The Riot

The Riot
Paper



Seperti yang sudah ia


katakan sebelumnya, jika ia tidak mau memberi tahu lokasi tempat tinggal


barunya kepada orang lain. Mulai hari ini dan seterusnya Agatha harus tetap


merahasiakan keberadaannya. Ada begitu banyak orang asing yang tengah


mengincarnya saat ini. Tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga bukan. Lagi pula


waspada akan membuatmu tetap aman.


Ia baru saja sampai di


apartment. Tenang saja, kali ini gadis itu memang sengaja untuk tidak menerima


tawaran dari Arjuna. Padahal ia tahu dengan jelas kalau pria itu pasti


bermaksud baik. Beruntung tadi Arjuna tidak marah. Pria itu sama sekali tidak


masalah dengan penolakan yang terjadi kepada dirinya. Meski orang-orang nyaris


tidak pernah menolak Arjuna. Tapi, Agatha telah melakukannya.


“Bagaimana dengan


pembunuhan berantai itu?” gumam Agatha.


“Sama sekali tidak ada


pertambahan korban sejak dua bulan lalu,” katanya.


Entah kenapa mendadak


si pelaku tidak berulah lagi. Lebih tepatnya tidak ada korban jatuh lagi


setelah kasus terakhir yang mereka tangani. Padahal jika dipikir-pikir sekali


lagi, ia masih memerlukan beberapa orang untuk melengkapi simbol dari titik


koordinat yang akan dimaksudkannya. Apakah mungkin karena Agatha sudah


mengetahui segalanya, jadi si pelaku tidak memiliki alasan lagi untuk


melanjutkan aksinya.


Tapi aneh juga kalau


memang benar itu alasannya. Bagaimana bisa si pelaku sadar kalau Agatha sudah


mengetahui segalanya. Mustahil jika ia menguntit gadis itu. Bukan mustahil


sebenarnya, hal tersebut bisa saja terjadi. Namun, Agatha hanya tidak siap


untuk menerima kenyataan gila seperti itu.


“Jangan bilang kalau


dia kehabisan target,” gumam Agatha.


Tapi sepertinya


lagi-lagi hal tersebut tidak mungkin terjadi. Bukankah selama ini si pelaku


terkenal membunuh orang-orang secara acak. Yang bahkan tidak memiliki hubungan


apa pun dengannya.


“Ah! Entahlah!” seru


gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya.


Entah kenapa hidupnya


tidak pernah bisa tenang. Sealu ada saja masalah yang datang kepadanya setiap


hari. Perlu ditegaskan kembali jika ini bukan masalah yang sederhana. Sepertinya


Agatha hampir lupa kalau ia tengah bekerja sebagai anggota kepolisian saat ini.


Sudah jelas jika setiap harinya ia akan menerima laporan baru mengenai masalah


kriminal.


‘DRRTTT!!!’


Baru saja Agatha akan


beranjak dari kamarnya, tiba-tiba ponselnya berdering pelan. Itu tandanya ada


orang yang mencoba untuk menghubunginya sekarang ini. Tanpa pikir panjang lagi,


gadis itu segera mengangkat teleponnya.


Jeff. Lagi-lagi pria


itu yang menelepon. Akhir-akhir ini Jeff terbilang jauh lebih sering menjalin


komunikasi dengan Agatha. Baik itu secara langsung maupun melalui telepon


seperti ini.


“Halo, ada apa?”


interupsi Agatha lebih dulu begitu panggilannya tersambung.


“Kau sedangdi apartment?”


tanya pria itu balik.


“Iya, memangnya kenapa?”


tanya Agatha lagi.


“Tidak apa-apa. Itu


berarti kau sedang tidak sibuk. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,”  jelas Jeff.


“Malam-malam begini?”


tanya Agatha untuk memastikan.


“Kau bisa kan?” tanya


Jeff balik.


Di sisi lain ia tetap


tidak ingin merepotkan gadis ini. Tidak masalah kalau Agatha tidak bisa keluar


malam-malam seperti ini. Mengingat ia baru saja keluar dari rumah sakit. Jeff


bisa memahami yang satu itu. Lagi pula memang tidak bisa memaksakan kehendak


kita kepada orang lain. Itu adalah peraturan dasar dalam hidup setiap manusia. Namun,


ada saja yang mencoba untuk melanggarnya.


