
Ini bukan tawaran yang bisa dibilang sepele. Bagaimana bisa
orang seperti Dokter Viona kepikiran untuk menjadikan Agahta sebagai anak
angkatnya. Padahal gadis itu bukan sosok yang banyak bepengaruh di lingkungan
masyarakat. Ia juga tidak bisa dimanfaatkan dengan semudah itu. Lantas apa yang
menjadi alasan Dokter Viona melakukan hal tersebut. Tidak ingin pusing sendiri
karena memikirkan yang satu itu, Agatha segera memutuskan untuk bertanya.
Setidaknya dengan begitu ia tidak perlu menerka-nerka lagi.
“Tapi, sebelumnya kenapa harus aku?” tanya Agatha dengan
begitu hati-hati.
“Sebenarnya ada banyak alasannya. Tapi, salah satu yang
paling penting selain karena kau mirip dengan anakku, aku juga ingin
melindungimu,” jelasnya dengan singkat.
Agatha mengangguk pelan untuk mengiyakan perkataan wanita
itu. Sepertinya Dokter Viona memang tidak memiliki niat lain selain untuk
kebaikan. Semua orang juga tahu kalau ia lah orang baiknya. Gadis itu tidak
bisa berkata-kata untuk beberapa saat. Di hanya bisa tertegun.
“Dulu aku gagal menjaganya. Jadi, sekarang biarkan aku untuk
menjagamu. Aku ingin menebus semua kesalahan itu!” celetuknya secara tiba-tiba.
Agatha sama sekali tidak tahu dan tidak ingin mencari tahu
lebih dalam lagi apa yang sebenanrya tejadi dengan anak wanita itu. Menurutnya
ini adalah sebuah privasi. Sebuah kebetulan kalau memang Dokter Viona ingin
berbagi cerita dengannya. Namun, kalau masih enggan juga tidak apa-apa. Agatha
paham betul kalau tidak semudah itu untuk mempercayai orang baru.
“Jadi, bagaimana?” tanya wanita itu sekali lagi.
Agatha tidak langsung menjawab. Ia bungkam untuk beberapa
saat lalu berkata, “Maaf, tapi aku tidak bisa memutuskan secepat itu.”
Ini bukan pekara yang mudah untuk diputuskan begitu saja.
Keputusan Agatha harus benar-benar tepat. Atau tidak ia akan menanggung
akibatnya, atau malah menderita seumur hidup. Meski selama ini Dokter Viona
sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda jika ia akan menyerang, tapi tetap
saja Agatha harus berhati-hati. Ada begitu banyak orang yang bersikap
manipulatif. Kau tidak akan tahu hal tersebut dengan cepat.
“Aku paham. Kau pasti merasa kesulitan untuk memutuskannya,”
ujar Dokter Viona.
“Tidak apa-apa. Jangan terburu-buru. Pikirkan saja dulu
matang-matang. Kau bisa memberi tahu aku kapan saja,” jelasnya kemudian.
“Tapi, jangan membuatku menunggu terlalu lama tanpa
kepastian juga!” pungkas wanita itu.
Agatha hanya tersenyum tipis sebagai balasan. Ia tidak tahu
harus berkata apa lagi.
***
Sebagai bentun terima kasih karena sudah mau bertemu dengannya
hari ini, Dokter Viona berencana untuk mengantarkan gadis itu pulang. Tetapi,
Agatha menolak. Dia malah justru lebih memilih untuk pulang sendirian. Lagi
pula ia membawa sepeda motornya kemari.
“Kalau begitu aku pamit pulang lebih dulu,” pamit Agatha yang
sudah berada di atas sepeda motornya.
“Hati-hati, ya!” kata Dokter Viona yang kemudian segera
diangguki oleh gadis itu.
Satu detik setelahnya Agatha langsung menyalakan mesin
kendaraannya. Lalu pergi begitu saja tanpa melihat ke belakang lagi. Sekarang
sudah cukup larut. Di atas jam sepuluh malam, menurutnya itu sudah larut. Tidak
baik bagi seorang perempuan apalagi gadis sepertinya masih berkeliaran di luar.
Agatha selalu saja mengatakan hal tersebut. Tapi ia bahkan nyaris sama sekali
tidak peduli dengan aturan yang satu itu. Lebih tepatnya, ia hanya peduli
memikirkan dirinya sendiri. Atau paling tidak bersikap adil antara dirinya
dengan orang lain.
