
Hari ini seharusnya hasil pemeriksaan sidik jari itu keluar.
Jujur saja Agatha tidak bisa tenang saat ini. Ia benar-benar merasa takut,
padahal tak bersalah. Entahlah, sepertinya hal itu terjadi begitu saja. Mungkin
bisa dikatakans ebagai hal yang wajar.
“Bagaimana kalau mereka memalsukan hasilnya demi membuatku
sebagai pihak yang bersalah?” gumam gadis itu sambil menggigiti kuku jarinya.
Hal buruk yang tidak pernah terlintas di dalam pikirannya
saat ini atau sebelumnya bisa saja terjadi. Manusia tidak bisa memastikan apa
pun di masa depan. Agatha tidak akan bisa mencegah hal tersebut untuk terjadi.
Tapi, setidaknya masih ada satu hal yang bisa ia lakukan. Mengatasi masalah.
Bukankah selama ini Agatha sudah cukup sering melakukan hal yang satu itu.
Apa pun yang akan terjadi nanti ke depannya, Agahta harus
siap. Ia yakin jika dirinya mampu untuk menyelesaikan masalah ini. Dia bukan
seorang pengecut yang mudah mengalah. Selama dirinya benar, kenapa harus
bersembunyi.
Selagi menunggu waktunya apel, Agatha menyempatkan diri
untuk sarapan. Sebenarnya sudah tidak sempat lagi untuk sarapan. Tapi, mendadak
Jeff datang dan memberikannya sebungkus roti selai kacang merah kesukaannya.
Entah bagaimana caranya pria itu bisa tahu.
“Selesai apel nanti datang ke ruanganku dalam sepuluh
menit,” bisik Arjuna dengan penuh penekanan.
Sejak tadi pria itu memang sudah duduk di sampingnya. Mereka
semua berada dalam satu tempat yang sama. Berkumpul.
“Ada perlu apa?” tanya Agatha tanpa mengalihkan
pandangannya.
“Tidak perlu banyak tanya. Kau juga akan segera tahu nanti,”
jelasnya acuh tak acuh.
Aneh, tapi nyata. Keduanya saling membangun komunikasi tanpa
menatap lawan bicaranya sama sekali. Seandainya saja arjuna tidak
mengkhianatinya waktu itu dengan membuat buku harian palsu dan ungkapan palsu.
Pasti Agatha tidak akan bersikap seperti ini. Tidak masalah kalau memang benar
Zura sahabatnya tengah menjalin kasih dengan pria itu. Lagi pula bukankah semua
orang berhask untuk mencintai dan membenci siapa saja. Agatha tidak berhak
untuk melarangnya. Hubungan mereka berdua hanya sebatas rekan kerja. Terlebih
jika itu urusan hati, ia tidak mau ikut campur.
Berbohong adalah sesuatu yang dilarang. Baik itu oleh agama,
maupun norma hukum yang berlaku. Jadi, wajar saja kalau ia tidak suka dengan hal
tersebut. Terlebih di sini Agathaa lah yang menjadi korbannya. Kalau saja
Arjuna bersikap baik kepadanya, seperti sebagaimana yang seharusnya. Pasti,
Agatha juga akan memperlakukannya demikian.
Hanya ada satu hal yang jelas. Agatha tidak akan
memperlakukan orang lain dengan buruk, kecuali jika orang tersebut yang
bersikap buruk lebih dulu. Sebagai contoh paling nyatanya adalah Arjuna.
Bisa dikatakan jika saat ini Arjuna adalah satu-satunya
orang yang tidak lagi dekat dengannya. Padahal sebagai rekan kerja, seharusnya
mereka memiliki hubungan yang baik. Setidaknya untuk urusan pekerjaan. Terlebih
saat ini mereka tengah berada di dalam satu tim yang sama. Omong kosong kalau
Agatha dan Arjuna bisa berikap professional selama bekerja dan mengesampingkan
urusan pribadi mereka masing-masing. Sedikit banyaknya pasti keduanya masih
saling terbawa suasana. Hal tersebut tidak bisa dipungkiri begitu saja.
Sepertinya ini sudah menjadi rahasia publik. Terutama di
kantor tempat Agatha dan Arjuna bekerja. Sekali lagi harus diakui jika hal
tersebut tidak bisa dipungkiri. Keduanya tidak bisa menutupi masalah tersebut
dengan baik. Haruskan hal seperti ini disebut sebagai sebuah masalah atau malah
sebuah bencana. Dua orang yang berpengaruh cukup penting di dalam timnya dan
memiliki kekuatan besar mendadak tidak lagi berada dalam jalur yang sama.
