
Ternyata perkiraan
manusia tidak selamanya benar. Mereka hanya mampu menerka tanpa bisa
memastikan. Sama seperti Agatha. Gadis itu kurang beruntung kali ini. Karena
pada faktanya, si kurir belum sampai di lift. Ia bahkan tidak bergerak dari
tepi pintu masuk sama sekali. Pria itu hanya berpura-pura menyingkir seolah ia
sudah benar-benar pergi dari sana. Padahal tidak sama sekali. Ia hanya
bersembunyi untuk mengelabui lebih tepatnya.
Begitu Agatha membuka
pintu untuk mengambil kotak kiriman tersebut, tiba-tiba saja salah satu
tangannya ditarik secara paksa. Memangnya siapa lagi jika bukan si kurir tadi
pelakunya. Sepertinya dia bukan benar-benar kurir. Kecurigaan Agatha mulai
muncul saat pria itu mencoba untuk mengunci pergerakannya dan membungkam mulut
gadis itu agar tidak bisa berteriak minta tolong. Meskipun lorong ini tampak
sepi sekarang, mereka yakin kalau ada begitu banyak orang yang sedang berada di
dalam apartmentnya. Dan mereka bisa saja mendengar suara Agatha kalau ia
berteriak. Tempat ini cukup sepi. Bagus untuk memantulkan suara.
Untuk beberapa detik
setelah mengalami kejadian tersebut, gadis itu tidak bergeming sama sekali. Ia
masih cukup terkejut. Otaknya lagi-lagi perlu waktu untuk memproses segala
sesuatunya.
“Diam dan jangan
berusaha untuk memberontak!” perintah pria itu dengan nada bicara setengah
mengancam.
Kalimat itu sama sekali
tidak ada artinya bagi Agatha. Meski itu kalimat perintah sekali pun, belum
tentu jika ia akan menurutinya. Bukan Agatha namanya jika tidak melanggar
sebuah aturan. Baginya larangan ada untuk dilanggar. Dengan begitu ia bisa tahu
apa konsekuensi nyata yang akan didapatkannya jika melanggar aturan tersebut. Terlebih
pada saat seperti ini. Diam bukanlah cara terbaik untuk menyelamatkan diri. Dia
hanya akan semakin memudahkan si penjahat ini untuk melakukan aksinya. Dengan kata
lain, ia terpaksa berada di pihak yang salah.
Agatha sudah cukup
dewasa untuk memikirkan hal tersebut. Dia tahu betul mana keputusan yang benar
dan salah untuk dirinya sendiri. Mari bersikap realistis saja. Pada saat
seperti sekarang ini dia tidak mungkin menyerah begitu saja. Tidak ada yang
pernah mengajarkannya untuk bersikap seperti itu. Hanya seorang pengecut yang
menyerah sebelum mencoba.
Tidak ada siapa-siapa
di sini. Itu berarti tidak ada orang lain yang bisa ia andalkan sekarang.
Bahkan ponselnya pun berada di dalam sana. Jika bukan Agatha yang menyelamatkan
dirinya sendiri untuk kali ini, memangnya siapa lagi. Jangan pernah berharap
kepada mahluk hidup lainnya secara berlebihan.
Seperti biasanya,
langkah pertama yang harus ia lakukan saat sedang menghadapi masalah adalah
dengan tetap tenang. Kau tidak akan bisa memikirkan jalan keluarnya kalau
panik. Tak lama kemudian pria tersebut secara mengejutkan mulai melepaskan
cengkramannya. Dan yang terpenting, mulut Agatha sudah tidak terbungkam lagi.
Ia bisa teriak kapan saja.
“Dengarkan aku!” ucap
pria tersebut dengan penuh penekanan.
“Bersikaplah normal
seperti orang-orang pada umumnya. Anggap jika yang tadi itu bukan apa-apa.
Lupakan. Anggap saja jika hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya,” jelasnya
dengan panjang lebar.
“Lalu ikuti langkahku. Dan
hal terpenting yang harus kau ingat adalah jangan berusaha untuk melarikan diri
dariku, atau kau akan tahu akibatnya,” finalnya.
Tidak peduli seberapa
sering pria itu mengingatkannya tentang konsekuensi yang akan terjadi, Agatha
tetap tidak peduli dengan hal tersebut. Pria itu salah besar kalau mengira jika
Agatha sudah menyerah dan akan benar-benar mengikuti semua perintahnya. Dia
tidak sebodoh itu.
