The Riot

The Riot
Akses Khusus



Sebenarnya ada satu keuntungan lagi yang bisa ia dapatkan.


Agatha belum pernah pergi ke markas utama sebelumnya. Ia bahkan tidak tahu


dimana tempat itu berada. Jadi, jika Agatha pergi bersama pria itu, kecil


kemungkinan jika ia akan tertinggal.


Sepanjang perjalanan, Agatha terus memperhatikan


jalanan yang ada di sekitarnya dengan seksama. Dia perlu tahu dimana markas


utama. Karena mereka tidak akan sering kemari, oleh sebab itu Agatha harus


menghapal rutenya dengan cepat. Kemudian setelahnya ia bisa melapor kepada


Arjuna.


Mendadak Immanuel dan beberapa temannya yang lain


menepikan sepeda motornya di depan sebuah gedung perkantoran. Tidak jelas


kantor yang bergerak di bidang apa ini. Yang Agatha tahu, ini adalah


perkantoran.


“Apa markas utama mereka terletak di gedung


perkantoran seperti ini?” gumamnya dalam hati.


Dia mencoba untuk tidak mengerutkan dahinya meski


merasa kebingungan. Agatha bersikap biasa saja, seolah tidak ada apa-apa yang


terjadi.


Tapi, kali ini benar-benar aneh. Kenapa para mafia


itu menggunakan gedung perkantoran seperti ini sebagai markas utamanya. Ada


banyak orang yang akan mengunjungi tempat ini setiap harinya. Pasti sulit untuk


bergerak secara leluasa. Siapa saja bisa melapor kepada pihak yang berwajib


jika mereka merasakan sesuatu yang janggal. Tapi, anehnya semua orang di sini


tampak biasa saja.


Hanya ada dua kemungkinan di sini. Yang pertama


adalah orang-orang ini mungkin memang tidak tahu apa-apa dan tidak ingin ikut


campur juga. Daripada mengurusi urusan orang lain, lebih baik mengurusi dirinya


sendiri saja.


Kemungkinan kedua, bisa saja mereka semua yang


bekerja di sini sudah tahu. Tapi, mereka berpura-pura tidak tahu karena tak


ingin mencari masalah dengan orang yang salah. Atau bahkan jangan-jangan mereka


sudah diancam oleh para mafia ini untuk tidak buka suara meskipun sudah tahu.


Namun, dari kedua kemungkinan yang ada tadi, Agatha


masih memiliki satu kemungkinan lagi. Tapi, ini adalah kemungkinan terburuknya.


Dia sama sekali tidak mengharapkan kalau hal yang satu ini benar.


Tapi, tetap saja semesta tidak pernah menutup


kemungkinan bagi opsi yang paling buruk sekali pun. Bagaimana jika ternyata


mereka semua yang berada di tempat ini terlibat dalan satu jaringan mafia.


Agatha tidak bisa membayangkannya. Mau ada berapa banyak orang yang perlu


mereka amankan. Sepertinya jika mereka mengosongkan semua sel penjara di kantor


pun, sepertinya tetap saja tidak akan cukup untuk menampung semua orang yang


terlibat.


Sekarang Agatha baru sadar jika ia tidak menghadapi


kasus yang biasa. Misi ini tidak main-main. Pilihannya hanya ada dua. Jika ia tidak


berhasil, maka siap-siap saja untuk merelakan nyawanya.


“Ayo, masuk! Ajak Immanuel.


Suara barusan sukses membuyarkan isi peikirannya


pada saat itu. Agatha langsung tersadar dari lamunannya dan segera mengiyakan


perkataan Immanuel.


Setelah meletakkan helmnya, gadis itu beralih untuk


membuntuti langkah pria itu dari belakang. Ia tidak ingin berjalan sejajar


dengannya. Mereka pasti akan menjadi pusat perhatian. Sebab, orang-orang tentu


akan pegi ke kantor dengan pakaian yang rapih. Berbeda dengan mereka ini.


Namun, sepertinya Immanuel dan teman-temannya punya


cara lain untuk mensiasati hal tersebut. Mereka tidak masuk dari pintu depan.


Tentu saja ada satpam yang berjaga di sana. Kedatangan mereka pasti akan mengundang


perhatian banyak orang jika lewat pintu depan. Padahal di pintu belakang pun


pasti ada satpam. Setiap pintu masuk atau akses untuk masuk yang lainnya pasti


memiliki setidaknya satu penjaga.


