
Setelah berkendara sekitar lima belas menit dari tempatnya
terakhir berdiri, pada akhirnya gadis itu menepikan mobilnya tepat di pelataran
sebuah restoran. Sebenarnya tempat ini jauh lebih cocok jika disebut sebagai
café. Namun, entah kenapa mereka memberinya nama restoran. Sungguh tidak masuk
akal. Tak ingin memusingkan perihal tidak penting seperti itu, Agatha jauh
lebih memilih untuk bersikap bodo amat. Kemudian segera masuk ke dalam
restoran.
Kabarnya seseorang yang akan ditemuinya malam ini sudah
berada di tempat. Jadi, ia tidak perlu menunggu terlalu lama. Bahkan dari awal
sepertinya lawan bicara Agatha yang memang akan menunggu. Gadis itu sudah bisa
memprediksi hal tersebut dengan mudah. Ia tahu betul kalau lawan bicaranya akan
sangat bersemangat sekali hari ini.
‘TUK! TUK! TUK!’
Suara langkah kakinya tenggelam di tengah keriuhan suasana
restoran malam itu. Padahal sekarang sudah bukan waktunya untuk makan malam
lagi, tapi sepertinya suasana di pusat kota memang akan tetap ramai sampai pagi
tiba. Kota ini seperti tidak pernah kehilangan nyawanya sendiri. Barang satu
detik saja. Tampak jelas jika kehidupan benar-benar berjalan tanpa henti di
tempat ini. Mereka pantas untum mendapatkan julukan sebagai manusia-manusia
ambisius.
Terlepas dari masalah itu. Kalau ditanya apakah Agatha
termasuk kepada salah satu dari mereka atau tidak, ia sendiri tidak tahu apa
jawabannya. Mungkin setiap jawaban memiliki kemungkinan yang sama-sama besar. Sehingga
tidak ada yang benar, atau pun salah. Tapi masalahnya, orang-orang pasti tidak
akan terima kalau Agatha memberikan jawaban yang seperti itu. Sebagian besar
dari mereka pasti akan menuding kalau gadis itu tidak memiliki pendirian.
Terkadang kita memang tidak bisa terus hidup dibawah standar
orang-orang. Mereka bahkan tidak memiliki hak sama sekali untuk mengatur soal
kehidupan orang lain. Setiap orang hanya berhak untuk hidupnya, bukan hidup
orang lain. Sepertinya aturan yang satu itu sudah cukup jelas dimasyarakat,
meski bukan aturan tertulis. Tapi masih tetap ada saja yang tidak bisa menerima
aturan. Apalagi jika harus melaksanakannya. Mereka sudah jelas akan menolak
mentah-mentah.
“Aturan ada untuk
dilanggar.”
Bagi beberapa orang, kalimat tersebut malah sudah nyaris
berubah menjadi sebuah prinsip hidup. Dengan dalih jika kita para manusia hanya
hidup sekali, maka kapan lagi kesempatanmu untuk mencoba. Dimana pun itu, tetap
saja jika kesempatan tidak akan datang dua kali.
Sepertinya prinsip yang serupa juga telah diterapkan oleh
sebagian besar para narapidana. Selain memiliki ambisi dan nyali yang besar,
ternyata mereka juga memiliki rasa
penasaran yang berada di ambang batas.
***
Mata Agatha tertuju kepada seorang pria yang tengah dududk
di sudut ruangan sambil melambaikan tangan ke arahnya. Agatha sangat yakin
kalau orang yang dimaksud pria itu benar dirinya. Setelah sempat berhenti
beberapa saat, gadis itu kembali melanjutkan perjalannya. Kali ini ia sudah
tahu kemana tujuan akhirnya.
Dengan penuh percaya diri, ia
bergegas menghampiri pria yang sudah menunggunya di ujung sana. Tapi sepertinya
Agatha sama sekali tidak terlihat bahagia. Bertemu dengan orang sepertinya
semacam hal yang biasa-biasa saja. tidak ada istimewanya. Padahal mereka berdua
sudah lama tidak bertemu antara satu sama lain. Di sisi lain, tampak pria itu
yang tidak menghiraukan seperti apa raut wajah dan perasaan Agatha.
***
Pria itu berdiri untuk menyambut Agatha begitu ia sampai.
Agatha hanya tersenyum tipis sambil menarik salah satu kursi di hadapannya
untuk tempat duduknya nanti. Dalam waktu yang nyaris bersamaan pula mereka kembali
duduk.
