
Narendra mengajak gadis
itu untuk bicara sebentar setelah pulang dari pusat olahraga. Dengan syarat
tidak lebih dari sepuluh menit. Melihat wajahnya saja sudah membuat gadis itu
merasa muak. Selama berada di pusat olahraga, mereka berada di ruangan
terpisah. Agatha tidak mau melihat pria itu, kalau tidak suasana hatinya pasti
bisa berubah jadi buruk. Tapi, Agatha
tidak bisa menghindar dari pria itu untuk yang kedua kalinya. Bagaimanapun ia
sudah berjanji. Apalagi Agatha bukan tipikal orang yang akan mengingkari
janjinya sendiri. Jadi, mau tak mau ia tetap harus bicara dengan Narendra.
“Sebaiknya langsung
saja, jadi apa yang akan kau bicarakan kali ini?” tanya Agatha.
Ia tidak ingin terlalu
banyak basa-basi. Mengingat waktu yang mereka miliki terbatas. Hanya sepuluh
menit saja. Kalau Agatha berada di posisi pria itu sekarang, mungkin ia tidak
akan membuang-buang waktu seperti ini. Bisa mendapatkan waktu sepuluh menit
saja ia akan bersyukur. Setidaknya itu
jauh lebih baik daripada tidak sama sekali.
“Jadi begini, ayah
ingin meminta maaf,” kata Narendra.
“Maaf?” tanya gadis itu
sambil menaikkan salah satu alisnya.
Apa waktu selama ini
sungguh mampu mengubah sifat buruknya. Atau jangan-jangan sekarang Narendra
hanya sedang menunjukkan sikap manipulatifnya. Agatha harus berhati-hati.
Kembali lagi ke peraturan pertama, jangan percaya dengan siapa pun kecuali
dirimu sendiri. Dia tidak boleh merusak aturan yang ia buat sendiri.
“Iya, ayah bersungguh-sungguh,”
ucap pria itu.
Katanya, ia
bersungguh-sungguh. Ingin meminta maaf kepada anaknya. Tapi, sepertinya raut
wajahnya sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut. Agatha jadi ragu kalau
perkatannya barusan sama sekali tidak tulus dan berasal dari lubuk hati paling
dalam. Bukan seperti ini seharusnya komunikasi yang terjadi antara ayah dan
anak. Harusnya jauh lebih harmonis. Tunggu dulu, apa itu harmonis. Ia bahkan
tidak pernah tahu seperti apa rasanya.
“Minta maaf untuk apa
memangnya?” tanya Agatha.
“Kita bahkan tidak
pernah bertemu lagi setelah hari pemakaman ibu. Dan otomatis kau tidak pernah
melakukan kesalahan kepadaku sejak hari itu,” jelas gadis itu setelahnya.
“Bukan untuk yang itu.
Sebelum kematian ibumu maksudku,” koreksi pria itu.
“Ibumu?” tanya Agatha.
Di sisi lain tampaknya
Narendra merasa kebingungan. Ia tidak tahu kali ini apalagi yang salah dengan
kalimatnya. Sepertinya tidak ada. Namun, kalau tidak ada kenapa Agatha bersikap
seperti itu.
“Apa ada sesuatu yang
salah?” tanya Narendra untuk memastikan.
“Tentu saja salah!”
jawab gadis itu dengan yakin.
“Kau bicara seperti itu
seolah-olah jika dia hanya bertindak sebagai ibuku saja. Padahal wanita itu
juga istrimu,” jelas Agatha dengan panjang lebar.
Seharusnya Narendra
sekarang sudah paham dimana letak kesalahannya. Ternyata dugaannya benar.
Narendra masih belum berubah. Bahkan waktu selama itu tidak mampu memberikan
apa pun kepadanya.
“Kalau begitu aku minta
maaf untuk yang satu itu juga, dan untuk semua kesalahanku padamu,” ujar
Narendra sekali lagi.
“Baiklah, kumaafkan,”
balas gadis itu secara gamblang.
Mendengar perkataan
maaf tersebut keluar dengan mudahnya dari kalimat anak perempuannya, Narendra
sontak terkesiap. Ia nyaris tidak percaya. Tidak, tidak. Ia pasti salah dengar
tadi.
“Bisakah kau ulangi
perkataanmu yang barusan?” pinta pria itu.
