
Tidak seharusnya Arjuna menanyakan perihal tersebut.
Suasana hati gadis ini pasti sedang tidak baik-baik saja. Belakangan ini
beberapa masalah datang kepadanya pada saat yang bersamaan. Tidak bisa
dipungkiri jika hal tersebut cukup untuk membuat Agatha merasa kelimpungan.
Jujur saja, ia kewalahan untuk menghadapi semua itu. Agatha tak bisa
menyelesaikan semuanya sendiri. Tapi, ia dituntut untuk mandiri.
“Kau tahu jika zaman sekarang ini tidak mudah untuk
mencari pekerjaan,” ungkap pria itu.
Agatha sama sekali tidak menyalahkan perkataan
Arjuna. Apa yang baru saja ia bilang benar. Saat ini sangat sulit untuk mencari
pekerjaan. Kau harus bersaing dengan banyak orang untuk mendapatkan posisi yang
diinginkan. Tidak mudah untuk menjadi yang terbaik di antara mereka.
Terlalu banyak pesaing. Orang-orang banyak
menganggur dan jadi beban keluarga pada masa kini. Jika dipikir-pikir, Agatha
tidak akan mau kembali ke masa itu lagi. Ketika ia harus bersaing dengan
ratusan atau bahkan ribuan orang di luar sana.
Ada banyak hal yang ia relakan untuk sebuah
kemenangan. Tidak, masa-masa itu terlalu sulit baginya. Apa pun itu alasannya,
Agatha tidak ingin kembali mengulangi kejadian yang sama.
“Coba lihat keadaanmu sekarang!” celetuk Arjuna.
“Kehidupanmu sudah terblang cukup nyaman. Terutama
dukungan secara finansial. Kau tidak perlu memusingkan apa-apa lagi. Bahkan
kebutuhanmu setiap harinya sudah tercukupi hanya dengan mengandalkan pekerjaan
ini,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Sebagai manusia yang beranjak dewasa, sikapnya
sering kali berubah-ubah. Tidak ada bedanya dengan masa remaja. Terkadang Agatha
juga masih suka labil dalam beberapa hal. Kembali lagi kepada prinsip awalnya. Tidak
ada satu pun manusia yang sempurna di dunia ini. Beberapa dari mereka hanya
hampir sempurna.
“Tidakkah kau memikirkan hal itu?” tanya Arjuna.
“Pekerjaanmu saat ini adalah sebuah kesempatan besar
untuk melanjutkan kehidupan. Belum tentu kehidupanmu akan menjadi jauh lebih
baik setelah memutuskan keluar dari pekerjaan yang sekarang,” bujuk pria itu.
Arjuna akan melakukan cara apa saja untuk membujuk
Agatha. Apa pun itu agar Agatha tetap bertahan di sana. Pria itu sungguh
berharap agar Agatha kembali mempertimbangkan keputusannya tadi. Akan jauh
lebih baik kalau Agatha mengurungkan niatnya untuk keluar dari pekerjaannya
yang sekarang.
“Apa yang kau katakan benar,” gumam Agatha sambil
merendahkan pandangannya.
Entahlah, mendadak ia jadi bingung. Tidak tahu harus
berbuat apa. Padahal sebelumnya ketika emosi menguasai dirinya, semua terasa
begitu meyakinkan.
“Sebaiknya kau pertimbangkan lagi keputusanmu,” ujar
Arjuna.
“Apa pun itu hasilnya nanti, semua tergantung
kepadamu,” sambung pria itu kemudian.
“Menurutmu apakah kau harus tetap bertahan atau
malah sebaliknya?” tanya Agatha.
Kali ini ia sungguh kebingungan, sampai tidak bisa
memutuskan. Kepalanya terlalu berisik sejak tadi. Dunianya tidak pernah bisa
jadi baik-baik saja, barang untuk sehari. Semesta tak pernah bersikap ramah
kepadanya. Ada begitu banyak hal buruk yang selalu menghampirinya setiap hari. Sampai-sampai
Agatha bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia sedang dikutuk oleh semesta
atau bukan.
“Kau bertanya kepadaku?” tanya pria itu balik untuk
memastikan.
“Memangnya ada orang lain di sini?” balas Agatha
sambil berdecak sebal.
Untuk sekarang, tidak masalah jika Arjuna ingin ikut
campur. Agatha sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut. Justru itulah
yang ia inginkan. Agatha tak bisa memutuskan sendiri. Harus ada setidaknya satu
orang yang memberikannya arahan. Sampai sekarang ia masih tak tahu harus
berbuat apa. Tujuannya jadi tak jelas karena diterpa oleh keraguan.
