
Perjalanan tur keliling markas utama kali ini di
mulai dari ruangan paling depan. Tepat dimana ada beberapa orang yang berkumpul
di sana pada awalnya. Kemudian dilanjutkan menuju beberapa ruangan kecil lain
yang ada di sana juga.
Ternyata markas utama tidak hanya berada di lantai
dua puluh satu saja. Tapi juga ada sampai lantai dua puluh tiga. Lantai dua
puluh tiga merupakan lantai paling akhir dari gedung ini. Setelahnya akan
langsung menuju rofftop.
“Yang tempat kau bertemu dengan Daniel tadi, itu
adalah ruang utama dari lantai ini,” kata Immanuel.
“Kami biasanya menggunakan ruangan tersebut untuk
berbincang santai. Lebih tepatnya memang untuk bersantai. Fungsinya sebenarnya
hampir sama dengan ruang tengah yang berada di setiap rumah pada umumnya,”
jelas pria itu dengan panjang lebar.
Ia akan berusaha untuk menjelaskan segalanya dengan
begitu jelas dan rinci agar tidak terjadi salah paham.
“Apakah kalian juga menjamu tamu kalian di sini?”
tanya Agatha penasaran.
“Tergantung siapa dulu tamu yang datang. Kami tidak
memperlakukan semua tamu dengan cara yang sama,” tutur Immanuel.
“Seperti yang kau tahu jika tidak semua orang
diperkenankan untuk masuk ke sini. Para tamu juga begitu. Kami memiliki
tingkatan prioritas untuk para tamu,” sambungnya kemudian.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, kini Agatha
mulai paham. Setidaknya ada satu informasi yang bertambah di dalam kepalanya.
Ternyata mereka juga membawa tamunya ke markas. Tapi,
tidak semua tamu berhak untuk masuk ke sini. Yang jelas, tamu mereka pasti
bukan orang sembarangan.
‘TAP! TAP! TAP!’
Kebetulan hari ini markas utama sedang sedikit lebih
sepi daripada hari-hari biasanya. Sebagian besar dari mereka sedang tidak
berada di sini. Memangnya apa lagi jika tidak menjalankan misi atau tugas.
Karena hal tersebut, suasana di tempat ini jadi
lebih sunyi dan tenang. Bahkan suara telapak sepatu yang beradu dengan
permukaan lantai pun sampai menggema di seluruh penjuru ruangan. Sepertinya tidak
terlalu aman jika Agatha menyelinap masuk ke sini dengan menggunakan sepatu
yang berbahan keras. Telapak sepatu yang terbuat dari bahan karet akan jauh
lebih aman, karena mampu meredam suara.
Terlepas dari hal itu, mereka kembali melanjutkan
perjalanannya. Kini keduanya beralih ke ruangan yang berada tepat di samping
ruang utama. Begitu masuk ke dalamnya, Agatha melihat sebuah kursi dengan meja
yang dilengkapi oleh komputer. Serta beberapa buku terkait bisnis yang berjejer
rapih di dalam rak. Tapi sayangnya, tidak ada seorang pun yang berada di sana
ketika mereka sampai.
Agatha memutuskan untuk bertanya lebih dulu dengan
berkata, “Ruangan apa ini?”
“Ini adalah ruangan pribadi Hiraeth,” jawab pria itu
dengan apa adanya.
“Ruangan pribadi?” tanya gadis itu sekali lagi untuk
memastikan jika ia sedang tak salah dengar.
“Tapi, bagaimana bisa mereka menempatkan ruangan
pribadi di tempat seperti ini? Bukankah orang lain bisa mengaksesnya secara
bebas? Terlalu beresiko,” lanjutnya kemudian.
Agahta berusaha untuk memperjelas maksud dari
ucapannya yang sebelumnya, agar pria itu tidak sampai salah paham.
“Entahlah, aku tidak tahu. Tapi, yang pasti Hiraeth
tidak pernah mengeluh sama sekali karena ruangannya berada di sini,” ungkap
Immanuel.
Untuk yang kesekian kalinya, Agatha kembali
mengangguk paham. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain mengangguk.