“Memangnya kita akan


pergi kemana?” tanya Agatha.


“Ya sudah, kita tidak


Kebetulan aku sudah berada di halaman depan sekarang ini,” jelas pria itu


dengan panjang lebar yang kemudian pada akhirnya disetujui oleh si pemilik


tempat.


“Langsung naik saja ke


atas kalau begitu!” perintah Agatha.


“Baiklah!” balas Jeff


kemudian mematikan teleponnya.


Karena pembicaraan


mereka kali ini bersifat cukup rahasia, sepertinya tempat umum seperti café dan


restoran bukan tempat yang tepat. Orang lain bisa saja menguntit tanpa mereka


ketahui. Terlebih sejak kejadian Agatha diracuni oleh orang asing beberapa


waktu lalu, mereka jadi bersikap lebih waspada.


“Jadi hal apa yang


perlu kau bicarakan sampai datang ke sini malam-malam?” tanya Agatha setelah


menyajikan secangkir kopi di meja.


“Apa kau sudah membaca


salinan hasil autopsi korban yang sudah kuberikan tadi? Tanya Jeff untuk


memastikan.


“Belum. Aku tidak


melakukan apa pun malam ini. Mungkin besok baru akan kuperiksa kembali,” jawab


Agatha dengan apa adanya.


Gadis itu sudah terlalu


kelelahan. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk pemeriksaan tadi pagi.


Kondisi kesehatan Agatha masih belum pulih sepenuhnya. Dia perlu istirahat yang


cukup. Oleh sebab itu, Agahta tidak akan terlalu memaksakan dirinya kali ini. Bukankah


selama ini ia sudah cukup keras terhadap dirinya sendiri.


“Kalau begitu sebaiknya


kau baca dulu hasil autopsinya, maka kau akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Isi pikiranmu pasti tidak jauh berbeda denganku,” jelasnya dengan panjang


lebar.


Padahal hal tersebut


belum bisa dipastikan. Tapi, Jeff begitu percaya diri menyatakan kalau mereka


akan sependapat pada akhirnya.


Agatha lantas mengerutkan


dahinya karena kebingungan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang


terjadi di sini. Termasuk perkataan Jeff dari awal sampai akhir. Ia jadi


bertanya-tanya kepada dirinya sendiri apakah ia harus membaca hasil autopsi itu


sekarang. Tapi, ia bahkan tidak mengerti dengan beberapa istilah medis. Meski sebenarnya


Robi telah membantu untuk menjelaskan soal beberapa hal yang tertera di


dalamnya.


“Aku tetap tidak akan


membacanya hari ini,” ungkap Agatha secara gamblang.


“Tapia pa kau tahu


kalau korban penembakan kemarin juga termasuk kepada salah satu daftar korban


dari kasus pembunuhan berantai ini?” tanya Jeff dengan serius.


Sungguh ia tidak tahu


harus berkata-kata apa. Agatha hanya bisa bungkam. Bagaimana bisa hal tersebut


terjadi. Otaknya sama sekali tidak mampu memikirkan tentang yang satu itu.


“Apa yang kau maksud?”


tanya Agatha.


“Kemarikan salinan


hasil autopsi itu!” perintah Jeff.


“Tunggu sebentar, aku


akan mengambilnya di kamar,” balas gadis itu.


Tak lama kemudian


setelah beranjak dari tempat duduknya, gadis itu kembali kepada Jeff sambil


membawa amplop coklat dengan logo rumah sakit di salah satu sisinya.  Tanpa pikir pajang, ia langsung menyerahkan


benda tersebut kepada Jeff. Sungguh sejak tadi ia tidak mengerti apa pun di


sini.


“Lihat ini!” perintah


Jeff sambil mennyodorkan kertasnya.


“Itu peluru yang mereka


maksud tadi,” ucap Agatha.


Memang benar itu adalah


peluru yang mereka bicarakan tadi. Tapi, bukan itu intinya saat ini. Ada hal


lain yang terasa janggal dan belum semua orang mengetahui hal tersebut


tampaknya. Entah tadi mereka yang kurang teliti atau bagaimana.


“Apa kau merasa ada


yang aneh pada peluru ini?” tanya Jeff untuk memastikan.


“Coba


perharikan sekali lagi!” pungkasnya.