
Ternyata berada di markas jauh lebih membosankan
dari pada di kantor. Mereka bahkan tidak ada melakukan apa pun sejak tadi
selain duduk santai sambil menunggu jarum jam menunjukkan pukul tiga. Terkadang
ia berpikir kalau banyak pekerjaan jauh lebih baik daripada tidak ada pekerjaan
sama sekali. Agatha bukan tipikal orang yang suka menunggu. Dia paling benci
jika sampai harus merasa bosan seperti ini.
“Apa kalian tidak bosan?” tanya Agatha secara
tiba-tiba.
Pada akhirnya gadis itu memutuskan untuk buka suara.
Setelah selama beberapa menit tadi tidak ada satu pun di antara mereka yang
buka suara.
“Memangnya kau bosan?” tanya Immanuel.
“Kalau kau bosan tidur saja dulu. Nanti akan ku
bangunkan kalau kita sudah akan berangkat,” ucap pria itu kemudian tersenyum
tipis.
Ini adalah pertama kalinya bagi Agatha melihat pria
itu tersenyum. Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas tanpa ia sadari, sehingga
membentuk senyuman yang super tipis. Meski terlihat samar-samar dan nyaris
tidak jelas sama sekali, namun Agatha yakin jika ia barusaha tersenyum
kepadanya. Agatha bisa memastikan kalau senyuman itu benar-benar tulus.
“Baiklah,” jawab gadis itu.
Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Jadi,
hanya satu kata itu yang keluar dari mulutnya.
“Tidurlah lebih dulu kalau kau memang bosan, Zean
akan pergi membeli makanan lebih dulu. Nanti akan kubangunkan,” jelas pria itu
sekali lagi yang kemudian ikut diangguki oleh Agatha.
Sebenarnya Agatha tidak sedang mengantuk saat ini.
Tapi, memangnya apa yang bisa ia lakukan. Tidak ada. Sepertinya tidur cukup
membantu untuk mengurangi rasa bosan. Sejak tadi gadis itu sudah berkutat
dengan ponselnya dan sama sekali tidak menemukan jalan keluar.
Belakangan ini jam tidur Agatha memang jadi
berantakan karena harus menangani kasus yang menumpuk. Ini adalah sebuah
kesempatan bagus baginya. Selama bekerja sebagai mata-mata di kelompok mafia
ini, maka Agatha berkesempatan untuk memiliki jadwal tidur yang bagus. Kembali
teratur seperti dulu.
Ternyata menjadi mafia tidak sesulit yang ia
pikirkan. Mereka memiliki begitu banyak waktu luang. Tapi, bagaimanapun juga
ini adalah hari pertamanya untuk bekerja sebagai mafia. Masih ada begitu banyak
hal yang tidak ia ketahui. Namun dengan seiring berjalannya waktu, satu-persatu
rahasia besar mereka akan segera terungkap.
Karena tidak mengantuk, Agatha tidak benar-benar
tidur. Dia hanya berusaha untuk memejamkan matanya. Bahkan ia tidur dalam
posisi duduk. Meski kedua matanya sedang terpejam, tapi indera pendengarannya
masih berfungsi dengan cukup baik. Gendang telinganya bisa menangkap berbagai
suara dengan begitu jelas. Sehingga secara tidak langsung, ia masih tetap
mengawasi mereka meski dalam kondisi yang sedang terlelap.
“Kalau begitu, siapa yang ingin pergi ke bandara
besok?”
“Terserah saja.”
“Bagaimana kalau kau saja Immanuel?”
“Aku?”
“Ya! Tentu saja kau. Memangnya siapa lagi yang
memiliki nama Immanuel di sini.”
“Kecilkan suara kalian, gadis itu sedang tertidur.”
“Sejak kapan kau jadi peduali dengan orang lain
seperti itu? Terlebih kepada seorang perempuan sepertinya.”
“Bukan apa-apa. Kalau begitu aku akan berangkat ke
bandara besok.”
Immanuel langsung mengalihkan topik pembicaraannya
begitu teman-temannya merasa curiga. Dia tidak ingin sampai ada kesalah pahaman
di sini. Terutama kepada Agatha. Gadis itu barusaja memejamkan matanya sekitar
dua menit yang lalu. Ia yakin jika Agatha belum benar-benar tertidur
sepenuhnya. Paling tidak gadis itu masih bisa mendengar satu atau dua hal dari
percakapan mereka tadi.