“Siapa yang menyuruhmu
untuk melakukan semua ini?” tanya Agatha.
“Apa kau ingin
menculikku?” tuduh gadis itu dengan yakin.
gadis itu diberi kesempatan untuk bicara. Meski sedang dibawah tekanan yang
begitu besar, itu tidak masalah sama sekali. Agatha tidak akan ambil pusing
soal itu. Dia hanya akan mengatakan apa yang perlu ia katakan.
“Haha! Baguslah kalau
kau sudah tahu lebih dulu maksud dan tujuanku,” ujar pria itu sambil tertawa
pelan.
Entah kenapa ia bisa
tertawa. Padahal tidak ada yang lucu sama sekali di sini. Sepertinya ada
sesuatu yang salah dengan pria itu. Agatha sangat yakin.
“Baiklah, kalau begitu.
Kau bisa menculikku, tapi tentu kau sudah tau apa konsekuensinya tanpa perlu kujelaskan,”
ujar Agatha.
“Di sepanjang lorong
ini ada beberapa kamera pengawas yang bisa menjangkau posisi kita saat ini. Dan
jika aku menekan tombol darurat di sekitar sini, maka para penjaga akan
langsung datang,” ungkapnya secara gamblang.
“Kau pikir aku takut
dengan semua itu?!” seru si kurir palsu itu.
“Oh, ya! Aku hampir
lupa satu hal!” celetuk Agatha.
“Kau tahu saat ini
sedang berurusan dengan siapa?” tanya Agatha.
“Aku bisa
menjebloskanmu ke penjara kapan saja jika berani main-main denganku. Atu
mungkin kau ingin pergi ke rumah sakit lebih dulu sebelum masuk sel tahanan?”
tawar gadis itu dengan nada setengah meledek.
“Kau pikir Liora akan
mengirimkan orang sembarangan untuk menyingkirkanmu?!” sarkas pria itu.
Agatha sama sekali
tidak merasa terkejut. Ia sudah menduga sejak awal, jika ini pasti kerjaan dari
salah satu rivalnya. Dan Liora berada di posisi pertama dalam daftar tersangka
yang ia pikirkan tadi.
“Tebakanku tidak pernah
meleset. Aku sudah menduganya,” gumam gadis itu pelan.
Agatha kemudian menarik
napas panjang, kemudian menghelanya dengan kasar. Ia masih tidak habis pikir
dengan Liora. Kenapa wanita itu begitu terobsesi dengannya. Kalau itu urusan
harta, tenang saja. Agatha sama sekali tidak memiliki niat untuk ikut campur
selama ia masih bisa mencari uang sendiri.
Harus ia akui jika
ambisi Liora begitu besar. Dia tidak mudah menyerah. Kegigihannya memang patut
diacungi jempol. Tapi, sayangnya ia gigih di jalan yang salah.
“Memangnya apa lagi
yang ia inginkan dariku?” tanya Agatha datar.
“Sudahlah, tidak perlu
banyak bicara!” seru pria itu kesal.
“Sekarang ikut saja
denganku!” perintahnya lalu menarik tangan Agatha.
Namun, beruntung gadis
itu memiliki gerakan refleks yang cukup bagus. Ia bisa menghindar, tepat
sebelum pria itu berhasil meraih tangannya. Meskipun si kurir palsu itu telah
menyerang tanpa ada peringatan, Agatha masih tetap bisa menghindar dengan hanya
mengandalkan naluri alaminya saja.
“Kau pikir aku akan
menuruti semua perkataanmu itu?!” seru Agatha dengan nada bicara yang jauh
lebih tinggi dari pada sebelumnya.
“Dasar bodoh!” umpat
gadis itu.
Kesabarannnya
sudah habis. Sekarang ubun-ubunnya bahkan terasa seperti akan meledak. Darahnya
sudah mendidih. Ada amarah yang sudah tidak bisa terbendung lagi di dalam
dirinya. Tanpa banyak bicara lagi, Agatha langsung melayangkan satu tendangan ke
arah perut pria itu. Hal tersebut mampu untuk membuatnya terpukul mundur
beberapa langkah ke belakang. Bahkan sampai hilang keseimbangan dan berujung
tersungkur di lantai.