The Riot

The Riot
Call You



Sekarang sudah hampir


pukul delapan malam. Agatha sama sekali tidak berniat untuk memasak seperti


biasanya. Padahal ada banyak stok makanan di dalam kulkasnya. Entahlah,


sepertinya dia hanya ingin pergi bawah saja untuk makan malam.


“Eh, mau kemana?”


interupsi Aaron yang ternyata sudah berada di depan pintu utma apartmentnya.


“Apa yang kau lakukan


di sini?” tanya gadis itu balik.


“Seperti biasanya aku ada


memasak makanan untukmu,” jawab Aaron dengan apa adanya.


“Tapi, aku baru saja


mau pergi ke bawah untuk makan malam,” ungkap Agatha.


“Hmmm, jadi bagaimana


kalau kita makan di taman yang ada di bawah saja?” tawar pria itu.


“Ide bagus!” balas


Agatha sambil mengangguk antusias.


“Baiklah kalau begitu,


ayo!” ajak Aaron.


Mereka berdua pergi ke


lantai paling bawah. Kali ini tujuan Agatha bukan lagi ke salah satu toko


penjual makanan yang ada di sana. Melainkan taman luar ruangan yang berada di


depan gedung. Masih satu kawasan dengan tempat tinggal mereka. Jadi tidak perlu


menyebrang atau bahkan pergi terlalu jauh.


Malam ini sedang tidak


terlalu banyak orang. Padahal biasanya tempat ini lumayan ramai. Banyak penghuni


apartment yang pergi kemari untuk menghabiskan waktunya, sambil bekerja atau


malah hanya ingin sekedar bersantai sambil menikmati langit malam. Sepertinya Agatha


adalah satu-satunya orang yang jarang, bahkan nyaris tidak pernah menginjakkan


kaki di tempat ini. Padahal ia selelu melewati taman ketika akan pergi keluar.


“Omong-omong kau masih


belum kembali ke kantor?” tanya pria itu secara tiba-tiba.


Agatha sontak


menghentikan kegiatannya untuk sesaat.


“Kenapa kau mendadak


bertanya seperti itu?” tanya Agatha balik.


“Tidak ada. Memangnya


kenapa? Apa aku salah jika bertanya seperti itu kepadamu?” tanya Aaron lagi.


Pembicaraan mereka


tidak akan selesai jika begini caranya. Terlalu banyak pertanyaan. Semua orang


mengajukan pertanyaan, padahal mereka belum sempat menjawab pertanyaan yang


sebelumnya.


“Aku sudah tidak pernah


melihatmu pergi ke kantor lagi seperti biasanya. Jangan bilang jika kau tidak


bekerja di sana lagi. Kau keluar dari pekerjaanmu yang sekarang?” ceeloteh pria


itu dengan panjang lebar.


“Memangnya siapa yang


memberi tahu hal tidak masuk akal seperti itu kepadamu?!” balas Agatha yang tak


mau kalah.


“Jatah cutiku hanya


belum habis saja. Sebenarnya bisa saja jika aku pergi ke kantor lebih awal dari


jadwal yang seharusnya. Tapi, sayangnya aku tidak mau melakukannya,” jelas


Agatha.


Seperti yang sudah ia


duga sebelumnya. Tidak ada reaksi lain dari pria itu selain mengangguk.


Sebenarnya Agatha juga


ingin menanyakan sesuatu kepada pria itu. Soal yang ia lihat tadi siang. Untuk memastikan


apakah yang ia lihat tadi benar atau tidak. Tapi, sepertinya Agatha memang


tidak bisa bertanya secara langsung. Jika memang ingin tahu, gadis itu harus


mencari tahunya seperti biasa. Bisa-bisa Aaron curiga dengan Agatha dan menuduh


jika gadis itu menguntitunya. Padahal tidak sama sekali. Dia hanya bertemu


dengan Aaron secara kebetulan saja.


Pada akhirnya gadisitu


memutuskan untuk tetap bungkam. Ia sama sekali tidak menyinggung soal kejadian


tadi siang. Alih-alih membicarakan hal tersebut, mereka malah berbincang


tentang hal-hal acak. Tidak ada topik khusus yang perlu mereka bahas hari ini.


Hanya sekerdar bicara santai saja sambil menikmati makan malam buatan Aaron.


