
Setelah dipikir-pikir lagi,
perkataan wanita itu ada benarnya juga. Tidak baik berkeliaran malam-malam
seperti ini sendirian. Apalagi ia perempuan. Kemampuan bela diri saja tidak
cukup untuk menjamin jika kau akan benar-benar aman di jalan. Pada akhirnya
Agatha memutuskan untuk menginap di rumah Dokter Viona. Setidaknya untuk satu
malam saja. Lagi pula kasian wanita itu harus tidur tinggal sendirian di rumah
semegah ini setiap harinya. Ia pasti merasa kesepian. Mungkin itu pula yang
menjadi alasan kenapa Dokter Viona mengajak gadis itu untuk tinggal bersamanya.
Agatha pasti mengingatkan wanita itu tentang anak perempuan satu-satunya dari
keluarga mereka yang sekarang entah bagaimana kabarnya.
Agatha dan Dokter Viona
tidur dalam satu kamar yang sama. Sebelumnya wanita itu sempat memberikan opsi
lain. Jika ia tidak ingin tidur di kamar sang dokter, ia bisa memakai kamar
lain yang tidak jauh dari ruangan ini. Namun, Agatha merasa tidak enak karena
harus menolak permintaannya berkali-kali. Jadi sepertinya tidak ada salahnya
untuk menerima tawaran yang satu ini.
“Kenapa kau tidak
mencari keluargamu?” tanya Dokter Viona yang sedang berbaring di samping gadis
itu.
“Sebelumnya kami sudah
saling berjanji untuk tidak ikut campur urusan satu sama lain,” jawab Agatha
dengan apa adanya.
“Tapi, bagaimana kalau
ternyata salah satu dari kalian pada suatu hari nanti melanggar janji tersebut?”
tanya wanita itu lagi.
“Hal itu tengah terjadi
sekarang,” ungkap Agatha secara gamblang.
“Ayahku tiba-tiba saja
datang. Aku tidak tahu darimana ia bisa mengetahui soal keberadaanku. Dan
sekarang, ia tengah berusaha untuk memperbaiki hubungannya denganku,” jelasnya
secara singkat.
Dokter Viona mengangguk
paham dengan cerita gadis itu barusan. Ternyata benar. Kisah hidup mereka
memang tidak berbeda jauh. Tingkat kemiripannya nyaris menyentuh angka 98%. Sulit
untuk dipercaya. Tapi, memang begitu adanya.
“Apa yang dia inginkan
darimu?” tanya wanita itu.
“Entahlah, aku juga
tidak tahu pasti apa tujuannya tiba-tiba datang seperti ini dan mengusik
kehidupanku,” ucap gadis itu sambil menggidikkan kedua bahunya.
Terus terang saja,
sampai sekarang Agatha tidak benar-benar tahu apa yang sebenarnya tengah
terjadi. Agatha bahkan tidak pernah tahu sejak kapan Narendra tinggal di gedung
apartment yang sama dengannya. Mungkin sudah lebih la dari apa yang pernah ia
perkirakan sebelumnya.
“Lalu, bagaimana dengan
ibumu?” tanya Dokter Viona.
“Dia sudah meninggal
dalam kecelakaan pesawat pada saat akan berangkat ke Penang untuk melakukan
terapi,” beber Agatha sambil meremas tangannya kuat-kuat.
Jika ia mengingat
kembali soal peristiwa tersebut, maka Agatha pasti merasa buruk. Kematian
ibunya adalah sesuatu yang masih belum bisa ia terima sampai kapan pun. Agatha
tidak bisa percaya kalau ibunya sudah benar-benar mati. Ia bahkan tidak bisa
melihat wajah ibunya untuk yang terakhir kalinya. Jika ia bisa memutar waktu,
maka Agatha tidak akan mengizinkan wanita itu untuk pergi ke Penang.
Tapi, semua itu sudah
berlalu. Nasi sudah jadi bubur. Tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Meski
kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu, Agatha tidak pernah bisa
melupakannya. Kejadian tersebut masih melekat di dalam ingatannya.
“Maaf karena telah
mengingatkanmu pada hal itu,” ujar Dokter Viona sambil mengusap-usap pundak
gadis itu.
“Tidak apa-apa. Ini
bukan salahmu,” kata Agatha.
