The Riot

The Riot
Introgasi



Begitu sampai di


kantor, mereka langsung diarahkan menuju ruang tahanan. Kali ini bukan ruang


tahanan biasa. Mengingat mereka akan mengurung para mafia ini di sini untuk


sementara waktu, jadi tingkat keamanannya harus benar-benar ketat. Tidak ada


yang tahu apa yang akan mereka lakukan. Mereka bisa melarikan diri kapan saja


selama ada kesempatan.


Malam ini Agatha dan


timnya yang lain akan berjaga. Tidak ada yang boleh lengah. Namun, sementara


yang lainnya berada di ruang tahanan, Hiraeth akan diinterogasi lebih dulu.


Lebih tepatnya mereka semua akan diinterogadi secara satu-persatu.


Hiraeth dan Immanuel


akan menjadi orang yang pertama kali diinterogasi pada ruangan khusus. Mereka


berdua ditempatkan pada ruangan berbeda. Tentu saja akan ditangani dengan


petugas yang berbeda pula.


Sang pemimpin harus


berhadapan dengan pemimpin lainnya pula. Lalu begitu seterusnya. Jadi, Hiraeth


akan ditangani langsung oleh Arjuna. Sementara itu Immanuel akan berhadapan


dengan Agatha.


“Jadi, kau adalah


Hiraeth?” tanya Arjuna yang ingin berbasa-basi lebih dulu.


“Senang akhirnya aku


bisa bertemu denganmu secara langsung,” timpalnya kemudian.


Namun, di sisi lain


lawan bicaranya tampak tidak ingin menanggapi. Sejak awal pertama kali


menginjakkan kakinya di ruangan ini, Hiraeth mendadak diam seribu bahasa.


Arjuna tidak tahu apa yang salah. Mustahil jika seorang pimpinan tertinggi


dalam kelompok mafia merasa gugup atau takut saat diinterogasi. Selain itu raut


wajahnya sama sekali tidak menunjukkan hal demikian.


“Sepertinya kau tidak


suka berbasa-basi ya?” tanya Arjua. Entah kenapa pria itu tetap melakukan hal


yang sama, walau tahu pertanyaannya tidak akan pernah dijawab.


“Baiklah, kalau begitu


langsung saja kita mulai interogasinya,” ujar pria itu.


“Kuharap kau mau


bekerja sama denganku untuk kali ini, meski aku tahu jika sebenarnya kita


berada dalam dua pihak yang saling bertentangan satu sama lain,” jelasnya


dengan panjang lebar.


“Jadi, bersikaplah


kooperatif. Setidaknya untuk hari ini saja,” final pria itu.


Arjuna menghela


napasnya dengan kasar. Kemudian membuka lembar pertama laporan miliknya yang


memuat tentang segala informasi Hiraeth. Mulai dari data diri, informasi


pribadi hingga catata kriminalnya.


“Pertama-tama aku akan


bertanya, kenapa kalian bisa memiliki sebuah markas di tempat publik?” tanya


Arjuna sambil mengerutkan dahinya.


Semua orang berubah


jadi lebih serius kali ini. Bahkan Arjuna sampai ikut terbawa suasana. Padahal


ia yang mengubah atmosfir ruangannya.


“Itu adalah bank milik


negara. Tidak semua orang bisa mengakses tempat tersebut. Apalagi orang-orang


berandalan seperti kalian ini,” imbuh Arjuna kemudian.


“Kau pikir semua hal di


dunia ini akan berjalan sesuai dengan kemauanmu?” tanya Hiraeth balik.


“Kau pikir peraturan


yang dibuat akan sepenuhnya diikuti?” tanya Hiraeth lagi.


Arjuna sama sekali


tidak mengerti dengan apa yang ia katakan sampai di sini. Kenapa mendadak ia


jadi bicara ke situ. Sebenarnya yang salah di sini adalah Hiraeth atau Arjuna.


“Tidak perlu


bertele-tele, jawab saja pertanyaanku!” tegas Arjuna sekali lagi.


“Kekuasaan,” jawab pria


itu singkat.


“Orang-orang hanya akan


mendengarkan mereka yang berkuasa,” jelas Hiraeth setelahnya.


“Dan jangan lupa dengan


koneksi. Kau bisa mendapatkan apa pun dengan kedua hal tersebut,” imbuhnya.


“Kalau begitu, apa kau


mengenal direktur perusahaannya?” tanya Arjuna lagi.


koneksi terhadap orang-orang penting yang berpengaruh. Tentulah mereka harus


berkuasa juga. Ia tidak bisa mengandalkan karyawan biasa untuk mengurus semua


ini.


