The Riot

The Riot
Hospital



Kali ini Agatha


benar-benar sudah tidak habis pikir. Ia tercengang sambil tetap menyoroti pria


itu dari kejauhan. Jangan bilang jika Arjuna saja yang bisa mengawasinya. Ia juga


bisa bertinda sebaliknya. Semua orang berhak untuk melakukan apa pun yang ia


rasa benar dan tidak merugikan orang lain.


“Apa yang terjadi


dengan Arjuna?” gumam gadis itu.


Otaknya masih menolak


untuk percaya. Padahal sudah jelas-jelas di depan matanya jika pria yang selama


ini ia kenal sebagai Arjuna itu sedang tidak baik-baik saja. Atu jangan-jangan


nyawanya bahkan ikut dipertaruhkan. Tidak ada yang tahu jelas apa yang sedang


terjadi sekarang ini.


Tepat setelah Arjuna


masuk ke dalam mobil ambulans, kendaraan tersebut tampak bergerak meninggalkan


kantor menuju rumah sakit terdekat. Arjuna perlu pertolongan dengan segera.


Satu-satunya rumah sakit yang paling dekat dengan tempatnya bekerja sejauh ini


adalah rumah sakit tempat Zura bekerja. Tidak ada destinasi lain. Hanya perlu


waktu sekitar lima belas menit untuk sampai ke sana. Kalau kondisi jalanan


tidak ramai apalagi macet, mungkin bisa sampai lebih cepat dari waktu yang


sudah diperkirakan sebelumnya.


Tanpa pikir panjang,


gadis itu segera menyalakan mesin sepeda motornya. Bermaksud untuk bergegas


menyusul ambulans yang membawa Arjuna, sebelum tertinggal jauh dan malah


kehilangan jejak. Agatha perlu memastikan dimana pria itu akan dirawat. Dan yang


terpenting, Agatha juga perlu tahu bagaimana kondisi kesehatannya. Apakah akan


membaik setelah mendapatkan perawatan atau malah sebaliknya. Tapi, seharusnya


semua akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Arjuna akan


ditangani oleh dokter-dokter serta tenaga medis yang professional.


Sepanjang perjalanan,


Agatha hanya bisa mengekori ambulans tersebut dari belakang. Dia tidak mau


melaju lebih dulu kali ini. Meski intuisinya dengan kuat mengatakan kalau


Arjuna akan diantar ke rumah sakit tempat Zura bekerja.


Agatha masih berusaha


dengan sekuat tenaga untuk tetap fokus selama menyetir. Meskipun sekarang


kondisi isi pikirannya sedang berantakan. Tidak ada yang pernah baik-baik saja.


Agatha tidak ingin membuat dirinya sendiri terjebak dalam bahaya. Jadi, mau tak


mau ia harus tetap fokus selama berkendara di jalan raya. Tidak menutup


kemungkinan jika ia akan menyusul Arjuna ke rumah sakit nantinya dengan kondisi


yang tidak jauh berbeda akibat kecerobohannya saat berkendara.


Saat ambulans tersebut


menepi tepat di halaman sebuah rumah sakit yang tidak lain dan tidak bukan


adalah rumah sakit tempat sahabatnya bekerja, Agatha pun langsung menginjak


pedal rem secara mendadak. Menghentikan sepeda motornya tidak jauh dari tempat


ambulans tersebut terparkir.


Kali ini ia sudah mulai


berani untuk mendekat. Karena hanya ada dirinya dan Arjuna yang tidak sadarkan


diri. Sementara sisanya adalah orang-orang yang tidak ia kenal. Itu bukan


masalah besar. Kecuali tadi di sana terdapat rekan-rekan kerjanya yang lain.


Maka belum tentu Agatha bisa mendekat. Dia tak ingin sampai gagal dalam


mengendalikan jarak.


Tak lama setelah mobil


ambulan tersebut berhenti, beberapa petugas medis tampak berhamburan keluar


dari berbagai arah. Baik itu dari dalam ruang unit gawat darurat, maupun dari


dalam ambulans itu sendiri. Secara tak sengaja pandangan Agatha berhasil


tertuju kepada salah satu petugas medis yang ada di sana.


“Zura!” sahut Agatha


sambil berlari kecil untuk menghampiri gadis tersebut.


Sementara itu di sisi


lain, Zura yang tampak kebingungan sama sekali tak membalas apa-apa. Dia hanya


bisa mematung di tempat.


