The Riot

The Riot
Day 1



Sesuai dengan janjinya tadi pagi, Arjuna akan


mengantar gadis itu sampai di ujung jalan menuju markas. Ia tidak akan bergerak


lebih jauh lagi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah semua


persiapan dirasa sudah cukup lengkap, Agatha siap untuk beraksi. Entah


bagaimana dengan nasibnya nanti di dalam sana, gadis itu sudah benar-benar


pasrah. Tak masalah jika memang ini adalah kesempatan terakhirnya untuk tetap


berada di dunia. Lagipula ia memang tidak ingin berlama-lama tinggal di dunia.


Tempat ini terlalu sepi dan kejam bagi orang seperti dirinya.


Sebelum pergi, Arjuna sengaja meraih kedua tangan


gadis itu. Menggenggamnya erat-erat. Seolah tidak rela untuk melepaskan Agatha


begitu saja. Keselamatannya sedang dipertaruhkan. Sebenarnya pria itu tidak


tega untuk membiarkan Agatha berjuang sendirian seperti ini. Lebih tepatnya, ia


tidak siap untuk kehilangan sosok Agatha.


Beberapa hari yang lalu, mereka baru saja saling


bertukar buku harian. Mengungkap begitu banyak rahasia yang tidak pernah


diketahui sebelumnya. Arjuna memang sudah menyatakan perasaanya. Ia tidak akan


pernah lagi berusaha untuk menutup-nutupi hal tersebut.


“Berjanjilah satu hal kepadaku!” perintah Arjuna.


“Kembali lah dengan selamat sampai misi ini selesai


dan jangan sampai terluka sedikit pun,” jelasnya kemudian.


“Kalau begitu berjanjilah satu hal kepadaku,” balas


Agatha.


“Berjanji untuk?” tanya pria itu sambil mengerutkan


dahinya.


“Apa pun yang terjadi nantinya, jangan pedulikan


aku,” ucap Agatha kemudian pergi begitu saja.


Ia bahkan tidak berpamitan sama sekali. Arjuna juga


tidak mencoba untuk encegahnya. Gadis itu terus berjalan maju dengan begitu


percaya diri. Seolah yakin jika misinya akan berjalan dengan lancar. Meninggalkan


pria itu begitu saja di belakangnya.


Arjuna tidak bergerak kemana-mana. Ia bahkan tidak


mengucapkan sepatah kata pun sebagai bentuk perpisahan. Sebenarnya mereka tidak


akan berpisah lama. Hanya saja, untuk menghindair kecurigaan para mafia itu,


Agatha diminta untuk tidak pergi ke kantor selama beberapa pekan. Tidak hanya


sampai di situ saja. Ia juga diminta untuk tidak berkomunikasi atau bahkan


bertemu dengan rekan-rekan kerjanya yang lain selama bertugas. Sebab ini adalah


misi khusus.


‘TAP! TAP! TAP!’


Suara langkah kakinya jadi tak begitu nyaring ketika


berjalan di atas aspal. Sekarang ia baru mulai merasa gugup. Padahal sebelumnya


tidak terjadi apa-apa. Sesekali ia menarik, lalu menghembuskan napasnya untuk tetap


tenang. Tidak, mereka tidak boleh sampai curiga.


Dari titik tempat ia berdiri saat ini, sama sekali


tidak terlihat siapa-siapa. Tapi, pasti sebentar lagi mereka akan segera keluar


dari tempat persembunyiannya.


“Jadi ternyata mereka sudah merencanakan semuanya


dengan sedemikian rupa. Bahkan sampai kepikiran untuk menjadikanku sebagai umpan.


Cih!” gerutu gadis itu pelan.


Sebenarnya kalau boleh jujur, sampai sekarang ia


sendiri masih tidak bisa menerima tentang kebijakan tersebut. Mereka sudah


tidak waras. Dengan mengirimkan seorang gadis seperti Agatha ke lubang buaya,


itu sama saja dengan berencana untuk membunuh gadis ini secara tidak langsung.


Sebenarnya apa mau mereka.


“Ah, sudahlah!” katanya kemudian kembali melanjutkan


perjalanannya.


Gadis itu mempercepat langkah kakinya. Karena sedang


merasa kesal, mendadak ia jadi tak begitu peduli lagi dengan keselamatan


dirinya. Padahal sebelumnya, Agatha adalah satu-satunya orang yang paling benci


mati.


