
Seperti yang sudah ia
katakan sebelumnya, jika ia tidak mau memberi tahu lokasi tempat tinggal
barunya kepada orang lain. Mulai hari ini dan seterusnya Agatha harus tetap
merahasiakan keberadaannya. Ada begitu banyak orang asing yang tengah
mengincarnya saat ini. Tidak ada salahnya untuk berjaga-jaga bukan. Lagi pula
waspada akan membuatmu tetap aman.
Ia baru saja sampai di
apartment. Tenang saja, kali ini gadis itu memang sengaja untuk tidak menerima
tawaran dari Arjuna. Padahal ia tahu dengan jelas kalau pria itu pasti
bermaksud baik. Beruntung tadi Arjuna tidak marah. Pria itu sama sekali tidak
masalah dengan penolakan yang terjadi kepada dirinya. Meski orang-orang nyaris
tidak pernah menolak Arjuna. Tapi, Agatha telah melakukannya.
“Bagaimana dengan
pembunuhan berantai itu?” gumam Agatha.
“Sama sekali tidak ada
pertambahan korban sejak dua bulan lalu,” katanya.
Entah kenapa mendadak
si pelaku tidak berulah lagi. Lebih tepatnya tidak ada korban jatuh lagi
setelah kasus terakhir yang mereka tangani. Padahal jika dipikir-pikir sekali
lagi, ia masih memerlukan beberapa orang untuk melengkapi simbol dari titik
koordinat yang akan dimaksudkannya. Apakah mungkin karena Agatha sudah
mengetahui segalanya, jadi si pelaku tidak memiliki alasan lagi untuk
melanjutkan aksinya.
Tapi aneh juga kalau
memang benar itu alasannya. Bagaimana bisa si pelaku sadar kalau Agatha sudah
mengetahui segalanya. Mustahil jika ia menguntit gadis itu. Bukan mustahil
sebenarnya, hal tersebut bisa saja terjadi. Namun, Agatha hanya tidak siap
untuk menerima kenyataan gila seperti itu.
“Jangan bilang kalau
dia kehabisan target,” gumam Agatha.
Tapi sepertinya
lagi-lagi hal tersebut tidak mungkin terjadi. Bukankah selama ini si pelaku
terkenal membunuh orang-orang secara acak. Yang bahkan tidak memiliki hubungan
apa pun dengannya.
“Ah! Entahlah!” seru
gadis itu sambil mengacak-acak rambutnya.
Entah kenapa hidupnya
tidak pernah bisa tenang. Sealu ada saja masalah yang datang kepadanya setiap
hari. Perlu ditegaskan kembali jika ini bukan masalah yang sederhana. Sepertinya
Agatha hampir lupa kalau ia tengah bekerja sebagai anggota kepolisian saat ini.
Sudah jelas jika setiap harinya ia akan menerima laporan baru mengenai masalah
kriminal.
‘DRRTTT!!!’
Baru saja Agatha akan
beranjak dari kamarnya, tiba-tiba ponselnya berdering pelan. Itu tandanya ada
orang yang mencoba untuk menghubunginya sekarang ini. Tanpa pikir panjang lagi,
gadis itu segera mengangkat teleponnya.
Jeff. Lagi-lagi pria
itu yang menelepon. Akhir-akhir ini Jeff terbilang jauh lebih sering menjalin
komunikasi dengan Agatha. Baik itu secara langsung maupun melalui telepon
seperti ini.
“Halo, ada apa?”
interupsi Agatha lebih dulu begitu panggilannya tersambung.
“Kau sedangdi apartment?”
tanya pria itu balik.
“Iya, memangnya kenapa?”
tanya Agatha lagi.
“Tidak apa-apa. Itu
berarti kau sedang tidak sibuk. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu,” jelas Jeff.
“Malam-malam begini?”
tanya Agatha untuk memastikan.
“Kau bisa kan?” tanya
Jeff balik.
Di sisi lain ia tetap
tidak ingin merepotkan gadis ini. Tidak masalah kalau Agatha tidak bisa keluar
malam-malam seperti ini. Mengingat ia baru saja keluar dari rumah sakit. Jeff
bisa memahami yang satu itu. Lagi pula memang tidak bisa memaksakan kehendak
kita kepada orang lain. Itu adalah peraturan dasar dalam hidup setiap manusia. Namun,
ada saja yang mencoba untuk melanggarnya.
