The Riot

The Riot
Being Mafia



‘CEKLEK!!!’


Begitu sampai di apartmentnya, Agatha langsung


merubuhkan dirinya begitu saja di sofa ruang tengah. Ia bahkan tidak membuka


sepatunya lebih dulu. Untung saja ia tidak membawa tas tadi. Kalau tidak, gadis


itu pasti sudah mencampakkan benda tersebut ke sembarang arah. Agatha tidak


akan peduli lagi soal huniannya yang satu ini. Tidak peduli seberapa sering ia


membersihkan tempat ini, tetap saja pada akhirnya akan berantakan juga. Saat


ini kondisinya tidak jauh berbeda dengan kapal pecah.


Hari ini terasa begitu melelahkan baginya. Tidak jauh


berbeda dengan hari-hari biasanya. Sepertinya hampir setiap hari Agatha selalu


mengeluh karena terlalu kelelahan. Tapi, yang kali ini ia sungguh merasa lelah.


Nyaris taka da sedikit pun tenaga yang tersisa.


Tadi Agatha baru saja bertengkar dengan para mafia


itu. Beruntung mereka tidak menggunakan senjata sama sekali. Hanya tangan


kosong. Meski pada akhirnya Agatha yang unggul, tetapi tetap saja ia merasa


kelelahan. Sekujur tubuhnya terasa sakit. Tulang pinggangnya bahkan ingin patah


rasanya.


Menghadapi empat orang pria dalam waktu yang


bersamaan bukanlah sesuatu yang mudah. Dari segi jumlah saja ia sudah kalah


jauh. Apalagi dari kekuatan. Jelas mereka jauh lebih kuat. Ini tidak adil. Mana


ada empat lawan satu. Itu namanya keroyokan. Jika mereka berani seharusnya maju


satu-persatu. Sikapnya sama sekali tidak menunjukkan bagaimana seharusnya


mereka memperlakukan seorang wanita seperti Agatha.


“Aku


tidak pernah menganggapmu sebagai seorang perempuan. Lihat saja bagaimana


tingkahmu. Tidak jauh berbeda dengan para pria pada umumnya. Itu sebabnya


kenapa aku memilihmu sebagai satu-satunya perempuan yang berada di tim ini.”


Perkataan Arjuna beberapa waktu yang lalu masih


terngiang di dalam kepalanya. Ia bahkan masih ingat jelas dengan setiap kata


yang terlontar dari bibirnya. Padahal kejadiannya sudah sekitar beberapa bulan


yang lalu. Arjuna belum tentu mengingatnya juga. Pria itu hanya hobi mencari


masalah dengan Agatha.


“Apa aku sungguh tidak memiliki sisi feminim sedikit


pun?” tanya gadis itu kepad dirinya sendiri.


Sekarang ia bertukar posisi jadi telentang. Sorot


matanya mengarah ke langit-langit ruangan. Menatapnya dengan lamat-lamat. Padahal


tidak ada jawabannya di sana.


“Tapi, sepertinya itu adalah salah sati


keberuntunganku,” gumam Agatha.


Tidak semua gadis bisa menempati posisinya saat ini.


Lebih tepatnya, tidak semua perempuan bisa melakukan apa yang sudah ia lakukan


sejauh ini. Ternyata tidak sia-sia dulu Narendra mendidiknya dengan keras. Meski


di satu sisi, ia juga dimanjakan oleh kekayaan ayahnya pada saat keluarga


mereka masih berjaya. Uang memang tidak bisa membeli segalanya, tapi segalanya


memerlukan uang.


Di saat anak-anak lain pergi les balet atau bahkan


les piano, biola serta alat music lannya, ia malah pergi ke tempat latihan


taekwondo. Meski tidak hebat-hebat amat, setidaknya ia bisa melakukannya. Menguasai


beberapa gerakan dasar yang berguna di kehidupan sehari-hari. Paling tidak dari


kerja kerasnya selama ini untuk berlatih, ia bisa melindungi dirinya sendiri.


Agatha masih tidak habis pikir jika tadi ia bisa


mengalahkan empat orang pria secara sekaligus. Terdengar agak mustahil. Tapi,


itulah kenyataannya. Gadis itu sampai bertanya-tanya sendiri kepada dirinya.


Apakah ia sungguh melakukan semuanya sendiri? Apa memang ia sekuat itu selama


ini? Atau hanya mereka saja yang berpura-pura lemah dan mengalah pada akhirnya?