“Hei!” sahut seseorang dari belakang.


Tanpa perlu berbalik pun, ia sudah tahu kalau itu


adalah sasaranya. Salah satu dari mereka sudah keluar dari sarangnya. Agatha


lantas tersenyum miring. Akhirnya usahanya tidak berakhir sia-sia.


“Hei! Apa kau tuli?!” sarkas pria itu.


itu lantas segera berbalik dan mendapati lebih dari satu pria sudah berdiri


tepat di hadapannya. Ada sekitar empat orang pria dengan tinggi sekitar 180 cm.


Postur tubuhnya bahkan cukup atletis.


“Yang mana satu mafia yang mereka maksud?” batin


gadis itu di dalam hati.


“Berani-beraninya kau melewati jalan ini!”


“Apa kau tidak tahu jalan ini milik siapa?!”


Agatha memegangi telinganya sambil sesekali


memejamkan mata. Suara dari para pria itu hampir memekakkan telinganya. Tidak bisakah


mereka bicara dengan biasa saja? Tidak perlu berteriak seperti itu. Lagipula


Agatha tidak tuli. Ia masih bisa mendengar semuanya dengan jelas, bahkan jika mereka


bicara dengan volume suara paling kecil sekali pun.


“Aku tidak tuli, jadi tidak perlu berteriak seperti


itu,” ujar Agatha secara gamblang.


“Hahah! Ternyata kau memiliki nyali yang cukup besar


juga,” ucap salah satu pria di depan sana. Ia menggunakan kaos oblong berwarna


hitam.


“Kurasa dia sudah bosan hidup,” balas temannya yang


lain. Kali ini pria itu menggunakan jaket kulit hitam.


Pakaiannya hampir sama persis dengan yang sedang


dipakai Agatha saat ini. Gadis itu berpenampilan seperti biasanya. Hanya


menggunakan sepatu sneakers putih dengan setelah jaket kulit hitam dan juga


topi baseball hitam miliknya. Sepertinya banyak orang yang menyukai warna gelap


sekarang ini. Agatha sendiri menyukai warna hitam, karena dirasa cocok saja


untuknya. Tidak ada alasan lain.


“Kau pikir kau bisa bebas begitu saja jika sudah


menginjakkan kaki di sini?” tanya si pria kaos hitam.


“Memangnya siapa yang berencana untuk melarikan


diri?” tanya gadis itu balik.


“Aku sengaja datang kemari untuk menjadi salah satu


bagian dari kalian,” ungkapnya secara gamblang.


Sulit untuk dipercayai. Semua orang terpelongo tak


percaya karena mendengar pernyataan dari gadis itu barusan. Mereka saling


melempar pandangan satu sama lain. Satu detik setelahnya, mereka semua


terbahak-bahak.


“Hahahaha!!!”


“Ternyata kau pintar melawak juga,” kata si pria


berjaket.


“Aku tidak sedang bercanda!” tepis Agatha dengan


cepat.


“Tapi kalau pun itu benar, darimana kau mengetahui


soal kami?” tanya pria itu lagi. Masih dengan orang yang sama.


Kali ini tampaknya pria itu serius. Terlihat dari


nada bicaranya serta raut wajahnya yang juga mendukung. Secara tidak langsung,


semua orang yang berada di sana ikut terbawa suasana juga. Tidak terkecuali


dengan Agatha.


“Bukankah kalian cukup terkenal?” tanya Agatha.


“Cukup masuk akal memang. Tapi, bagaimana bisa kau


mengetahui markas kami?” tanya pria berkaos hitam.


“Dia pasti mata-mata!” tuduh pria lainnya yang


berkaos putih.


“Kau bahkan tidak bisa membuktikan kalau aku sungguh


mata-mata. Tapi, kau menuduhku begitu,” balas Agatha dengan begitu tenang.


Syukurlah sekarang ia sudah mulai bisa mengendalikan


dirinya sendiri. Kalau tidak, mereka pasti sudah menaruh rasa curiga sejak


awal. Agatha tidak akan selamat jika samapi melakukan satu kesalahan saja.


“Aku tidak sengaja lewat di sekitar sini juga


beberapa waktu yang lalu dan melihat kalian sedang berkumpul,” ungkap Agatha.


“Apa kau menguping pembicaraan kami?!” tanya pria


berjaket dengan was-was.


Agatha lantas


mengangguk untuk mengiyakan kalimat pria itu tadi.