The Riot

The Riot
Track



Immanuel beserta


teman-temannya yang lain memang sejauh ini belum tahu dimana tempat tinggal


gadis itu. Tapi, kemungkinan besar nanti juga akan segera tahu. Bukan sesuatu


yang sulit untuk mencari informasi seperti itu. Tidak peduli dengan identitas palsu


yang diberikan.


‘TING!!!’


Di saat yang bersamaan


pula, gadis itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk utama yang


sekaligus menjadi satu-satunya akses untuk menuju kemari. Ini masih pukul sepuluh


pagi. Siapa orang yang memutuskan untuk bertamu kemari pada jam segini. Bukankah


sekarang masih terlalu pagi. Agatha mungkin tidak akan berada di rumah pada


pukul segini di hari biasa. Namun, sebuah pengecualian jika itu hari minggu


atau hari libur lainnya.


“Siapa yang datang


kemari pagi-pagi buta seperti ini?” gumamnya.


Agatha memutuskan untuk


mencari tahu dengan pergi ke arah pintu. Tenang saja, meski penasaran ia tidak


akan langsung membuka pintu tersebut. Sebab, hanya itu saja pertahanan yang ia


miliki di sini. Ia akan memeriksa melalui interkom lebih dulu.


Betapa terkejutnya


gadis itu dibuat ketika ia menyalakan interkom. Beruntung Agatha belum sempat


bersuara sama sekali. Kalau tidak, bisa bahaya. Setelah mengetahu siapa yang


sedang dihadapinya sekarang ini, gadis itu buru-buru mematikan fungsi pengeras


suara di alat tersebut. Satu-satunya hal yang ia aktifkan hanyalah kamera. Memangnya


untuk apa lagi kalau bukan untuk mengawasi pergerakan orang tersebut.


“Bagaimana bisa


Immanuel sampai ke sini?” tanya Agatha kepada dirinya sendiri.


Ia masih tidak habis


pikir. Ternyata dugaannya benar. Bahkan jauh lebih akurat dari apa yang ia


bayangkan. Immanuel berhasil menemukan keberadaannya dengan cepat. Sepertinya


Agatha memang telah berurusan dengan orang yang salah. Kalau begini, bersembunyi


di lubang semut sekali pun akan percuma saja rasanya.


‘TING!’


Pria itu kembali


menekan bel apartment Agatha, karena sejak membunyikan bel yang pertama tadi,


sama sekali tidak ada jawaban. Agatha berusaha untuk terlihat tidak


mencurigakan. Bersikap seolah-olah sedang tidak ada orang di sini.


Bel kedua ternyata juga


tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Hasilnya nihil. Sama sekali tidak ada


jawaban dari dalam. Sepertinya rasa kesabaran pria itu akan semakin menipis


jika terus-terusan diperlakukan seperti ini.


“Tidak perlu


bersembunyi, aku tidak akan menghabisimu hanya karena satu kesalahan!” seru


Immanuel dari luar.


“Aku tahu kalau kau ada


di dalam dan saat ini sedang menyalakan interkom untuk mengawasiku. Kau pikir


aku tidak tahu, ha?!” sambungnya kemudian berdecak sebal.


“Sial! Bagaimana dia


bisa tahu?” umpatnya sambil membungkam mulut.


Agatha mulai curiga


kalau jangan-jangan ia lupa mematikan fitur suara. Tapi, setelah diperiksa


kembali ternyata tidak. Lantas dari mana pria itu bisa mengetahui hal tersebut.


Mendadak ia teringat akan sesuatu, lalu menepuk dahinya pelan. Bagaimana bia ia


melupakan hal sepenting itu. Bisa-bisanya Agatha lupa kalau lampu indikator


akan menyala ketika benda tersebut dinyalakan. Immanuel pasti melihat lampu


indikatornya. Sehingga ia berasumsi kalau sedang ada orang di dalam. Karena


rasanya tidak masuk akal kalau alat tersebut menyala sendiri tanpa dinyalakan


lebih dulu.


Tanpa pikir panjang,


gadis itu segera mematikan interkomnya. Ia tak mau kecurigaan pria itu semakin


bertambah. Padahal dengan mematikannya secara mendadak setelah dibilang seperti


itu akan semakin menguatkan asumsinya kalau benar ada orang di dalam.


“Sebaiknya kau buka


pintunya sekarang sebelum aku memaksa masuk!” seru pria itu dari luar.


