
Setelah Agatha kembali
ke rumahnya, Immanuel langsung kembali ke markas. Ia sudah memastikan kalau gadis
itu sudah sampai di apartmentnya langsung. Bahkan ia mengantarkan Agatha sampai
ke depan pitu tempat tinggalnya. Pria itu berdiri di depan pintu selama
beberapa saat sampai benar-benar yakin kalau gadis itu tidak akan keluar lagi.
Agatha tampaknya juga tidak sedang memantau pria itu dari interkom.
Tidak ada yang terlihat
mencurigakan sejauh ini. Bahkan pria itu kembali tanpa merasa cemas sama
sekali. Ia yakin jika gadis itu tidak akan pergi keluar lagi. Bukankah ia sudah
diperingati untuk tidak melanggar aturan. Selama bergabung di dalam geng mafia
ini, artinya Agatha harus mengikuti setiap peraturan yang berlaku. Baik itu
peraturan tertulis maupun tidak.
Memang tidak ada
perilaku yang mencurigakan selama Immanuel mengantarnya kembali ke apartment. Tapi,
ada satu hal yang berhasil menarik perhatiannya. Soal kartu identitas itu.
Immanuel berasumsi jika Agatha memberikan kartu identitas palsu yang telah
didesain dengan sedemikian rupa kepadanya. Bukan hanya alamatnya saja yang
tidak sesuai, bahkan nomer induk keluarganya saja tidak terdaftar. Dan yang
terpenting adalah, namanya juga tidak terdaftar di dalam data kependudukan.
Immanuel nyaris tidak
bisa membedakan mana yang benar ada, dan mana yang tidak ada. Sejak kejadian
dimana Agatha tiba-tiba mmenghilang begitu saja, semuanya mulai terungkap
secara perlahan. Rasa curiga pria itu semakin besar kini. Dari sekian banyak
alasan yang sudah disiapkan oleh gadis itu, tidak ada satu pun yang ia percaya.
“Aku tidak akan percaya
begitu saja dengan penipu sepertimu,” gumam pria itu.
Selama perjalanan
pulang, ia sama sekali tidak berhenti memikirkan soal kejanggalan-kejanggalan
yang kerap kali ia temukan belakangan ini. Sulit untuk diterima oleh akal
sehatnya. Ada beberapa hal yang dirasa kurang atau bahkan tidak masuk akal sama
sekali. Jika dipikir-pikir kembali, itu sama sekali bukan kebetulan. Lebih tepatnya
semua ini seperti sedang direkayasa. Immanuel yakin kalau diam-diam ada orang
lain di balik semua ini yang sedang merancang sesuatu. Yang jelas, itu bukan
sesuatu yang baik.
Begitu sampai di
markas, ia langsung mengumpulkan semua orang. Ada hal penting yang perlu mereka
bicarakan. Ya, tanpa Agatha. Kali ini gadis itu tidak perlu ikut campur sama
sekali. Ada beberapa waktu yang tidak seharusnya Agatha ikut di dalamnya.
Dengan langkah tergesa,
Immanuel masuk ke dalam. Semua orang tampak sudah menunggunya di dalam sana.
Entah sudah sejak kapan mereka sampai. Tapi, yang jelas pasti lebih dulu dari
pada pria itu. Immanuel langsung mengambil satu tempat duduk yang masih kosong.
Dan sepertinya memang sengaja disisakan untuknya.
Immanuel sudah memberi
tahu mereka untuk berkumpul di markas sejak lima belas menit yang lalu. Kalau pun
pria itu terpaksa terlambat dengan atau tanpa di sengaja, sama sekali tidak ada
orang yang akan mempermasalahkannya. Lebih tepatnya mereka tidak ingin mencari
masalah kepada orang yang salah.
“Apa kalian sudah lama
berada di sini?” tanya Immanuel begitu sampai.
“Kau tahu jika kami selalu
berada di sini,” jawab Mike dengan apa adanya.
“Memangnya ada hal
penting macam apa yang perlu kau bicarakan? Sampai-sampai meminta kami untuk
berkumpul di sini,” sambung Zean yang mulai menimbrung dalam pembicaraan mereka
kala itu.
Mike dan Fadli
mengangguk setuju dengan perkatan pria itu barusan. Mereka juga memiliki rasa
penasaran yang sama besarnya dengan Zean. Tidak salah bukan jika mereka
bertanya.
