
‘TAP! TAP! TAP!’
Sekarang memang masih
pukul tujuh malam. Belum terlalu larut. Bahkan sepertinya beberapa orang baru
saja sampai di rumahnya setelah melalui jalanan dengan kondisi lalu lintas yang
tidak lancar sama sekali. Namun, di beberapa tempat malah terlihat sangat sepi.
Seperti tidak ada kehidupan. Sangking sepinya, bahkan suara kecil pun jadi
terdengar lebih nyaring dari pada biasanya.
Seperti suara langkah
kaki yang menggema di seluruh penjuru ruangan itu tadi. Kebisingan kecil itu
mulai muncul ketika pintu lift terbuka. Seorang wanita dengan sepatu heels
berukuran 5 cm tampak berjalan melintasi lorong sepi itu sendirian. Dia sama
sekali tidak merasa takut. Bahkan jika ada hantu atau kejadian aneh yang muncul
di hadapannya pun sepertinya ia akan mengabaikannya begitu saja. Tidak ingin
ambil pusing soal hal yang tidak terlalu penting.
Dengan percaya diri ia
menembus lorong yang minim akan cahaya tersebut. Bersama dengan suara telapak
sepatu yang menghantam permukaan lantai. Wanita itu membawa tas jinjing mini di
tangan kirinya. Cukup untuk menaruh beberapa barang yang tidak terlalu besar di
dalamnya. Setelan merah miliknya tampak menyala di dalam gelap.
Sampai pada akhirnya
suara itu tiba-tiba saja menghilang. Wanita tersebut menghentikan langkahnya
tepat di depan semuah pintu kamar. Dia memperhatikan nomer yang tertulis di
depannya dengan baik-baik. Kemudian mengecek ponselnya. Ia hanya ingin
memastikan apalah benar itu tempat tujuannya atau tidak.
“Kamar nomer 345,”
gumam wanita itu.
Tanpa pikir panjang
lagi, ia segera mendorong pintunya agar terbuka. Kedua sudut bibirnya lantas
terangkat dengan sempurna ketika ia mendapatkan apa yang diinginkan. Tampak di
sudut ruangan seorang gadis tengah terbaring di atas kasur dengan selang infus
yang terhubung ke salah satu lengannya.
“Jadi mereka
membiarkanmu di sini sendirian?”
“Kasihan sekali.”
Dengan perlahan wanita
itu menutup pintu ruangannya. Hampir saja ia melupakan satu hal yang cukup
penting. Ia harus mengunci pintu itu juga untuk sebuah jaminan akan keamanan
ekstra. Setidaknya dia akan memiliki pertahanan ganda jika mengunci pintunya
dengan baik. Orang lain tidak akan mudah masuk ke dalam saat ia sedang berada
di sana.
Wanita berbaju merah
itu berjalan dengan anggun menuju kasur. Berniat untuk menghampiri seorang
gadis yang tengah terbaring di sana. Lagi-lagi ia kembali menghentikan
langkahnya setelah sampai. Tas yang berwarna selaras dengan pakaiannya hari ini
ia letakkan di atas nakas.
“Dasar gadis nakal!”
geramnya sambil mengepal kedua telapak tangannya kuat-kuat.
“Kalau saja kau tidak
ikut campur soal kehidupanku dan mengacaukan semuanya, maka aku pasti tidak
akan bersikap kasar kepadamu,” ujarnya dengan lemah lembut. Namun, emosinya
masih tetap terasa.
“Kenapa kau masih hidup
sekarang? Bukankah seharusnya sekarang kau sudah berada di ruangan mayat?”
sarkasnya.
Wanita itu melipat
kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang sedikit terangkat. Cukup untuk
menonjolkan sikap angkuh yang ia miliki. Bahkan tanpa berpose seperti itu pun,
orang-orang sudah tahu kalau dia bukan orang yang ramah dengan semua orang. Raut
wajahnya sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut.
“Sial! Kenapa kau
selalu bisa lolos dari maut?!” ucapnya dengan kesal.
“Sebenarnya malaikat
macam apa yang melindungimu selama ini sampai-sampai kau bisa bertahan hingga
sekarang?!” protes wanita itu.
“Agatha,” finalnya.
masih aman. Wanita itu belum ada melakukan sesuatu yang gila. Dia hanya berdiri
di sana sambil menatap seorang gadis yang selama ini mereka sebut sebagai
Agatha itu.
