
Agatha langsung bersiap
begitu sampai di apartmentnya. Ia bahkan tidak sempat duduk sama sekali. Gadis
itu langsung menata barang-barang belanjaannya, kemudian bergegas pergi mandi.
Kurang dari satu jam lagi, ia harus sudah sampai di tempat yang sudah mereka
sepakati sebelumnya.
Dengan langkah yang
terburu-buru, ia berjalan menuju lift. Bermaksud untuk pergi ke parkiran. Kali
ini sepertinya gadis itu akan pergi dengan menggunakan mobil saja. Terasa lebih
nyaman. Lagipula jalanan sudah tidak terlalu ramai sekarang. Sebab, orang-orang
sudah pulang kerja sekitar dua jam yang lalu. Jadi, sekarang kondisi jalanan
sudah terasa lebih lengang.
Kalau saja bukan untuk
membicarakan soal perkembangan misi mereka, mungkin gadis itu tidak akan mau
datang kemari. Apa pun itu alasannya. Bahkan ia tidak peduli kalau Arjuna
sekali pun yang memanggilnya. Jika bukan karena urusan penting, dia tidak akan
mau pergi ke sana.
***
Ternyata dugaan gadis
itu benar. Jalanan mala mini memang sedang ramai seperti biasanya. Memangnya
sejak kapan tempat ini bisa berubah jadi sunyi. Bahkan tengah malam pun tidak
menjadi pengecualian bagi para manusia yang tinggal di kota seperti ini. Mereka
selalu sibuk. Termasuk Agatha salah satunya.
Meski jalanan terbilang
ramai, namun cukup lancar. Tidak ada kemacetan sepanjang rute perjalanan yang
dilalui oleh gadis itu. Ia bisa sampai dengan tepat waktu di tempat tujuannya.
Syukurlah kalau begitu. Setidaknya Arjuna kali ini tidak akan mengkomplein soal
ketepatan waktu. Sebab, Agatha sudah tiba di sini sepuluh menit lebih awal dari
waktu yang seharusnya.
Begitu sampai di café
tersebut, Agatha langsung memarkirkan kendaraannya pada tempat yang sudah
disediakan. Kemudian tanpa berlama-lama lagi, ia segera masuk ke dalam. Sebelum
ia sampai kemari, pria itu sudah mengiriminya sebuah pesan singkat yang
berisikan nomer meja. Aaron sudah datang lebih dulu. Seperti biasanya, ia
selalu tiba lebih awal daripada Agatha.
“Mjea nomer 28,” gumam
gadis itu sambil memperhatikan tulisan yang tertera di layar ponselnya.
Setelah mengingat angka
yang tidak terlalu rumit itu, Agatha langsung bergerak maju untuk mencari meja
yang dimaksud oleh Arjuna. Seharusnya ia bisa menemukan tempat itu dengan
mudah. Sebab Agatha yakin jika nomer meja di café pada umumnya tidak sampai
seratus. Paling banyak hanya puluhan.
Kebetulan sekali tempat
ini sedang tidak begitu ramai. Jadi, Agatha bisa menemukannya dengan semakin
mudah. Cukup sekali. Agatha mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Dan dalam
waktu kurang dari lima menit, mejanya sudah ketemu. Tapi, anehnya begitu ia
sampai di sana sama sekali tidak ada orang. Bahkan sosok Arjuna yang sudah ia
cari sejak tadi saja tidak ada di sini. Hal tersebut membuat Agatha jadi kurang
yakin dengan pilihannya sendiri. Ia memutuskan untuk memeriksanya sekali lagi
dengan mencocokkan nomer meja dan isi pesan dari pria itu. Dia perlu memastikan
satu hal lagi agar tidak sampai salah.
“Benar yang ini
mejanya,” gumam gadis itu sambil tetap memperhatikan layar ponselnya dengan
seksama.
Agatha yakin jika meja
yang berada di hadapannya saat ini adalah meja yang sama dengan yang dimaksud
oleh pria itu. Tidak mungkin ia salah. Memangnya ada berapa banyak meja dengan
nomer serupa di sini.
“Kenapa belum duduk?”
tanya sebuah suara yang muncul secara tiba-tiba dari belakang.