“Tidak, aku tidak punya
banyak waktu untuk mengulanginya,” balas Agatha acuh tak acuh.
Narendra pikir jika
ada setidaknya satu atau dua ingatan buruk yang bersangkar di dalam kepalanya
karena ulah pria ini. Agatha bahkan benci untuk menerima fakta kalau pada
dasarnya seorang pria yang tengah berdiri di hadapannya ini adalah ayah
kandungnya.
Agatha mengatakan maaf dengan
mudah hanya karena satu hal. Alasan utama dan sekaligus alasan satu-satunya
adalah karena ia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Sudah. Hanya itu
saja. Tidak ada alasan tambahan. Satu saja rasanya sudah lebih dari cukup untuk
menjawab semua rasa penasaran kalian.
“Jadi, sudah selesai
bukan?” tanya Agatha.
“B-belum!” cegah pria
itu.
“Tapi, sayangnya
sepuluh menit itu sudah berlalu,” jelas Agatha.
“Kalau begitu terimalah
ini. Kartu nama ayah. Ada alamat kantor ayah di sana. Kau bisa datang kapan pun
yang kau mau,” jelas pria itu sambil menyodorkan selembar kartu.
“Ini ambillah!”
perintahnya.
“Ayah akan menunggu
kedatanganmu di kantor,” finalnya.
Tanpa pikir panjang
lagi, gadis itu segera menerima kartu nama yang memang diberikan untuknya.
Tidak bisa dipungkiri jika Agatha tetap merasa penasaran. Padahal selama ini ia
sama sekali tidak peduli dengan pria itu. Ternyata benar, Agatha tidak bisa
membenci orang lain sepenuhnya. Dan ia juga tidak bisa menyukai orang lain
secara utuh.
“Kalau begitu ayah
pergi dulu ya! Ada urusan lain,” pamitnya.
“Sampai jumpa lagi,
sayang!” imbuhnya.
Agatha sama sekali
tidak berminat untuk membalas perkataan pria itu barusan. Bahkan kalau Narendra
tidak berpamitan kepadanya sekali pun, Agatha tidak akan mempermasalahkan hal
tersebut.
“Hahah! Kenapa mendadak
ia bersikap baik seperti ini?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
“Aku masih bisa melihat
jelas jika dirinya tidak berubah sama sekali,” lanjutnya.
“Apa dia sedang
merencanakan sesuatu? Atau jangan-jangan ia menginginkan sesuatu dariku?”
tebaknya.
Apa pun yang sedang
direncanakan oleh pria itu, Agatha tidak ingin tahu. Selama dirinya tidak
diusik, gadis itu tidak akan menyerang balik. Jadi tenang saja. Lagi pula
bukannya mereka sudah tidak ada hubungan lagi.
***
Ternyata pria itu bisa
sampai kemari karena ia memang sudah tinggal di sini sejak dua bulan yang lalu.
Sial! Bagaimana bisa Agatha tidak menyadarinya. Wajar saja kalau pria itu
memilih untuk tinggal di apartment. Tempat ini memiliki ruangan yang tidak terlalu
besar dan tidak terlalu kecil di setiap unitnya. Cukup ideal untuk dihuni oleh
satu atau dua orang di dalamnya.
Agatha sama sekali
tidak tahu kalau Narendra sudah pindah kemari sejak dua bulan lalu. Itu berarti
mereka akan jadi lebih sering bertemu sekarang. Agatha pikir kalau mereka sudah
terpisah cukup jauh. Ternyata tidak sama sekali. Beruntung tadi Agatha tidak memberi
tahu nomor unit apartmentnya. Kalau tidak bisa-bisa ketenangannya selama ini
yang sudah terusik malah semakin kacau.
Tak ingin memusingkan
soal hal tersebut, Agatha pergi ke salah satu mini market yang berada di lantai
dasar. Setelah berolahraga ia juga butuh asupan makanan yang cukup untuk
menggantikan energinya yang terbuang selama berolahraga.
“Semoga saja Immanuel
tidak kemari,” gumam gadis itu.
Seharusnya
sekarang gadis itu sudah berada di markas. Tapi, karena hari ini ia tidak
berencana untuk pergi ke markas, jadi Agatha sama sekali belum bersiap. Bahkan
keringatnya saja belum sempat kering.