The Riot

The Riot
Fine



Setelah menunggu kurang


lebih selama dua puluh menit, pada akhirnya pria itu kembali juga. Kali ini dia


tidak keluar sendirian. Melainkan bersama beberapa orang lainnya. Masih orang


yang sama ketika ia masuk ke dalam gedung itu tadi. Tapi, ada satu orang


tambahan. Ia sama sekali tidak berada di sini sebelumnya.


Agatha mengernyitkan


dahinya karena kebingungan. Tunggu dulu. Ini hanya mirip, atau memang mereka


adalah orang yang sama. Seorang pria yang sedang berdiri di seberang sana.


Sepertinya tidak asing lagi bagi Agatha. Ia yakin pernah bertemu dengannya


sebelumnya.


“Aaron,” ucapnya


kemudian gadis itu buru-buru membungkam mulutnya sendiri.


Jelas betul kalau itu


adalah Aaron. Ada satu hal yang membuatnya benar-benar yakin. Tato kupu-kupu di


bagian lehernya. Meski berukuran kecil, gadis itu masih dapat melihatnya dari


kejauhan.


Agatha masih tidak


habis pikir. Sungguh mengejutkan. Ia bisa bertemu dengan pria itu di tempat


seperti ini. Sejak awal Agatha memang sudah tahu kalau pria itu bukan orang


baik. Sebutlah sebagai berandalan. Tapi, ia bahkan sama sekali tidak pernah


memikirkan kalau ternyata Aaron termasuk ke dalam jaringan mafia terbesar dan


terkuat di kota ini.


Sungguh gila. Otaknya


masih menolak untuk percaya. Jadi selama ini ia sudah hidup berdampingan dengan


mafia lainnya. Jangan bilang kalau itu adalah anggota khusus yang dimaksud oleh


Immanuel tadi.


“Lelucon macam apa lagi


ini?!” ucapnya.


Otaknya dibuat nyaris


tidak bisa berpikir sama sekali. Semesta menyiapkan kejutan yang tidak


main-main dengannya.


“Wah, jadi selama ini


aku berteman dengan seorang mafia berkelas?” tanya gadis itu kepada dirinya


sendiri.


Siapa pun itu, tolong


katakan kepadanya kalau semua ini hanya mimpi. Atau paling tidak Agatha salah


lihat karena kurang fokus. Tidak masalah kalau Aaron sungguh berandalan. Karena


pada faktanya, dia tidak seburuk itu. Tapi, kalau untuk pekara yang satu ini ia


sama sekali tidak bisa menerimanya. Agatha tidak bisa terima kalau Aaron adalah


seorang mafia. Ini tidak main-main.


“Ya, Tuhan!” ucapnya


sambil memegangi kepalanya yang mulai terasa pusing.


Entah kesalahan macam


apa yang pernah diperbuat oleh Agatha sebelumnya. Sampai-sampai gadis itu harus


dikelilingi orang jahat dalam kehidupannya. Posisinya tidak akan pernah aman. Sepertinya


tidak ada satu tempat pun yang benar-benar aman bagi gadis ini. Semuanya penuh


ancaman.


“Sudah selesai?” tanya


Agatha begitu Zean masuk ke dalam.


“Ya, sudah,” jawab pria


itu dengan apa adanya.


***


Tidak ada alasan lagi


untuk tetap berlama-lama di sini. Semua urusan mereka sudah selesai. Sekarang adalah


waktunya untuk kembali ke markas utama. Tugas selanjutnya sudah menunggu.


“Sebenarnya kita ini


mafia atau kurir pengantar barang?” gerutu gadis itu sambil menyetir.


“Ikuti saja perintah


mereka. Maka dengan begitu kita akan aman,” kata Zean yang sibuk berkutat


dengan ponselnya sejak tadi.


“Huh, macet lagi!”


keluh gadis itu.


Sekarang jarum jam


sudah hampir menyentuh pukul dua belas siang. Orang-orang bahkan sekarang sudah


keluar dengan kendaraan pribadinya dan memenuhi jalanan kota. Entah kenapa


mereka selalu keluar pada jam makan siang. Jam berangkat ke kantor, jan makan


siang dan jam pulang kerja selalu menjdai waktu-waktu yang paling tidakd


menyenangkan. Sebab, jalanan pasti selalu macat. Orang-orang berada di jalanan


pada saat yang bersamaan.


