
Ternyata pekerjaan
barunya sebagai mata-mata tidak buruk-buruk amat. Meski harus selalu peka dan
siaga kapan pun itu, tapi setidaknya Agatha tidak perlu mengandalkan terlalu
banyak kekuatan fisiknya. Cukup perlu mengandalkan intelegensinya saja.
Agatha baru saja
berpamitan pulang. Tadinya gadis itu berniat untuk langsung pergi menemui
Arjuna di tempat yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Namun, mendadak ia baru
ingat akan sesuatu. Agatha perlu berbelanja beberapa bahan makanan untuk
persediaan selama beberapa hari ke depan.
Mungkin ia akan jadi
sedikit terlambat untuk menemui pria itu. Tapi tidak apa. Masih ada sekitar satu
jam lagi sebelum jadwal mereka bertemu. Agatha bisa memanfaatkan kesempatan
tersebut untuk membereskan urusannya lebih dulu.
Tanpa pikir panjang,
gadis itu segera naik ke atas sepeda motornya. Ia akan langsung kembali ke
gedung apartmentnya. Daripada pergi ke tempat lain, akan jauh lebih baik jika
ia berbelanja kebutuhannya di minimarket yang berada di lantai dasar gedung
apartment. Selain tidak jauh, ia juga bisa menghemat lebih banyak waktu.
Begitu masuk ke sana,
Agatha langsung mengambil sebuah keranjang. Sebab ia sudah bisa menebak jika
kedua tangannya tidak akan cukup untuk menampung semua barang belanjaannya itu.
Pertama-tama, ia pergi ke area roti. Gadis itu perlu menyiapkan persediaan roti
tawar. Pasalnya, hampir setiap pagi ia selalu mengonsumsi makanan yang satu
itu. Selain tidak mau repot, Agatha juga tidak terbiasa untuk memakan makanan
yang terlalu berat untuk sarapan.
“Kenapa tidak langsung
pergi saja?!”
“Sudah kubilang jika
mereka pasti sedang merencanakan sesuatu!”
“Kalau begitu lakukan
perintahku yang tadi dan jangan banyak bicara!”
Perhatian gadis itu
langsung tertuju kepada sebuah suara yang ternyata berasal dari ujung lorong. Ada
seorang pria yang berdiri sendirian di sana sambil memegang keranjang belanjaan
miliknya. Benda itu sudah hampir terisi penuh oleh beberapa barang.
Agatha tidak merasa
asing dengan orang tersebut. Mereka sering bertemu sebelumnya. Memangnya siapa
lagi jika bukan Aaron. Sungguh kebetulan sekali mereka bertemu di sini.
Biasanya juga di lorong menuju lift.
“Aaron!” sahut Agatha.
Pria itu lantas segera
memalingkan pandangannya ke arah sumber suara. Tanpa pikir panjang, ia
melambaikan tangan ke arah Agatha. Aaron beergerak maju menghampiri gadis
tersebut. Ekspresinya langsung berubah total. Padahal tadi dengan jelas Agatha
melihat kalau pria itu sedang marah. Yang jelas emosinya pasti sedang mendidih.
Namun, entah kenapa saat Agatha memanggilnya semua jadi terlihat baik-baik
saja. Seolah tidak ada apa-apa. Aneh. Tapi, ia sedang tidak ingin memusingkan
hal seperti itu. Tidak penting sama sekali.
“Sedang apa kau di
sini?” tanya Aaron begitu sampai.
“Jelas berbelanja.
Memangnya apa lagi?” balas Agatha.
“Kau juga melakukan hal
yang sama, bukan?” tanya gadis itu balik yang kemudian segera diangguki oleh
Aaron.
“Sebenarnya aku sudah
selesai. Tinggal membayar semua ini saja,” kata pria itu.
“Oh, kalau begitu bayar
saja!” persilahkan Agatha.
Gadis itu bermaksud
untuk mempersilahkan Aaron untuk pergi lebih dulu. Siapa tahu setelah ini dia
memang sedang ada urusan penting. Terkadang kita tidak bisa mengajak orang
berbicara terus-terusan. Harus melihar waktu juga.
“Tidak, kita sama-sama
saja nanti ke kasir,” ucap pria itu.
