
Sungguh, penawaran kemarin membuat Agatha merasa
tidak perlu dan tidak ingin ke kantor pagi ini. Karena pada akhirnya gadis itu
tetap tidak akan bisa memilih dibuatnya. Secara tidak langsung, Arjuna sudah
memaksanya untuk setuju dengan penawaran tersebut. Menakut-nakuti gadis itu
dengan berbagai ancaman. Tapi, ancaman yang dikatakan oleh pria itu tidak ada
salahnya juga.
Sekarang alhasil, ia yang dibuat kebingungan
setengah mati. Dua jam menjelang jam kerja, Agatha masih belum menemukan
jawabannya. Berpikir semalaman ternyata tidak ada hasilnya. Padahal gadis itu
sudah berusaha keras untuk memutuskan keputusan yang paling baik. Dan yang
terpenting, ia tidak akan menyesal dengan keputusannya sendiri. Meski sebenarnya
insting gadis itu mengatakan jika dirinya pasti kecewa.
Hari ini Agatha bangun lebih awal dari pada
biasanya. Entahlah, ia bahkan terjaga tanpa alasan kemarin malam. Agatha bahkan
belum kunjung tidur sampai pukul satu dini hari kemarin. Mungkin karena terlalu
memusingkan perihal urusan di kantor tadi. Padahal seharusnya ia bisa bersantai
jika sudah sampai di rumah. Namun, sepertinya urusan di kantor berhasil menyita
perhatiannya jauh lebih banyak. Tidak peduli seberapa keras Agatha mencoba
untuk menyingkirkan berbagai hal tidak penting itu dari kepalanya. Hasilnya tetap
sama saja. Nihil.
Karena hal yang sama pula ia jadi tidak bisa tidur
dengan nyenyak malam ini. Jam tidurnya tidak bisa dibilang cukup. Gadis itu
hanya memejamkan matanya tanpa ketenangan sama sekali. Dan itu pun hanya
berlangsung sekitar tiga jam saja. Agatha tidur lebih lama dan bangun lebih
cepat dari biasanya.
Meskipun terbilang kurang tidur, karena jam tidurnya
tidak mencukupi, padahal seharusnya ia beristirahat selama kurang lebih sekitar
enam jam. Tapi, pada kenyataannya Agatha memang tidak merasakan kantuk sama
sekali. Aneh sekali. Dan yang lebih anehnya lagi adalah, ini bukan pertama
kalinya bagi Agatha merasakan hal tersebut. Sungguh. Reaksi tubuhnya akan hal
tersebut sudah terjadi beberapa kali selama ia hidup di dunia ini. Lebih
tepatnya ketika menginjak usia dewasa.
Umumnya hanya para orang dewasa saja yang kerap
memiliki permasalahan dengan jadwal istirahatnya. Seperti memiliki gangguan
tidur. Tidak bisa tidur hingga kelebihan tidur. Padahal dulu pada saat
anak-anak, mereka melakukan segalanya secara teratur. Bahkan termasuk hal
paling sederhana sekali pun. Beranjak dewasa, semuanya mulai berubah perlahan. Sampai
sekarang belum ada yang bisa menjelaskan kepada Agatha kenapa hal tersebut bisa
terjadi.
Jadwal tidur yang tidak teratur sama sekali bukan
masalah baginya. Selama ia masih bisa membuka kembali kedua kelopak matanya di
keesokan paginya. Setidaknya hal itu membuat Agatha bersyukur karena masih
diberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, meski sekarang hidupnya sudah
mulai berantakan. Seperti pagi ini contohnya.
Kata-kata yan terlontar dari mulu Arjuna kemarin
sukses mengisi ruang kosong di dalam kepala gadis itu. Ia bahkan tidak
membiarkannya tenang sedikit saja. Padahal Agatha baru bangun. Nyawanya bahkan
belum terkumpul dengan sempurna. Bisa-bisa ia jadi gila karenanya.
“Tidak! Aku juga memiliki kehidupan sendiri,” gumam
gadis itu sambil menghela napasnya.
Ia mencoba untuk tetap tenang. Memberikan ruang
tersendiri kepada dirinya. Agatha tidak akan pernah membiarkan masalah atau hal
apa pun itu menguasai dirinya. Tidak akan pernah.