Mereka berdua sama-sama pernah merasa kehiilangan. Agatha
yang kehilangan sosok seorang ibu dan begitu pula dengan Dokter Viona yang
kehilangan anak perempuannya. Tapi, untuk beberapa waktu ke depan ia tidak
ingin membebani kepalanya sendiri dengan hal seperti itu. Agatha hanya ingin
fokus untuk menyelesaikan pekerjaannya. Tuduhan tadi siang sudah cukup untuk
membuat beban pikirannya bertambah. Sebenarnya Dokter Viona sama sekali tidak
salah. Tapi, sayangnya wanita itu tidak tahu kapan waktu yang tepat bagi
keduanya. Ia hanya tahu waktu yang tepat bagi dirinya saja.
23.40
Sekarang sudah hampir pukul dua belas malam. Sebentar lagi
tengah malam. Ia bahkan baru sampai di parkiran. Berjalan naik ke ruangannya
tidak memakan waktu yang terlalu lama memang. Tapi, cukup untuk menguji
kesabaran Agatha. Karena unit apartment yang ia tinggali berada di lantai dua
puluh tujuh.
Seperti biasanya, basement masih tetap tampak ramai meski
sudah hampir tengah malam. Selalu ada saja aktivitas yang berlangsung di sana.
Orang-orang berlalu lalang di sekitarnya dari pagi buta hingga tengah malam. Seolah
tidak ada jeda sama sekali.
Kesunyian baru terasa begitu kau memasuki lantai dua dan
seterusnya. Nyaris setiap waktu lorong-lorong yang berada di sana sepi. Hanya sesekali
penghuninya tampak keluar masuk kamar. Tidak perlu merasa terkejut lagi memang.
Begitu liftnya berhenti di lantai dua puluh tujuh yang
menjadi tempat tujuannya, Agatha tidak langsung sampai ke kamarnya. Ia masih
harus berjalan beberapa meter lagi untuk bisa sampai ke kamarnya. Tapi, begitu
keluar dari dalam lift, ada satu hal yang berhasil mencuri perhatian gadis itu.
Tampak seorang gadis yang tidak terlalu jelas wajahnya berada di lorong. Ia
tampak menyandarkan tubuhnya. Sepertinya tengah menunggu sesuatu. Atau lebih
tepatnya menunggu seseorang yang akan membukakan pintu untuknya.
“Siapa itu?” gumam Agatha yang belum beranjak sama sekali.
Gadis itu mengernyitkan kedua matnya. Berusaha untuk
mempersempit pandangannya. Sehingga Agatha bisa fokus dengan satu objek di
depan sana yang cukup menarik perhatiannya.
Setelah diperhatikan dengan baik-baik, bisa jadi itu adalah tamu dari tetangga yang tinggal di
depan kamarnya. Kalau memang benar dia penghuninya, kenapa tidak langsung masuk
saja. Harusnya dia tahu apa kata sandi kamar apartmentnya sendiri. Mustahil kalau
sampai ia tidak tahu. Dari hal tersebut, Agatha bisa menyimpulkan kalau gadis
itu bukan penghuninya. Dia hanya ingin berkunjung. Itu adahal kemungkinan
positifnya. Padahal jika dilihat-lihat lagi, gadis itu malah jadi tampak
mencurigakan.
“Ah, sudahlah!” celetuk Agatha acuh tak acuh.
Untuk sekarang dia tidak ingin ikut campur soal urusan orang
lain yang bahkan tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Semua orang
punya hak dan wewenangnya masing-masing. Jadi, sepertinya memang tidak perlu
untuk mengurusi urusan orang lain. Cukup urusi kehidupanmu saja. Lagi pula isi
kepala gadis itu juga sudah terlalu padat. Otaknya tidak akan sanggup untuk
menampung lebih banyak beban lagi. Ataua jika tidak, organ yang satu itu pasti
akan meledak.
Alih-alih ambil pusing soal
orang misterius tersebut yang tengah berdiri di tengah lorong, Agatha lantas
segera melanjutkan perjalanannya untuk menuju unit apartmen. Meski itu artinya
ia harus berpapasan dengan di gadis misterius tadi.