“Memangnya kita akan
pergi kemana?” tanya Agatha.
“Ya sudah, kita tidak
Kebetulan aku sudah berada di halaman depan sekarang ini,” jelas pria itu
dengan panjang lebar yang kemudian pada akhirnya disetujui oleh si pemilik
tempat.
“Langsung naik saja ke
atas kalau begitu!” perintah Agatha.
“Baiklah!” balas Jeff
kemudian mematikan teleponnya.
Karena pembicaraan
mereka kali ini bersifat cukup rahasia, sepertinya tempat umum seperti café dan
restoran bukan tempat yang tepat. Orang lain bisa saja menguntit tanpa mereka
ketahui. Terlebih sejak kejadian Agatha diracuni oleh orang asing beberapa
waktu lalu, mereka jadi bersikap lebih waspada.
“Jadi hal apa yang
perlu kau bicarakan sampai datang ke sini malam-malam?” tanya Agatha setelah
menyajikan secangkir kopi di meja.
“Apa kau sudah membaca
salinan hasil autopsi korban yang sudah kuberikan tadi? Tanya Jeff untuk
memastikan.
“Belum. Aku tidak
melakukan apa pun malam ini. Mungkin besok baru akan kuperiksa kembali,” jawab
Agatha dengan apa adanya.
Gadis itu sudah terlalu
kelelahan. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk pemeriksaan tadi pagi.
Kondisi kesehatan Agatha masih belum pulih sepenuhnya. Dia perlu istirahat yang
cukup. Oleh sebab itu, Agahta tidak akan terlalu memaksakan dirinya kali ini. Bukankah
selama ini ia sudah cukup keras terhadap dirinya sendiri.
“Kalau begitu sebaiknya
kau baca dulu hasil autopsinya, maka kau akan tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Isi pikiranmu pasti tidak jauh berbeda denganku,” jelasnya dengan panjang
lebar.
Padahal hal tersebut
belum bisa dipastikan. Tapi, Jeff begitu percaya diri menyatakan kalau mereka
akan sependapat pada akhirnya.
Agatha lantas mengerutkan
dahinya karena kebingungan. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang
terjadi di sini. Termasuk perkataan Jeff dari awal sampai akhir. Ia jadi
bertanya-tanya kepada dirinya sendiri apakah ia harus membaca hasil autopsi itu
sekarang. Tapi, ia bahkan tidak mengerti dengan beberapa istilah medis. Meski sebenarnya
Robi telah membantu untuk menjelaskan soal beberapa hal yang tertera di
dalamnya.
“Aku tetap tidak akan
membacanya hari ini,” ungkap Agatha secara gamblang.
“Tapia pa kau tahu
kalau korban penembakan kemarin juga termasuk kepada salah satu daftar korban
dari kasus pembunuhan berantai ini?” tanya Jeff dengan serius.
Sungguh ia tidak tahu
harus berkata-kata apa. Agatha hanya bisa bungkam. Bagaimana bisa hal tersebut
terjadi. Otaknya sama sekali tidak mampu memikirkan tentang yang satu itu.
“Apa yang kau maksud?”
tanya Agatha.
“Kemarikan salinan
hasil autopsi itu!” perintah Jeff.
“Tunggu sebentar, aku
akan mengambilnya di kamar,” balas gadis itu.
Tak lama kemudian
setelah beranjak dari tempat duduknya, gadis itu kembali kepada Jeff sambil
membawa amplop coklat dengan logo rumah sakit di salah satu sisinya. Tanpa pikir pajang, ia langsung menyerahkan
benda tersebut kepada Jeff. Sungguh sejak tadi ia tidak mengerti apa pun di
sini.
“Lihat ini!” perintah
Jeff sambil mennyodorkan kertasnya.
“Itu peluru yang mereka
maksud tadi,” ucap Agatha.
Memang benar itu adalah
peluru yang mereka bicarakan tadi. Tapi, bukan itu intinya saat ini. Ada hal
lain yang terasa janggal dan belum semua orang mengetahui hal tersebut
tampaknya. Entah tadi mereka yang kurang teliti atau bagaimana.
“Apa kau merasa ada
yang aneh pada peluru ini?” tanya Jeff untuk memastikan.
“Coba
perharikan sekali lagi!” pungkasnya.