***


Setelah selesai makan,


mereka langsung kembali lagi ke atas. Lagi pula memang sudah malam juga. Tidak baik


terlalu sering berada di luar pada saat malam seperti ini. Orang-orang bilang


udara di malam hari tidak baik untuk kesehatan. Namun, meski begitu tetap saja


Begitu sampai di dalam


kamarnya ia langsungn merobohkan tubuhnya begitu saja di atas kasur. Siapa bilang


jika selesai makan kau akan langsung bertenaga. Belum tentu. Agatha adalah


bukti paling nyata. Ia masih merasa lemas meski baru saja selesai makan malam. Ayolah!


Energi tidak akan diolah secepat itu. Tubuh kita juga perlu proses dalam


mengubah zat makanan menjadi ATP.


Saat memandangi


langit-langit ruangan, ia baru teringat akan sesuatu. Agatha perlu menelepon pria


itu. Iya, pria itu. Coba tebak siapa yang akan dihubunginya nanti. Memangnya


siapa lagi jika bukan Arjuna. Dia perlu tetap menjadlin komunikasi yang baik


dengan pria itu meski mereka terbilang cukup jarang bertemu. Bukankah rekan


satu tim harus kompak.


“Halo!” sapa gadis itu


lebih dulu.


“Apa apa sampai


menghubungiku pada jam segini?” tanya Arjuna.


“Apa kau protes


kepadaku?!” tanya Agatha balik dengan nada bicara yang sedikit lebih tinggi


daripada biasanya.


“Kau selalu meneleponku


pada tengah malam bahkan pukul tiga pagi pun kau tetap melakukannya. Padahal semua


orang tahu kalau pada jam segitu aku masih terlelap. Kecuali kau mungkin. Tapi apakah


kau pernah protes?!” celoteh gadis itu dengan panjang lebar.


Mana adil jika seperti


ini. Sekarang bahkan baru pukul sembilan malam lebih beberapa menit. Masih belum


terlalu larut malam. Beberapa pekerja kantoran saja belum kembali ke rumahnya


pada jam segini.


“Ya sudah! Tidak perlu


marah-marah seperti itu,” kata Arjuna.


“Jadi ada hal penting


macam apa memangnya sampai kau menghubungiku?” tanya pria itu lagi.


Sekarang Arjuna sedang


tidak ingin berbasa-basi. Dan memang pada dasarnya ia bukan tipikal orang yang


seperti itu. Tak jauh berbeda dengan Agatha. Mereka lebih suka jika orang lain


langsung bicara ke intinya saja. Jadi tidak perlu membuang waktu untuk sesuatu


yang bahkan tidak penting sama sekali.


“Kau sudah menerima


flashdisknya kan?” tanya Agatha untuk memastikan sekali laig.


“Sudah,” jawab pria itu


dengan singkat.


“Bagaimana dengan


kamera pengawas yang kupasang? Apa semuanya bekerja dengan baik?” tanya gadis


itu lagi.


“Iya,” jawab Aaron.


“Kalau alat sadap


suaranya?” tanya Agatha lagi dan lagi.


“Iya!” balas pria itu.


Jangan salah paham


dulu. Ia jadi banyak tanya seperti ini bukan tanpa alasan. Agatha hanya ingin


memastikan kalau kerja keras mereka sejauh ini tidak sia-sia. Tapi tetap saja


bukan itu alasan utamanya. Agatha berencana untuk tidak masuk kerja besok. Sehingga


jika semua alatnya bekerja dengan baik, lantas untuk apa lagi ia kembali ke


sana. Biar peralatan canggih itu saja yang melakukan semuanya. Menggantikan posisi


Agatha sebagai mata-mata.


“Baiklah, kalau begitu


aku hanya ingin memberi tahu soal satu hal ini kepadamu,” ungkap Agatha.


“Apa itu?” tanya


Arjuna.


Sekarang sudah giliran


pria itu untuk bertanya. Jangan hanya Agatha saja.


“Besok aku tidak akan


pergi ke markas karena satu dan dua alasan yang tidak bisa kujelaskan. Jadi,


kau saja yang memantau mereka. Bukankah semua peralatannya bekerja dengan baik?”


ujarnya panjang lebar, kemudian diakhiri dengan satu pertanyaan.


“Hey! Mana bisa begitu!”


protes Arjuna.


“Memangnya siapa yang


mengizinkanmu untuk tidak pergi ke markas besok?!” serunya.


“Memangnya


siapa juga yang sedang meminta izin kepadamu?!” sarkas gadis itu balik.