
Tanpa
berpikir panjang lagi, mereka segera mengecek rekaman kamera pengawasnya. Dan yang
benar saja. Ada seorang pria dengan pakaian serba tertutup yang sengaja
melemparkan batu ke dalam ruangan ini. Sepertinya ia memang bermaksud untuk
membuat kekacauan sejak awal. Tidak ada yang tahu apa motif serta tujuan
utamanya.
“Tingginya
sekitar 180 cm,” ujar Arjuna.
Meski
tebakannya belum tentu benar, tapi setidaknya sudah hampir mendekati. Jika
dipikir-pikir lagi, dugaannya masih tergolong masuk akal.
“Tapi,
kenapa ia datang kemari dan membuat kekacauan seperti ini?” lanjutnya.
Gadis
itu mengalihkan pandangannya dari layar komputer. Menatap kedua manik hitambak
obsidian milik Arjuna. Ia berharap bisa
menemukan jawaban dari pertanyaan pria itu barusan. Meskipun kecil kemungkinan
jika Arjuna tahu jawabannya.
“Orang-orang
zaman sekarang sepertinya tidak memiliki pekerjaan yang jauh lebih penting,”
gumam Agatha dengan nada sedikit menyindir.
Ia
tidak pernah benar-benar tahu kepada siapa kalimat tersebut ditujukan. Yang
jelas, Agatha hanya ingin mengungkapkan isi hatinya saja pada saat itu.
Entah
kenapa dirinya terlihat begitu tenang. Sementara orang lain bersikap sebaliknya
karena mengetahui tempat mereka bekerja barusaja mendapatkan serangan. Ini
bukan kejadian yang bisa di toleransi lagi. Apalagi jika harus sampai dianggap
sepele. Tidak bisa sama sekali.
Sangking
tenangnya, Arjuna sampai bertanya-tanya sendiri di dalam hati. Ada banyak hal
yang ingin ia tanyakan. Tapi, sekarang bukan situasi yang tepat. Agatha
terlihat begitu tenang, sampai membuat orang-orang di sekitarnya tidak habis
pikir. Bukan hanya itu saja. Ia bahkan tidak memberikan reaksi yang berlebihan
seperti kebanyakan orang pada umumnya.
Agatha
itu akan terjadi dalam waktu dekat. Terror semacam itu bahkan tidak lagi terasa
mengejutkan baginya.
“Apa
kau sudah tahu jika akan ada serangan sebelumnya?” tanya Arjuna dengan
hati-hati.
Agatha
mungkin akan salah paham. Mengira jika pria itu sedang menuduhnya secara tidak
langsung sekarang. Atau dengan kata lain menjadikan dirinya sebagai salah satu
tersangka yang bersekongkol dengan penjahat tadi.
“Tidak,”
tepis Agatha dengan nada datar.
Sepertinya
ia tidak mempermasalahkan tuduhan tersebut sama sekali. Atau bahkan mungkin
Agatha tidak mengerti maksud lain dari kalimat barusan. Akan jauh lebih baik
jika begitu memang. Terkadang beberapa hal memang ditakdirkan untuk tidak perlu
diketahui sama sekali dengan beberapa alasan tertentu.
Tak
tahu harus berkata apa lagi, Arjuna lantas membalas kalimat gadis itu tadi
dengan anggukan. Sepertinya sikap tenang dari Agatha berhasil membuatnya
kehabisan kata-kata. Lebih tepatnya berhasil membuyarkan isi pikirannya. Sesekali
ia menggaruk kepalanya yang tak gatal hanya untuk menetralisir suasana. Dalam keadaan
yang serba salah seperti ini, ia tidak akan bisa berpikir dengan jernih.
“Suruh
Refan dan rekannya untuk menangani kasus ini!” titah Arjuna kepada salah satu
bawahannya yang kebetulan berada di ruangan yang sama.
“Baik,
pak!” balas pria itu.
Ia tidak mungkin membebankan kasus
ini kepada Agatha lagi. Belakangan ini ia tahu kalau gadis itu sedang sibuk
untuk mengusut kasus pembunuhan berantai. Tidak bisa dipungkiri jika kasus
tersebut memang cukup membebaninya. Selain itu, posisi Agatha pada saat
kejadian tadi adalah sebagai korban sekaligus saksi. Sangat tidak mungkin jika
ia harus mengurus kasusnya sendirian. Yang benar saja.