The Riot

The Riot
Terkuak



Ada beberapa hal yang


memang tidak sebaiknya diketahui oleh diri kita sendiri. Terkadang lebih baik


tidak tahu sama sekali. Tidak ada yang pernah tahu apa yang akan terjadi ke


depannya. Bukankah manusia tidak bisa memastikan apa pun di dalam hidup mereka.


Sepertinya sampai sini


Agatha sudah melangkah terlalu jauh. Dia gagal mengendalikan rasa ingin tahu


yang berujung dengan kekecewaan. Tidak seharusnya Agatha mengetahui semua ini.


Memang tidak perlu tahu. Karena itu bukan urusannya sama sekali. Tapi,


bagaimanapun itu Agatha tetap tidak bisa menyalahkan dirinya sendiri. Ini bukan


kesalahannya sepenuhnya. Takdir juga ikut ambil alih di sini. Semuanya terjadi


tanpa di sengaja sama sekali.


Jadi, begini


kejadiannya. Kemarin Agatha pergi ke salah satu café untuk menghabiskan waktu


dengan dirinya sendiri. Biarpun manusia adalah mahluk sosial, mereka juga perlu


waktu untuk berdamai dengan dirinya sendiri. Hal itu wajar. Siapa saja bisa


melakukannya. Tapi memangnya siapa yang menyangka jika Arjuna akan berada di


tempat yang sama juga. Bukan hanya itu saja kejutannya. Ia juga tidak sengaja


bertemu dengan Zura. Lebih tepatnya Arjuna dan Zura berada pada satu meja yang


sama. Tempatnya tidak terlalu jauh dari meja Agatha. Sehingga gadis itu masih


bisa mendengar semua percakapan mereka.


“Apa kau sudah


berpacaran dengan Agatha?”


“Tentu saja tidak.


Bicara apa kau ini? Hal itu mana mungkin terjadi.”


“Tapi, semakin ke sini


aku melihat kalian berdua semakin dekat setiap harinya.”


“Ayolah! Itu hanya


karena kami berada di tim yang sama.”


“Bukankah kau yang


berhak untuk memasukkan serta mengeluarkan siapa saja yang pantas dan tidak


pantas untuk berada di timmu?”


“Ya, aku memang bisa


melakukannya.”


“Lantas kenapa kau


masih membiarkan Agatha berada di tim itu?”


“Karena dia bisa


diandalkan. Semua orang juga tahu kalau kau harus bersikap professional ketika


berada di lingkungan kerja. Dan itulah yang sedang kulakukan untuk saat ini.”


“Ku kira kau sudah


mulai jatuh hati kepadanya dan memilih untuk berpacaran dengannya.”


“Tentu saja tidak.


Bagaimana bisa aku menginggalkanmu?”


“Tidak ada yang tahu.


Kau bisa melakukan apa saja yang kau mau.”


“Dengar! Agatha memang


cantik. Aku mengakuinya. Namun, kau lebih dari semua itu. Zura, kau nyaris


mendekati kata sempurna. Asal kau tahu saja!”


“Aku tidak bisa percaya


dengan semua itu, kecuali jika kau berjanji.”


“Baiklah, janji seperti


apa?”


“Berjanjilah untuk


tidak meninggalkanku dalam situasi apa pun.”


“Aku janji!”


“Jangan coba-coba untuk


selingkuh. Aku tidak suka hal murahan seperti itu. Kau tahu jika aku tidak suka


berbagi milikku dengan orang lain, bukan?”


“Kau juga tahu kalau


aku begitu juga kan?”


Untuk saat ini tidak


ada hal lain yang jauh lebih penting dari pada rasa percaya antara satu sama


lain. Karena pada dasarnya sebuah hubungan dibangun dari dua insan yang saling


berkomitmen. Jika salah satunya memutuskan untuk pergi, maka kisahnya tamat


berakhir begitu saja. Sia-sia.


***


Agatha mendengar


semuanya. Ya, semua. Dari awal sampai akhir. Tidak ada satu poin pun yang


terlewatkan di sini. Jarak Agatha dengan mereka berdua bahkan kurang dari satu


meter. Agatha dan Zura duduk pada kursi yang berbeda. Namun memiliki satu


sandaran yang sama. Tubuh keduanya hanya terhalang oleh sekat tersebut.


