
Untuk sementara waktu
setelah korban berhasil dievakuasi dan dinyatakan meninggal dunia, tempat
kejadian pekara telah diamankan oleh pihak kepolisian. Gedung apartment barunya
itu jadi kerap kali dikunjungi oleh teman-teman satu kantornya. Bukan, bukan
untuk berkunjung ke tempat tinggal barunya. Melainkan untuk memeriksa tempat
tersebut. Mengumpulkan segala bukti dan potensi yang ada untuk mengungkap kasus
tersebut.
Kematiannya cukup
misterius. Sebuah timah panas yang entah datang dari mana langsung menembus
dadanya. Beruntung Agatha tidak menjadi salah satu korbannya. Padahal ia dengan
korban kemarin itu hanya berjarak kurang dari dua meter. Gadis itu hanya merasa
sedikit terguncang. Pasalnya, ia tidak pernah meihat orang lain mati dengan cara
yang kejam seperti itu tepat di hadapannya. Dan semua itu terjadi begitu saja. Begitu
cepat berlalu. Tidak ada pemberitahuan sama sekali, sehingga semua orang merasa
terkejut.
Setelah berita tentang
kejadian penembakan di basement apartment tersebut beberapa hari yang lalu,
pihak apartment mula meningkatkan sistem keamanan mereka. Tidak ada yang mau
kalau sampai kejadian tersebut harus kembali terulang untuk kedua kalinya.
Biarlah ini menjadi tragedi pertama sekaligus tragedi terakhir juga.
***
Sekarang ini Agatha mau
tak mau harus terlibat dalam proses penyelidikan. Bagaimanapun juga ia tidak
bisa melepaskan atau bahkan lari begitu saja dari tanggung jawabnya. Tidak
peduli seperti apa kondisi mentalnya sekarang, selama bekerja hanya satu yang
perlu ia lakukan. Professional. Hanya itu saja, tidak ada yang lain. Ia tidak
perlu memikirkan hal lainnya.
Dengan hanya
bermodalkan kartu pengenal dan juga surat perintah dari kepolisian, Arjuna dan
tim yang ia bawa bersamanya telah berhak untuk menelusuri seluruh tempat ini.
Bahkan sampai bagian terlarang sekali pun. Untuk saat ini tidak semua orang
bisa mengakses tempat-tempat tertentu yang berada di apartment ini. Tapi, hal
sebaliknya justru terjadi pada Arjuna dan timnya.
Posisi mereka saat ini
memberikan akses tak terbatas menuju apa saja. Bukan hanya itu, yang terpenting
tidak ada yang berani membantah atau bahkan melarang perintah mereka untuk saat
ini.
“Coba perlihatkan
kepadaku seluruh rekaman kamera pengawas pada saat kejadian!” perintah Arjuna
pada si teknisi.
“Baiklah, pak!” balas
pria tersebut.
Sesaat setelahnya,
muncullah rekaman dari tiap-tiap kamera pengawas yang terdapat pada layar
monitor terpisah. Untuk saat ini hanya ada empat orang di dalam ruangan pusat
kontrol. Arjuna, Agatha, Jeff dan tentu saja si teknisi. Sementara sisanya
memeriksa di luar.
Mereka semua tampak memasang
wajah serius. Sehingga siapa pun yang mencoba masuk ke dalam ruagan pusat
kontrol pada waktu itu pasti akan ikut terbawa suasananya juga. Energi mereka
mampu mengubah atmosfir di ruangan ini menjadi satu frekuensi dengannya.
Keempatnya mengamati
setiap pergerakan yang muncul di layar monitor dengan seksama. Mendadak
pandangan mereka jadi setajam elang. Memastikan jika tidak ada satu hal pun
yang terlewatkan begitu saja. Tidak peduli tentang seberapa penting hal
tersebut. Semua hal, baik itu penting atu tidak penting, kecil atau besar,
sama-sama memiliki potensi untuk menjadi pemicu kekacauan tersebut.
Beberapa orang sering
kali melewatkan hal kecil begitu saja karena dianggap tidak penting. Padahal di
situlah pelaku memanfaatkan peluang. Mencari titik terlemah semua orang,
kemudian mulai beraksi. Ini adalah trik lama. Semua orang juga pasti sudah
mengetahuinya. Beberapa memang sengaja mengabaikannya, sementara sisanya malah
tidak teliti.
