
Sementara ini mereka tidak
bisa berbuat apa-apa. Tidak ada pilihan lain selain menyerah untuk kali ini.
Padahal sebelumnya tidak pernah ada kata-kata tersebut di dalam kamus mereka,
terutama Hiraeth. Menyerah begitu saja sama sekali tidak mencerminkan
kepribadian para mafia itu.
Sejak dulu mereka
terkenal pantang menyerah. Tapi kali ini situasinya berbeda. Mereka berhasil
ditaklukkan oleh orang-orang yang katanya bertugas sebagai penegak keamanan
negara. Tapi tenang saja. Tidak perlu merasa cemas. Hiraeth dan anak buahnya
tidak akan pernah benar-benar menyerahkan diri mereka begitu saja. Kali ini
hanya karena terpaksa.
Sebelumnya tidak ada
satu pun dari mereka yang menyadari kalau pada akhirnya akan terjadi seperti
ini. Hiraeth mengira jika semuanya sudah cukup aman. Namun, ternyata yang
terjadi malah berada di luar ekspektasinya.
Agatha dan tim
kepolisian datang secara tiba-tiba dan merusak semua rencana mereka yang bahkan
sudah diatur dengan sedemikian rupa. Mereka menyerang tanpa peringatan sama
sekali sebelumnya. Mungkin hal itu juga yang membuat semua orang merasa
kewalahan.
“Kenapa Alexa belum
bangun juga sampai sekarang? Apa dia sudah sekarat?” tanya Fadli.
Kedua bola matanya
tampak menyoroti gadis itu. Sejak tadi ia sudah tertidur seperti itu. Entah
memang benar-benar tidur atau pingsan dan sejenisnya, Fadli tak tahu pasti.
Yang jelas ia sudah kehilangan kesadarannya sejak tadi. Tidak ada yang thau
kenapa.
“Sudah, tenang saja!”
celetuk Immanuel.
“Sebentar lagi dia juga
akan segera bangun,” imbuhnya.
Tak ingin ambil pusing
degan persoalan Alexa, pria itu lantas segera mengangguk-anggukkan kepalanya
untuk mengiyakan perkataan Immanuel barusan.
Rasanya memang tidak
ada yang terlalu serius dengan gadis itu. Dia memang sedang tidak sadarkan diri
sama sekali, namun tak terlihat mengkhawatirkan. Mereka yakin jika kondisi
fisiknya maish baik. Dia tidak akan kenapa-kenapa.
***
Rasanya senang sekali
bisa kembali ke tempat ini. Dia tidak perlu lagi pergi ke markas setiap harinya
dan bersikap seperti orang lain. Karena memang Rienna adalah sosok yang asing
baginya. Agatha tidak seperti itu. Mereka berdua sesungguhnya berbeda, meski
berada di dalam satu jiwa yang sama.
‘SLURPPP!!!’
Gadis itu menikmati
sisa waktu yang ia punya untuk bersantai di meja piket. Tentu saja ditemani
dengan secangkir kopi. Tidak, sekarang ia sedang tidak ingin kembali ke
ruangannya. Mengingat ia tidak bisa mengawasi para penjahat itu jika berada di
dalam ruangan tertutup.
Sekarang sudah cukup
larut. Bahkan nyaris tengah malam. Jarum jam tangan miliknya sudah hampir
menuju angka dua belas. Yang dimana sebentar lagi hari akan segera berganti. Pada
dasarnya hari baru tak selalu dimulai ketika matahari terbit saja. Karena
sesungguhnya hari akan terus berganti begitu melewati pukul dua belas malam. Hari
baru sudah dimulai, bahkan ketika sebagian besar para umat manusia pada saat
itu masih terjebak di alam bawah sadarnya.
“Agatha!” sahut
seseorang dari belakang.
Sontak gadis itu
memutar kepalanya ke arah sumber suara. Ia yakin betul kalau yang dimaksud tadi
adalah dirinya. Memangnya ada siapa lagi di sini yang memiliki nama serupa.
Agatha hanya ada satu di kantor ini. Begitu pula dengan Arjuna dan yang
lainnya.
Begitu ia menoleh ke
belakang, gadis itu malah mendapati Arjuna yang berjalan mendekat ke arahnya.