“Jadi, bagaimana kabarmu?” tanya pria itu.
jawab Agatha dengan santai.
Pria itu tersenyum tipis sambil mengangguk pelan untuk mengiyakan
perkataan lawan bicaranya barusan. salah satu tangannya menangkup wajahnya
sendiri. Pandangannya lurus ke arah gadis itu. Seolah sedang mengamati setiap
inchi dari penampilan Agatha sekarang.
Mereka sudah lama tidak bertemu. Belum sampai satu tahun lalu
memang. Tapi, ternyata Agatha sudah banyak berubah jika dilihat dari segi
penampilan.
“Omong-omong, apa yang membuatmu beralih profesi sebagai
wanita kantoran sekarang ini?” tanya pria itu secara gamblang.
“Jangan bilang jika ini karena kau kehilangan taringmu
sebagai seorang polisi,” sindirnya.
“Padahal kau sempat mendapatkan begitu banyak pujian karena
berhasil menaklukkan Hiraeth dan timnya,” sambung pria itu di akhir.
Agatha berdecih pelan mendapatkan komentar seperti itu. Ia
bahkan tidak diberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut, apalagi
untuk membela diri. Sebenarnya ia bisa saja memotong kalimat si lawan bicaranya
tadi. Tapi, ia jauh lebih memilih untuk mendengarkan daripada malah berujung jadi
salah paham nantinya.
“Sudah selesia mengocehnya?” tanya gadis itu dengan nada
sedikit meledek.
Tidak bisa dipungkiri jika lawan bicaranya sempat kesal dan
terpancing emosi, namun sepertinya halt u belum bisa membawanya ke tahap yang
lebih kompleks. Buktinya, pria itu masih bisa menyempatkan diri untuk tersenyum
agar terlihat lebih ramah. Padahal sudah jelas-jelas jika ia sedang kesal
sekarang. Mungkin jika mereka tidak sedang berada di tempat umum sekarang ini,
tidak menutup kemungkinan jika keduanya akan berkelahi. Dan pria itu pasti akan
menjadi orang pertama yang melancarkan serangan.
“Kupikir kau tidak perlu tahu lebih banyak soal alasan
kenapa aku memutuskan untuk menjadi seorang karyawan di salah satu kantor
bisnis sekarang. Itu bukan urusanmu. Jadi berhenti menanyakan hal yang tidak
berada di dalam ranahmu. Karena percuma saja, aku juga tidak akan menjawab hal
semacam itu,” jelas Agatha dengan panjang lebar.
“Omong-omong, aku juga tidak akan bertanya soal kehidupanmu
yang sekarang. Soal kenapa kau bisa keluar dari penjaradan soal bagaimana
kehidupanmu setelah bebas,” sambungnya.
“Haha! Memangnya kau tidak penasaran dengan yang kau
sebutkan tadi?” tanya pria itu.
“Menurutmu?” tanya Agatha balik.
Tepat sebelum pertanyaannya yang satu itu dijawab, tak ingin
berlama-lama Agatha langsung memberikan jawaban tas pertanyaannya sendiri.
Sehingga orang-orang tidak perlu membuang waktu untuk memikirkan jawabannya.
“Sebenarnya aku penasaran. Tapi, itu dulu. Sekarang sudah
tidak,” katanya.
Tampak pria itu mengerutkan dahi karena jawaban dari Agatha.
“Aku sudah tahu bagaimana caramu keluar dari penjara, dan
apa yang kau lakukan setelah keluar dari tempat itu,” jelasnya secara sukarela.
Agatha mencondongkan tubuhnya ke arah pria itu. Kemudian
membisikkan sesuatu di sana.
“Kau pasti hidup dalam ketakutan, karena saat ini
orang-orang sedang mencarimu. Poster berisi wajahmu sudah tersebar dimana-mana.
Jadi, sebaiknya kau berhati-hati saja sekarang,” jelas Agatha dengan nada suara
rendah.
Ia tidak ingin permbicaraan mereka saat ini terdengar oleh
orang lain. Walupun sebenarnya himpunan suara-suara berisik di tempat ini saja
sudah cukup untuk meredam pembicaraan mereka. Tapi, tetap tidak menutup
kemungkinan jika orang lain yang berada di sekitar mereka akan mampu mendengar
pembicaraan itu, jika Agatha tetap bicara dengan volume normal. Mengingat jika
setiap manusia memiliki kepekaan indera yang berbeda-beda.