
Sesuai dengan janjinya tadi pagi, Arjuna akan
mengantar gadis itu sampai di ujung jalan menuju markas. Ia tidak akan bergerak
lebih jauh lagi demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah semua
persiapan dirasa sudah cukup lengkap, Agatha siap untuk beraksi. Entah
bagaimana dengan nasibnya nanti di dalam sana, gadis itu sudah benar-benar
pasrah. Tak masalah jika memang ini adalah kesempatan terakhirnya untuk tetap
berada di dunia. Lagipula ia memang tidak ingin berlama-lama tinggal di dunia.
Tempat ini terlalu sepi dan kejam bagi orang seperti dirinya.
Sebelum pergi, Arjuna sengaja meraih kedua tangan
gadis itu. Menggenggamnya erat-erat. Seolah tidak rela untuk melepaskan Agatha
begitu saja. Keselamatannya sedang dipertaruhkan. Sebenarnya pria itu tidak
tega untuk membiarkan Agatha berjuang sendirian seperti ini. Lebih tepatnya, ia
tidak siap untuk kehilangan sosok Agatha.
Beberapa hari yang lalu, mereka baru saja saling
bertukar buku harian. Mengungkap begitu banyak rahasia yang tidak pernah
diketahui sebelumnya. Arjuna memang sudah menyatakan perasaanya. Ia tidak akan
pernah lagi berusaha untuk menutup-nutupi hal tersebut.
“Berjanjilah satu hal kepadaku!” perintah Arjuna.
“Kembali lah dengan selamat sampai misi ini selesai
dan jangan sampai terluka sedikit pun,” jelasnya kemudian.
“Kalau begitu berjanjilah satu hal kepadaku,” balas
Agatha.
“Berjanji untuk?” tanya pria itu sambil mengerutkan
dahinya.
“Apa pun yang terjadi nantinya, jangan pedulikan
aku,” ucap Agatha kemudian pergi begitu saja.
Ia bahkan tidak berpamitan sama sekali. Arjuna juga
tidak mencoba untuk encegahnya. Gadis itu terus berjalan maju dengan begitu
percaya diri. Seolah yakin jika misinya akan berjalan dengan lancar. Meninggalkan
pria itu begitu saja di belakangnya.
Arjuna tidak bergerak kemana-mana. Ia bahkan tidak
mengucapkan sepatah kata pun sebagai bentuk perpisahan. Sebenarnya mereka tidak
akan berpisah lama. Hanya saja, untuk menghindair kecurigaan para mafia itu,
Agatha diminta untuk tidak pergi ke kantor selama beberapa pekan. Tidak hanya
sampai di situ saja. Ia juga diminta untuk tidak berkomunikasi atau bahkan
bertemu dengan rekan-rekan kerjanya yang lain selama bertugas. Sebab ini adalah
misi khusus.
‘TAP! TAP! TAP!’
Suara langkah kakinya jadi tak begitu nyaring ketika
berjalan di atas aspal. Sekarang ia baru mulai merasa gugup. Padahal sebelumnya
tidak terjadi apa-apa. Sesekali ia menarik, lalu menghembuskan napasnya untuk tetap
tenang. Tidak, mereka tidak boleh sampai curiga.
Dari titik tempat ia berdiri saat ini, sama sekali
tidak terlihat siapa-siapa. Tapi, pasti sebentar lagi mereka akan segera keluar
dari tempat persembunyiannya.
“Jadi ternyata mereka sudah merencanakan semuanya
dengan sedemikian rupa. Bahkan sampai kepikiran untuk menjadikanku sebagai umpan.
Cih!” gerutu gadis itu pelan.
Sebenarnya kalau boleh jujur, sampai sekarang ia
sendiri masih tidak bisa menerima tentang kebijakan tersebut. Mereka sudah
tidak waras. Dengan mengirimkan seorang gadis seperti Agatha ke lubang buaya,
itu sama saja dengan berencana untuk membunuh gadis ini secara tidak langsung.
Sebenarnya apa mau mereka.
“Ah, sudahlah!” katanya kemudian kembali melanjutkan
perjalanannya.
Gadis itu mempercepat langkah kakinya. Karena sedang
merasa kesal, mendadak ia jadi tak begitu peduli lagi dengan keselamatan
dirinya. Padahal sebelumnya, Agatha adalah satu-satunya orang yang paling benci
mati.