Mereka tadi memang sengaja tidak menggunakan senjata


untuk membantu. Padahal dengan jelas Agatha melihat sebuah pistol terselip di


sakunya. Sepertinya orang-orang itu hanya ingin menguji kekuatan Agatha. Itu sebabnya


tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan senjatanya. Jika tadi mereka


menggunakan bantuan berupa senjata, maka gadis itu juga tidak akan segan-segan


untuk mengeluarkan senjatanya juga. Mereka pikir hanya mereka saja yang


memiliki benda seperti itu. Tidak sama sekali. Bahkan Agatha memiliki satu yang


jauh lebih baik daripada milik mereka.


“Hahahaha!” Agahta tertawa geli.


Jika diingat-ingat kembali, kejadian beberapa jam


yang lalu sungguh konyol. Mulai hari ini ia sudah secara resmi menjadi salah


satu bagian dari mereka. Bahkan tadi Agatha sudah berkenalan dengan


keempat-empatnya. Hanya saja, menurut penuturan mereka masih ada satu orang


lagi yang tidak ada di sini. Dan orang itu memiliki peran yang cukup penting.


Yaitu sebagai pemimpin sekaligus target yang dicari oleh gadis itu selama ini.


Ia tidak sabar sekaligus penasaran dengan wajah


pemimpinnya. Seperti apa sebenarnya. Sampai-sampai para polisi saja tidak bisa menggambarkan


sosoknya dengan jelas. Tidak ada yang tahu pasti seperti apa sosoknya. Mungkin hanya


orang-orang tertentu saja yang tahu. Namanya begitu populer di kalangan mafia


hingga kepolisian. Tapi, tidak dengan wajahnya. Ia begitu merahasiakan


identitasnya.


Namanya Hiraeth, berbeda jauh dengan apa yang pernah


diberi tahu oleh Arjuna sebelumnya. Tapi, entah kenapa Agatha begitu yakin


kalau itu adalah orang yang sama. Padahal ia belum pernah bertemu dengan


keduanya barang sekali saja. Kali ini ia hanya mempercayai intuisinya.


Orang-orang berkata jika naluri alami wanita sangat kuat.


“Hiraeth,” gumamnya.


Dia sedang membayangkan seperti apa wajah pria itu


di dalam kepalanya. Membuat ilustrasi dengan bermodalkan imajinasinya sendiri. Hiraeth.


Itu nama yang cukup bagus dan memiliki kesan elegan. Mahal. Sepertinya hanya


orang-orang tertentu saja yang memiliki nama seperti itu. Mereka yang berasal


dari keluarga terpandang dan terhormat. Tapi, mustahil. Kenapa keluarga


terhormat bisa menjadi buronan polisi seperti itu. Kenyataan berhasil


mematahkan asumsi Agatha soal Hiraeth yang berasal dari keluarga terpandang dan


terhormat.


“Kapan aku bisa bertemu dengan Hiraeth, jika ia


sekarang masih berada di luar negeri untuk mengurus bisnis ilegalnya?” ucap


gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya.


Agatha sungguh berharap agar pria itu lekas kembali.


Secara tidak langsung, itu sama saja dengan mempermudah tugasnya. Semakin cepat


pria itu memunculkan batang hidungnya, maka akan semakin cepat pula Agatha


memiliki kesempatan untuk mengenalnya. Ketika mereka sudah saling percaya,


Agatha akan menariknya ke penjara tanpa ia sadari.


Terkesan kejam memang. Tapi, itulah yang harus ia


lakukan. Pertama-tama, mereka harus membuat manusia lain merasa percaya


kepadamu dulu. Lalu dengan begitu kau bisa menaklukkannya. Bawa ia terbang


tinggi lebih dulu. Menikmati keindahn angkasa raya beserta isinya dari


ketinggian. Lalu, lepaskan begitu saja. Biarkan ia jatuh dari ketinggian.


“Sudah kubilang jika aku bisa bersikap lebih buruk


dari kalian,” tutur gadis itu sambil tersenyum miring.


Mulai hari ini ia harus


bersiap. Kehidupannya akan berubah seratus delapan puluh derajat. Menjadi


mata-mata di dalam kelompok mafia, tentu saja ia harus bersikap hati-hati


setiap saat. Tidak boleh lengah. Waspada akan membuatmu tetap aman.