Alih-alih ditangkap oleh pihak keamanan, mereka


tipis ke arah mereka sebelum diizinkan masuk. Tampaknya yang satu itu merupakan


bentuk sapaan. Sepertinya mereka sudah sering datang kemari. Jadi tidak perlu


heran lagi.


“Apa satpam yang tadi itu mengenal kalian semua?”


tanya Agatha penasaran.


Kali ini dia perlu mencari tahu lebih banyak lagi.


Agatha harus ingat dengan tugas utamanya. Apa yang membuat gadis itu sampai


tercampakkan kemari. Memangnya apalagi jika bukan untuk memata-matai kegiatan


super rahasia ini. Semakin cepat mereka diringkus, semakin cepat pula gadis itu


terlepas dari tanggung jawab yang selama ini menghantuinya.


“Semua orang yang berada di sini mengenal siapa


kami,” ungkap Mike secara terang-terangan.


“Apakah itu sungguhan?” tanya Agatha lagi yang


kemudian diangguki oleh Immanuel.


Mereka masih terus berbincang sambil tetap berjalan


menuju salah satu lift yang terletak di sudut ruangan. Di depan pintunya


tertulis dengan jelas jika itu merupakan lift khusus. Hanya orang-orang


tertentu yang memiliki kartu akses yang bisa memakainya. Menurut pengamatan


Agatha, ini pasti bukan sembarang lift.


Zean menempelkan kartu aksesnya pada pintu lift,


sampai terbuka. Kemudian mereka semua masuk. Immanuel menekan nomer 21 yang


berarti jika lift mereka akan berhenti nanti di lantai tersebut.


Tepat setelah pintu lift tertutup, benda raksasa ini


mulai bergerak naik secara perlahan. Karena dindingnya yang transparan, mereka


jadi bisa melihat keluar. Seluruh kota sepertinya bisa terpantau dengan jelas


dari sini. Agatha tidak tahu pasti apa tujuannya, kenapa mereka membuat rancangan


bangunan yang seperti ini. Entah itu untuk kesan estetika semata atau malah ada


fungsi tersendiri.


“Kau sebentar lagi juga akan mendapatkan kartu


akses. Sehingga kau bisa kemari kapan pun,” ujar Zean secara tiba-tiba.


“Apa semua orang yang bekerja di kantor ini memiliki


kartu seperti itu?” tanya Agatha untuk memastikan.


“Tidak, hanya orang-orang tertentu saja,” kata Mike


yang ikut menimpali.


“Lalu, aku termasuk kepada salah satunya begitu?”


tanya gadis itu lagi.


Tidak ada yang buka suara untuk menjawab


pertanyaannya. Mereka hanya menangguk pelan. Sepertinya itu sudah lebih dari


cukup bagi Agatha untuk menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.


“Posisi kita di sini sedikit lebih tinggi daripada


para pegawai yang kau lihat di bawah tadi. Jadi, dengan begitu kita berhak


untuk mendapatkan akses khusus terkait tempat ini,” jelas Immanuel dengan


sederhana.


Agatha lantas mengangguk paham. Ini adalah sebuah


kesempatan besar baginya. Akan sangat sayang jika sampai dilewatkan. Memiliki


akses khusus terhadap gedung ini, itu artinya dia bisa keluar masuk kapan saja.


Agatha bisa datang dan berkunjung kemari kapan pun tanpa harus takut dicurigai.


Mungkin beberapa hari ke depan setelah ia


mendapatkan kartu akses miliknya, Agatha jadi akan lebih sering berkunjung


kemari. Bukan untuk apa-apa. Melainkan untuk mengumpulkan semua informasi yang


masih bisa ia tampung. Tempat ini pasti telah menampung begitu banyak rahasia.


“Markas besar para mafia di tengah perkantoran,”


gumam Agatha pelan.


“Memangnya kenapa?” tanya Immanuel.


“Aneh saja, biasanya


para penjahat kriminal selalu memilih tempat yang jauh dari keramaian untuk dijadikan


markas. Karena setiap kegiatan mereka pastilah bersifat rahasia,” jelas gadis


itu dengan panjang lebar.