lagi. Tapi, tetap saja gadis itu harus pergi ke


markas untuk mengawas. Ada banyak informasi baru yang bisa ia dapatkan. Agatha


tidak boleh melewatkan satu pun dari mereka. Urusan penting atau tidaknya, itu


adalah urusan belakangan. Yang terpenting sekarang, ia harus pergi ke markas


untuk memulai tugasnya sebagai mata-mata.


Sejauh ini semuanya mashi aman dan berada di bawah


kendali gadis itu. Tidak ada satu pun dari mereka yang merasa curiga. Itu


berarti, Agatha berhasil menjalankan tugas pertamanya dengan baik. Ini adalah


permulaan yang bagus untuk gadis itu.


Jika biasanya Agatha harus menggunakan seragam rapih


untuk berangkat ke kantor, maka kali ini ia hanya menggunakan kaos oblong


berwarna hitam dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari pada ukuran tubuh


aslinya. Ia sengaja memilih baju yang sedikit longgar, agar lebih nyaman.


“Baiklah, kurasa aku tidak perlu membawa apa-apa


kecuali ponsel, dompet dan alat perekan suara,” ujar Agatha sambil mengecek


kembali barang bawaannya.


Sebelum pergi, gadis itu perlu memastikan kalau alat


perekan suaranya bekerja dengan sempurna. Sehingga Arjuna yang sedang bertugas


di kantor bisa mendengar seluruh rekamannya dengan jelas. Dan yang terpenting


jangan sampai alat itu rusak. Karena sambungan mereka bisa terputus. Jika


sewaktu-waktu Agatha terjebak dalam bahaya, maka Arjuna tidak akan bisa


mengetahuinya.


Secara tidak langsung, dengan tetap terhubung kepada


Arjuna maka itu sama saja dengan menyelamatkan dirinya sendiri dari mara


bahaya. Setidaknya Agatha tidak akan langsung celaka. Karena pria itu pasti


akan buru-buru mengirim bantuan. Dia tidak akan tinggal diam saja. Arjuna tidak


akan membiarkan siapa pun menyakiti Agatha. Apa pun akan ia lakukan demi


menyelamatkan gadis itu.


Setelah memastikan kembali jika semua


perlengkapannya sudah lengkap, Agatha sekarang siap untuk berangkat. Kali ini


ia akan pergi menggunakan sepeda motornya saja. Sudah lama ia tidak membawa


kendaraan yang satu itu berpacu di atas aspal jalan raya. Meski terakhir kali


ia jadi enggan mengendarai sepeda motornya lagi karena kecelakaan. Tapi,


setelah dipikir-pikir traumanya juga akan hilang sebentar lagi. Agatha hanya


perlu mengubah pola pikirnya dan juga membiasakan diri untuk kembali ke jalan


raya dengan kendaraan yang satu itu.


Baru beberapa langkah dari ambang pintu, mendadak


langkahnya harus kembali terhenti lagi. Tidak, kali ini bukan karena ia


melupakan sesuatu. Melainkan karena ada sebuah suara yang memanggil namanya.


Tak perlu berbalik. Dari posisinya sekarang saja, ia sudah bisa menebak kalau


itu adalah Aaron. Dari warna suaranya sudah sangat jelas kalau itu memang Aaron.


Memangnya siapa lagi yang penghuni lantai ini yang juga mengenal Agatha selain


pria itu.


“Ck! Ada apa?!” tanya Agatha sambil berdecak sebal.


Satu detik kemudian ia kembali memutar balik


badannya. Dan yang benar saja, ia menemukan Aaron sudah berada tepat beberapa


meter di hadapannya. Sepertinya pria itu baru saja bangun dan akan pergi ke


jauh berbeda dengan Agatha. Rasa malasnya jauh lebih besar daripada


keinginannya untuk jadi manusia yang lebih rajin.


“Mau kemana? Tidak bekerja?” tanya Aaron.