Mereka berdua telah termakan oleh rasa eginya masing-masing.
“Sampai kapan kalian akan saling bermusuhan seperti ini?!”
Sontak sosok yang dimaksud segera mengalihkan pandangannya
secepat kilat ke arah pria itu. Pada saat yang bersamaan pula, nyali Robi
menciut karena mereka. Memangnya siapa yang tidka takut jika begini caranya. Mereka
menatap Robi seperti akan segera menghabisinya dalam waktu dekat ini.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Robi dengan
hati-hati.
Ia tidak boleh sampai salah bicara. Atau kalau tidak pasti
akan membahayakan nyawanya sendiri. Robi sadar betul tengah berurusan dengan
siapa sekarang ini.
“Sebaiknya tutup mulumu!” peringati Agata.
“Jangan asal bicara seperti itu!” tegas Arjuna menambahi.
Mendengar perkataan tersebut, Robi lantas menggaruk
kepalanya yang tidka gatal. Ia tidak tahu apa yang menjadi permasalahannya
sekarang. Padahal ia hanya bertanya untuk memastikan. Tapi, reaksi mereka malah
jadi seperti ini. Kelihatannya baik Arjuna maupun Agatha sama-sama sedang tidak
stabil kondisi emosionalnya untuk hari ini. Sehingga mudah marah hanya karena
hal kecil.
“Tim kita tidak akan bisa bekerja sama jika kedua
pemimpinnya saja tidka lagi berada dalam satu jalur yang sama,” ungkap Robi
secara terang-terangan.
“Lagi pula kita sudah tahu akan seperti apa konsekuensinya
kalau tidak memiliki kerja sama tim yang baik,” tambahnya kemudian.
Kali ini ucapan Robi tampak tidak mengundang kemarahan dari
Arjuna dan Agatha. Mereka berdua sama sekali tidak berniat untuk mengomentari
hal tersebut.
Setelah dipikir-pikir, apa yang baru saja dikatakan oleh
Robi ada benarnya juga. Meski pemimpin yang sebenarnya di dalam tim mereka
adalah Arjuna, namun hampir semua orang menganggap jika gadis itu juga sebagai
pemimpinnya. Sebagai gadis alpha, dia bisa mengambil alih kepemimpinan kapan
saja. Singkat ceritanya, Agatha bisa diandalkan.
“Jangan sampai lupa kalau sampai sekarang ini kita masih
menangani kasus pembunuhan berantai tersebut,” ujar Robi.
“Kalau tim kita saja seperti ini, kapan kasus itu akan
selesai?!” lanjut pria itu.
“Sebaiknya pikirkan itu sekali lagi!” tukasnya di akhir.
Agatha hanya bisa tertegun. Untuk beberapa saat ia
memutuskan untuk tetap diam, membisu seribu bahasa. Lebih tepatnya, gadis itu
sudah kehabisan stok kata-kata. Dan ttampaknya pun, Robi sama sekali tidak
memerlukan jawaban dalam bentuk apa pun untuk peringatannya barusan.
Hal yang sama tampaknya juga terjadi pada Arjuna. Perang batin
sedang terjadi di dalam dirinya. Ia ingin memberontak dan berteriak tidak, kau
salah! Tapi, semua yang dikatakan Robi tadi benar. Arjuna tidak bisa menepisnya
meski ia mau.
Kedua manusia itu masih sibuk dengan isi pikirannya
masing-masing, sembari menunggu apel. Seorang pemimpin tidak melulu harus
sempurna. Terkadang mereka juga banyak kekurangan. Pemimpin juga manusia biasa.
Wajar jika dikritisi.
‘TING!’
‘TING!’
‘TING!’
Bel pertanda apel akan segera di
mulai sudah berbunyi tepat beberapa detik yang lalu. Agatha dan beberapa orang
lainnya yang sudah duduk di sekitar lapangan sejak tadi, buru-buru bangkit dari
tempat duduknya. Berjalan merapat menuju pusta lapangan. Berbaris di sana,
tanpa perlu diperintahkan sama sekali. Sepertinya mereka sudah tahu betul
bagaimana aturannya.