Tapi meski sdah mengerti, tetap saja ia masih tidak
sebagai ruangan pribadinya. Sungguh tidak ada privasi sama sekali. Tidak ada
pintu yang bisa membatasi akses bagi orang luar. Hiraeth tidak akan bisa
mencegah orang lain untuk masuk ke dalam ruangannya ketika dia tidak ada di
sini. Bisa saja orang tersebut berniat jahat. Selain itu, setiap ruangan di
tempat ini juga hanya dibatasi oleh sekat-sekat berupa rak. Bukan sekat yang
terbuat dari beton. Sehingga suara dari dalam ruangan pasti bisa terdengar
dengan jelas. Terlebih jika suasananya sunyi seperti ini.
“Kukira mereka memprioritaskan keamanannya juga.
Ternyata tidak sama sekali,” batin gadis itu di dalam hati.
Sekarang mereka beralih ke ruangan yang berada di
sebelahnya. Tempat yang mereka datangi kali ini tidak memiliki tempat duduk
atau bahkan meja. Hanya tampak beberapa senjata yang memang sengaja dipajang
tampaknya.
“Kalau yang ini adalah ruangan untuk menyimpan
senjata kami,” kata Immanuel.
“Bukankah kalian memiliki gudang khusus senjata?”
tanya Agatha.
“Ya, kau benar. Tapi, ruangan yang satu ini khusus
untuk menampung senjata yang paling sering kami gunakan,” jelasnya kemudian.
Setelah selesai melihat-lihat isi dari ruangan
tersebut, kini mereka sudah sampai pada ruangan terakhir. Ini adalah ruangan
yang sempat mereka kunjungi beberapa saat lalu. Dimana semua orang sibuk dengan
tugasnya masing-masing dan hanya Agatha saja yang tidak bisa melakukan apa pun.
“Seperti yang sudah kau tahu, jika ini tempat
penyimpanan senjata yang akan kami distribusikan ke beberapa klien,” ungkap
pria itu secara gamblang.
“Aku yakin jika kalian pasti memiliki banyak klien.
Terlihat dari stok yang berada di sini,” ucap Agatha.
“Itulah pentingnya untuk memiliki koneksi yang luas.
Pekerjaanmu akan jauh lebih mudah karenanya,” balas pria itu kemudian.
“Apa klien kalian semuanya adalah para mafia juga?”
tanya Agatha.
“Tidak semua, beberapa di antaranya ada juga yang
bukan berasal dari kalangan mafia. Tapi, mereka juga tergolong sebagai
penjahat,” jelas Immanuel.
“Kau bisa melihat daftarnya di buku ini. Tidak semua
dari mereka merupakan mafia,” timpalnya di akhir.
Agatha langsung melemparkan pandangannya ke arah
buku tersebut. Pantas saja tadi Immanuel memeriksa buku itu berkali-kali. Ternyata
untuk memastikan kemana saja senjata ini akan dikirim. Gadis itu harus segera mendapatkan
data yang tercantum di buku tersebut. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan
informasi dengan mudah dimana para mafia lainnya.
“Apa kalian mengirim barang setiap hari?” tanya
Agatha.
“Tidak juga. Tergantung pesanan,” jawab pria itu
dengan apa adanya.
Sejauh ini tampaknya pria itu bicara jujur. Tidak ada
yang ia tutup-tutupi. Bagsulah kalau begitu. Setidaknya Agahta tidak perlu
mencari tahu segala sesuatunya sendirian. Immanuel sudah memberi tahu secara
sukarela kepada orang yang salah. Tanpa ia sadari, kecerobohannya hari ini akan
menjadi sebuah petaka besar.
Agatha dan timnya berencana untuk melumpuhkan
jaringan mafia terbesar dan paling terkenal di kota ini. Tapi anehnya, meski
cukup terkenal mereka nyaris tidak tersentuh sama sekali. Bukan pekara yang
mudah untuk bisa mengamankan mereka. Banyak yang berkata jika jaringan mafia
itu telah kebal hukum.
Cepat atau lambat,
Agatha pasti akan mencari tahu segalanya. Termasuk siapa aparat penegak hukum
yang terlibat, sampai-sampai mereka tidak bisa tersentuh.