The Riot

The Riot
Call



Gadis itu menghela napas dengan kasar. Kemudian menyandarkan


tubuhnya pada sandaran kursi. Sekarang ia mulai bimbang. Ragu dengan


keputusannya sendiri. Padahal sebelumnya Agatha yakin betul jika keluar dari


kantor adalah sesuatu yang paling tepat. Tapi ternyata tidak juga. Setiap hal


bisa saja berubah sewaktu-waktu.


“Itu artinya aku harus menunggu lebih banyak korban


lagi sampai dia menyelesaikan misinya,” batin gadis itu di dalam hati.


Menurut perkiraannya akan ada lebih dari tiga orang


lagi yangakan jatuh sebagai korban. Paling tidak ia harus menunggu sampai


pelaku menyelesaikan misinya. Titik koordinat itu harus dilengkapi. Agatha


sebenarnya sudah tahu jika yang dimaksud oleh pelaku di sini adalah Hongkong.


Tapi, ia tidak pernah tahu ada apa dengan Hongkong. Beserta alasan kenapa ia


begitu terobsesi untuk membunuh orang lain. Seperti tidak ada cara lain saja


utnuk menyampaikannya kepada pihak kepolisian.


‘DRTT!!!’


Ponselnya mendadak bergetar pelan. Membuat seluruh


mata tertuju kepada benda tersebut. Kebetulan ia meletakkannya di atas meja


sejak tadi agar mudah diakses.


Merasa jika panggilan masuk tersebut sudah merusak


suasana hatinya, ia lantas nyaris enggan untuk mengangkatnya. Lagipula siapa


yang menelepon malam-malam begini. Jika saja itu bukan telepon penting, Agatha


tidak akan mau menanggapinya. Namun, karena kali ini panggilannya berasal dari


Robi yang tidak lain dan tidak bukan merupakan rekan kerjanya, mau tak mau ia


harus mengalah dengan dirinya sendiri.


“Arghh!!!” gerutu gadis itu kemudian berdecak pelan


setelahnya.


Dengan kondisi emosional yang masih terbilang kacau


berantakan, ia memaksakan dirinya  untuk


mengangkat telepon tersebut.


“Ada apa?” interupsinya begitu panggilannya


tersambung.


Agatha sedang tidak ingin membuang-buang waktunya


dengan sesuatu yang tidak penting hari ini. Bahkan bukan hari ini saja. Ia


sudah bersikap seperti itu sejak dulu.


“Bisakah kau ke kantor?” tanya sebuah suara dari


seberang sana.


“Untuk apa?” tanya gadis itu balik.


Ia sama sekali tidak mengerti kenapa dirinya diminta


untuk kembali ke kantor pada jam segini. Padahal seharusnya jam kerjanya sudah


usai. Tidak ada urusan apa-apa lagi di kantor. Kecuali memang yang kali ini


urusan penting dan cukup gawat.


“Kita harus melakukan patroli keliling. Aku dengar


pasukan mafia sedang berencana untuk menyerang slaah satu kelab malam,” jelas


Robi dengan panjang lebar.


Mendengar kkalimat tersebut, kedua bola mata gadis


itu refleks membulat dengan sempurna. Ia menahan mulutnya yang ingin terngaga


karena tak percaya. Ekspresinya sekarang pasti terlihat begitu aneh di hadapan


Aaron. Tapi, itu bukan masalah utamanya.


“Ada apa?” tanya Aaron, namun tidak langsung dijawab


oleh gadis itu.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari pria itu, Agatha


langsung bertanya kembali kepada Robi. Setidaknya dia perlu penjelasan lebih


lanjut tentang yang satu ini. Agatha tidak bisa pergi begitu saja tanpa tahu


apa tujuan utamanya dan bagaimana taktik yang akan mereka gunakan. Meski sebenarnya


hal seperti itu akan dibahas nanti pada saat berada di kantor, tetap saja


Agatha merasa penasaran.


“Apa maksudmu?” tanya Agatha.


Kali ini ia tampak jauh lebih tenang dari pada


sebelumnya. Dahi gadis itu berkerut, pertanda jika ia sedang kebingungan.


