The Riot

The Riot
Hidden Cam



Untuk memastikan apakah


asumsinya benar atau tidak, Agatha masih terus berusaha untuk mengamati benda


tersebut. Sampai secara tiba-tiba kedua bola matanya menangkap sebuah lensa


kecil yang berada di dalamnya.


“Sial!” umpat gadis


itu.


Tanpa pikir panjang, ia


segera melemparkan kamera berukuran mini tersebut ke lantai. Kemudian tanpa


segan-segan, Agatha menginjaknya. Menghancurkan benda itu jadi beberapa bagian


yang jauh lebih kecil lagi.


“Siapa yang menyelinap


masuk kemari dan memasang kamera tersebut?” gumam gadis itu geram.


Ia bahkan sampai


mengepal tangannya kuat-kuat karena geram. Sebelum pada akhirnya menggebrak


meja riasnya. Membuat beberapa benda yang berada di sekitarnya jadi ikut


bergetar pelan.


Terakhir kali Agatha


mengganti kata sandi apartmentnya yaitu tepat bulan lalu. Tidak ada yang tahu


sudah berapa lama kamera ini berada di kamarnya. Kemungkinan besar sebelum ia


sempat mengganti kata sandi apartmentnya. Ada dua orang yang memiliki potensi


paling besar untuk melakukan kejahatan. Sebab, hanya ada dua orang asing yang


tahu kata sandi tempat ini. Yang jelas selain penghuninya sendiri.


“Aaron atau Arjuna?”


gumamnya sambil memiringkan kepalanya.


Aaron adalah


satu-satunya orang yang memiliki kemungkinan paling besar untuk dijadikan


sebagai tersangka. Lihat saja bagaimana perilakunya selama ini. Bahkan kesan


pertama saat mereka berdua saling bertemu antara satu sama lain, tidak


baik-baik saja. Selain itu, Aaron juga jadi orang yang paling sering masuk ke


tempat ini ketika penghuninya tak ada. Terhitung begitu sering ia mengunjungi


apartment Agatha ketika masih menggunakan kata sandi lama yang mereka berdua


sama-sama tahu.


Tapi, di sisi lain


Arjuna juga memungkinkan untuk dijadikan sebagai tersangka. Meski pria itu baru


sekali datang kemari. Itu pun karena Agatha yang memintanya. Satu hal yang ia


sesali di sini, kenapa kejadian yang tidak diinginkan selalu saja terjadi saat


ia sedang tak berada di sana.


“Tunggu dulu!” ucap


gadis itu kepada dirinya sendiri.


Jika dipikir-pikir


kembali, sepertinya kedua opsi tersebut tidak mungkin jika dilihat dari


kacamata lain. Mereka berdua memang pernah menyelinap masuk kemari. Tapi, jika


dipikir-pikir lagi sepertinya tidak mungkin. Agatha selalu mengunci kamarnya


ketika pergi. Kemana pun itu. Hanya ada dua tempat yang paling ia lindung di


sini. Yaitu, apartment dan kamarnya. Tapi, yang terpenting adalah kamarnya


sendiri. Sebab tempat itu memiliki tingkat privasi yang paling tinggi.


“Tidak mungkin jika


mereka masuk ke kamarku. Padahal kunci selalu ada bersamaku,” gumam gadis itu


sambil berdecak pelan.


Saat akan tertidur pun,


ia selalu mengunci kamarnya demi alasan keamanan. Jadi, rasanya tidak mungkin


jika ada orang lain yang masuk ke kamarnya. Aaron juga tidak pernah masuk


kemari jika Agatha sedang berada di apartment. Mana berani ia cari masalah


dengan gadis itu. Agatha akan mengawasi setiap hal yang terjadi di rumah ini.


Dia bahkan tidak perlu kamera pengawas saat sedang berada di tempat tinggalnya


sendiri.


“Jadi, sebenarnya


bagaimana bisa benda yang satu ini sampai kemari?” tanya Agatha kepada dirinya


sendiri.


Berdasarkan yang sudah


terjadi selama ini, hanya Arjuna lah satu-satunya orang yang pernah masuk


kemari. Satu hari Agatha pernah meminta bantuan kepadanya untuk mengambil


beberapa berkas yang tertinggal di laci nakas. Kebetulan hari itu Agatha sedang


tidak membawa kunci kamarnya. Ia hanya meninggalkannya begitu saja di pot


tanaman palsu yang berada tepat di samping pintu masuk utama apartment.