“Sepertinya kita harus


menunggu sampai satu jam lagi agar jalanannya jadi lebih lengang,” ucap Zean


dengan begitu santainya. Seolah ia sama sekali tidak mempermasalahkan soal


kemacetan ini.


tahu tentang perkiraan waktunya?” tanya Agatha.


“Aku hanya menebak


saja,” kata pria itu secara gamblang.


“Coba saja kau lihat


dimana ujungnya. Pasti tidak kelihatan,” sambungnya.


Yang sedang dimaksud


pria ini sekarang adalah ujung dari kemacetan. Ujung dari antrian kendaraan


yang mengular ini. Benar. Mereka terjebak di tengah-tengah dan tidak bisa pergi


kemana-mana lagi. Tidak ada pilihan lain kalau sudah begini. Mau tak mau mereka


harus tetap sabar sampai jalanan jadi lebih lengang.


Ini pasti akan terasa


membosankan. Memangnya siapa yang suka menunggu. Apalagi Agatha bukan tipikal


orang yang suka dibuat menunggu seperti ini. Menunggu selama lima belas menit


saja ia sudah protes. Apa lagi ini. Mungkin beberapa kali ia akan jadi lebih


sering mengomel.


“Eh, Zean!” sahut gadis


itu.


“Ada apa? balas lawan


bicaranya.


“Aku ingin bertanya


sesuatu kepadamu,” ungkap Agatha.


“Katakan saja kalau


begitu,” balas pria itu.


Awalnya dia merasa


sedikit ragu untuk menanyakan soal hal ini. Tapi, sepertinya Agatha memang


harus bertanya. Seperti yang ia tahu kalau kelompok mereka masih membatasi


beberapa informasi kepadanya. Jadi, jika ingin tahu sebaiknya langsung cari


sendiri saja. Tidak ada cara lain.


Sejauh ini Zean adalah


orang yang paling terbuka dengannya. Pria itu tidak akan berpikir dua kali


untuk memberikan apa yang diminta oleh Agatha. Lebih tepatnya, Zean selalu


berada di sisinya ketia dibutuhkan. Bukan bermaksud untuk memanfaatkan kebaikan


pria itu. Tapi, dalam hidup ini kita juga perlu orang seperti mereka.


“Apa para anggota


memiliki hubungan yang baik dengan petugas keamaan gedung?” tanya Agatha dengan


hati-hati.


Pada saat yang


bersamaan pula pria itu menoleh ke arahnya. Dia tidak mengatakan apa pun. Belum


lebih tepatnya.


“Kenapa tiba-tiba


menanyakan hal seperti itu?” tanya Zean balik.


“Tidak kenapa-kenapa. Aku


hanya ingin tahu saja,” jawab Agatha dengan apa adanya.


“Sepertinya aku tidak


bisa menjawab pertanyaanmu yang satu itu. Kau bisa bertanya ke orang lain saja.


Tapi yang jelasn jangan aku,” tolak pria itu dengan mentah-mentah.


Tidak bisa dipungkiri.


Agatha ikut merasa terkejut pada saat itu. Tidak tahu harus berbuat bagaimana. Ini


baru pertama kalinya Agatha menerima perlakuan seperti itu. Biasanya tidak


pernah seperti ini. Zean selalu memberikan informasi apa pun itu yang diminta


oleh Agatha. Tidak peduli seberapa penting dan rahasianya hal tersebut.


“Kenapa tidak?” tanya


Agatha.


Untuk sekarang ia tidak


perlu jawaban atas pertanyannya yang sebelumnya. Gadis itu hanya menuntut


kejelasan. Setidaknya berikan satu atau dua kata yang memuat alasan kenapa Zean


tidak ingin memberi tahunya.


“Aku hanya tidak bisa


memberi tahu soal yang satu itu,” ungkap Zean.


“Hanya itu saja, tidak


lebih,” imbuhnya.


Mulut gadis itu


berhasil bungkam karenanya. Agatha mengangguk paham. Apa pun itu alasannya, ia


akan tetap menghargai keputusannya. Lagi pula Zean juga berhak untuk menolak.


“Baiklah kalau begitu. Aku


tidak akan memaksamu untuk memberi tahu soal informasi tersebut,” kata Agatha


sambil mengangguk pelan.


Apa


selama ini Agatha sudah terlalu kelewatan sampai-sampai ia enggan untuk


memberikan informasi lagi. Tapi, setelah dipikir-pikir sepertinya tidak sama


sekali. Semua yang ia lakukan sejauh ini masih berada dalam batas normal.