“Jadi begini, aku ingin
memberi tahu kepada kalian jika di sini ada mata-mata,” ungkap Immanuel secara
gamblang.
“Mata-mata?!” seru yang
lain pada saat bersamaan.
saja yang merasa terkejut dengan hal tersebut saat pertama kali mengetahuinya.
Semua orang juga merasa demikian. Pria itu sama sekali tidak merasa ragu saat
mengatakannya. Padahal semua itu belum tentu benar. Immanuel belum punya cukup
bukti untuk menuduh seseorang sebagai mata-mata. Semua itu hanya asumsi yang
berhasil ia simpulkan dari semua rasa curiganya.
“Siapa orangnya?”
“Apa dia ada di sekitar
kita sekarang?”
“Dasar!
Berani-beraninya dia mencari masalah dengan kita sekarang!”
Semua orang menggerutu
tak jelas. Orang-orang merutuki dirinya sendiri. Merasa sebal sekaligus tidak
berguna. Bagaimana bisa mereka tidak tahu kalau selama ini ternyata ada
mata-mata di antara mereka. Itu sama saja dengan tidak becus.
“Sudah-sudah!” teriak
Immanuel sambil menggebrak meja.
Dia berusaha untuk
menyudahi keributan itu. Mereka sudah sibuk sendiri, padahal Immanuel bahkan
belum sempat untuk menyelesaikan kalimatnya. Pria itu bukan tipikal orang yang
suka memberikan informasi setengah-setengah seperti ini. Bukan hanya itu saja.
Lebih tepatnya, Immanuel tidak suka melakukan sesuatu kalau tidak sampai
tuntas. Ada rasa tidak puas di dalam hatinya.
“Tidakkah kalian selama
ini meraa curiga dengan gerak-gerik Rienna?” tanya Immanuel.
Ini adalah pertanyaan
pancingan. Immanuel ingin tahu, apakah orang lain merasakan hal serupa dengan
apa yang ia rasakan selama ini atau malah tidak sama sekali.
“Aneh bagaimana
maksudmu?” tanya Fadli.
Dahi pria itu berkerut
karena kebingungan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan maksud Immanuel
barusan. Bukankah tadi mereka sedang membicarakan tentang mata-mata? Lantas
kenapa sekarang tiba-tiba malah beralih topik? Atau jangan-jangan mereka masih
berada di dalam topik yang sama. Jangan katakan kalau Rienna ada hubungannya
dengan mata-mata yang dimaksud oleh pria itu tadi. Entahlah, pembahasan mereka
belum menjumpai titik terang sampai sejauh ini.
“Coba kalian
ingat-ingat kembali saja. Apakah selama ini dia ada melakukan sesuatu yang aneh
atau tidak,” jelas Immanuel.
Semua orang berpikir. Sibuk
mengulik kembali ingatannya dari beberapa waktu lalu. Mencari klip-klip memori
yang belum sempat terhapus dari dalam ingatannya. Seharusnya semua itu masih
tersimpan dengan rapih di dalam sana. Belum terlalu lama sejak Agatha atau yang
selama ini mereka kenal sebagai Rienna bergabung. Mungkin baru sekitar dua
minggu.
“Kau menuduh Rienna
sebagai mata-mata, begitu?” simpul Mike.
“Bisa jadi,” jawab pria
itu.
Immanuel memberikan
jawaban seperti itu, karena pada dasarnya ia juga belum benar-benar tahu. Pria itu
masih ragu. Dia tidak bisa memastikan. Tapi, sejauh ini rasa curiganya terhadap
gadis itu sudah semakin besar. Ada begitu banyak pertanyaan yang selama ini
tersimpan di dalam kepalanya. Tidak ada waktu dan kesempatan untuk menanyakan
hal tersebut secara langsung.
“Bagaimana bisa kau
menyimpulkan hal seperti itu?” tanya Zean.
“Bukankah selama ini
Rienna terlihat normal-normal saja?” imbuhnya.
“Apa kau yakin dengan
perkataanmu barusan?” tanya pria itu balik.
Immanuel
sedang tidak bercanda sekarang. Ia serius. Kalau tidak, mana mungkin ia sampai
mengumpulkan mereka semua untuk datang ke markas seperti ini.