The Riot

The Riot
Privilege



Tidak ada lagi gunanya


untuk menyalahkan orang lain. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Seharusnya mereka


bersyukur karena Agatha bisa kembali kemari dengan selamat tanpa terluka.


Bukannya malah bertengkar seperti ini.


Tepat setelah makanan


datang, mereka semua langsung mengalihkan topik pembicaraannya. Semua orang


tampak menikmati makanannya dengan begitu khidmat. Tidak ada yang buka suara


sedikit pun.


“Jadi, bagaimana


perkembangan kasus para mafia itu?” tanya Thomas.


Entahlah, mendadak pria


itu buka suara di tengah-tengah makan siang. Memecah keheningan suasana. Seluruh


pandangan tertuju kepadanya.


“Kasusnya akan


dinaikkan ke pengadilan. Bahkan sebelum mereka tertangkap sudah banyak laporan


yang masuk,” jelas Arjuna.


“Baguslah kalau


begitu,” kata Jeff.


Sepertinya Hiraeth dan


anak buahnya sudah menjadi buronan polisi dalam kurun waktu yang tidak sebentar.


Dan akhirnya sekarang mereka sudah tertangkap. Paling tidak mereka sudah merasa


jauh lebih lega sekarang. Tapi, di sisi lain diam-diam Agatha merasa terancam.


Meski mereka sudah tertangkap, posisinya tidak pernah benar-benar aman.


Terlebih ia adalah orang yang berurusan langsung dengan kelompok mafia itu.


Semua orang menganggapnya sebagai pengkhianat. Mereka pasti akan menyalahkan


Agatha habis-habisan.


Dia tidak bisa mengelak


sekarang. Semuanya sudah terbongkar. Hal yang paling ia takutkan selama ini


adalah bagaimana jika kemungkinan terburuknya harus sampai terjadi. Manusia


mana memangnya yang berharap atas hal buruk. Mereka tentu menginginkan yang terbaik.


Tapi, kembali lagi ke prinsip awalnya. Jika manusia punya kemauan, maka semesta


punya kenyataan.


“Bagaimana salah satu


dari mereka berhasil melarikan diri?” batin gadis itu dalam hati.


Mereka pasti tidak akan


memberikan ampunan lagi kali ini. Bisa-bisa nyawa Agatha sungguh habis di


tangan Hiraeth. Dia sudah tidak bisa memanfaatkan kepercayaan pria itu lagi.


Situasinya sudah berubah.


Ia tidak bisa


membayangkan akan jadi seperti apa dirinya nanti ketika kemungkinan paling


buruk itu harus terjadi. Membayangkannya saja sudah berhasil membuat bulu


kuduknya meremang. Sesekali gadis itu bergidik ngeri karena berusaha untuk


memvisualisasikan kekejaman para mafia itu. Agatha pasti tidak akan selamat


lagi kali ini.


“Sudahlah, sebaiknya


habiskan saja dulu makanan kalian!” celetuk Agatha.


Dia hanya tidak suka


ketika orang-orang membicarakan hal seperti itu di depannya. Tanpa mereka


sadari, Agatha mulai diserang kepanikan. Namun, ia berusaha semaksimal mungkin


untuk tetap tenang. Kau tidak akan bisa memikirkan jalan keluarnya kalau tidak


tenang.


Sekarang Agatha hanya


mencemaskan dirinya sendiri. Bahkan perasaan cemasnya du kali lipat lebih besar


daripada yang sebelumnya. Tidak ada yang tahu akan seperti apa gadis itu pada


akhirnya. Bahkan ia sendiri saja tidak tahu.


***


Kemarin laporannya


sudah masuk ke pengadilan. Sekarang tinggal menunggu saja. Selama masa


menunggu, para mafia itu akan tetap ditahan. Mereka tak akan kemana-mana.


Arjuna bisa memastikan hal yang satu itu. Penjagaan ketat di seluruh tempat


sudah diberlakukan sejak kemarin. Tenang saja, tidak akan ada kesempatan bagi


mereka untuk melarikan diri.


Daerah di sekitar ruang


tahanan akan terus dijaga ketat. Bahkan mereka menempatkan kamera pengawas


juga. Beberapa titik yang berpotensi sebagai jalur melarikan diri telah


dilengkapi dengan beberapa jebakan rahasia.


lagi saling mengandalkan kekuatan otot. Tetapi kecerdikan otak. Semua orang


sibuk memikirkan berbagai strategi yang bagus untuk mempertahankan posisi


mereka. Baik itu Arjuna dan timnya begitu pula dengan Hiraeth dan anak buahnya.