“Dasar ceroboh!”


gerutunya.


Agatha merutuki


kebodohannya sendiri. Lagi-lagi ia hampir celaka karena bersikap ceroboh. Kalau


boleh meminta, satu-satunya hal yang ingin ia hilangkan dari dirinya sendiri


karena sikap cerobohnya.


Sekarang tidak penting


siapa pelakunya. Mau bagaimanapun juga, Agatha tetap bersalah juga di sini.


Sedikit banyaknya, kejadian ini bisa terjadi akibat kecerobohannya.


“Kenapa dia meletakkan


kamera tersembunyi seperti ini di dalam kamarku?”


“Fiuh! Beruntung aku


tidak pernah menukar pakaian di tempat ini.”


Setidaknya masih ada


satu hal yang berhasil membuatnya merasa jauh lebih lega di sini. Agatha memang


tak pernah berganti pakaian di kamar. Pasti selalu di ruang ganti. Tapi, tetap


saja ia harus memeriksa semua tempat di apartmentnya. Siapa tahu masih ada kamera


yang disembunyikan di tempat lain. Tidak ada salahnya bukan? Kembali lagi ke


prinsip awalnya, jika waspada akan membuatmu aman.


***


“Kenapa terlambat?”


interupsi Fadli begitu Agatha sampai di markas.


Bahkan gadis itu belum


sempat untuk mendaratkan bokongnya di tempat duduk.


“Aku hanya terlambat


sekitar dua menit,” kata Agatha. Ia sedang berusaha untuk membela dirinya.


“Terserah saja!” balas


pria itu acuh tak acuh.


“Omong-omong, kemana


yang lain?” tanya Agatha mengalihkan topik pembicaraan.


“Sedang mengurus


pembebasan beberapa anggota lain yang tertangkap kemarin,” ujar pria itu dengan


apa adanya.


“Tertangkap?” tanya Agatha


sambil mengerutkan dahinya.


Ia sama sekali tidak


mengerti dengan maksud pria ini. Entah apa yang sedang mereka bicarakan.


Maksudnya siapa yang tertangkap.


“Iya, hampir separuh


dari tim yang pergi ke pelabhan kemarin berhasil tertangkap oleh polisi,”


ungkap Fadli.


Agatha lantas


mengangguk-anggukkan kepalanya. Hampir saja ia melupakan hal itu. Bukan hampir,


memang sudah lupa. Kalau Fadli tidak mengingatkannya kembali, mungkin Agatha


akan bersikap bodoh dan tidak tahu apa-apa.


“Aku tidak tahu


bagaimana para polisi itu bisa mengetahui keberadaan kami kemarin,” ujar Fadli.


“Apa kau sudah menutup


semua mulut petugas yang berada di sana?” tanya gadis itu.


Agatha berusaha untuk


bersandiwara dengan sealami mungkin. Jangan sampai mereka menaruh rasa curiga


kepadanya.


“Atau jangan-jangan ada


yang berkhianat?” timpal Agatha lagi.


Sementara itu, di sisi


lain Fadli tampaknya sedang tidak ingin menanggapi kalimat tersebut. Ia jauh


lebih sibuk untuk memikirkan segala kemungkinan yang ada.


“Jadi, mereka semua pergi


kecuali kau?” tanya gadis itu untuk memastikan. Yang kemudian segera dibalas


dengan angguukan oleh Fadli.


Agatha tidak tahu apa


yang akan dilakukan oleh kawanan mafia itu. Mereka mungkin akan bertindak


brutal dengan menyerang kantor polisi. Atau mungkin malah bersikap sebaliknya.


Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang akan mereka lakukan.


Pantas saja kemarin


Arjuna tidak menjawab panggilan telepon dari gadis itu. Pasti ia sedang sibuk. Sampai-sampai


tidak mempedulikan ponselnya lagi. Bagaimana bisa Agatha lupa kalau tadi malam


mereka kedatangan barang baru di pelabuhan. Padahal ia yang memberi tahu info


tersebut kepada Arjuna, tapi bisa-bisanya juga ia lupa begitu saja.


“Pasti Arjuna yang


memimpin jalannya operasi penyergapan kemarin itu,” batinnya dalam hati.


Ini


baru permulaan. Masih banyak hal lain yang akan terjadi ke depannya. Bisa jadi


jauh lebih buruk daripada kemarin.