Aaron sedang menolak
perkataan gadis itu secara tidak langsung. Sebenarnya Agatha juga tidak masalah
selesai. Selama hal tersebut tidak membuatnya terasa terganggu.
“Kalau kau mau pergi
duluan juga tidak apa-apa. Siapa tahu ada urusan penting,” ujar Agatha secara
tiba-tiba.
“Tidak, memangnya sejak
kapan aku memiliki urusan penting?” tanya pria itu sambil bercanda.
Mereka bicara tentang
banyak hal selama berada di minimarket. Aaron sungguhan tidak pergi lebih dulu.
Ia malah menunggu bahkan menemani gadis itu untuk berbelanja.
“Jadi, bagaimana dengan
pekerjaanmu?” tanya pria itu secara tiba-tiba.
Agatha pun sontak
terdiam. Dia bungkam, tidak langsung menjawab. Untuk beberapa saat ia sibuk
dengan isi pikirannya sendiri. Agatha tak tahu harus menjawabnya dengan
bagaimana. Ia harus kembali mengingat perkataan Arjuna sebelumnya, jika mereka
sedang melakukan misi rahasia. Yang itu berarti sidak semua orang bisa tahu. Bahkan
timnya saja tidak tahu. Apalagi orang asing seperti Aaron.
Agatha bingung. Tak tahu
harus bagaimana dalam menjawabnya. Ia takut salah dalam berkata-kata dan malah
membuat pria itu merasa curiga.
“Hei!” sahut Aaron
sambil memukul pundak gadis itu dengan sengaja.
Ia melakukan hal yang
demikian, karena tidak ada respon sama sekali dari Agatha sejak terakhir kali
ia bertanya. Takut jika gadis itu malah melamun.
“Apa sih?!” seru Agatha
tak terima karena diperlakukan seperti itu.
“Siapa yang menyuruhmu
melamun?” tanya Aaron.
“Memangnya siapa yang
melamun?” tanya gadis itu balik.
“Itu buktinya kau tidak
menjawab pertanyaanku yang barusan,” kata Aaron.
Mendengar perkataan
tersebut, gadis itu lantas mengehela napas dengan kasar. Padahal diam-dian ia
tengah berusaha setengah mati untuk tetap bertingkah biasa saja. Tentu agar
tidak membuat pria itu merasa curiga. Pasalnya, Aaron termasuk tipikal orang
yang terkadang menjadi begitu peka terhadap sekitarnya. Bahkan jika itu adalah
hal kecil sekali pun. Jadi, Agatha harus ekstra hati-hati.
“Mau sampai berapa kali
lagi harus kukatakan kalau aku sedang mengambil cuti selama beberapa pekan ke
depan?!” celoteh gadis itu dengan panjang lebar.
Apa yang dikatakan oleh
gadis ini sebetulnya ada benarnya juga. Ini sudah yang kesekian kalinya pria
itu menanyakan hal serupa. Padahal tadi pagi Agatha sudah memberikan
jawabannya. Belum ada sekitar dua puluh empat jam yang lalu.
“Aku tidak percaya jika
kau sungguh mengambil cuti untuk dirimu sendiri dalam jangka waktu yang begitu
lama,” ujar Aaron.
“Terakhir kali kau
bercerita kepadaku jika ada satu kasus tentang pembunuhan berantai yang harus
kau selesaikan dengan segera. Tidak banyak lagi waktu untuk meringkus
pelakunya. Tapi, sekarang kau bersikap seolah-olah tugas yang satu itu tidak
penting lagi,” jelas pria itu dengan pajang lebar.
Aaron menceritakan detail
permasalahannya secara rinci. Diam-diam ia berhasil menyudutkan gadis itu
secara tidak langsung.
“Kasusnya dialihkan
kepada rekan kerjaku yang lain. Seperti yang kau tahu jika belakangan ini
kondisi kesehatanku jadi tidak baik-baik saja karena mengurusi kasus tersebut,”
balas Agatha dengan begitu santai.
Dia
tidak bisa dipungkiri, jika sekarang detak jantung gadis itu perlahan mulai
meningkat karena gugup. Ia takut terjebak dalam masalah besar yang diciptakan
oleh dirinya sendiri. Tidak, jangan sampai hal itu terjadi. Agatha tak siap
kalau sampai mimpi buruknya selama ini sungguh jadi kenyataan.