Pria itu langsung melemparkan dua pertanyaan secara


sekaligus. Ia bahkan tidak memberikan jeda atau kesempatan sama sekali bagi  Agatha untuk menjawabnya. Memang bukan


pertanyaan yang terlalu sulit memang. Tapi, setidaknya ia harus memberikan jeda


antara satu pertanyaan dengan pertanyaan yang lainnya.


“Aku sedang mengambil cuti selama beberapa pekan ke


depan,” jawab gadis itu dengan apa adanya.


Lagipula itu memang benar. Agatha tidak akan pergi


ke kantor selama beberapa minggu ke depan. Setidaknya sampai ia benar-benar


menyelesaikan tugasnya. Tidak semudah itu untuk lepas dari tanggung jawab ini.


“Kenapa?” tanya Aaron lagi.


Tenang saja, Agatha sudah menduga jika hal seperti


ini akan terjadi sebelumnya. Jadi ia sudah memiliki jawaban yang tepat.


“Aku perlu mengembalikan kondisi kesehatan mentalku.


Tekanan pekerjaan di kantor selama ini sukses untuk membuat kondisi kesehatan


mentalku semakin memburuk,” tutur Agatha dengan begitu meyakinkan.


“Lalu, akan kemana kau sekarang?” tanya pria itu


lagi dan lagi.


“Aku akan pergi sebentar keluar untuk berolahraga di


pusat pelatihan, kemudian menghabiskan waktu untuk diriku sendiri,” jelas gadis


itu dengan panjang lebar.


Ia berusaha untuk menghadapi manusia seperti Aaron


dengan ramah. Khusus untuk kali ini saja. Sebab, pria itu termasuk seseorang


yang peka terhadap sekitarnya. Ia bisa dengan mudah mengetahui jika ada sesuatu


yang dirasa janggal. Intuisinya bahkan jauh lebih kuat dari pada Agatha


terkadang.


“Kalau kau sendiri bagaimana?” tanya Agatha balik.


“Ingin mencari sarapan,” kata Aaron.


Sekarang gilirannya untuk bertanya. Jika Agatha


tidak mengambil kesempatan tersebut, maka Aaron yang akan mengambilnya. Sekarang


mereka sedang berlomba cepat secara tidak langsung.


Merasa tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan


lagi, gadis itu lantas segera berpamitan. Ia sedang buru-buru sekarang. Seharusnya


sekarang ia sudah dalam perjalanan. Tapi, karena Aaron mencegahnya mau tak mau


gadis itu harus tetap di sini sampai pembicaraan mereka selesai. Padahal jika


dipikir-pikir sekali lagi, itu tidak terlalu penting untuk dibicarakan sekarang.


Aaron bisa menanyakan pertanyaan tersebut kapan saja. tidak harus sekarang.


“Dasar, Aaron! Aku hampir saja terlambat karenanya,”


gerutu gadis itu.


Sepanjang perjalanan, ia terus saja mengomel. Mulutnya


tidak berhenti berbicara. Suasana hatinya bisa berubah jadi buruk dalam


seketika. Semua ini karena Aaron. Padahal masih pagi. Tapi, pria itu sudah


mencari masalah saja dengannya. Tidak heran lagi memang. Aaron memang tipikal


orang yang suka mencari maslaah dengan orang lain termasuk Agatha.


Begitu sampai di parkiran, ia langsung menyalakan


mesin sepeda motonya. Siap untuk berkendara. Kali ini dia tidak akan mengebut.


Perlu waktu agar Agatha kembali terbiasa lagi dengan yang namanya sepeda motor.


Setelah kecelakaan beberapa waktu lalu membekaskan trauma di dalam dirinya.


Dengan begitu percaya


diri Agatha menggiring sepeda motor miliknya itu untuk berpacu di jalan raya. Sudah


lama ia tidak merasakan sensasi seperti ini. Apa pun masalahnya, berkendara


memang jalan keluar yang paling tepat rasanya.