Gadis itu mengepalkan


kedua tangannya kuat-kuat karena merasa geram. Ia sama sekali tidak habis


pikir. Bagaimana bisa seseorang yang selama ini sudah ia anggap sebagai


sahabatnya, malah bersikap demikian. Begitu pula dengan Arjuna. Sedikit banyaknya


ia mulai percaya kepada pria itu. Bahkan soal buku harian beberapa waktu lalu,


Agatha sempat menganggapnya serius. Ia kira Arjuna sungguh menaruh hati


kepadanya. Ternyata tidak sama sekali.


Semua itu hanya


skenario belaka. Tidak ada yang benar-benar nyata. Seharusnya sejak awal Agatha


tidak perlu percaya. Bukankah orang-orang sudah berkali-kali memberinya


peringatan untuk tidak percaya kepada orang lain selain dirinya sendiri. Itu


adalah aturan yang harus kau patuhi jika ingin tetap bertahan hidup di dunia


yang kejam ini. Tapi, sepertinya gadis itu mengabaikannya dengan begitu saja.


Dia tidak terlalu peduli.


Penyesalan memang


selalu datang di akhir. Kalau di awal, itu permulaan namanya. Tapi, meski


merasa menyesal telah memberikan kepercayaan kepada orang seperti mereka,


Agatha merasa kalau ini baru permulaannya. Orang pertama yang mencari masalah


lebih dulu adalah Arjuna dan Zura. Mereka sudah keterlaluan. Tindakan ini tidak


bisa dimaafkan lagi.


Lagi-lagi, benar kata


orang-orang itu. Jangan mencintai seseorang terlalu dalam. Mungkin suatu hari


nanti dia akan menjadi orang yang paling kau benci. Semua itu menjadi nyata


sekarang. Layaknya seperti sebuah kutukan.


“Mulai sekarang aku


tidak akan percaya kepada siapa pun lagi. Terutama orang seperti kalian berdua!”


geram Agatha sambil meremas tangannya.


Andai saja jika ini


bukan tempat umum. Dan andai saja ia bukan salah satu bagian dari aparat


penegak keadilan. Yang terpenting, andai saja jika ia tidak akan mendapatkan


masalah apa puns etelah mengabisi orang, mungkin sekarang Zura dan Arjuna sudah


habis di tangannya. Mungkin ia terlihat lemah. Orang-orang tidak akan percaya


kalau Agatha bisa melawan Arjuna dengan tubuhnya yang kecil seperti itu. Kali


ini bukan soal kekuatan atau bahkan taktik lagi. Melainkan soal keyakinan. Kau bisa


melakukan apa pun itu. Kuncinya hanya satu, yaitu yakin.


Pembalasan dendam


dimulai tepat pada hari ini. Semuanya benar-benar berubah setelah Arjuna dan


Zura membeberkan segala faktanya secara sukarela. Senang bisa bekerja sama


dengan mereka. Setidaknya sekarang Agatha tidak akan tertipu lagi untuk yang


kedua kalinya. Mereka memang tidak bisa menjaga kepercayaan.


“Kalian sudah memulai


permainannya lebih dulu. Jadi, akan kulanjutkan sisanya,” gumam Agatha.


Suasana hatinya


memburuk setelah ia sampai di café. Lebih tepatnya sejak semua bukti itu


terkuak terang-terangan. Gadis itu mulai terbawa dengan suasana. Tapi,


untungnya Agatha buru-buru memesan minuman coklat panas. Setidaknya ia tidak


perlu merasa buruk lagi. Suasana hatinya akan jauh lebih baik setelah ia


mengonsumsi coklat.


Arjuna


bukan lagi orang yang ia cintai sekarang. Rasa itu sudah berakhir. Bersamaan dengan


terungkapnya kebenaran. Memang benar jika kebenaran akan selalu menang. Mereka selalu


berada pada posisi tertinggi. Jauh lebih unggul dari pada kebohongan dan segala


hal licik lainnya. Walau terkadang terasa menyakitkan, tapi bukankah kita harus


tetap menerimanya. Apa pun itu.