Anggap saja jika
sekarang mereka sudah impas. Tadi gadis itu tidak sengaja membuka luka masa
lalu Dokter Viona. Sekarang tidak ada salahnya bukan kalau wanita itu juga
melakukan hal yang sama. Bukankah manusia akan selalu menerima balasan yang
“Kau pasti sangat
merindukan ibumu,” ujar Dokter Viona.
“Tentu saja!” balas
gadis itu.
“Kau pasti juga
merindukan keluarga kecilmu,” imbuhnya.
“Tidak, kau salah,”
kata Dokter Viona.
Mendengar pernyataan
seperti itu, Agatha lantas segera membulatkan kedua bola matanya dengan
sempurna. Satu detik kemudian dahinya berkerut. Membuat kedua alisnya tampak
menyatu karena kebingungan. Padahal itu hanya ilusi.
“Kenapa? Aku berkata
benar,” ucapnya secara gamblang.
Agatha masih tidak bis
berkata apa-apa. Bagaimana bisa ia bersikap begitu santai. Dokter Viona bahkan
tidak merindukan keluarga kecilna sedikit pun. Padahal mereka sudah berpisah
lumayan lama.
“Kau sungguh tidak
merindukan mereka?” tanya Agatha sekali lagi untuk memastikan.
“Tidak, aku hanya
merindukan anak semata wayangku,” pungkasnya.
Mendengar kalimat
tersebut, berhasil membuat Agatha merasa jauh lebih lega. Ternyata ia tidak
benar-benar membenci keluarganya. Hanya salah satu dari mereka. Buah hatinya
berhasil mencuri tempat tersendiri di dalam hati wanita itu. Sesuai dengan
namanya. Buah hati. Mereka pasti saling menyayangi dulunya. Namun, sekarang
terpaksa hidup terpisah tanpa tahu keadaan satu sama lain.
“Tapi, entah kenapa
begitu melihatmu aku seperti merasa kalau jiwanya berada di dalam dirimu,”
beber Dokter Viona secara terang-terangan.
“Asal kau tahu jika aku
juga merasakan hal yang sama,” balas gadis itu di dalam hati.
Agatha tidak tahu
apakah ini memang hanya sebuah kebetulan atau apa. Tapi, yang jelas ia sungguh
merasa jika ada sesuatu yang berbeda di dalam dirinya. Agatha merasa kalau
Dokter Viona adalah sosok ibu yang sudah lama ia cari. Semua hal yang berada di
dalam diri wanita itu sungguh mirip dengan milik ibunya. Tapi, sekali lagi
Agatha perlu tahu kalau mereka adalah dua orang yang berbeda.
Dokter Viona adalah
wanita yang kebetulan memiliki banyak kesamaan dengan ibunya. Mustahil jika Dokter
Viona adalah ibunya. Karena pada faktanya, wanita itu sudah lama mati.
“Kau tahu?” tanya
Agatha.
“Ibuku konon katanya
juga merupakan seorang dokter umum. Tapi, ia memutuskan untuk berhenti bekerja
setelah mengandung,” ungkapnya.
“Pasti jika ia masih
hidup sekarang, ibumu juga akan cerewet soal masalah kesehatan dan kebersihan,”
balas Dokter Viona.
“Tentu saja! Dia memang
selalu cerewet,” ucap Agatha.
“Tapi, aku menyukainya,”
tambahnya.
Sekarang sudah lewat
dari pukul dua belas malam. Mereka berdua bahkan belum terlelap sama sekali. Sepertinya
rasa kantuk itu sudah memudar dan hilang karena keduanya terlalu asyik
bercerita sejak tadi. Sangking serunya topik pembicaraan mereka, baik itu
Agatha maupun Dokter Viona sampai lupa waktu. Mereka nyaris melupakan fakta
kalau besok harus kembali bekerja.
Hidup sebagai orang
dewasa memang seperti ini. Apalagi jika kau tengah berada dalam fase
pertengahan hidup. Semua jadi terasa serba salah. Begitu membingungkan. Setidaknya
semua masalah itu cukup untuk membuatmu merasa frustrasi. Tapi, tidak sampai
mengubahmu menjadi orang gila.
Terkadang
semesta memiliki caranya sendiri dalam mendewasakan manusia. Istimewa dan tidak
bisa ditebak akan seperti apa.