Sepertinya ada sesuatu yang ingin ia bicarakan kepada gadis ini. Sampai-sampai
harus menghampirinya kemari.
interupsi gadis itu begitu Arjuna sampai di hadapannya.
“Tidak ada,” balas pria
itu secara gamblang.
“Aku hanya ingin
memastikan kalau kau tetap terjaga dan tidak lengah sama sekali,” jelasnya
kemudian.
“Ck! Terserahmu saja!”
ucap Agatha dengan ketus.
Tanpa pikir panjang
sama sekali. Pria itu segera mengambil tempat duduk tepat di sebelah gadis ini.
Meja piket pada dasarnya memiliki dua kursi. Jadi, jika Agatha duduk di sana
sekali pun, masih ada tersisa satu kursi lagi.
“Apa yang kau lakukan
di sini?” tanya Agatha yang setengah memprotes.
“Ayolah, yang benar
saja! Apa aku perlu menjawab pertanyaanmu yang satu itu?” tanya Arjuna balik.
Tampaknya ia tidak
terlalu suka dengan keberadaan pria itu di sini. Padahal Arjuna sama sekali
tidak memiliki niat buruk. Dia hanya ingin bergabung saja. Untuk berjaga-jaga
kalau saja satu waktu Agatha sedang lengah, masih ada Arjuna yang bisa
mengawasi untuknya.
“Ya, tentu saja! Kau
harus menjawabnya agar tetap bisa berada di sini,” ungkap gadis itu.
“Kalau begitu, apa itu
artinya aku bisa terus berada di sini kan? Setelah memberikan jawabannya
maksudku,” balas Arjuna dengan panjang lebar.
“Belum tentu.
Tergantung jawaban yang kau berikan kepadaku,” balas gadis itu acuh tak acuh.
“Kau bahkan tidak
berhak atas tempat ini,” gerutu Arjuna kesal.
Tidak ada satu pun dari
mereka yang berhak atas tempat ini. Karena pada dasarnya, meja piket atau pos
jaga berhak untuk ditempat oleh siapa saja. Terutama bagi mereka yang sedang
berjaga malam itu. Tidak ada yang berhak untuk melarang. Bahkan orang sekelas
Arjuna sekali pun.
“Baiklah, aku datang ke
sini untuk menemanimu berjaga malam,” beber pria itu. Ia bicara dengan apa
adanya. Tidak ada yang direkayasa.
“Aku bisa melakukannya
sendiri. Tidak perlu ditemani sama sekali!” balas Agatha tanpa memalingkan pandangannya.
“Baiklah, kau mungkin
memang bisa melakukannya sendirian. Tapi, bagaimana jika kau lengah?” jelas
pria itu yang kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan.
“Hal itu tidak akan
terjadi,” balas Agatha.
“Hal itu akan terjadi,”
ucap seorang pria yang tak mau kalah.
Mendengar kalimat
tersebut Agatha lantask berdecak sebal lalu berkata, “Terserahmu saja!”
Sekarang sudah cukup
malam. Tenaganya hanya tersisa sedikit lagi karena misi tadi. Bagaimanapun juga
Agatha harus berhemat. Setidaknya sampai matahari keluar dari sarangnya dan ia
mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan. Untuk saat ini, melawani pria itu sama
saja dengan buang-buang tenaga. Karena pada akhirnya tetap saja Arjuna yang
selalu berada pada posisi unggul.
Baru kali ini Agatha
menemui sosok pria seperti itu di dalam hidupnya. Egosi dan tidak mau mengalah
sama sekali. Tidak peduli jika lawannya itu pria atau wanita. Ia menganggap
mereka semua sama saja. Memang di satu sisi itu tidak masalah sama sekali dan
malah terlihat bagus untuk beberapa situasi. Namun, bisa jadi sebaliknya pada
kondisi-kondisi tertentu. Seperti saat ini contohnya.
“Jadi, aku boleh tetap
berada di sini kan?” tanya Arjuna untuk memastikan sekali lagi.
Namun,
tempaknya gadis itu sama sekali tidak berniat untuk menjawabnya. Jadi, anggap
saja kalau jawabannya adalah iya. Jika ada sesuatu yang mudah, tidak perlu
dibuat menjadi rumit.