Gadis itu lantas
terperanjat kaget. Hampir saja ponselnya tergelincir dan jatuh bebas dari
genggamannya. Beruntung Agatha masih bisa menyelamatkan benda yang satu itu. Bisa
gawat kalau sampai benar-benar jatuh.
Agatha tidak langsung
berbalik. Melainkan, ia mematung di tempat untuk beberapa saat. Otaknya masih
perlu waktu untuk memproses segala sesuatu yang barusaja terjadi. Selain itu,
dipungkiri, jika akibat kejadian tersebut tempo detak jantungnya jadi meningkat
secara bertahap.
Setelah merasa jika
kondisinya jauh lebih baik dari pada yang sebelumnya, gadis itu memutuskan
untuk segera berbalik ke arah sumber
suara. Mencari tahu siapa pemilik suara tersebut. Yang sepertinya sudah
terdengar tidak terlalu asing lagi bagi gadis itu. Tapi, tetap saja ia perlu
memastikannya satu kali lagi.
“Dasar kau!” bentak
Agatha begitu mendapati Arjuna yang sedang berdiri tepat di belakangnya.
“Hei, jangan berisik!”
perintah pria itu.
“Ini tempat umum,”
lanjutnya.
“Biar saja! Aku tidak
peduli,” kata gadis itu dengan ketus.
Tanpa pikir panjang
lagi, ia segera mengambil tempat duduk tepat di depan pria itu. Padahal beberapa
menit yang lalu suasana hatinya barusaja terasa lebih baik karena berkendara.
Sekarang malah balik memburuk lagi. Tidak ada satu pun tempat yang benar-benar
bisa membuat keadaanya jadih jauh lebih baik. Semua orang sama saja.
“Maaf karena membuatmu
menunggu terlalu lama di sini,” kata pria itu secara gamblang.
“Aku tadi barusaja pergi memesan beberapa menu,”
timpalnya kemudian.
Agatha tampak diam. Dia
sedang tidak ingin menanggapi perkataan Arjuna tadi. Salah sendiri. Siapa suruh
bersikap jahil terhadap gadis itu. Sudah tahu jika ia tidak akan banyak bicara
ketika merasa kesal.
“Padahal aku sudah
meninggalkan tasku dengan sengaja di sini agar kau bisa langsung mengenalinya
dengan mudah,” jelas pria itu.
Arjuna tampaknya tidak
ingin disalahkan sama sekali atas kejadian tersebut. Buktinya, ia terus
berusaha untuk membela dirinya mati-matian.
“Memangnya kau siapa
sampai aku harus mengenali tasmu segala?” tanya gadis itu dengan sarkas.
Meski terkesan sedikit
kasar, Arjuna sama sekali tidak merasa keberatan. Bukan masalah. Hal yang
paling penting baginya untuk datang kemari bukan demi membuat masalah baru
dengan gadis itu. Melainkan menerima informasi terbaru soal kasus yang sedang
mereka tangani dari Agatha.
“Sudahlah, lupakan
saja!” serah pria itu.
Dia memang sedang tidak
ingin mencari masalah. Tapi, setiap kali bertemu dengan Agatha, yang namanya
perselisihan jadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.
“Aku sudah memesan
makanan dan minuman yang biasanya kau pesan. Latte dan Cheese cake,” kata
Arjuna.
“Lattenya dingin atau
yang panas?” tanya Agatha.
“Dingin,” jawab pria
itu dengan apa adanya.
Jujur saja, mendengar
perkataan barusan mendadak ia jadi kecewa. Terlihat jelas dari raut wajahnya. Memang
biasanya gadis itu selalu memesan latte dingin. Tapi, kali ini dia sedang ingin
latte panas. Entahlah, hanya ingin mencoba yang berbeda dari yang biasanya. Selain
itu, udara malam ini juga cukup dingin. Agatha berpikir, mungkin secangkir
latte panas akan membantunya untuk tetap hangat.
“Kalau begitu langsung
saja kepada topik utamanya,” ucap Agatha dengan datar. Ia segera mengalihkan
topik pembicaraan dengan cepat.
“Sebentar,”
balas pria itu sambil memeriksa tasnya.