“Apa kau dokter yang


akan menangani Arjuna?” tanya gadis itu untuk memastikan.


dengan terbata-bata.


Memangnya untuk apa


Zura berdiri di sini sekarang kalau bukan dia yang akan menolong pria itu.


“Kalau begitu aku


mohon, selamatkan dia!” pinta Agatha.


“Baiklah, tapi aku


harus masuk sekarang,” pamit Zura.


Semua petugas medis


masuk pada saat yang bersamaan dengan pasien melalui pintu utama ruang UGD.


Agatha tak tahu apa yang akan mereka lakukan di balik sana. Yang jelas, ia


sudah mempercayakan segalanya kepada Tuhan. Gadis bernama Zura itu adalah


perantara yang Tuhan kirim untuk menyelamatkan Arjuna.


Selain karena tuntutan pekerjaan


dan juga insting alami yang ia miliki sebagai manusia, Zura juga memiliki


alasan lain untuk menyelamatkan pria itu. Zura tidak mungkin membiarkan kekasih


hatinya sekarat di depan mata kepalanya sendiri. Padahal kemarin malam mereka


baru saja bertengkar hebat gara-gara Agatha. Tapi, sekarang itu bahkan bukan


sesuatu yang penting lagi untuk di bahas. Satu-satunya hal yang paling penting


di sini adalah keselamatan pria itu. Semua orang akan merasa jauh lebih lega ketika


Arjuna bisa membuka kedua kelopak matanya lagi.


Jadi, tenang saja. Zura


pasti akan melakukan yang terbaik tanpa diminta sekali pun oleh Agatha. Gadis


itu rela melakukan apa saja demi menyelamatkan nyawa salah satu orang yang


paling dia cintai. Kalau pun pada akhirnya Arjuna memang ditakdirkan untuk


tetap pergi menemui Tuhan, setidaknya ia tidak akan terlalu menyesal. Karena telah


berusaha untuk membuatnya berada di dunia sedikit lebih lama, meski tetap saja


tidak bisa mencegah takdir Tuhan.


Takdir adalah skenario


paling misterius yang Tuhan ciptakan untuk mahluk ciptaannya. Bahkan orang


sekelas Immanuel yang terkenal suka memberontak saja belum tentu bisa mengubah


isi dari takdir tersebut. Sebab, semuanya telah ditetapkan sejak awal. Bahkan


sejak mereka belum terlahir ke dunia.


“Aku mohon, selamatkan


Arjuna. Setidaknya berikan ia kesempatan untuk memperbaiki hidupnya sekali


saja.”


Kalimat doa yang sama


telah terucap dari hati paling tulus kedua gadis itu. Zura dan Agatha sama-sama


berharap tentang kebaikan. Tidak ada yang tahu, doa yang mana satu yang akan


terkabul.


Agatha memilih untuk


duduk dan menunggu di depan ruang UGD. Dia tidak akan pergi kemana-mana,


sebelum mendapatkan kabar terbaru soal kondisi pria itu. Sejak tadi ia tidak


bisa berhenti untuk cemas. Gadis itu memainkan ujung jarinya. Bahkan sesekali


menggigit kukunya karena cemas. Dia  tidak akan pernah tenang sebelum mendapatkan kejelasan tentang kondisi


Arjuna.


“Kalau saja kau membaca


pesanku lebih awal, pasti tidak akan seperti ini jadinya,” sesal Agatha.


Gadis itu tidak bisa


menelepon Arjuna. Situasinya sedang tidak memungkinkan. Dia tak mau terlihat


mencurigakan. Jadi, satu-satunya jalan yang bisa ia pilih adalah dengan


mengiriminya pesan. Itu adalah rencana cadangan yang paling aman menurutnya. Tapi,


ternyata tidak sesuai harapan. Terkadang beberapa hal memang tidak melulu


berjalan sesuai dengan harapan kita. Kalau manusia punya harapan, maka semesta


punya kenyataan.


Sejak


tadi Agatha tidak henti-hentinya memanjatkan dia. Berharap yang terbaik untuk


pria itu. Meski pada dasarnya belum tentu Arjuna akan melakukan hal yang sama


juga ketika Agatha berada dalam posisi sekarat sekali pun. Tapi, tidak ada hal


lain yang bisa ia lakukan. Untuk saat ini, berdoa rasanya sudah cukup untuk


menjadi bukti bahwa Agatha sungguh mencintainya dengan sangat.