
Sepertinya ia
menggunakan setelan yang salah. Bagaimana bisa wanita itu berkelahi dengan
menggunakan sepatu hak tinggi. Ia bahkan tidak mampu melakukan serangan sama
sekali. Jangankan serangan, wanita itu sajatidak bisa menghindari serangan dari
Agatha. Sehingga jalannya tampak terhuyung-huyung setelah beberapa kali
terjatuh.
Mungkin ia pikir jika
dirinya sudah cukup kuat untuk melawan Agatha. Namun, pada kenyataannya ia sama
sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan gadis itu. Jika dilihat
dari sisi manapun saat ini, maka tetaplah Agatha yang jauh lebih baik.
Agatha berusaha untuk
menghentikan pergerakan wanita itu. Menguncinya dari berbagai arah, sehingga ia
tidak bisa bergerak sama sekali. Wanita itu hanya bisa pasrah saat mengetahui
Agatha ternyata berada pada posisi yang jauh lebih unggul. Tidak ada pilihan
lain. Semakin ia melawan, maka akan semakin gencar Agatha menghabisinya. Jangan
pikir jika gadis itu akan ragu untuk memberikan pelajaran kepada orang yang
sudah berbuat hal buruk kepadanya. Bukankah setiap hal yang kau lakukan harus
mendapatkan balasan yang setimpal pula.
“Kau ini sebenarnya
sedang sakit atau hanya pura-pura sakit?” tanya wanita itu dengan nada parau.
“Menurutmu?” tanya
Agatha balik.
Kemudian ia menyeringai
tipis. Jarum suntik tersebut sudah berhasil direbut oleh Agatha, dan sayangnya
wanita itu masih belum mampu untuk merebutnya balik.
“Apa kau menginginkan
yang satu ini?” tanya Agatha sambil menyodorkan benda tersebut.
“Hei! Apa yang kau
lakukan?!” seru wanita itu.
“Jangan lakukan yang
macam-macam denganku!” ancamnya.
“Bisa-bisanya kau
memperingatiku seperti itu, padahal kau lebih dululah yang memulainya bukan?” tanya Agatha lagi untuk memastikan.
“Kau sudah memulai
permainannya, jadi kenapa tidak kita selesaikan saja?” tawarnya sambil tertawa
pelan.
Dengan susah payah
wanita itu menelan salivanya sendiri. Tidak bisa dipungkiri jika ia mulai
merasa takut. Agatha ternyata tidak mudah untuuk ditaklukkan begitu saja oleh
sembarang orang. Benar apa kata mereka selama ini.
“Jadi, cairan apa ini?”
tanya Agatha.
Namun, sama sekali
tidak ada tanda-tanda jika wanita itu akan segera menjawab pertanyaannya. Jadi,
ia putuskan untuk tidak mencari tahu lebih lanjut. Apa pun isinya, yang jelas
ini bukan cairan biasa. Bisa jadi racun atau obat keras lainnya. Pasti cukup
berbahaya. Jadi, ia harus menggunakannya dengan hati-hati. Tidak boleh sampai
ada zat asing lagi yang masuk ke dalam tubuhnya tanpa seizinnya. Apalagi sampai
mengancam nyawa.
“Haruskah aku
memberikannya sedikit kepadamu? Kurasa kau ingin merasakannya juga,” ujar
Agatha dengan begitu tenang.
Berbeda dengan sosok
lawan bicaranya saat ini yang tengah ketakutan setengah mati. Ia panik. Mendadak
otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir. Wanita itu tak tahu harus berbuat apa
untuk menyelamatkan dirinya. Satu-satunya ancaman yang ada saat ini hanyalah
Agatha.
Semakin lama jarak
antara tubuhnya dengan jarum tersebut semakin menipis. Bersamaan dengan tempo
detak jantung wanita itu. Napasnya juga tidak teratur. Secara tiba-tiba Agatha
menghentikan pergerakannya.
“Apa kau takut?
Hahaha!!!” ledek gadis itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Ia sama sekali tidak
menyangka jika nyali wanita itu akan jadi ciut seperti ini. Padahal sebelumnya
ia begitu berani. Tak kenal takut. Siap menghabisi siapa saja yang mencoba
untuk menghalangi langkahnya. Tapi, lihat saja sekarang. Hanya karena Agatha
berada pada posisi yang jauh lebih unggul ia langsung takut. Dirinya yang
sekarang dengan beberapa saat lalu seperti dua orang yang berbeda. Mereka memiliki
kepribadian yang berbeda, padahal berada dalam raga yang sama.
