The Riot

The Riot
Dare Me



Sepertinya ia


menggunakan setelan yang salah. Bagaimana bisa wanita itu berkelahi dengan


menggunakan sepatu hak tinggi. Ia bahkan tidak mampu melakukan serangan sama


sekali. Jangankan serangan, wanita itu sajatidak bisa menghindari serangan dari


Agatha. Sehingga jalannya tampak terhuyung-huyung setelah beberapa kali


terjatuh.


Mungkin ia pikir jika


dirinya sudah cukup kuat untuk melawan Agatha. Namun, pada kenyataannya ia sama


sekali tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan gadis itu. Jika dilihat


dari sisi manapun saat ini, maka tetaplah Agatha yang jauh lebih baik.


Agatha berusaha untuk


menghentikan pergerakan wanita itu. Menguncinya dari berbagai arah, sehingga ia


tidak bisa bergerak sama sekali. Wanita itu hanya bisa pasrah saat mengetahui


Agatha ternyata berada pada posisi yang jauh lebih unggul. Tidak ada pilihan


lain. Semakin ia melawan, maka akan semakin gencar Agatha menghabisinya. Jangan


pikir jika gadis itu akan ragu untuk memberikan pelajaran kepada orang yang


sudah berbuat hal buruk kepadanya. Bukankah setiap hal yang kau lakukan harus


mendapatkan balasan yang setimpal pula.


“Kau ini sebenarnya


sedang sakit atau hanya pura-pura sakit?” tanya wanita itu dengan nada parau.


“Menurutmu?” tanya


Agatha balik.


Kemudian ia menyeringai


tipis. Jarum suntik tersebut sudah berhasil direbut oleh Agatha, dan sayangnya


wanita itu masih belum mampu untuk merebutnya balik.


“Apa kau menginginkan


yang satu ini?” tanya Agatha sambil menyodorkan benda tersebut.


“Hei! Apa yang kau


lakukan?!” seru wanita itu.


“Jangan lakukan yang


macam-macam denganku!” ancamnya.


“Bisa-bisanya kau


memperingatiku seperti itu, padahal kau lebih dululah yang memulainya bukan?”  tanya Agatha lagi untuk memastikan.


“Kau sudah memulai


permainannya, jadi kenapa tidak kita selesaikan saja?” tawarnya sambil tertawa


pelan.


Dengan susah payah


wanita itu menelan salivanya sendiri. Tidak bisa dipungkiri jika ia mulai


merasa takut. Agatha ternyata tidak mudah untuuk ditaklukkan begitu saja oleh


sembarang orang. Benar apa kata mereka selama ini.


“Jadi, cairan apa ini?”


tanya Agatha.


Namun, sama sekali


tidak ada tanda-tanda jika wanita itu akan segera menjawab pertanyaannya. Jadi,


ia putuskan untuk tidak mencari tahu lebih lanjut. Apa pun isinya, yang jelas


ini bukan cairan biasa. Bisa jadi racun atau obat keras lainnya. Pasti cukup


berbahaya. Jadi, ia harus menggunakannya dengan hati-hati. Tidak boleh sampai


ada zat asing lagi yang masuk ke dalam tubuhnya tanpa seizinnya. Apalagi sampai


mengancam nyawa.


“Haruskah aku


memberikannya sedikit kepadamu? Kurasa kau ingin merasakannya juga,” ujar


Agatha dengan begitu tenang.


Berbeda dengan sosok


lawan bicaranya saat ini yang tengah ketakutan setengah mati. Ia panik. Mendadak


otaknya tidak bisa diajak untuk berpikir. Wanita itu tak tahu harus berbuat apa


untuk menyelamatkan dirinya. Satu-satunya ancaman yang ada saat ini hanyalah


Agatha.


Semakin lama jarak


antara tubuhnya dengan jarum tersebut semakin menipis. Bersamaan dengan tempo


detak jantung wanita itu. Napasnya juga tidak teratur. Secara tiba-tiba Agatha


menghentikan pergerakannya.


“Apa kau takut?


Hahaha!!!” ledek gadis itu sambil tertawa terbahak-bahak.


Ia sama sekali tidak


menyangka jika nyali wanita itu akan jadi ciut seperti ini. Padahal sebelumnya


ia begitu berani. Tak kenal takut. Siap menghabisi siapa saja yang mencoba


untuk menghalangi langkahnya. Tapi, lihat saja sekarang. Hanya karena Agatha


berada pada posisi yang jauh lebih unggul ia langsung takut. Dirinya yang


sekarang dengan beberapa saat lalu seperti dua orang yang berbeda. Mereka memiliki


kepribadian yang berbeda, padahal berada dalam raga yang sama.


