The Riot

The Riot
Wake Up



Sungguh, penawaran kemarin membuat Agatha merasa


tidak perlu dan tidak ingin ke kantor pagi ini. Karena pada akhirnya gadis itu


tetap tidak akan bisa memilih dibuatnya. Secara tidak langsung, Arjuna sudah


memaksanya untuk setuju dengan penawaran tersebut. Menakut-nakuti gadis itu


dengan berbagai ancaman. Tapi, ancaman yang dikatakan oleh pria itu tidak ada


salahnya juga.


Sekarang alhasil, ia yang dibuat kebingungan


setengah mati. Dua jam menjelang jam kerja, Agatha masih belum menemukan


jawabannya. Berpikir semalaman ternyata tidak ada hasilnya. Padahal gadis itu


sudah berusaha keras untuk memutuskan keputusan yang paling baik. Dan yang


terpenting, ia tidak akan menyesal dengan keputusannya sendiri. Meski sebenarnya


insting gadis itu mengatakan jika dirinya pasti kecewa.


Hari ini Agatha bangun lebih awal dari pada


biasanya. Entahlah, ia bahkan terjaga tanpa alasan kemarin malam. Agatha bahkan


belum kunjung tidur sampai pukul satu dini hari kemarin. Mungkin karena terlalu


memusingkan perihal urusan di kantor tadi. Padahal seharusnya ia bisa bersantai


jika sudah sampai di rumah. Namun, sepertinya urusan di kantor berhasil menyita


perhatiannya jauh lebih banyak. Tidak peduli seberapa keras Agatha mencoba


untuk menyingkirkan berbagai hal tidak penting itu dari kepalanya. Hasilnya tetap


sama saja. Nihil.


Karena hal yang sama pula ia jadi tidak bisa tidur


dengan nyenyak malam ini. Jam tidurnya tidak bisa dibilang cukup. Gadis itu


hanya memejamkan matanya tanpa ketenangan sama sekali. Dan itu pun hanya


berlangsung sekitar tiga jam saja. Agatha tidur lebih lama dan bangun lebih


cepat dari biasanya.


Meskipun terbilang kurang tidur, karena jam tidurnya


tidak mencukupi, padahal seharusnya ia beristirahat selama kurang lebih sekitar


enam jam. Tapi, pada kenyataannya Agatha memang tidak merasakan kantuk sama


sekali. Aneh sekali. Dan yang lebih anehnya lagi adalah, ini bukan pertama


kalinya bagi Agatha merasakan hal tersebut. Sungguh. Reaksi tubuhnya akan hal


tersebut sudah terjadi beberapa kali selama ia hidup di dunia ini. Lebih


tepatnya ketika menginjak usia dewasa.


Umumnya hanya para orang dewasa saja yang kerap


memiliki permasalahan dengan jadwal istirahatnya. Seperti memiliki gangguan


tidur. Tidak bisa tidur hingga kelebihan tidur. Padahal dulu pada saat


anak-anak, mereka melakukan segalanya secara teratur. Bahkan termasuk hal


paling sederhana sekali pun. Beranjak dewasa, semuanya mulai berubah perlahan. Sampai


sekarang belum ada yang bisa menjelaskan kepada Agatha kenapa hal tersebut bisa


terjadi.


Jadwal tidur yang tidak teratur sama sekali bukan


masalah baginya. Selama ia masih bisa membuka kembali kedua kelopak matanya di


keesokan paginya. Setidaknya hal itu membuat Agatha bersyukur karena masih


diberi kesempatan untuk hidup lebih lama lagi, meski sekarang hidupnya sudah


mulai berantakan. Seperti pagi ini contohnya.


Kata-kata yan terlontar dari mulu Arjuna kemarin


sukses mengisi ruang kosong di dalam kepala gadis itu. Ia bahkan tidak


membiarkannya tenang sedikit saja. Padahal Agatha baru bangun. Nyawanya bahkan


belum terkumpul dengan sempurna. Bisa-bisa ia jadi gila karenanya.


“Tidak! Aku juga memiliki kehidupan sendiri,” gumam


gadis itu sambil menghela napasnya.


Ia mencoba untuk tetap tenang. Memberikan ruang


tersendiri kepada dirinya. Agatha tidak akan pernah membiarkan masalah atau hal


apa pun itu menguasai dirinya. Tidak akan pernah.


