The Riot

The Riot
Dizzy



Sepertinya Liora belum


benar-benar mengenal calon anak tirinya yang satu ini. Sampai-sampai ia


mengirimkan orang yang salah. Pria itu bahkan sudah terjatuh pada langkah


pertamanya saat menghadapi Agatha.


Gadis itu menyugar


rambutnya untuk memperjelas pandangannya. Beberapa anak rambut terlihat


menghalangi pandangannya. Ia terlihat tidak begitu fokus karena hal tersebut.


“Ayo, bangkit!” seru


gadis itu sambil memprovokasi.


Tak lama setelahnya


tanpa pikir panjang, Agatha langsung pergi ke arah sebuah kotak yang terdapat


di salah satu sisi dinding. Itu bukan kota biasa. Di dalamnya ada sebuah tombol


darurat. Siapa saja bisa menekannya jika sedang terjebak dalam kondisi yang


tidak aman. Maka bantuan akan segera datang.


Namun, tidak


disangka-sangka sama sekali. Pria itu buru-buru bangkit dari posisinya yang


sedang terduduk di lantai begitu melihat kesempatan di depan mata. Ini adalah


peluang besar. Agatha mengalihkan pandangannya dari pria itu saat hendak meraih


tombol darurat. Ia sama sekali tidak menyadari kalau bahaya tengah datang ke


arahnya.


Si kurir palsu tersebut


langsung bangkit dan memukul kepala bagian belakang Agatha dengan sekuat


tenaga. Sontak gadis itu langsung tumbang seketika pada saat salah satu titik


terlemahnya di serang. Titik terlemah semua orang lebih tepatnya. Siapa saja


pasti akan langsung hilang kesadaran jika dihabisi dengan cara seperti itu.


“Haha! Ternyata kau


tidak benar-benar sekuat itu,” cecar pria tersebut.


Salah satu sudut


bibirnya terangkat. Membuat sebuah senyuman miring terpatri di wajahnya.


Ditambah dengan sorot matanya yang terlihat sinis. Semakin menambah kesan


angkuh pada si kurir palsu itu tadi.


Meski sudah tergeletak


di lantai dengan tidak berdaya, Agatha belum sepeuhnya pingsan. Orang-orang


menganggapnya sebagai manusia kuat. Ya, Agatha bukan gadis biasa. Buktinya


beberapa saat lalu saat diracuni saja, ia bisa bertahan selama beberapa menit


sebelum pada akhirnya di bawa ke rumah sakit. Padahal menurut penuturan dokter


orang lain pada umumnya akan langsung roboh di tempat. Tepat pada saat itu


juga. Apalagi kalau dosis racunnya tergolong tinggi.


Hari ini keberuntungan


masih memihak kepada gadis itu meski hanya tinggal sedikit. Setidaknya


kesadarannya belum benar-benar hilang. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia sudah


tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Kepalanya benar-benar pusing.


Pengelihatannya bahkan sudah tidak terlalu jelas. Untuk melihat objek yang


berada tepat di depan matanya saja ia tidak bisa.


Tapi, bukan Agatha


namanya kalau tidak ambisius. Selama masih bisa diusahakan, maka ia akan


melakukannya. Dengan segenap sisa tenaga yang ada, dia berusaha untuk


merangkak. Namun, segera ditarik kembali oleh pria itu. Dia sudah berhasil


menyerang Agatha sebelum gadis itu sempat menekan tombol darurat. Tapi,


seharusnya kamera pengawas telah merekam semua kejadian ini.


“Jadi, kau masih berani


untuk melawan?!” tanya pria itu sambil menjambak rambut Agatha.


Dengan mata yang tampak


setengah tertutup, ia meringis kesakitan. Sial. Jika saja ia tidak merasa


pusing seperti ini, pasti Agatha sudah menghabisinya. Tidak perlu pusing-pusing


lagi.


“Lihat saja akibatnya


nanti!” ucap Agatha dengan penuh penekanan.


Mendengar kalimat


tersebut, pria itu lantas tertawa keras. Ia pikir ancaman seperti ini berlaku


untuknya. Tidak sama sekali. Apalagi setelah dilihat-lihat, kondisi Agatha kini


sangat tidak memungkinkan baginya untuk menyerang orang lain. Satu-satunya hal


yang bisa dilakukan adalah pasrah.