“Geng mafia terkenal yang bernama Noir itu sedang


dalam perjalanan ke salah satu kelab malam di daerah utara. Kabarnya mereka


di sana malam ini, jadi mereka akan memanfaatkan kesempatan tersebut,” beber


pria itu dengan sejujur-jujurnya. Robi terlihat tidak menutupi apa pun darinya.


“Baiklah, aku paham soal yang satu itu,” ujar Agatha.


“Tapi, darimana kau mendapatkan informasi tersebut?”


tanyanya kemudian.


“Entahlah, aku hanya menerima perintah dari atasan


kita. Katanya ada seseorang yang melapor melalui telepon,” ungkap pria itu.


“Bagaimana jika ternyata itu tidak benar?” tanya


Agatha lagi.


“Tidak ada salahnya untuk memastikan. Selama ini


kita juga selalu begitu,” jawab Robi.


“Lantas, bagaimana jika laporan itu benar dan kita


tidak berada di sana pada saat kejadian? Padahal sudah ada yang melapor


sebelumnya,” timpalnya.


Robi berusaha untuk membalikkan situasinya. Ia


bahkan melemparkan balik pertanyaan tersebut kepada Agatha. Membuat gadis itu


tidak bisa berkata apa-apa. Ini bukan pertama kalinya Agatha menjadi bungkam. Diam


seribu bahasan hanya karena kehabisan kata-kata.


“Jadi, cepatlah datang kemari!” tegas pria itu


sekali lagi.


“Baiklah, aku akan sampai ke sana dalam waktu lima


menit,” kata Agatha yang kemudian langsung menutup teleponnya.


Tanpa pikir panjang lagi, ia segera pergi ke


kamarnya untuk mengambil jaket. Tidak ada waktu untuk bersiap. Gadis itu harus


menepati perkataannya untuk sampai di sana dalam waktu lima menit. Jadi, mau


tidak mau ia terpaksa menggunakan sepeda motor. Mengingat kondisi jalanan yang


ramai, ia tidak akan bisa sampai di sana dengan tepat waktu kalau menggunakan


mobil.


“Kau mau kemana?” tanya Aaron yang masih tampak


kebingungan. Ia tidak mengerti soal apa pun. Pasalnya, Agatha juga tidak


memberikan penjelasan kepadanya. Wajar saja.


“Maaf, aku harus pergi ke kantor. Ada pekerjaan


penting yang perlu diselesaikan sekarang,” ungkap Agatha.


“Masukkan saja makanannya ke kulkas. Nanti akan


kumakan kembali begitu sampai di rumah,” jelasnya.


“Kalau begitu biar aku antar!” tawar pria itu.


“Tidak perlu!” tolak Agatha secara mentah-mentah.


“Kali ini kau tidak perlu ikut campur!” tukasnya.


Tanpa banyak bicara lagi, gadis itu segera meraih


kunci sepeda motornya yang tergantung di dekat pintu masuk. Ia bahkan


meninggalkan pria itu sendirian. Tanpa berpamitan sama sekali.


Dengan langkah yang tergesa-gesa, ia berjalan menuju


parkiran. Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia mengendarai sepeda motor. Mungkin


sekitar dua tahun yang lalu. Setelah kecelakaan hebat yang menyebabkan tulang pahanya


harus retak, Agatha tidak pernah lagi mengendarai sepeda motor. Ia hanya


mendiamkan kendaraan itu di parkiran, tanpapernah menyentuhnya sama sekali.


Paling hanya melakukan perawatan rutin saja agar mesinnya tetap berfungsi.


Malam itu ia juga mengalami kecelakaan karena hal


yang sama. Atasannya menyuruh gadis itu untuk kembali ke kantor secepat


mungkin. Sebab mereka akan melakukan penyergapan. Tapi, Agatha malah kehilangan


konsentrasi pada saat diperjalanan karena terburu-buru. Hasilnya besok ia malah


terbangun di ruang perawatan intensif dengan kondisi yang memprihatinkan.


“Apa yang kau lakukan Agatha!” serunya kepada


dirinya sendiri.


Ia nyaris melamun dan


buang-buang waktu karena mengingat kejadian naas tersebut. Sekarang tidak ada


waktu untuk hal seperti itu Ia harus segera pergi. Dengan segenap sisa semangat


yang masih ia miliki, Agatha berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri jika


kejadian yang sama tidak akan terulang kembali untuk kedua kalinya. Tidak akan


pernah, selama ia berhati-hati.