“Hei!” sahut seseorang dari belakang.
Tanpa perlu berbalik pun, ia sudah tahu kalau itu
adalah sasaranya. Salah satu dari mereka sudah keluar dari sarangnya. Agatha
lantas tersenyum miring. Akhirnya usahanya tidak berakhir sia-sia.
“Hei! Apa kau tuli?!” sarkas pria itu.
itu lantas segera berbalik dan mendapati lebih dari satu pria sudah berdiri
tepat di hadapannya. Ada sekitar empat orang pria dengan tinggi sekitar 180 cm.
Postur tubuhnya bahkan cukup atletis.
“Yang mana satu mafia yang mereka maksud?” batin
gadis itu di dalam hati.
“Berani-beraninya kau melewati jalan ini!”
“Apa kau tidak tahu jalan ini milik siapa?!”
Agatha memegangi telinganya sambil sesekali
memejamkan mata. Suara dari para pria itu hampir memekakkan telinganya. Tidak bisakah
mereka bicara dengan biasa saja? Tidak perlu berteriak seperti itu. Lagipula
Agatha tidak tuli. Ia masih bisa mendengar semuanya dengan jelas, bahkan jika mereka
bicara dengan volume suara paling kecil sekali pun.
“Aku tidak tuli, jadi tidak perlu berteriak seperti
itu,” ujar Agatha secara gamblang.
“Hahah! Ternyata kau memiliki nyali yang cukup besar
juga,” ucap salah satu pria di depan sana. Ia menggunakan kaos oblong berwarna
hitam.
“Kurasa dia sudah bosan hidup,” balas temannya yang
lain. Kali ini pria itu menggunakan jaket kulit hitam.
Pakaiannya hampir sama persis dengan yang sedang
dipakai Agatha saat ini. Gadis itu berpenampilan seperti biasanya. Hanya
menggunakan sepatu sneakers putih dengan setelah jaket kulit hitam dan juga
topi baseball hitam miliknya. Sepertinya banyak orang yang menyukai warna gelap
sekarang ini. Agatha sendiri menyukai warna hitam, karena dirasa cocok saja
untuknya. Tidak ada alasan lain.
“Kau pikir kau bisa bebas begitu saja jika sudah
menginjakkan kaki di sini?” tanya si pria kaos hitam.
“Memangnya siapa yang berencana untuk melarikan
diri?” tanya gadis itu balik.
“Aku sengaja datang kemari untuk menjadi salah satu
bagian dari kalian,” ungkapnya secara gamblang.
Sulit untuk dipercayai. Semua orang terpelongo tak
percaya karena mendengar pernyataan dari gadis itu barusan. Mereka saling
melempar pandangan satu sama lain. Satu detik setelahnya, mereka semua
terbahak-bahak.
“Hahahaha!!!”
“Ternyata kau pintar melawak juga,” kata si pria
berjaket.
“Aku tidak sedang bercanda!” tepis Agatha dengan
cepat.
“Tapi kalau pun itu benar, darimana kau mengetahui
soal kami?” tanya pria itu lagi. Masih dengan orang yang sama.
Kali ini tampaknya pria itu serius. Terlihat dari
nada bicaranya serta raut wajahnya yang juga mendukung. Secara tidak langsung,
semua orang yang berada di sana ikut terbawa suasana juga. Tidak terkecuali
dengan Agatha.
“Bukankah kalian cukup terkenal?” tanya Agatha.
“Cukup masuk akal memang. Tapi, bagaimana bisa kau
mengetahui markas kami?” tanya pria berkaos hitam.
“Dia pasti mata-mata!” tuduh pria lainnya yang
berkaos putih.
“Kau bahkan tidak bisa membuktikan kalau aku sungguh
mata-mata. Tapi, kau menuduhku begitu,” balas Agatha dengan begitu tenang.
Syukurlah sekarang ia sudah mulai bisa mengendalikan
dirinya sendiri. Kalau tidak, mereka pasti sudah menaruh rasa curiga sejak
awal. Agatha tidak akan selamat jika samapi melakukan satu kesalahan saja.
“Aku tidak sengaja lewat di sekitar sini juga
beberapa waktu yang lalu dan melihat kalian sedang berkumpul,” ungkap Agatha.
“Apa kau menguping pembicaraan kami?!” tanya pria
berjaket dengan was-was.
Agatha lantas
mengangguk untuk mengiyakan kalimat pria itu tadi.