Nada bicaranya


terdengar jauh lebih kasar dari pada biasanya. Dapat disimpulkan jika sekarang


Sekarang Agatha tengah ditempatkan pada posisi yang serba salah. Ia bahkan


tidak bisa memilih sama sekali.


“Cepat buka!” teriaknya


sekali lagi.


Kali ini suaranya


terdengar jauh lebih keras dari pada yang sebelumnya. Agatha bahkan adapat


membayangkan seperti apa ekspresi wajahnya sekarang.


“Apa yang harus


kulakukan sekarang?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri. Berharap menemukan


jawaban yang tepat. Padahal dirinya sendiri juga sedang tidak tahu harus


memilih yang mana. Tapi, ia dipaksa untuk memutuskan.


Setelah melalui begitu


banyak pertimbangan, Agatha memutuskan untuk membuka pintunya dan menghadapi


pria itu dengan seorang diri. Jangan sampai lupa kalau masalah itu datang untuk


dihadapi, bukan untuk dihindari. Sudah cukup selama ini semesta menganggapnya


sebagai seorang pecundang yang tidak ada apa-apanya.


Lagi pula percuma saja


sembunyi. Immanuel pasti akan tetap menemukannya. Satu-satunya cara adalah


dengan menghadapi pria itu. Kalau bisa mengusirnya secara langsung dari sini.


Dengan segenap


keberanian yang ia punya, kini sudah tidak ada keraguan lagi. Agahta sudah


mulai yakin dengan keputusannya sendiri. Ini adalah yang terbaik. Agatha tahu


itu.


“Ada apa?!” interupsi


Agatha begitu pintunya terbuka.


“Hahaha!!! Baguslah


kalau kau pada akhirnya membuka pintu sialan ini,” sindir Immanuel.


“Langsung saja ke


intinya, aku tidak suka berbasa-basi,” ucap Agatha dengan datar.


Immanuel sama sekali


tidak memberikan jawaban apa pun. Dia hanya menyoroti gadis itu dengan lekat.


Berani-beraninya Agatha mengatakan hal seperti itu. Sepertinya ia masih belum


sadar tengah berhadapan dengan siapa sekarang ini.


Setelah tertawa


singkat, kini pria itu beralih mencengkram salah satu pergelangan tangan Agahta


dengan sekuat tenaga. Membuat gadis itu meringis kesakitan untuk beberapa saat.


Tenaga pria itu terlau kuat. Ia tidak bisa melawannya sendirian. Jika hanya


mengandalkan kekuatannya saja, tentu Agatha akan kalah telak. Satu-satunya cara


agar ia bisa menang adalah dengan menunggu kesempatan. Benar. Menunggu sampai


lawannya lengah, kemudian menyerang pada titik terlemahnya.


Pada dasarnya, kau akan


menang jika bekerja cerdas. Kelihaian dalam berpikir nyatanya lebih


menuntungkan dari pada kemampuan otot yang tidak seberapa.


“Sebenarnya ada perlu


apa sampai kemari?” tanya Agatha dengan begitu santainya. Ia bersikap seolah


tidak ada hal serius terjadi.


“Tentu saja ingin memberikan


pelajaran kepadamu,” jawab pria itu dengan apa adanya.


Mendengar pernyataan


tersebut, Agatha lantas menelan salivanya dengan susah payah. Menyadari jika


saat ini dirinya sedang terjebak dalam masalah besar. Tidak ada sesuatu yang


cukup membantu yang bisa ia lakukan.


“Tapi, sebelumnya aku


ingin menanyakan beberapa hal kepadamu,” ujar Immanuel.


“Kemana saja kau sejak


kemarin siang? Kenapa tidak kembali lagi ke markas? Bukannya kau bilang hanya


akan pergi sebentar saja karena ada urusan mendadak?” tanya pria itu.


Ia bahkan tidak


memberikan jeda antara satu pertanyaan dengan pertanyaan lainnya. Bagaimana


bisa gadis itu mengingat semua pertanyaannya dan menjawabnya pada saat yang


bersamaan. Semua orang tahu kalau daya ingatnya tidak sekuat itu. Dia tidak


terlalu mahir dalam segala hal yang selalu mengandalkan ingatan.


“Apa


aku perlu memberi tahu soal yang satu itu?” tanya Agahta balik.