
Sepertinya Liora belum
benar-benar mengenal calon anak tirinya yang satu ini. Sampai-sampai ia
mengirimkan orang yang salah. Pria itu bahkan sudah terjatuh pada langkah
pertamanya saat menghadapi Agatha.
Gadis itu menyugar
rambutnya untuk memperjelas pandangannya. Beberapa anak rambut terlihat
menghalangi pandangannya. Ia terlihat tidak begitu fokus karena hal tersebut.
“Ayo, bangkit!” seru
gadis itu sambil memprovokasi.
Tak lama setelahnya
tanpa pikir panjang, Agatha langsung pergi ke arah sebuah kotak yang terdapat
di salah satu sisi dinding. Itu bukan kota biasa. Di dalamnya ada sebuah tombol
darurat. Siapa saja bisa menekannya jika sedang terjebak dalam kondisi yang
tidak aman. Maka bantuan akan segera datang.
Namun, tidak
disangka-sangka sama sekali. Pria itu buru-buru bangkit dari posisinya yang
sedang terduduk di lantai begitu melihat kesempatan di depan mata. Ini adalah
peluang besar. Agatha mengalihkan pandangannya dari pria itu saat hendak meraih
tombol darurat. Ia sama sekali tidak menyadari kalau bahaya tengah datang ke
arahnya.
Si kurir palsu tersebut
langsung bangkit dan memukul kepala bagian belakang Agatha dengan sekuat
tenaga. Sontak gadis itu langsung tumbang seketika pada saat salah satu titik
terlemahnya di serang. Titik terlemah semua orang lebih tepatnya. Siapa saja
pasti akan langsung hilang kesadaran jika dihabisi dengan cara seperti itu.
“Haha! Ternyata kau
tidak benar-benar sekuat itu,” cecar pria tersebut.
Salah satu sudut
bibirnya terangkat. Membuat sebuah senyuman miring terpatri di wajahnya.
Ditambah dengan sorot matanya yang terlihat sinis. Semakin menambah kesan
angkuh pada si kurir palsu itu tadi.
Meski sudah tergeletak
di lantai dengan tidak berdaya, Agatha belum sepeuhnya pingsan. Orang-orang
menganggapnya sebagai manusia kuat. Ya, Agatha bukan gadis biasa. Buktinya
beberapa saat lalu saat diracuni saja, ia bisa bertahan selama beberapa menit
sebelum pada akhirnya di bawa ke rumah sakit. Padahal menurut penuturan dokter
orang lain pada umumnya akan langsung roboh di tempat. Tepat pada saat itu
juga. Apalagi kalau dosis racunnya tergolong tinggi.
Hari ini keberuntungan
masih memihak kepada gadis itu meski hanya tinggal sedikit. Setidaknya
kesadarannya belum benar-benar hilang. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia sudah
tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Kepalanya benar-benar pusing.
Pengelihatannya bahkan sudah tidak terlalu jelas. Untuk melihat objek yang
berada tepat di depan matanya saja ia tidak bisa.
Tapi, bukan Agatha
namanya kalau tidak ambisius. Selama masih bisa diusahakan, maka ia akan
melakukannya. Dengan segenap sisa tenaga yang ada, dia berusaha untuk
merangkak. Namun, segera ditarik kembali oleh pria itu. Dia sudah berhasil
menyerang Agatha sebelum gadis itu sempat menekan tombol darurat. Tapi,
seharusnya kamera pengawas telah merekam semua kejadian ini.
“Jadi, kau masih berani
untuk melawan?!” tanya pria itu sambil menjambak rambut Agatha.
Dengan mata yang tampak
setengah tertutup, ia meringis kesakitan. Sial. Jika saja ia tidak merasa
pusing seperti ini, pasti Agatha sudah menghabisinya. Tidak perlu pusing-pusing
lagi.
“Lihat saja akibatnya
nanti!” ucap Agatha dengan penuh penekanan.
Mendengar kalimat
tersebut, pria itu lantas tertawa keras. Ia pikir ancaman seperti ini berlaku
untuknya. Tidak sama sekali. Apalagi setelah dilihat-lihat, kondisi Agatha kini
sangat tidak memungkinkan baginya untuk menyerang orang lain. Satu-satunya hal
yang bisa dilakukan adalah pasrah.