“Pikirkan saja hal itu


sendiri,” jawab Hiraeth secara gamblang.


‘BRAK!!!’


Sudah cukup. Sebaiknya ia


tidak mencoba untuk bermain-main sekarang ini. Bukankah sebelumnya Arjuna sudah


mengingatkan pria itu untuk bersikap kooperatif. Tapi, ia bahkan sama sekali


tidak melaksanakan hal tersebut. Kesabarannya sudah semakin tipis, nyaris habis


mungkin kini.


Jangan kira jika Arjuna


tidak bisa marah. Justru ia adalah orang yang paling mudah terpancing emosinya.


Ada beberapa hal yang tidak bisa ia kendalikan di dalam dirinya sendiri. Salah satunya


adalah emosi. Beberapa orang bahkan menganggapnya sebagai orang yang temperamental.


Kalau lawan bicaranya saat ini tidak bisa diperingati dengan cara yang


baik-baik, maka tidak ada pilihan lain.


“Sikapmu saat ini sama


sekali tidak mencerminkan bagaimana seorang pemimpin yang sesungguhnya. Apa kau


sadar terhadap yang satu itu?” tanya Arjuna dengan maksud menyindir.


“Lalu apakah kau sadar


kalau kau juga melakukan hal yang serupa?” tanya Hiraeth balik.


“Pada dasarnya kita


tidak jauh berbeda,” timpalnya kemudian.


“Aku tidak punya banyak


waktu untuk berbasa-basi denganmu. Kurasa kau juga merasakan hal yang sama.


Seperti yang kau bilang sebelumnya, kalau kita tidak jauh berbeda, bukan?”


jelas Arjuna yang kemudian diakhiri dengan sebuah pertanyaan.


“Lalu apa yang ingin


kau lakukan sekarang?” tanya pria itu balik.


“Cukup jawab saja semua


pertanyaanku dengan sungguh-sungguh. Setelahnya kau bisa kembali dan urusan


kita akan segera selesai,” jelas Arjuna dengan panjang lebar.


“Tidak, urusan kita


tidak akan pernah selesai!” celetuk pria itu. Namun, tidak ada yang


menanggapinya sama sekali. Kasihan.


Setelah melalui begitu


banyak rintangan yang cukup menguji kesabaran pria ini, pada akhirnya Arjuna


selesai juga menanyakan semua pertanyaan itu. Dan yang terpenting, Hiraeth


telah menjawab semuanya. Terlepas dari apakah jawaban yang ia berikan itu


sungguh-sungguh atau hanya berniat untuk mengelabui.


“Kuucapkan terima kasih


atas kerja samamu,” ucap Arjuna sembari menyudahi sesi interogasi mereka kali


ini.


“Sekarang kau bisa


kembali ke sel tahananmu. Sipir kami akan mengantarmu ke sana,” jelas pria itu.


Tak lama kemudian


setelah Arjuna berkata seperti itu, ada dua orang pria yang masuk ke dalam


ruangan. Pasti ini adalah sipir yang ia maksud barusan. Tenang saja, batas


keamanan mereka tidak hanya sampai di situ saja. Ada banyak lagi personil yang


berjaga di luar pintu masuk. Lengkap dengan segala jenis persenjataan. Untuk berjaga-jaga


kalau Hiraeth dan yang lainnya berhasil mengambil celah untuk kabur.


“Pria itu benar-benar


membuatku kelimpungan,” gumam Arjuna pada dirinya sendiri.


Ia sama sekali tidak


beranjak dari ruangan interogasi. Setelah Hiraeth pergi, pria itu kembali ke


tempat duduknya. Membereskan semua berkas dan memastikan kalau ia sudah


mendapatkan semua hal yang diperlukan. Sesekali pria itu juga memijat


pelipisnya pelan. Beban pekerjaan akhir-akhir ini berhasil membuatnya


kekurangan jam tidur. Jangan tanyakan lagi soal tekanan pekerjaannya. Sudah pasti


berat. Belum lagi jika mereka menangani kasus yang cukup besar.


Sejak


pertama kali bekerja di sini, Arjuna merasa baru sekarang lah seluruh tenaganya


terkuras habis untuk menyelesaikan satu misi. Ini pun belum benar-benar


selesai. Walau misi penyergapannya sudah berjalan sesuai dengan rencana, tapi


tetap saja kasusnya belum benar-benar rampung. Mereka bahkan baru mengerjakan


setengahnya. Masih ada setengah lagi yang perlu dibereskan dengan cepat jika


tidak mau sampai menumpuk.