‘JLEB!!!’


Tanpa peringatan lebih


dulu, Agatha langsung menancapkan jarum suntik tersebut kepada wanita itu.


lihat akan seperti apa reaksinya.


“Ternyata perhatianmu


mudah juga untuk teralihkan,” gumam Agatha.


Tidak perlu waktu lama


untuk melihat reaksi nyatanya dari cairan tersebut. Dalam hitungan menit,


wanita itu langsung berubah jadi lemas. Sekarang sepertinya Agatha bisa


langsung melepaskannya begitu saja. Tanpa perlu takut jika ia akan melarikan


diri. Wanita itu bahkan sudah tidak memiliki sisa tenaga lagi saat ini. Memangnya


usaha macam apa yang bisa ia lakukan sekarang dengan kondisi demikian.


“Apa aku harus


memanggil petugas medis sekarang juga?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri.


Agatha memandangi


wanita itu yang tengah terbaring lemah di permukaan lantai dengan sorot mata


aneh. Sulit untuk diketahui apa makna dari kilau matanya saat itu. Bahkan


Agatha sendiri saja jika ditanya soal hal serupa belum tentu tahu.


“Mereka pasti akan


bertanya-tanya kenapa aku menghabisi seseorang di kamar rawatku sendiri,” gumam


Agatha.


Kemudian ia memandangi


ke sekeliling. Agatha mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Dengan


tatapan setajam burung elang, ia pada akhirnya berhasil menemukan sesuatu yang


sudah dicari sejak tadi. Jari telunjuknya mengacung ke arah kamera pengawas


yang diletakkan di sudut ruangan paling atas.


“Kau mempercayaiku kan?”


tanya Agatha kepada benda mati itu.


“Aku yang menjadi


korbannya dan tengah mencoba untuk membela diri saja. Jadi apa kau akan


menyalahkan aku nanti?” lanjutnya.


Sekarang ia tidak perlu


merasa cemas. Ada kamera pengawas yang sudah merekam semua kejadiannya dari


awal sampai akhir. Sepertinya bukti itu cukup. Tanpa pikir panjang lagi, gadis


itu segera menekan tombol darurat di ruangannya. Sebentar lagi para petugas


akan datang kemari untuk memeriksa. Mereka akan mengangkat wanita itu untuk


menyingkir dari ruangannya. Apakah dia sadar jika kehadirannya tadi sudah


mengusik ketenangan gadis itu.


“Ternyata mereka pandai


juga dalam memposisikan kamera pengawas agar tidak terlihat. Tapi, aku bisa


menemukannya dengan mudah,” celoteh gadis itu lalu pergi kembali ke ranjangnya.


“Aishh!!! Kenapa mereka


lama sekali?” gerutunya tak sabaran.


Tak lama kemudian


setelah ia mengatakan hal tersebut, beberapa suster dan seorang dokter masuk ke


dalam ruangan. Setelah sebelumnya mereka terpaksa mendobrak pintu utamanya agar


bisa terbuka. Bukannya tidak bersedia, Agatha hanya tidak mau membuang-buang


tenaganya dengan berjalan ke pintu dan membukakan pintu untuk mereka.


“Apa yang terjadi di


sini?” tanya sang dokter.


“Kali ini pasienmu


bukan aku, tapi wanita itu!” ungkap Agatha sambil menunjuk si wanita berbaju


merah.


Sontak pandangan semua


orang langsung tertuju ke arah seorang wanita yang sudah tidak berdaya itu


lagi.


“Ada apa dengannya?


Kenapa dia bisa sampai pingsan seperti ini?”


“Jarum suntik dari mana


ini?”


“Dan kenapa pintunya


terkunci tadi?”


Agatha menghela napas


dengan jengah. Padahal yang seharusnya mereka lakukan sekarang adalah


menyelamatkan pasien. Apa semua pertanyaan itu jauh lebih penting dari pada


nyawa seseorang. Meskipun Agatha sama sekali tidak berharap jika wanita itu


akan selamat dan kembali mendapatkan kesempatan hidup kedua.


“Apa kau mencoba untuk


menyerangnya?” tuduh salah satu perawat.


“Sebaiknya cari tahu


dulu kebenarannya sebelum menyimpulkan sesuatu,” jawab Agatha sambil berdecak


sebal.


“Jadi,


apa kalian akan membiarkan wanita ini sekarat?” tanya gadis itu sekali lagi.