“Sepertinya aku perlu membasuh muka agar terlihat


lebih segar,” ucap gadis itu kepada dirinya sendiri. Kemudian melangkah menuju


kamar mandi.


Apap pun kondisinya, dan bagaimanapun yang sedang


setelah bangun tidur. Rasanya menyegarkan. Dan seolah-olah itu bisa membuat dirimu


terasa lebih ringan, lega, yang jelas berada pada kondisi yang jauh lebih baik


dari pada sebelumnya.


Setelah menyelesaikan urusannya di dalam kamar


mandi, kini gadis itu beralih ke dapur. Lebih tepatnya sekarang ia tengah


membungkuk di depan kulkas. Mencari sesuatu yang bisa dimakan pagi ini. Kalau


perlu yang bisa langsung dimakan, tanpa perlu diolah terlebih dahulu. Apa pun


itu akan ia makan, asal tidak merepotkan dirinya sendiri.


Jujur saja, sejak kemarin suasana hatinya jadi


berantakan. Tak karuan. Memangnya karena apalagi jika bukan karena hal


tersebut. Arjuna masih menjadi satu-satunya alasan sampai sekarang. Tidak ada


yang lain lagi.


Bahkan ia jadi tidak memiliki minat sedikit pun


untuk melakukan apa-apa. Sekarang, prinsipnya ia tidak akan melakukan apa pun


jika tidak berada dalam kondisi yang terpaksa. Sungguh, ia benar-benar kesal dengan


pria itu. Jika saja Arjuna bukan atasannya di kantor, maka Agatha mungkin tidak


akan segan-segan untuk menghabisi pria itu.


Setiap kali mengingatnya, atau bahkan mendengar


namanya saja, gadis itu langsung  teringat pada semua tingkah laku menyebalkan dari pria itu. Tidak bisa,


sampai sekarang Agatha masih belum bisa memaafkannya. Jujur saja.


“Sepertinya aku perlu makan sesuatu yang


manis-manis. Atau tidak coklat,” gumam gadis itu lalu menutup pintu kulkasnya.


Agatha berangsung meninggalkan dapur, beralih ke


pintu masuk utama apartment miliknya. Sekaligus menjadi satu-satunya pintu


keluar. Ia berencana untuk sarapan di bawah saja. Ada beberapa gerai makanan


dan convenient store yang seharusnya sudah buka pukul segini. Mereka terkadang


buka lebih awal dari yang dibayangkan. Bahkan untuk ukuran toko seperti convenient


store sendiri, mereka nyaris tidak pernah tutup. Lebih tepatnya selalu


beroperasi selama dua puluh empat jam penuh.


Agahta langsung turun ke lantai bawah tanpa


mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Bahkan ia tidak mandi. Hanya mencuci


mukan dan merapihkan rambutnya yang seperti singa. Hanya itu saja. Lagipula


sepertinya orang-orang tidak akan mempermasalahkan penampilannya. Agatha


menggunakan sweeter serta celana training bergaris. Tidak terlalu buruk untuk


ukuran baju tidur.


Sesuai dengan tebakannya yang sebelumnya, gadis itu


tampak antusias ketika mengetahui gerai makanan favoritnya buka. Tanpa pikir


panjang lagi, Agatha segera memesan menu makanan yang menjadi kegemarannya. Tiap


kali pergi ke sana, Agatha pasti selalu memesan menu  yang sama.


“Aku pesan bento ayam saus lada hitamnya satu!” ujar


gadis itu yang langsung datang ke tempat pemesanan.


“Baiklah. Tapi karena kami baru buka, mungkin


pesanannya akan datang sedikit lebih lama dari pada biasanya,” jelas si


pelayan.


“Apa itu tidak masalah bagi anda untuk menunggu?”


tanyanya.


“Tidak sama sekali!” balas Agatha dengan percaya


diri.


“Aku akan pergi ke convinent store itu terlebih


dahulu untuk membeli beberapa barang. Kemudian akan kembali lagi kemari setelah


urusanku di sana selesai,” jelas gadis itu.


“Oh, iya! Aku akan bayar di awal. Anggap saja jika


ini sebagai jaminan kalau aku akan kembali lagi kemari beberapa saat kemudian,”


tukasnya sekali lagi sambil mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu.


Itu jumlah yang pas


untuk pesanannya. Tidak kurang dan juga tidak lebih.