“Aku sampai kehabisan
akal untuk menghabisimu,” gumamnya sambil tertawa singkat.
Meski ia berkata
seperti itu, wanita berbaju merah tersebut sama sekali tidak kehabisan akal.
Jangan pernah berpikir kalau ia akan menyrah secepat itu. Dia tidak akan pernah
berhenti sampai mendapatkan apa yang ia mau. Ambisinya terlalu besar. Ia sangat
bersemangat dengan semua rencana itu.
Wanita itu datang
kemari bukan tanpa alasan. Dia tidak ingin membuang-buang waktunya untuk hal
yang tidak penting. Apalagi jika hanya untuk mengurusi anak ingusan seperti
ini.
“Sepertinya sekarang
sudah waktunya, bukan?” tanya wanita itu kepada dirinya sendiri.
Ia mengalihkan
perhatiannya dari Agatha dan sibuk merogoh sesuatu di dalam tasnya. Entah apa
yang sedang ia cari. Tapi, kelihatannya sangat penting.
“Kuharap kau suka
dengan kejutanku yang kali ini,” ujarnya sambil menyeringi tajam.
Tanpa pikir panjang,
wanita itu tampak mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam tas miliknya. Benda tersebut
sudah diisi dengan sebuah cairan bening. Yang jelas bukan obat. Lalu dengan
perlahan namun pasti, ia menyuntikkan cairan tersebut ke dalam kantong infus
milik Agatha. Tidak akan ada yang tahu kalau seseorang telah mencoba untuk
mencampurkan sesuatu ke dalam cairan infus tersebut. Sebab warnanya sama saja. Nyaris
tidak ada perbedaan dengan sebelum dan yang sesudahnya.
Namun, belum sempat ia
menghabiskan cairan di dalamnya, mendadak sebuah tangan mencegahnya untuk
bertindak lebih jauh lagi. Ya, memangnya siapa lagi jika bukan Agatha. Hanya ada
mereka berdua di ruangan itu. Jangan lupa kalau gadis itu pada dasarnya tidak
kenapa-kenapa. Ia hanya baru pingsan sana beberapa jam lalu. Sekarang
sepertinya tenaganya sudah terkumpul kembali. Cukup untuk menghabisi orang ini.
Dengan cepat gadis itu
segera merebut suntikan tersebut. Kemudian mendorong tubuh wanita itu sampai ia
kehilangan keseimbangan dan berakhir dengan tersungkur di lantai. Agatha juga
tidak lupa untuk menghentikan aliran dari kantong infus menuju selangnya dengan
cara melepaskan botol tersebut. Gadis itu tidak bisa asal mencabut jarum yang
menancap di tangannya dengan begitu saja.
“Siapa kau?! Dan apa
yang kau lakukan di sini!” seru Agatha lalu bangkit dari tempat tidurnya.
Di saat yang bersamaan
pula wanita itu segera bangkit. Ia berniat untuk menyerang sekaligus merebut
suntik tersebut dari tangan Agatha. Namun, sayangnya hasilnya nihil. Sepertinya
ia belum pernah berhadapan langsung dengan gadis ini. Sampai-sampai ia tidak
tahu kalau Agatha memiliki gerakan refleks yang memang sebagus itu. Jangan lupa
hal terpentingnya, kalau ia juga jago bela diri.
‘BRAKK!!!’
Lagi-lagi Agatha berada
pada posisi yang jauh lebih unggul. Gadis itu menghempaskan tubuhnya wanita
berbaju merah dengan begitu mudahnya. Seperti
tidak ada beban sama sekali. Di sisi lain, wanita itu harus menabrak tempat
tidur karena tidak mampu mempertahankan keseimbangannya.
“Sial!” umpat si wanita
berbaju merah.
“Sepertinya kau datang
ke orang yang salah nona,” ungkap Agatha sambil menatapnya dengan kasihan.
Bagaimana
ia tidak merasa kasihan. Lihat saja bagaimana keadaan lawannya sekarang. Tubuhnya
begitu ringkih sampai-sampai Agatha tidak perlu mengeluarkan terlalu banyak
tenaga untuk melawannya. Ia bahkan sama sekali tidak terlihat seperti orang
yang mampu melakukan bela diri.