Mungkin untuk beberapa
diam sambil mengumpulkan kembali tenaga dan konsentrasinya. Tidak lupa juga
untuk memikirkan rencana pelarian diri yang paling efektif.
***
Agatha tidak pernah
benar-benar pingsan selama perjalanan. Dia hanya sedang memejamkan mata. Namun,
sebenarnya ia masih terjaga. Bahkan indera pendengarannya pun masih kelihatan
berfungsi dengan baik. Gadis itu bisa mendengar semua obrolan yang terjadi
antara pria itu dengan seseorang di tempat lain melalui telepon seluler.
“Aku sudah berhasil
untuk mendapatkannya bos!”
“Kerja bagus! Sekarang
bawa dia ke tempat yang sudah kukatakan tadi.”
“Baiklah.”
Tepat setelah sambungan
teleponnya terputus, pria itu langsung menambah kecepatan kendaraannya.
Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk segera pergi ke sana. Agatha tak tahu
akan dibawa pergi kemana dirinya. Tapi, yang jelas itu pasti tempat yang cukup
tersembunyi dari publik.
Beberapa menit setelahnya,
Agatha kembali merasakan sesuatu. Mobil ini berhenti. Tampaknya mereka sudah
sampai, sehingga pria itu menepikan kendaraannya. Dan yang benar saja. Ternyata
dugaannya tidak salah. Satu detik setelah kendaraan tersebut mematikan
mesinnya, ia dibawa keluar dengan cara dibopong. Sementara itu di sisi lain
Agatha masih berpura-pura pingsan. Padahal asal ia tahu saja jika gadis itu
tengah mengamati situasi dengan mengandalkan seluruh inderanya. Kecuali indera
pengelihatan.
Dengan hati-hati gadis
itu membuka salah satu kelopak matanya. Meski hanya segaris, setidaknya ia bisa
melihat sesuatu yang berada di luar sana dengan jelas. Agatha tidak bisa
menebak sedang berada di mana ia sekarang, kecuali dengan cara melihat. Hanya
itu yang benar-benar pasti.
“Sial! Mau dibawa
kemana aku?” batin gadis itu dalam hati.
Jika dilihat dari
kondisi sekitarnya, tempat ini tampak begitu sepi. Jauh dari pusat keramaian. Pasti
terletak di tepi kota. Sehingga tidak banyak yang tahu. Termasuk Agatha. Ia
sendiri bahkan tidak tahu dimana lokasinya. Ia belum pernah berkunjung ke sini
sama sekali. Sepertinya ini adalah yang pertama kalinya.
“Pasti aku akan
disekap,” asumsinya.
Itu bukan hanya sekedar
dugaan lagi. Tapi, sudah pasti. Memangnya untuk apa ia dibawa ke sini jika
bukan untuk disekap.
Jika dipikir-pikir
sekali lagi, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri. Tidak
ada siapa-siapa di sini. Hanya mereka berdua. Lagi pula kekuatan Agatha
setidaknya sudah kembali lebih dari setengahnya. Ia sudah tak terlalul pusing
lagi sekarang.
Ini adalah kesempatan
yang bagus untuk menyerang lagi. Agatha sudah berhasil mengelabui pria itu
sejauh ini. Ia pasti mengira jika Agatha masih pingsan. Padahal hal tersebut
tidak pernah terjadi sama sekali. Ia hanya berpura-pura.
Tanpa
pikir panjang lagi, Agatha langsung meraih sebuah balok kayu yang terdapat di
sebelah kanannya. Kemudian secepat kilat ia melayangkan benda tersebut ke arah
bagian perut pria itu. Hingga menghantamnya dengan cukup kuat. Setelah berhasil
terlepas dari cengkraman pria itu tadi, Agatha tidak langsung pergi begitu saja.
Dia perlu memastikan sekali lagi kalau pria itu benar-benar tidak berdaya
sebelum melarikan diri. Sehingga satu pukulan lagi menghantam tepat pada bagian
kepala belakangnya. Agatha telah membalas perbuatan pria itu tadi. Dia pantas
untuk menerima hal tersebut. Mereka bilang, orang-orang harus membayar harga
yang sesuai untuk sebuah kesalahan. Anggap saja sekarang jika mereka sudah
impas.