“Sepertinya aku perlu membasuh muka agar terlihat
lebih segar,” ucap gadis itu kepada dirinya sendiri. Kemudian melangkah menuju
kamar mandi.
Apap pun kondisinya, dan bagaimanapun yang sedang
setelah bangun tidur. Rasanya menyegarkan. Dan seolah-olah itu bisa membuat dirimu
terasa lebih ringan, lega, yang jelas berada pada kondisi yang jauh lebih baik
dari pada sebelumnya.
Setelah menyelesaikan urusannya di dalam kamar
mandi, kini gadis itu beralih ke dapur. Lebih tepatnya sekarang ia tengah
membungkuk di depan kulkas. Mencari sesuatu yang bisa dimakan pagi ini. Kalau
perlu yang bisa langsung dimakan, tanpa perlu diolah terlebih dahulu. Apa pun
itu akan ia makan, asal tidak merepotkan dirinya sendiri.
Jujur saja, sejak kemarin suasana hatinya jadi
berantakan. Tak karuan. Memangnya karena apalagi jika bukan karena hal
tersebut. Arjuna masih menjadi satu-satunya alasan sampai sekarang. Tidak ada
yang lain lagi.
Bahkan ia jadi tidak memiliki minat sedikit pun
untuk melakukan apa-apa. Sekarang, prinsipnya ia tidak akan melakukan apa pun
jika tidak berada dalam kondisi yang terpaksa. Sungguh, ia benar-benar kesal dengan
pria itu. Jika saja Arjuna bukan atasannya di kantor, maka Agatha mungkin tidak
akan segan-segan untuk menghabisi pria itu.
Setiap kali mengingatnya, atau bahkan mendengar
namanya saja, gadis itu langsung teringat pada semua tingkah laku menyebalkan dari pria itu. Tidak bisa,
sampai sekarang Agatha masih belum bisa memaafkannya. Jujur saja.
“Sepertinya aku perlu makan sesuatu yang
manis-manis. Atau tidak coklat,” gumam gadis itu lalu menutup pintu kulkasnya.
Agatha berangsung meninggalkan dapur, beralih ke
pintu masuk utama apartment miliknya. Sekaligus menjadi satu-satunya pintu
keluar. Ia berencana untuk sarapan di bawah saja. Ada beberapa gerai makanan
dan convenient store yang seharusnya sudah buka pukul segini. Mereka terkadang
buka lebih awal dari yang dibayangkan. Bahkan untuk ukuran toko seperti convenient
store sendiri, mereka nyaris tidak pernah tutup. Lebih tepatnya selalu
beroperasi selama dua puluh empat jam penuh.
Agahta langsung turun ke lantai bawah tanpa
mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Bahkan ia tidak mandi. Hanya mencuci
mukan dan merapihkan rambutnya yang seperti singa. Hanya itu saja. Lagipula
sepertinya orang-orang tidak akan mempermasalahkan penampilannya. Agatha
menggunakan sweeter serta celana training bergaris. Tidak terlalu buruk untuk
ukuran baju tidur.
Sesuai dengan tebakannya yang sebelumnya, gadis itu
tampak antusias ketika mengetahui gerai makanan favoritnya buka. Tanpa pikir
panjang lagi, Agatha segera memesan menu makanan yang menjadi kegemarannya. Tiap
kali pergi ke sana, Agatha pasti selalu memesan menu yang sama.
“Aku pesan bento ayam saus lada hitamnya satu!” ujar
gadis itu yang langsung datang ke tempat pemesanan.
“Baiklah. Tapi karena kami baru buka, mungkin
pesanannya akan datang sedikit lebih lama dari pada biasanya,” jelas si
pelayan.
“Apa itu tidak masalah bagi anda untuk menunggu?”
tanyanya.
“Tidak sama sekali!” balas Agatha dengan percaya
diri.
“Aku akan pergi ke convinent store itu terlebih
dahulu untuk membeli beberapa barang. Kemudian akan kembali lagi kemari setelah
urusanku di sana selesai,” jelas gadis itu.
“Oh, iya! Aku akan bayar di awal. Anggap saja jika
ini sebagai jaminan kalau aku akan kembali lagi kemari beberapa saat kemudian,”
tukasnya sekali lagi sambil mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu.
Itu jumlah yang pas
untuk pesanannya. Tidak kurang dan juga tidak lebih.