“Apa kalian melihat
sesuatu yang mencurigakan?” tanya Arjuna kepada rekan-rekannya yang lain.
jawab Jeff dengan apa adanya.
“Semuanya tampak
baik-baik saja di sini,” timpal Agatha ikut menambahi.
“Apa anda yakin kalau
setiap tempat yang berada di apartment ini dapat dijangkau oleh kamera
pengawas?” tanya Arjuna.
Kali ini pertanyaannya
ditujukan kepada si teknisi. Setiap harinya pria itu selalu berada di sini
untuk memantau. Bagaimanapun juga, ia pasti tahu setidaknya satu atau dua hal
tentang kamera pengawas yang tersebar di seluruh penjuru ruangan.
“Hanya ini kamera
pengawas yang kami miliki. Aku tidak tau pasti apakah setiap sudut di tempat
ini bisa terjangkau atau tidak,” jelas pria itu dengan panjang lebar.
Jika dilihat dri
ekspresi wajah dan cara bicaranya, ia sama sekali tidak sedang berbohong. Semua
yang ia katakan adalah apa yang terjadi. Tapi, Agatha tidak bisa langsung
percaya begitu saja. Bukankah ekspresi juga bisa menipu. Pada saat seperti
inilah dia tidak bisa mempercayai siapa pun.
Agatha bukan tipikal
orang yang mudah percaya terhadap sesuatu. Dan lebih tepatnya, ia tidak akan
percaya kepada siapa pun dan apa pun itu jika tidak ia buktikan sendiri. Anggap
saja jika ia termasuk kepada salah satu orang yang keras kepala. Tapi terkadang
hal tersebut tidak selalu buruk.
“Apa anda yakin tidak
ada kamera lainnya?” tanya Agatha untuk memastikan.
“Semua rekaman dari
kamera yang ada di sini sudah di tayangkan,” jawab pria tersebut.
“Ada berapa jumlah
kamera pengawas yang tersebar di lantai bawah?” tanya Agatha lagi.
“Jangan bilang kalau
kau tidak tahu. Bukankah kau selalu berada di sini setiap harinya? Kupikir
adalah suatu keharusan bagimu untuk tahu akan hal tersebut,” jelas gadis itu
setelahnya.
Mungkin dia pikir jika
Agatha tidak jauh berbeda dengan petugas yang lainnya. Penjabaran dari si
teknisi itu tadi teasa cukup masuk akal. Tapi, belum mampu untuk membuat Agatha
merasa percaya. Hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi di sini. Pria itu
mengatakan hal yang benar atau salah.
“Apa anda menuduhku
berbohong?” tanya si teknisi itu balik.
“Apa aku ada mengatakan
hal seperti itu sebelumnya?!” tukas Agatha sambil tersenyum tipis.
Gadis itu menghela
napasnya pelan. Kemudian melipat kedua tangannya di depan dada.
“Jadi begini, kau harus
tahu jika kami memerlukan data yang cukup akurat untuk memproses kasus yang
satu ini. Bukan hanya itu saja. Aku juga harus memastikan jika setiap informasi
yang pengakuan yang diberikan oleh para saksi benar adanya. Jika tidak, kalian
bisa dituntut. Saranku jangan pernah bermain-main dengan hukum,” jelas gadis
itu dengan panjang lebar.
“Kalau begitu, sekarang
kau bisa bersikap kooperatif kan?” tegas Agatha sekali lagi.
“Ada sepuluh kamera
pengawas yang tersebar di basement,” ungkap si teknisi sambil memutar bola
matanya dengan malas.
Sesaat setelahnya
Agatha mengangguk paham. Tidak sampai di situ saja. Agatha kemudian mengambil
HT miliknya dari saku. Berusaha untuk membuka komunikasi baru dengan seseorang
di luar sana.
“Bisa tolong periksa
ada berapa total kamera pengawas di bawah?” pinta Agatha.
“Baik!
Aku akan segera mengabarimu sebentar lagi!” balasnya.