“Omong kosong macam apa yang barusan kau ucapkan
tadi?!” tepis pria itu dengan cepat.
Jelas dia tidak terima jika dikatakan demikian. Yang
tadi itu sungguh tidak bermaksud apa-apa. Immanuel benar-benar hanya tidak
ingin membuat gadis itu merasa terusik. Tadi dia yang menyuruh Agatha yang kini
mereka kenal sebagai Rienna untuk tertidur. Tapi, sekarang ia malah bersikap
seolah-olah melarangnya untuk tertidur.
“Apa kalian tidak pernah diajarkan sopan santun?!”
bentak pria itu geram.
“Tetaplah tenang dan jangan berisik ketika orang
lain sedang tertidur atau pun beribadah,” ucapnya dengan penuh penekanan.
Mendengar suaranya yang lantang, semua orang lantas
terdiam. Bahkan gadis itu diam-diam juga ikut kaget. Beruntung ia cukup ahli
dalam mengendalikan emosi serta ekspresi wajahnya.
Tidak ada satu pun orang yang berani buka suara
ketika Immanuel sudah marah. Bisa dikatakan jika ia adalah yang paling dominan
di sini. Semua orang akan menuruti perintahnya tanpa banyak basa-basi. Posisinya
sedikit lebih tinggi di sini daripada teman-temannya yang lain.
Bahkan Zean yang sejak tadi terbilang paling banyak
bicara saja bisa langsung bungkam dibuatnya. Sungguh tidak ada yang berkutik
sama sekali.
“Sebaiknya kau pergi belikan beberapa makanan untuk
makan siang kita nanti. Daripada banyak bicara seperti ini,” kata Immanuel.
“B-bb-baiklah,” jawab pria itu dengan terbata-bata.
Tanpa pikir panjang lagi, Zean segera beranjak dari
tempat duduknya. Sesuai dengan yang diperintahkan oleh pria tu barusan, ia akan
pergi mencari beberapa makanan.
Meski mereka berempat terlihat begitu kompak antara
satu sama lain, namun ada beberapa saat yang membuat keempatnya merasa segan
antara satu sama lain. Tergantung seperti apa situasinya pada saat itu.
***
Sementara Zean pergi membeli makanan, Immanuel
beranjak dari tempat duduknya. Kemudian mengambil tempat duduk yang berada di
dekat gadis itu. Sebelumnya Zean yang duduk di sana. Teman-temannya yang lain
menyoroti pemandangan itu dengan lamat-lamat. Meskipun Immanuel tahu jika
dirinya sedang diawasi, dia tidak merasa terganggu sama sekali.
“Apa yang kalian perhatikan? Apa tidak memiliki
kesibukan lain?” tanya Immanuel secara spontan.
Refleks kedua temannya langsung memutar bola matanya
tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Melemparkan pandangannya ke arah lain.
Kemana saja, asal bukan menghadap pria itu. Sial! Bagaimana bisa Immanuel tahu
kalau ia sedang diperhatikan. Padahal sejak tadi kedua matanya hanya terfokus
kepada layar ponsel di tangannya.
“Kenapa dia malah datang kemari?” batin Agatha di
dalam hati.
Dengan perlahan tapi pasti, gadis itu mulai membuka
kedua kelopak matanya. Pertama-tama ia tampak mengernyit, sambil menyipitkan
kedua kelopak matanya. Tampaknya Immanuel menyadari hal tersebut. Kalau gadis
yang ia kenal sebagai Rienna itu sudah bangun. Padahal Agatha tidak pernah
tertidur sama sekali sejak tadi. Ia hanya berpura-pura terlelap.
“Kau sudah bangun?” tanya pria itu dengan lemah
lembut.
Agatha tidak menjawab sama sekali. Ia hanya
mengangguk-anggukkan kepalanya pelan sebagai bentuk jawaban.
“Apa kau jadih terbangun begini karena kebisingan
yang tadi?” tanya Immanuel untuk memastikan.
“Tidak, aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba
terbangun. Mungkin memang sudah waktunya untuk bangun,” jelas Agatha.
Pria itu kemudian
mengangguk paham. Jika sampai ia mengiyakan pertanyaan Immanuel barusan,
mungkin Zean akan terjebak dalam masalah besar sekarang. Untungnya Agatha masih
memberikan kesempatan kepada pria itu untuk tetap hidup dengan tenang.