Mungkin untuk beberapa


diam sambil mengumpulkan kembali tenaga dan konsentrasinya. Tidak lupa juga


untuk memikirkan rencana pelarian diri yang paling efektif.


***


Agatha tidak pernah


benar-benar pingsan selama perjalanan. Dia hanya sedang memejamkan mata. Namun,


sebenarnya ia masih terjaga. Bahkan indera pendengarannya pun masih kelihatan


berfungsi dengan baik. Gadis itu bisa mendengar semua obrolan yang terjadi


antara pria itu dengan seseorang di tempat lain melalui telepon seluler.


“Aku sudah berhasil


untuk mendapatkannya bos!”


“Kerja bagus! Sekarang


bawa dia ke tempat yang sudah kukatakan tadi.”


“Baiklah.”


Tepat setelah sambungan


teleponnya terputus, pria itu langsung menambah kecepatan kendaraannya.


Sepertinya ia sudah tidak sabar untuk segera pergi ke sana. Agatha tak tahu


akan dibawa pergi kemana dirinya. Tapi, yang jelas itu pasti tempat yang cukup


tersembunyi dari publik.


Beberapa menit setelahnya,


Agatha kembali merasakan sesuatu. Mobil ini berhenti. Tampaknya mereka sudah


sampai, sehingga pria itu menepikan kendaraannya. Dan yang benar saja. Ternyata


dugaannya tidak salah. Satu detik setelah kendaraan tersebut mematikan


mesinnya, ia dibawa keluar dengan cara dibopong. Sementara itu di sisi lain


Agatha masih berpura-pura pingsan. Padahal asal ia tahu saja jika gadis itu


tengah mengamati situasi dengan mengandalkan seluruh inderanya. Kecuali indera


pengelihatan.


Dengan hati-hati gadis


itu membuka salah satu kelopak matanya. Meski hanya segaris, setidaknya ia bisa


melihat sesuatu yang berada di luar sana dengan jelas. Agatha tidak bisa


menebak sedang berada di mana ia sekarang, kecuali dengan cara melihat. Hanya


itu yang benar-benar pasti.


“Sial! Mau dibawa


kemana aku?” batin gadis itu dalam hati.


Jika dilihat dari


kondisi sekitarnya, tempat ini tampak begitu sepi. Jauh dari pusat keramaian. Pasti


terletak di tepi kota. Sehingga tidak banyak yang tahu. Termasuk Agatha. Ia


sendiri bahkan tidak tahu dimana lokasinya. Ia belum pernah berkunjung ke sini


sama sekali. Sepertinya ini adalah yang pertama kalinya.


“Pasti aku akan


disekap,” asumsinya.


Itu bukan hanya sekedar


dugaan lagi. Tapi, sudah pasti. Memangnya untuk apa ia dibawa ke sini jika


bukan untuk disekap.


Jika dipikir-pikir


sekali lagi, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri. Tidak


ada siapa-siapa di sini. Hanya mereka berdua. Lagi pula kekuatan Agatha


setidaknya sudah kembali lebih dari setengahnya. Ia sudah tak terlalul pusing


lagi sekarang.


Ini adalah kesempatan


yang bagus untuk menyerang lagi. Agatha sudah berhasil mengelabui pria itu


sejauh ini. Ia pasti mengira jika Agatha masih pingsan. Padahal hal tersebut


tidak pernah terjadi sama sekali. Ia hanya berpura-pura.


Tanpa


pikir panjang lagi, Agatha langsung meraih sebuah balok kayu yang terdapat di


sebelah kanannya. Kemudian secepat kilat ia melayangkan benda tersebut ke arah


bagian perut pria itu. Hingga menghantamnya dengan cukup kuat. Setelah berhasil


terlepas dari cengkraman pria itu tadi, Agatha tidak langsung pergi begitu saja.


Dia perlu memastikan sekali lagi kalau pria itu benar-benar tidak berdaya


sebelum melarikan diri. Sehingga satu pukulan lagi menghantam tepat pada bagian


kepala belakangnya. Agatha telah membalas perbuatan pria itu tadi. Dia pantas


untuk menerima hal tersebut. Mereka bilang, orang-orang harus membayar harga


yang sesuai untuk sebuah kesalahan. Anggap saja sekarang jika mereka sudah


impas.