Sementara Arjuna dan


yang lainnya kembali ke kantor, Agatha memutuskan untuk pergi ke markas utama.


Tempat itu sudah diamankan. Tidak ada yang bisa masuk ke sana kecuali pihak


berwenang. Agatha adalah salah satu dari pihak berwenang itu. Bahkan gedung


perkantoran yang menjad tempat mereka bersarang selama ini pun segera


dikosongkan. Gedung ini benar-benar sepi. Tidak ada siapa pun kecuali para


penjaga.


Ada garis polisi


dimana-mana. Kegiatan di kantor terpaksa dihentikan selama beberapa hari.


Karyawannya terpaksa bekerja dari rumah. Namun, tentu saja pekerjaan seperti


itu tidak akan efektif jika dibandingkan dengan bekerja langsung di kantor.


Akan sulit untuk melakukan koordinasi dan lainnya.


Agatha dengar, beberapa


kegiatan tidak bisa dilakukan karena mereka terpaksa bekerja dari rumah untuk


sementara. Termasuk beberapa rapat yang terpaksa dijawdwalkan ulang. Tidak


hanya sampai di situ saja. Agatha menduga jika mereka akan bangkrut pada akhirnya.


Bagaimana tidak bangkrut. Nama perusahaan ini sudah tercemar, meski ia milik


negara sekali pun. Tentu saja akibat ulah para mafia itu.


Begitu sampai sana,


Agatha tidak menuju pintu samping lagi. Sekarang ia bahkan sudah bisa masuk


dengan bebas melalui pintu depan. Gadis itu memarkirkan mobilnya di halaman


utama. Dari dalam mobil ia sudah bisa melihat ada beberapa polisi yang berjaga


di sana. Bukan hanya polisi saja. Bahkan beberapa tentara ikut terlibat juga.


Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.


Semua mata langsung


tertuju kepadanya. Bahkan saat gadis itu masih berada di dalam mobil pun, semua


orang sudah mengawasinya. Mereka bersikap sangat hati-hati dan menaikkan level


kewaspadaannya pada tingkat maksimal. Seolah-olah Agatha adalah sebuah ancaman.


Padahal tidak sama sekali. Gadis itu hanya ingin berkunjung kemari untuk


melihat beberapa hal.


Hampir saja ia


melupakan sesuatu. Tidak ada satu pun dari mereka yang mengenal Agatha, karena


orang-orang itu merupakan utusan dari kantor yang berbeda dengannya. Mereka


bukan rekan satu kantor Agatha, jadi wajar saja kalau merasa asing.


Tanpa pikir panjang,


gadis itu tetap melangkah maju. Mendekati pintu masuk dengan pecaya diri. Tidak


peduli dengan orang-orang yang sudah siap dengan senjatanya masing-masing.


“Berhenti!” seru salah


satu polisi yang sedang berjaga di dekat pintu masuk.


“Anda siapa? Dan apa


yang sedang anda lakukan di sini? Apakah tidak bisa melihat jika ada garis


polisi dimana-mana? Tidak sembarang orang bisa datang kemari,” celoteh pria itu


dengan panjang lebar.


Ia mencoba untuk


mencegah Agatha agar tidak masuk ke dalam. Tapi sepertinya caranya terlalu


berlebihan. Pria itu bahkan tidak memberikan kesempatan sama sekali kepada


Agatha untuk bicara.


“Tapi, sepertinya aku


bisa,” ujar Agatha sambil menunjukkan kartu identitas dari kantor tempatnya


bekerja.


Cukup dengan empat kata,


Agatha berhasil membungkam mulut pria itu. Dia langsung menutup mulut


rapat-rapat. Sikapnya langsung berubah pada saat itu juga dan mempersilahkan


Agatha untuk masuk pada akhirnya.


“Ternyata posisimu juga


mempengaruhi perlakuan orang lain terhadapmu,” gumam Agatha sambil berjalan


menyusuri lobi yang terlihat sepi.


Hanya


ada satu lift untuk menuju markas utama. Beruntung Agatha masih menyimpan kartu


akses miliknya, dengan begitu ia bisa pergi ke sana kapan saja. Akses tanpa


batas.