‘JLEB!!!’
Tanpa peringatan lebih
dulu, Agatha langsung menancapkan jarum suntik tersebut kepada wanita itu.
lihat akan seperti apa reaksinya.
“Ternyata perhatianmu
mudah juga untuk teralihkan,” gumam Agatha.
Tidak perlu waktu lama
untuk melihat reaksi nyatanya dari cairan tersebut. Dalam hitungan menit,
wanita itu langsung berubah jadi lemas. Sekarang sepertinya Agatha bisa
langsung melepaskannya begitu saja. Tanpa perlu takut jika ia akan melarikan
diri. Wanita itu bahkan sudah tidak memiliki sisa tenaga lagi saat ini. Memangnya
usaha macam apa yang bisa ia lakukan sekarang dengan kondisi demikian.
“Apa aku harus
memanggil petugas medis sekarang juga?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.
Agatha memandangi
wanita itu yang tengah terbaring lemah di permukaan lantai dengan sorot mata
aneh. Sulit untuk diketahui apa makna dari kilau matanya saat itu. Bahkan
Agatha sendiri saja jika ditanya soal hal serupa belum tentu tahu.
“Mereka pasti akan
bertanya-tanya kenapa aku menghabisi seseorang di kamar rawatku sendiri,” gumam
Agatha.
Kemudian ia memandangi
ke sekeliling. Agatha mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dengan
tatapan setajam burung elang, ia pada akhirnya berhasil menemukan sesuatu yang
sudah dicari sejak tadi. Jari telunjuknya mengacung ke arah kamera pengawas
yang diletakkan di sudut ruangan paling atas.
“Kau mempercayaiku kan?”
tanya Agatha kepada benda mati itu.
“Aku yang menjadi
korbannya dan tengah mencoba untuk membela diri saja. Jadi apa kau akan
menyalahkan aku nanti?” lanjutnya.
Sekarang ia tidak perlu
merasa cemas. Ada kamera pengawas yang sudah merekam semua kejadiannya dari
awal sampai akhir. Sepertinya bukti itu cukup. Tanpa pikir panjang lagi, gadis
itu segera menekan tombol darurat di ruangannya. Sebentar lagi para petugas
akan datang kemari untuk memeriksa. Mereka akan mengangkat wanita itu untuk
menyingkir dari ruangannya. Apakah dia sadar jika kehadirannya tadi sudah
mengusik ketenangan gadis itu.
“Ternyata mereka pandai
juga dalam memposisikan kamera pengawas agar tidak terlihat. Tapi, aku bisa
menemukannya dengan mudah,” celoteh gadis itu lalu pergi kembali ke ranjangnya.
“Aishh!!! Kenapa mereka
lama sekali?” gerutunya tak sabaran.
Tak lama kemudian
setelah ia mengatakan hal tersebut, beberapa suster dan seorang dokter masuk ke
dalam ruangan. Setelah sebelumnya mereka terpaksa mendobrak pintu utamanya agar
bisa terbuka. Bukannya tidak bersedia, Agatha hanya tidak mau membuang-buang
tenaganya dengan berjalan ke pintu dan membukakan pintu untuk mereka.
“Apa yang terjadi di
sini?” tanya sang dokter.
“Kali ini pasienmu
bukan aku, tapi wanita itu!” ungkap Agatha sambil menunjuk si wanita berbaju
merah.
Sontak pandangan semua
orang langsung tertuju ke arah seorang wanita yang sudah tidak berdaya itu
lagi.
“Ada apa dengannya?
Kenapa dia bisa sampai pingsan seperti ini?”
“Jarum suntik dari mana
ini?”
“Dan kenapa pintunya
terkunci tadi?”
Agatha menghela napas
dengan jengah. Padahal yang seharusnya mereka lakukan sekarang adalah
menyelamatkan pasien. Apa semua pertanyaan itu jauh lebih penting dari pada
nyawa seseorang. Meskipun Agatha sama sekali tidak berharap jika wanita itu
akan selamat dan kembali mendapatkan kesempatan hidup kedua.
“Apa kau mencoba untuk
menyerangnya?” tuduh salah satu perawat.
“Sebaiknya cari tahu
dulu kebenarannya sebelum menyimpulkan sesuatu,” jawab Agatha sambil berdecak
sebal.
“Jadi,
apa kalian akan membiarkan wanita ini sekarat?” tanya gadis itu sekali lagi.