Saat ini Agatha sedang berada di garis batas yang
buram. Daerah sekitarnya tertutup kabut tebal. Sehingga mempertipis jarak
arah, sementara ia sedang tidak bisa melihat. Oleh sebab itu, Agatha butuh
bantuan dari seseorang yang dipercaya bisa menuntunnya ke arah yang tepat. Dan
pilihannya jatuh kepada Arjuna. Ada satu hal yang membuat gadis itu bisa
mempercayainya. Dia tidak mudah untuk berkhianat. Nyaris tidak pernah malah. Tapi
tetap saja tidak menutup kemungkinan jika ia akan melakukan kesalahan tersebut
suatu saat nanti. Yang jelas tidak sekarang.
“Untuk kali ini kumohon ikut campurlah dalam urusan
pribadiku,” ucap Agatha dengan suara bergetar. Nyaris saja ia menangis.
“Jika menurutmu aku harus bertahan, maka aku akan
melakukannya semampuku,” ungkap gadis itu.
“Tidak ada orang lain yang bisa aku andalkan,”
finalnya.
Arjuna membisu untuk beberapa saat. Otaknya sedang
berusaha untuk mencerna apa yang sedang terjadi.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Arjuna.
“Tidak. Tidak pernah,” jawab Agatha dengan apa
adanya.
Sepertinya kecemasan pria itu selama ini sudah
terbukti benar. Bukan hanya dugaannya semata. Selama ini Agatha berhasil menutupi
luka batinnya dari orang lain. Tapi tidak dengan Arjuna. Terlalu sulit untuk
menipu pria itu.
“Jangan terlalu keras kepada dirimu sendiri. Kau
juga manusia biasa. Berhak untuk bersedih atau bahkan menangis. Kau tidak bisa
menyalahkan emosimu sendiri.”
“Tidak, aku tidak bisa melakukannya.”
“Kenapa?”
“Semesta mendidikku selama ini bukan untuk menjadi
manusia lemah.”
“Kau tidak lemah. Kau adalah wanita paling kuat yang
pernah kutemui seumur hidupku.”
“Jangan berbohong. Aku tidak suka pengakuan palsu
seperti itu.”
“Tidak, kali ini aku bersungguh-sungguh.”
“Memangnya manusia mana yang bisa dipercaya?
Bukankah kita semua sama saja?”
“Tidak, kau salah.”
“Tapi, kali ini aku merasa benar.”
Untuk beberapa saat, sebagian manusia merasa tak
ingin dicintai sama sekali. Akan terasa jauh lebih baik kalau tidak ada satu
pun orang yang peduli dengan keadaannya. Sebab, kau akan beranggapan tak apa
jatuh. Karena pasti ada seseorang yang membantu setidaknya. Terkadang
kepedulian orang lain malah membuatmu lemah.
Pada waktu lainnya, sebagan manusia itu juga ingin
dicintai. Pada akhirnya mereka sadar, jika tidak selamanya tungkai kaki itu
bisa berdiri kokoh. Ada beberapa waktu dimana orang-orang jadi begitu rapuh.
“Jangan membohongi perasaanmu sendiri,” ungkap
Arjuna.
“Tidak apa jika kau mau menangis sekarang. Ini
adalah saat yang paling tepat untuk melepaskan semuanya. Jangan ditahan lagi,”
jelasnya kemudian.
“Tidak, aku tidak akan menangis!” tegas gadis itu
sekali lagi.
Sungguh Arjuna tidak habis pikir. Bagaimana bisa
gadis itu masih bertahan dengan keras kepalanya, bahkan di saat seperti ini.
Menyadari jika hanya membujuk dengan kata-kata saja
tidak akan berhasil, pria itu lantas beranjak dari tempat duduknya. Berjalan
mendekat ke arah gadis itu. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera memeluk tubuh
mungil Agatha. Sama sekali tidak ada penolakan darinya. Di saat yang bersamaan
pula, tangis gadis itu pecah. Ia tidak bisa menahannya lagi. Kedua bola matanya
sudah memanas sejak tadi.
Ini adalah pertama
kalinya Agatha menangis di hadapan orang lain. Dan itu juga menjadi pengalaman
pertama bagi Arjuna melihat gadis itu menangis tersedu-sedu. Menangisi hidupnya
yang tidak pernah berjalan sesuai dengan rencana.